Wednesday, May 22, 2013
monster-pembunuh-itu-masih-anak-anak

Vincent Hakim

Di siang yang terik itu, seorang anak mengarahkan senjata basoka ke sebuah bangunan. Gedung itu hancur berantakan. Dua anak laki-laki berumur 9 dan 15 tahun, bersama sekitar delapan anak lain yang juga menenteng senjata otomatis segera menyerbu masuk. Mereka menembaki siapa saja yang ada di dalam gedung perkantoran milik asing itu.

Mad Dog dan seorang anak lagi memeriksa ruangan-ruangan gedung yang hancur itu. Dua anak bersenjata mesin itu merupakan anggota dari paramiliter tentara anak-anak. Tak lama kemudian, mereka berdua berhasil memergoki seorang wanita dewasa berkulit hitam yang berlari kabur dari sebuah ruangan. Si wanita bermaksud menyelamatkan diri dan sembunyi. Tapi nasib berkata lain.

“Hai. Kenapa kamu lari? Pengkhianat!” kata Johnny Mad Dog, seorang anak yang masih berumur 15 tahun itu dalam bahasa lokal setempat. Perempuan yang ditodong itu, tidak bisa menjawab karena begitu ketakutan.
“Udah, langsung tembak, bunuh saja!” ujar si anak yang umurnya masih sekitar 9 tahun itu, dengan warna suaranya yang masih sangat khas anak-anak. Tak hanya senjata otomatis yang menggelantung di pundaknya, tapi juga boneka mainan yang selalu dikalungkan di lehernya. Anak ini, sepertinya, anak buah kepercayaan Mad Dog.

“Tidak. Nanti dulu, sepertinya ia lumayan juga. Aku mau.” kata Mad Dog sambil memandangi wajah dan tubuh tinggi si wanita dewasa.
“Mad Dog, sudah cepat lakukan!” kata anak kecil itu. Anak itu lalu mengokang senjata dan memaksa si perempuan merebahkan diri.

Maka sejurus kemudian, sambil tak henti-hentinya melontarkan makian dan sumpah serapah kepada si wanita, Mad Dog memaksakan hasrat birahinya itu. Kemudian, anak buahnya yang masih amat belia itu pun minta bagian. Dua anak itu telah memperkosa si wanita secara bergantian!

Cerita ini merupakan bagian kecil dari cuplikan sebuah pengalaman kekerasan dan kekejaman Johnny Mad Dog dan teman-temannya yang menjadi tentara anak-anak di kawasan konflik di Liberia.

***

Film berjudul Johnny Mad Dog, garapan Jean-Stephane Sauvaire yang mendapatkan penghargaan Price of Hope di festival Cannes 2008 sangat representatif menggambarkan betapa brutalnya anak-anak yang telah dicuci otak oleh suatu rezim. Film Johnny Mad Dog bercerita tentang tentara anak-anak dengan latar belakang situasi konflik berdarah perang saudara (1989-1993 dan 1999-2003) di Republik Liberia. Sebuah negara di kawasan pesisir barat Afrika. Negara ini sekarang menjadi salah satu negara termiskin di dunia yang kehidupannya benar-benar bergantung pada bantuan dunia internasional. Ekonomi ambruk, dan tingkat pengangguran mencapai lebih dari 85 persen (data 2005). Ribuan penduduknya di berbagai tempat pengungsian termasuk mereka yang lari ke negara-negara tetangga di Sierra Leone, Guinea, dan Pantai Gading, masih sangat trauma.

Chritopher Minie (15) yang memerankan tokoh remaja militan Johnny Mad Dog dan Daisy Victoria Vandie (16) yang memerankan Laokole amat pas melakoni tokoh masing-masing. Johnny berperan sebagai pemimpin regu tentara anak-anak berumur sekitar 9-15 tahun yang bengis. Bukan hanya membunuh, merampok dan menjarah, menembak orang-orang tak bersalah, anak-anak, dan keluarga, tapi juga melakukan perkosaan terhadap remaja dan perempuan dewasa. Dalam film Johnny Mad Dog, digambarkan secara nyata sebuah negeri tanpa aturan, hukum, dan perlindungan HAM, tak ada lagi sopan santun, tak ada lagi rasa hormat anak kepada orang tua, tak ada lagi moral, apalagi simpati dan empati pada orang lain kecuali takluk pada pimpinan kelompoknya sendiri secara eksklusif. Jika tidak taat, maka akan disiksa atau ditembak mati di depan anggota lain.

Tokoh Laokole adalah seorang remaja putri yang hidup miskin dengan seorang ayah cacat kedua kakinya (diamputasi akibat kena senjata) dan seorang adik laki-laki, Fofo (8). Situasi hidup yang serba sulit, membuat Laokole sangat tegar menghadapi berbagai persoalan. Termasuk ketika ayahnya ditembak mati dan adiknya yang raib entah ke mana.

Yang juga cukup unik dari para personel tentara anak-anak ini adalah meski mereka bengis, ngawur, tapi pada hakekatnya mereka adalah tetap anak-anak. Kondisi itulah yang coba digambarkan secara utuh oleh Jean-Stephane Sauvaire. Kostum mereka tetap khas anak-anak. Selain ada personel yang selalu menggantungkan sebuah boneka di pundaknya, ada pula yang berambut gaya Mohawk, ada pula yang selalu menenteng radio-tape besar di punggungnya, dan ada juga seorang tentara anak-anak yang selalu memakai sayap-sayapan serangga seperti milik tokoh malaikat di punggungnya. Bahkan, ada seorang personel yang karena menemukan gaun pengantin saat penjarahan, maka dipakainya baju pengantin perempuan itu ke mana-mana. Konyol tapi lucu. Bagaimana pun mereka adalah anak-anak yang masih mendambakan sebuah model figur, pencarian jati diri. Figur inilah yang seringkali ditiru dan amat berpengaruh dalam perkembangan kejiwaan anak saat masa pertumbuhan. Dalam film Blood Diamond karya sutradara Edward Zwick, sempat pula diceritakan tentang keberadaan kamp tentara anak-anak yang berlatar belakang di Sierra Leone, Afrika.

***

Itulah sebabnya mantan Presiden Liberia Charles Taylor diadili di Mahkamah Internasional di Den Haag. Ia dituduh telah mengorbankan ribuan anak sebagai tentara anak di negeri yang dipimpinnya. Taylor menyangkal, tapi mantan pengawal pribadinya dan dunia memberikan kesaksian yang tak terbantahkan.

Badan PBB yang mengurusi anak-anak, UNICEF mencatat, sedikitnya ada 38 negara di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin mengambil paksa anak-anak (8-16 tahun) dari keluarga atau lingkungan sosialnya untuk dilatih di kamp paramiliter dan dijadikan tentara di negara-negara yang sedang berkonflik. Ketua UNICEF Jerman, Dietrich Garlichs menceritakan, di banyak negara yang terlibat dengan kasus tersebut bukan sekadar mencuci otak anak-anak, dengan memasukkan berbagai ajaran ideologi sektarian, politik yang dangkal, dan keagamaan yang sempit, tapi juga mencekoki mereka dengan narkoba. Dalam beberapa kasus, seperti diceritakan mantan tentara anak, Ishmael Beah, dalam buku memoarnya A Long Way Gone, bahwa kehidupan normal anak-anak telah dicabut. Mulai dari lingkungan terdekat telah hancur, keluarga dihabisi, dan harapan dibuat menjadi suram. Anak-anak di daerah konflik dipojokkan ke dalam situasi tertentu, hingga tidak ada pilihan lain. Ishmael Beah adalah lulusan lembaga pendidikan United Nations International School tempat rehabilitasi mantan tentara anak-anak dan juga anak-anak korban perang.

Lembaga Palang Merah Internasional, ICRC (International Committee of the Red Cross), memperkirakan ada sekitar 500.000 tentara anak-anak di dunia. Sementara sekitar 300 ribu anak ada di Afrika, dan 40% dari mereka adalah anak perempuan. Sebagian besar lainnya, ada di beberapa negara di kawasan Asia dan Amerika Latin. Jumlah itu, tentu tidak termasuk anak-anak yang dipaksa menjadi teroris dan calon pelaku bom bunuh diri di kamp-kamp pelatihan yang amat dirahasiakan. Kepastian data anak-anak yang dijadikan teroris ini sulit diperoleh. Militer dan polisi Pakistan akhir Juli lalu berhasil menemukan kamp rahasia untuk menggembleng anak-anak calon teroris. Puluhan anak dalam kondisi mengenaskan ditemukan di sini. Menurut sumber resmi Pakistan, anak-anak itu diambil paksa dari keluarga mereka di kantong-kantong kelompok Taliban dan dilatih oleh sayap militer Al-Qaidah.

***

Indonesia memang jauh dari daerah-daerah konflik di Afrika, maka secara psikologis juga agak sulit merasa ‘terlibat’ dengan persoalan tentara anak-anak. Tapi ketika Dani Permana pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott, Jumat (17/7) pagi silam, yang kemudian diketahui masih berusia remaja (18) dan baru lulus SMA Juni 2009, kita semua terkaget-kaget. Saya pun sempat lemas. Bagaimana tidak? Saya mempunyai anak yang juga masih remaja dan duduk di bangku SMA.

Saya cukup paham dengan perilaku dan kharakter anak-anak remaja seusia itu. Karena saya pernah mengajar di SD, SMP, dan SMA. Masa usia anak-anak dan remaja itu sangat unik dan lugu, tapi amat rentan hingga mudah dipengaruhi. Perkembangan kejiwaannya sangat khas, sedang mencari figur untuk model dirinya. Maka saya berani mengatakan, perekrut anak-anak untuk suatu misi terorisme atau tentara anak-anak adalah kejahatan kemanusiaan yang tiada duanya. Jangan jadikan anak-anak kita sebagai mesin pembunuh. Stop tentara anak-anak!

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

15 Komentar pada “Monster Pembunuh itu Masih Anak-anak”

  1. Steward says:

    Buat Mbak Hakim…

    Saya pun telah menonton film Johnny Mad Dog…
    Tapi berdasarkan sinopsis yang saya baca dan dari film tersebut, tidak mencantumkan jelas negara tempat konflik yang dimaksudkan. Entah maksud dari sutradara untuk mengaburkan maksudnya atau menutupi negara yang bersangkutan.
    Bukan di film ini saja atau Blood Diamond yang nampak kekerasan seorang mesin pembunuh yang bernama anak-anak, mungkin kalau kita menyimak jelas di film Black Hawk Down, ada suatu adegan dimana ketika seorang tentara Amerika keluar dari suatu jendela seorang anak dan ayahnya telah menunggu keluarnya tentara tersebut, tetapi karena ia terpeleset akhirnya tembakan anak tersebut meleset dan mengenai ayahnya.
    Saya sepakat dengan Mbak Hakim, jika Mbak khawatir dengan apa yang terjadi dengan anak – anak saat ini. Tapi apa yang terjadi saat ini telah ada jauh sebelumnya. Mungkin Mbak pernah nonton film 300, sekalipun film itu terlihat fiksi, namun di adaptasi dari perang di Thermopylae. Pada awal cerita telah diperlihatkan bagaimana anak-anak telah dipilih dari yang terbaik, untuk dipersiapkan menjadi tentara. Saya juga pernah membaca buku, bahwa memang benar yang terjadi saat itu seperti begitu adanya. Anak – anak di ambil dari rumahnya ketika mereka berumur 9 atau 10 tahun, lalu mereka di asramakan. Di asrama itu mereka digembleng untuk menjadi tentara yang handal, dari segala jenis senjata sampai akhirnya mereka harus melawan teman sendiri. Dan mereka dibiasakan makan dan berpakaian seadanya namun dapat bekerja sekeras – kerasnya. Tidak heran pada abad itu Yunani dan kesatuan perangnya sangatlah diperhitungkan karena adanya prajurit-prajurit terlatih ini.
    Apa yang terjadi bagi saya adalah ketika seorang anak dilepaskan kepada dunia dia akan menjadi sama seperti dunianya tersebut. Jadi seandainya dia di besarkan dengan dunia kekerasan, maka kekerasanlah yang akan membesarkannya. Tetapi jikalau kita membesarkan dengan dunia keluarga yang harmonis, saya yakin diapun akan besar dengan keharmonisan yang dia dapat dari rumahnya.

  2. Steward says:

    Saya minta maaf sebelumnya, karena setelah saya perhatikan ternyata anda laki-laki…
    saya minta maaf jika mencantumkan dengan sapaan Mbak.
    Sekali lagi saya minta Maaf.

  3. dayuqs says:

    Saya memang belum pernah menonton film Johnny Mad Dog,tapi melihat sinopsisnya saja membuat saya bergidik.Dimana hati nurani para orang tua nya?Sudah lenyapkah rasa empati dan moral mereka ?
    Semoga Allah melindungi kita semua..

  4. juventus says:

    resensinya bagus.bisa minta kumpulan resensi yang lain

  5. Andri Bagio says:

    Saya juga tidak setuju kalau anak-anak jadi tentara. Sebuah link kehidupan yang hilang sedang mereka alami ( anak-anak ). Hidup hanya sekali saja, sudah kehilangan masa kanak-kanak yang indah. Sebuah potret kehidupan yang menyedihkan. Kapankah masa perang itu usai ? Bagaimana masa depan mereka ? Adakah secercah harapan bagi mereka ? Kapan mereka tahu bahwa di belahan dunianya ada dunia yang bahagia?

  6. Cancer Man says:

    terima kasih anda telah mengingatkan kami sebagai orang tua, untuk selalu menjaga dan mendidik anak-anak sebaik-baiknya agar dapat mempunyai moral yang dapat diandalkan (baik untuk agama maupun negara kita tercinta), thanks

  7. andi says:

    cerita ini cukup menarik,dan dapatjadi pelajaran bahwa anak-anak indonesia cukup berbangga dengan kehidupan yang merdeka dan ada kesempatan untuk mendapatkan pendidikan,dan ada kebebasan untuk memilih jalan hidup yang merdeka dalm menentukan masa depan yang cerah.

  8. Iekha says:

    Nggak pernah terbayangkan kalau kita ada di dunia seperti itu. Bersyukur kepada Allah, bahwa kita masih dilindungi dan diberi kenikmatan untuk hidup dilingkungan yang aman, meskipun di Indonesia, masalah teroris masih mengkhawatirkan..

  9. Ahmad says:

    Menurut saya mendidik anak agar tangguh dan kuat apa salahnya…asal jangan salah penerapan.Misalnya dengan melatih anak untuk memanah,menunggang kuda,berenang,bela diri,smua itu sangat bermanfaat untuk kebutuhan anak itu sendiri.Dia akan tumbuh berbesar hati dan optimis.Yg salah adalah apabila anak-anak tsb dididik untuk menghalalkan segala cara untuk kepentingan ortunya atau suatu kelompok.Sebagai contoh Saya,Saya berasal dr kluarga serba kekurangan namun karena sudah kebal dg sgala macam tantangan kehidupan jd bisa lebih kuat menghadapi dunia. Jangan jadi generasi yg manja.Kemandirian,keteguhan hati Utamakan!!!

  10. muslim sidi says:

    pemaksaan terhadap anak anak yg menjadi tentera disebabkan keadaan negara yg tak stabil terjadi diluar negara//bagai mana dengan kanak anak yg mengelandang didepan hidung kita ..

  11. fika says:

    cerita ini dapat menjadi pelajaran bagi semua orang..
    resensi yang sangat baguz..

  12. h sudarjo says:

    Kami sebagai orang tua pastix tidak akan mau dengan perilaku anak2 kami sedemikian sadis ,biadab ……Yaaa Allah….jauhkan keturunan kami yang demikian itu…..ampunilah dosa orangtua2 yang salah mendidik anak2 mereka……….jauhkanlah anak2 kami dari segala tipu daya dunia dan godaan setan yang terkutuk………….Aminnnnnnnnnnnnn

  13. sulee says:

    sangat mengerikan,biadab & tak berperikemanusiaan!!! itulah yang muncul dalam pikiranku ketika aku baca sinopsis monster pembunuh itu…. tapi itulah kenyataan hidup di daerah konflik yg berkepanjangan. kapan Indonesia bisa membuat film yg bagus dan bermutu?

  14. pitch says:

    referensi yg bagus.. jd pingin n0nton nich..

Tinggalkan Komentar