Friday, May 24, 2013
kerendahan-hati-dan-kesombongan

Vincent Hakim

Ketika saya masih duduk di bangku SD dulu sekitar tahun 70-an, ibu saya pernah mendongeng cerita berjudul ‘Katak Hendak Jadi Lembu’. Cerita yang sangat sederhana tapi pesan moralnya begitu melekat di hati saya.

Ceritanya begini;

Suatu ketika di sebuah kandang lembu ada seekor katak batu yang rupanya rajin mengamati si lembu betina yang pendiam dari balik bongkahan batu. Setiap hari si katak melihat pemilik lembu selalu memberikan makanan rumput segar, memandikan, dan mengajaknya jalan ke padang rumput hijau nan luas.

Pada suatu kesempatan, katak batu itu mendekati si lembu betina yang sedang makan. Katanya dengan nada sinis, “Hai, lembu. Enak sekali hidupmu. Setiap hari kau selalu mendapat perhatian dari manusia dan juga selalu dikasih makan. Kau selalu dirawat dan diajak jalan-jalan di padang rumput hijau. Semua itu apa karena badanmu yang besar?”

Si lembu betina tak menjawab, ia terus makan dan makan. Sambil sesekali kepalanya menggeleng kiri kanan mengusir lalat-lalat yang mengerubungi makanannya. Karena si lembu betina tak juga menjawab, maka katak batu itu menghardiknya lagi. Kali ini dengan nada suara lebih keras lagi. “Hai…lembu dungu. Kalau hanya karena badanmu yang besar, kau mendapat perhatian manusia maka aku pun mampu menyamai besar tubuhmu. Nih…lihatlah!”

Si katak batu itu lalu segera memperagakan diri di hadapan lembu betina. Katak batu itu menggelembungkan badannya. Bermula dari perut, kemudian leher, kaki, dan seterusnya. Perut katak batu itu sedikit demi sedikit membesar, dan kemudian terlihat begitu besar. Namun setelah membesarkan perut dan leher, rupanya badannya tak juga bisa menyamai lembu. Si katak batu sangat penasaran, karena badannya belum juga mampu menyamai besarnya lembu itu. Perutnya terus digelembungkan lagi dan lagi… Akibatnya perut itu meletus. Isi perut berhamburan ke mana-mana. Si katak batu itu pun mati dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

Melihat katak batu yang malang itu telah mati, si lembu betina pun tak mampu menahan kesedihan. Tapi ia juga tak bisa berbuat banyak. Si lembu betina itu tahu bahwa dirinya tak memiliki kuasa apa pun atas hidup.

***

Kata orang bijak, kerendahan hati adalah prinsip dasar orang beriman kepada Yang Maha Kuasa Sang Pencipta alam semesta. Dari kerendahan hati itulah munculnya ketulusan dan pengakuan diri, bahwa manusia hanyalah seonggok daging tak berdaya atau debu halus di hadapan Sang Khalik.

Sementara kesombongan adalah upaya penyangkalan diri manusia atas ketidakberdayaan raga dan spiritual di hadapan Yang Ilahi. Kesombongan menjadi semacam kompensasi psikologis untuk menutupi ketidakmampuan diri, yang kadang tersimpan dalam dunia alam bawah sadar. Kesombongan diri seseorang muncul, biasanya bertujuan agar diakui eksistensinya. Terutama di lingkungan sosialnya. Kesombongan dan keangkuhan merupakan saudara kembar.

Seorang psikolog terkenal asal Austria Alfred Adler (1870-1937) mengatakan, bahwa kesombongan itu pada dasarnya merupakan sikap mengutamakan diri sendiri. Adler menyebutnya sebagai self centered. Semuanya berpusat pada diri sendiri. Kalangan orang beriman alim ulama memposisikan egoisme sebagai awal dari dosa. Egosentrisme menjadi akar dari dosa. Manusia terjerumus ke dalam dunia hitam kelam karena terlalu mengagungkan ke-aku-annya. Aku merasa paling benar, paling bersih, paling hebat, paling suci, paling berkuasa, dan berbagai predikat superlatif lainnya. Peperangan, kerusuhan, kriminalitas, aniaya, dan kesengsaraan acapkali bermula dari sana.

Kerendahan hati dan kesombongan berjalan seiring dalam dunia yang sama, meski berbeda kharakter dan motivasi dasarnya. Tapi kadang, kesombongan bersembunyi di balik ‘kerendahan hati’ sehingga menjadi seolah-olah rendah hati. Padahal jauh di lubuk hati, ingin dipuji dan diakui ke-ego-annya. Sejatinya, kerendahan hati akan terus bertahan. Sementara kesombongan akan terkuak bersama perjalanan sang waktu.

Apa itu kerendahan hati dan mengapa manusia harus rendah hati? Mengapa orang tak boleh sombong?

Seorang guru kebijaksanaan yang juga seorang sufi dari timur menggambarkan kerendahan hati itu dalam simbol anak kecil. Anak adalah lambang ketulusan hati, ketidakberdayaan, dan kejujuran. Tingkat ketulusan, kepolosan anak kecil dan kejujurannya tak bisa disangkal lagi. Begitu tulus, jujur, dan bersihnya pribadi anak-anak, hingga para cerdik pandai menyebut anak-anak bagai tabularasa. Suatu lembar kertas putih bersih yang apa pun bisa ditorehkan di sana. Menurut sang guru, hanya manusia yang memiliki level kesucian, ketulusan, kepasrahan, dan kejujuran seperti anak kecil itulah yang pantas berhubungan dekat dan berada dalam pangkuan Sang Khalik.

Ketidakberdayaan anak kecil, kata sang guru, adalah lambang ketidakmampuan manusiawi yang akan malahirkan kepasrahan diri secara total tanpa syarat kepada Sang Pencipta. “Lihatlah, betapa anak kecil itu hidupnya sangat bergantung sepenuhnya pada orangtuanya, ibu dan ayahnya. Begitu pula seharusnya manusia di hadapan Sang Pencipta,” kata sang guru pada suatu kesempatan.

Menurut sang guru kebijaksanaan yang juga sufi itu, sebenarnya tak ada dasar dan alasan apa pun bagi manusia untuk menyombongkan diri. Fakta ilmiah menyatakan bahwa manusia adalah bagian kecil dari makhluk hidup yang ada di atas bumi. Hidup manusia berdampingan dengan makhluk hidup lainnya dan saling bergantung. Manusia tak mungkin hidup sendiri. Ketergantungan manusia sangat tinggi pada kehidupan lain di sekitarnya. Bumi tempat manusia hidup pun, jika dibandingkan dengan planet-planet lain dalam susunan tata surya, hanyalah bagian kecil dari semesta raya. “Jika bumi saja hanyalah bagian kecil atau bahkan hanya merupakan debu kosmis di alam semesta raya yang mahaluas, lalu bagaimana dengan manusia? Nah, sekarang bayangkanlah bagaimana agungnya Sang Pencipta alam semesta itu. Masihkah manusia bisa membusungkan dada tentang dirinya di hadapan Sang Pencipta?” kata sang guru.

Setiap saat manusia dalam berbagai kepercayaan dan keyakinannya yang amat beragam diberikan kesempatan untuk berintrospeksi, melalui bermacam-macam peristiwa dan acara keagamaan. Tujuannya refleksi diri ke dalam batin masing-masing. Masih pantaskah menyombongkan diri di hadapan orang lain dan terlebih-lebih di hadapan Yang Maha Kuasa? Mungkin ada baiknya, mulai detik ini kita mulai meneliti diri, apakah kita sudah rendah hati dan tidak sombong? Selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Jakarta, 20 September 2009

Berlian Adalah Berlian

September - 15 - 2009 24 KOMENTAR
berlian-adalah-berlian

Zaky Muzakir

Di sebuah rumah sederhana, seorang ustaz melontarkan pertanyaan pelik kepada saya dan puluhan teman sepengajian. “Kalau dari dubur anjing keluar berlian, apa yang akan kalian lakukan?” Kami yang rata-rata masih duduk di bangku sekolah dasar terdiam.

Sang ustaz kemudian memberikan pilihan. “Tak mengacuhkan berlian atau mengambilnya?

Kami masih saja terdiam. Berpikir keras menerka jawaban apa yang diharapkan sang guru. Sebelum akhirnya kami tuntas menarik kesimpulan masing-masing, ustaz mendahului, “Berlian adalah berlian. Orang bijaksana akan mengambil berlian dan membersihkan kotoran yang menempel.”

Kisah ini bukan hadits. Hanya saja, wejangan itu teringat begitu saja ketika saya membaca sebuah bab dalam buku berjudul Syubhat-Syubhat Seputar Jihad dan Akibat Meninggalkannya [jihad] karya Abu Muhammad Jibriel.

Saya tidak akan membahas perihal tema umum yang ditawarkan penulis dalam buku itu, yaitu tentang jihad. Melainkan perkara penelusuran sahih-dhaif sebuah hadits yang sedikit disinggung dalam sebuah bab buku ini. Dan pemahaman logika saya yang tak menguasai ilmu fiqih itulah, yang akan dibeberkan di sini.

Dalam buku diungkapkan bahwa sebuah hadits yang selama ini populer di kalangan muslim ternyata kredibilitasnya lemah alias dhaif. Hadits yang dimaksud berbunyi seperti berikut:

“Kita semua baru kembali dari jihad ashgar (kecil) menuju jihad akbar.” Para sahabat Muhammad SAW bertanya: “Apakah jihad akbar itu wahai Rasulallah?”

Baginda menjawab: “Jihad melawan hawa nafsu.”

Menurut Abu Jibriel, ada banyak cacat kredibilitas pada diri para perawi hadits ini, karenanya menjadi dhaif. Dengan panjang lebar, Abu Jibriel menunjukkan, setidaknya ada tujuh kesaksian yang mengkonfirmasi bahwa hadits di atas lemah. Kemudian di akhir pembahasan, Abu Muhammad Jibriel menarik kesimpulan sebagai berikut.

“Karena itu jihad yang besar bukan jihad melawan hawa nafsu, tetapi memerangi golongan kafir yang memerangi umat Islam. Wallahualam.”

Di luar konteks fikih Islam, kesimpulan di atas tidak valid. Karena penelusuran keterpercayaan perawi tidak menyentuh prinsip ide yang terkandung dalam hadits. Penelusuran perawi hanya menyinggung perjalanan hadits hingga ke telinga kita.

Meneliti keaslian sebuah hadits, dengan menelusuri tingkat kepercayaan perawi (penyampai hadits) tentu mulia. Dalam Islam, hadits menduduki hierarki hukum cukup tinggi. Perkataan Rasulallah adalah rujukan hukum kedua setelah Alquran. Jelas dalam menjalankan syariat Islam, membedakan mana hadits asli dan palsu menjadi sangat penting. Untuk menentukan kesahihan hadits itulah kredibilitas perawi ditelusuri.

Tapi, karena yang ditelusuri hanya keterpercayaan perawi, tidak serta merta isi dari hadits yang dhaif menjadi salah atau menyesatkan.

Di dalam buku ini, hadits jihad kecil vs besar diletakkan dalam konteks keutamaan berjihad. Penulis secara tersirat menganggap bahwa banyak umat muslim enggan berjihad dengan merujuk hadits tersebut. Padahal, bisa saja penulis mengarahkan pemahaman umat secara lebih cerdas tanpa perlu membahas sahih atau dhaif.

Saya pribadi sepaham dengan hadits yang dianggap dhaif tersebut. Hawa nafsu adalah tembok besar yang menjaga egoisme pribadi tetap dalam pelukan sekaligus menghalangi otak berpikir mengenai keutamaan urusan akhirat.

Keengganan untuk berjihad sangat mungkin berakar dari hawa nafsu untuk hidup selamanya, menghindar dari masalah, lari dari tanggung jawab, dan alasan keduniaan lain. Kecintaan manusia terhadap dunia sangat mungkin menghalangi atau setidaknya menggembosi semangat jihad fisik ke medan perang.

Sebaliknya, hawa nafsu bisa juga menghalangi para mujahid berpikir jernih dalam berjihad. Ekses yang terjadi akibat jihad yang didorong oleh hawa nafsu tak kalah mengerikan dari kemalasan umat muslim untuk berjihad fisik.

Lebih dari itu, tak perlu membuang hadits-hadits lemah kredibilitas. Karena berlian adalah berlian. Kebenaran adalah kebenaran. Dari mana pun ia berasal.

Selemah apapun kredibilitas penyampai kebenaran itu. Karena, toh si penyampai kebenaran itu adalah manusia, yang esensi manusiawinya pernah melakukan kesalahan, sekecil apapun.

Yang harus diingat adalah, hadits-hadits itu hanya turun derajat hukumnya. Setelah diketahui dhaif, kedudukannya bukan lagi sebagai rujukan hukum Islam. Itu pun kalau pembaca setuju dengan penelusuran penulis buku tersebut. Wallahualam.(*)

Ramadhan Terakhir

September - 8 - 2009 9 KOMENTAR
ramadhan-terakhir

Syaiful Halim

Setiap kali senja Sa’ban merunduk di ufuk barat, seketika hati ini berdebar-debar tak terkira. Ramadhan itu telah tiba, dengan kesyahduannya nan tak terbatas. Tanpa sadar, titik-titik air mata pun menetes. Subhanallah.

Suka cita adalah perasaan kaum muslim yang paling wajar. Karena, undangan menjadi tetamu Allah SWT pada bulan Ramadhan sejatinya hanya ditujukan bagi orang-orang yang beriman. Sedangkan Allah SWT sebagai Tuan Rumah jamuan Ramadhan tidak pernah membeda-bedakan tingkat keimanan para hambaNya. Entah ia merupakan seorang mualaf, entah ia merupakan orang yang belum yakin dengan kebenaran agama sebagai pegangan hidup, atau entah ia sebagai muslim yang benar-benar telah mukmin. Dalam konteks Ramadhan, setiap muslim yang bertekad memenuhi jamuan Allah SWT adalah orang-orang yang beriman. Selengkapnya »

Klaim Sebatang Rokok

September - 3 - 2009 29 KOMENTAR
klaim-sebatang-rokok

Rinaldo

Haji Agus Salim, politisi kondang di zaman pergerakan serta pascakemerdekaan itu, pernah bercerita. Suatu kali dalam lawatan ke luar negeri dia menumpang pesawat maskapai penerbangan asing. Seperti kebiasaan yang selalu dia lakukan, saat pesawat mengudara mulailah dia membuka bungkus rokok kretek yang tak pernah lupa dibawanya.

Dengan santainya politisi berjanggut subur ini mengisap dalam-dalam rokok kesayangannya. Entah dia sadari atau tidak, rupanya penumpang kiri kanan, yang juga merokok, mulai melirik dengan pandangan aneh. Merasa tidak ada yang aneh dengan dirinya, Agus Salim meneruskan mengisap rokok tanpa peduli pada tatapan itu. Selengkapnya »