Saturday, May 25, 2013

Debat Facebook

August - 2 - 2009
debat-facebook

Syaiful Halim

Tenda dan bilik TPS sudah lama dibongkar. Para relawan sejumlah lembaga survey sudah lama meng-SMS hasil perhitungan suara, agar hasil quick count bisa buru-buru dipubilikasikan media massa. Peduli dengan itu segala kenyataan. Faktanya, vonis dari KPU ternyata beda-beda tipis dengan quick count. Maka, SBY-Boediono pun multak menang pilpres dalam satu putaran!

Seorang sahabat, mantan reporter sebuah televisi swasta yang sekarang giat mengajar di berbagai kampus sambil menyambi menjadi konsultan politik, menuliskan “gagasan”nya di sebuah situs pertemanan. Tulisnya, “Kehidupan terus berjalan. Hidup adalah perjuangan. Mari bersama menunggu kenaikan tarif listrik, tarif tol, BBM & pengangguran makin meningkat. Waspadai juga angka kriminalitas makin mengerikan.”

Beberapa saat kemudian, reaksi pun bermunculan, dengan isi tulisan seperti ini: jangan nakut2in dunkz mas…, G segitunya jg kaleeeee…., Siapapun presidennya, masalah tetep ada koq…, waduhh… serem bgt pak! apa itu efek dr terpilihnya SBY lg?!, Merdeka tetap merdeka bung!!!, iya setuju, siapapun presidennya ga bakal bisa ngerubah bangsa 180 derjat. jgn juga pesimis.dosa…,

“Ayo jangan ngambek. Ikhlaskan untuk pemenang, dan Allah SWT yang sesungguhnya Maha Mengatur…,” saya ikutan usil. Pura-puranya mencoba menenangkan komentar dan kekisruhan. Padahal, sekedar meramaikan “obrolan” ala facebook.

Sahabat saya yang sengaja online, langsung menuliskan sejumlah balasan yang ditujukan kepada masing-masing komentator. Namun, kali ini saya menuliskannya sekaligus, “Coba aja amati 6 bln pertama ini. Yg jls September tarif tol pd naik. Kalau mau jujur, kalangan usaha pd menderita 5 th terakhir ini. Masak kita lupa dg kondisi sekitar? Hayo mau diajak piknik ke Cikeas? Tanya aja kehidupan warga, malah susah atau senang. Rajin2 dengar koran, baca radio dan lihat tipi apalagi srg2 jalan ke daerah, kemiskinan makin nyata terlihat. Jgn hanya lihat Jakarta, Kuningan Menteng, Sudirman tp ke sono dikitan spt Cikeas belakang, Cimanggis (msh di Jkt) apalagi ke Tasikmalaya, Garut, Yahukimo Irian… Semuanya pilihan rakyat mari kita hormati pilihan rakyat. Selamat menderita bersama. Sayang teman2 media hanya memberitakan permukaannya aja. Kalau mau kerja serius (spt pers awal reformasi) pasti akan menangkap derita rakyat. Pers investigativ akan lbh berbunyi ketimbang pers Istana.

Kita nggak ngambek Pak, itu adlh pilihan rakyat mari kita hormati. Kehidupan kalau kita jalankan dg amanah akan terasa enak, tdk meninggalkan cacat. Itulah esensi kehidupan Om Syaiful. Om Syaiful, kalau mau sy ajak piknik dg sepedaan menyusuri Cikeas belakang, dengan senang hati sy antarkan. Tangkap penderitaan rakyat. Dr awal gw tdk menolak siapa yg terpilih, gw hanya memaparkan fakta2 yg akan terjadi.”

Wuih, obrolan jadi makin panas!

“Dua tahun terakhir, saya merekam banyak keterbelakangan dan keterpencilan berbagai suku di tanah air. Kemiskinan dan kepasrahan hidup adalah armosfir mereka. Tapi, siapa yang bisa memberikan jalan keluar? Saya yakin, siapapun yang jadi presiden pasti pusing tujuh keliling (kalo mikiran masalah ini). So, mari kita terus sodorkan fakta itu selebar-lebarnya…,” balas saya kemudian. Duh, kok jadi kepancing serius. Padahal, niatannya saya tidak pernah kepengin serius ketika ber-online di situs pertemanan itu.

Sungguh, saya menyesal setengah mati. Tiba-tiba, saya jadi khawatir telah zhalim terhadap sahabat saya itu. Maunya sekedar meredakan “keluhan”nya soal hasil pilpres kemarin sambil mengingatkannya soal keberadaan saya. Pertemuan terakhir saya dengannya adalah sepuluh tahun yang lalu, ketika kami sama-sama meliput eksodus warga Timor Timur ke Nusa Tenggara Timur. Maunya saya, ya sekedar kangen-kangenan dan bernostalgia. Rencananya, saya juga mau menunjukkan foto-foto dokumentasi kami ketika sama-sama “muda”(?)

Tapi, kok jadinya malah serius sekali. Sangat serius dan jauh dari bayangan saya. Baik tentang arah pembicaraan atau perubahan pada diri sahabat saya itu. Setelah mengofflinekan laman sosial itu, alam sadar saya segera menggiring ke berbagai informasi tentang hasil perhitungan cepat sejumlah lembaga survey. Khususnya, komentar-komentar dari peserta pilpres atau tim sukses masing-masing capres dan cawapres.

Pasangan yang menang mutlak dan leading sejak menit pertama quick count diumumkan, ya melontarkan kalimat berbunga-bunga dan menyejukkan sekeliling. Standar pasukan yang memenangkan pertarungan. Sebaliknya dengan kandidat atau tim sukses lawan, yang dengan mulut berbusa-busa terus saja berteriak tentang kecurangan. Siapa toh yang berbuat curang? Siapa sih yang dimaksud berbuat curang?

Bagi masyarakat awam, tuduhan kecurangan sungguh membingungkan. Biasanya, kecurangan dilakukan oleh seseorang atas lawannya. Artinya, sesama peserta. Atau, taruhlah wasit memihak ke salah satu peserta, maka kita menyebutnya “berat sebelah” dan bukan wasit berbuat “curang”.

Kalau analogi itu kita sederhanakan dalam konteks pilpres, mestikah pasangan SBY-Boediono yang mereka maksud telah berbuat curang? Atau, mungkin KPU sebagai wasit telah berbuat “berat sebelah”? Apakah karena pasangan nomor dua itu duduk di pemerintahan, sehingga bisa mengendalikan sang wasit? Bukankah peserta nomor tiga pun termasuk orang pemerintahan?

Belum lagi pertanyaan-pertanyaan “lucu” itu terjawab, kita terus saja disodorkan berbagai statement negatif soal hasil pilpres. Soal kisruh DPT kembali diungkit. Soal kinerja KPU dipertanyakan. Soal ini-itu terus saja dibesar-besarkan. Demokrasi?

Uf! Apa pelaksanaan demokrasi di negeri ini memang ditakdirkan untuk membuat rakyat bingung? Ini juga pertanyaan paling lucu yang terus bermunculan di setiap forum. Siapa sebenarnya yang begitu bahagia membuat rakyat bingung? Capreskah? Cawapreskah? Tim sukseskah? Orang-orang yang tidak siap kalahkah?

Padahal, kalau saja mau menengok sebentar saja ke pekan-pekan terakhir menjelang hari H. Persisnya, ketika para capres berdebat untuk terakhir kalinya di sebuah stasiun televisi. Lebih khusus lagi, saat para capres menjawab pertanyaan soal kesiapan mereka seandainya kalah dalam pilpres 2009 ini, duh begitu indah dan menyejukkan. Begitu rukunnya calon-calon pemimpin negeri ini.

Karena itu, ketika polemik seputar quick count merebak dan membuat klimaks pilpres jadi lahan infotaiment, saya lebih memilih tutup mata dan telinga. Pikiran dan hati saya tetap larut dengan ucapan kelegowoan para capres pada sesi debat terakhir itu. Pada bagian itu, menurut saya, mereka memperlihatkan jati diri nan agung sebagai negarawan sejati dan layak disebut sebagai Guru Bangsa. Dengan dua predikat itu, rasanya sangat mustahil bila mereka merusaknya dengan sikap-sikap bak artis haus publisitas.

Tentang “gagasan” teman saya di dinding facebooknya?

Tampaknya saya memang harus terus konsisten dengan niatan saya bermain dalam situs pertemanan itu yang sekedar bermain-main. Artinya, jangan pernah menjadikannya sebagai ruang teramat serius untuk membincangkan suatu masalah. Terlebih lagi, politik. Karena, forum itu cenderung ngawur-ngawuran dan tidak akan pernah mengubah “gagasan” menjadi gagasan. Kalau mau sadar, ya laman itu sekedar untuk narsis-narsisan. Atau, promosi kecil-kecilan.

“Sahabatmu itu kan bagian dari tim sukses kandidat yang kalah,” celetuk teman saya. Ia juga online ketika obrolan itu berlangsung. Karena ia tahu keberadaan sahabat saya yang dekat dengan capres jagoannya itu, ia malas berkomentar. Apalagi, terlibat dalam perdebatan yang tidak mutu itu. Hah?

Tangerang, 30 Juli 2009

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

34 Komentar pada “Debat Facebook”

  1. Bagaskara says:

    Legowo berarti mengakui kekalahan, mengakui kesalahan, mengakui kekurangan, dan mengakui kebodohan. Hare gene mau kayak gitu?

  2. dobloger says:

    Seperti halnya friendster, facebook hanya tempat untuk saling berjanda dan bukan untuk hal2 yg terlalu serius.

  3. Sontoloyo says:

    Dimulai dengan Gas Elpiji…… Ha Ha Ha Ha……I Love You Full

  4. hasby says:

    dasar katak dalam tempurung

  5. lis says:

    ya tapi facebook jg bikin masalah…

  6. anto says:

    emang indonesia ,negara lain tambah maju negara kita kok malah mundur dan banyak utang.gmn caranya ya agar indonesia gak banyak kerusuhan aman nyaman dan tentram kayak jmn dahuloe.serta semua rakyat indo bisa sejahtera

  7. tri anggoro mego cempoko putro says:

    semua keputusan ada ditangan kita,jadi kita harus mempunyai prinsip yang kuat di zaman yang serba edan ini.

  8. lucky says:

    sebaiknya jng jadikan facebook tempat curhat2an lho, kurang pas ghitu lho

  9. PENDI says:

    hahaha… Itu dia facebook. Itu dia manusia. Itu dia politik. Itu dia “fatamorgana”.
    Apa yg “mreka” ucapkan tidak slalu sama dengan apa yg mreka “inginkan”.
    Andaikan manusia sperti mesin scanner, yg membuat file image asli dari benda yg di scan. Tanpa diedit!
    Andikan pikiran manusia bisa diukur, sayang tidak seperti dompet.

    Hidup ini hnya kepingan yg terapung dilautan, memaksa kita memendam kepedihan. Barang siapa yg menutup mata, tidak akan melihat daratan.

    Berjuanglah Indonesia !

  10. ida says:

    facebook………

    politik………

    sama saja banyak pendapat …………….

    ambil baiK nya azA…………………………

    fositif…………………………

  11. me says:

    mau di fungsikan sebagai apapun situs pertemanan itu, tetap pada akhirnya kembali ke si individunya

  12. pius w says:

    sekarang jaman sibuk atau sok disibukkan, “nonggo” sudah jarang karena ada kaca ajaib, jadi mungkin FB tuk ” nonggo” yang melampaui tempat dan waktu ,gak usah ngrasani, berasa boleh

  13. iwan_klepu says:

    QJg sbgian dr brjuta2 pnggna facebook.Q mrskn mndpat mnfaat dr FB.bnyk tmen lma yg bs ktm lg.thx fb.

  14. Facebook ada sisibaik dan ada sisi buruknya. Semuanya tergantung in dividu menggunakannya.

  15. hidup adalah perdebatan,perdebatan itu ya,hidup,klo gk mau debat ,mati saja ,selama kita msh di dunia,yg namanya ”trouble” pasti mengiringi hidup kita, klo fikiran anda capek,mndgn jgn kmntr dulu,pasti kmntrnya gk enak di telaah,sorry bukannya ,lancang,tapi bukankah lebih baik bicara hati???.trims .

  16. tay says:

    yupe se7 banget kalau mau curhat lebih baik jangan di facebook, facebook hanya untuk mencari teman lama yang lost contect saja

  17. johny indo says:

    facebook,multiply,twitter,dll….adalah onderdil demokrasi !!!
    bahagialah anda yg bisa menikmati kebebasan demokrasi dalam dialog dan pengamatan pribadi masing2…..
    dengan adanya weblog2 seperti ini masyarakat yg di bawah pimpinan diktator kini bisa mengadu dunia internasional apa yg terjadi di negrinya. jangan lupa masa soeharto dimana kita sulit bicara soal militer dan aparatnya……kini masa itu tak mungkin lagi dan tak ada satupun presiden indonesia kini dan nanti yg bs lg seperti si soeharto.

  18. alie putra says:

    yah.. tergantung kita sendiri yg menggunakanya…
    niat positif like silatuhrahim or negatif tinking

  19. Junnaidy says:

    Facebook perlu ada pengembangan ke arah edukasi sins yang interaktif publik dan bukan hanya untuk intertaimen saja. Kebijakan tersebut diperlukan kemauan dari pihak pengelola.

  20. Golden SMART says:

    Baik dan tidaknya FB…tergantung dari motifasi penggunanya.. Bisa jadi positif ataupun sebaliknya…

    Bukan hanya untuk mencari temen lama ..atau sekedar “BERJANDA” namun lebih dari pada itu….

  21. yvonne says:

    cuma bisa bengong deh!
    baik ato tidak nya , toh uda pada seneng sm situs p.tmanan !

  22. Tri rasmasari says:

    facebook cuma bt seru2an aja..
    biargk dibilang gaptek doank…

  23. Yaaaahh. . . . . . . . .

  24. huh…. tiap orang punya facebook. gua kagak…. /mebelanda.com

  25. Facebook…. memang buat orang lupa kerjaan, lupa makan, lupa minum….eeeeitttt jangan lupa manfaatnya juga banyak lo… menghubungkan orang-orang yang laman tidak kontak dengan kita…
    promosi barang dagangan… hemat undangan jika ada acara pernikahan, penghilang strees dan buuuuanyaaaaaaaaaak lagi manfaatnya…. sampai saat ini aku belum tahu tuh dampak buruk facebook apa yaaaa….
    semuanya kembali pada usernya… kalo usernya emang wataknya dabplek tetap aja daplek…….
    hehehehe

  26. aan says:

    masalah face book kok di perdebatkan…, ya tanya aja sama yang bikin facebook…, untuk apa, siapa , dan bagaimana….??? , kalau ada yang menyimpang ya ber arti diri anda sendiri yang menyalahi aturan.., makanya tehnologi itu di pahami dulu sebelum di pergunakan…, jangan sok mempergunakan dech kalau nggak tau gunanya……

  27. suyintai says:

    menurut saya face book enak xo

  28. Facebook adalah sarna pergaulan di dunia maya, seperti halnya pergaulan di dunia nyata, ada orang yang berkepribadian baik, adapula yang jelek, semua itu akan ditunjukkan dalam facebook, seperti pepatah jawa : becik ketitik, olo ketoro, yang baik akan nampak baik biarpun hanya setitik, sedangkan yang buruk akan nampak keburukannya, sebaiknya kita pintar-pintar memilih !!!

  29. tingl pengunanya aja…..mau bik pa buruk…
    tpi enk ko…sebenarnya..

  30. kmikorea says:

    assalamualaikum.
    FB tinggal bagaimana kita menggunakannya.untuk kebaikan atau untuk kemunggkaran?

    http://www.kmikorea.net

    admin

  31. sgala hal ada baik & buruk,cmn orang qt LEBIH CNDRUNG K BURUKNYA DOANK. jd PJABAT-KORUPSI NYA DOANK, FB-BWT NGELIAT YG PORNO,FRIENSHIP WITH PEREX ,banyak deh pokoke,jd TRGANTUNG PMRINTAH,ORANG TUA, HUKUM YG PASTI JANGAN TRGANTUNG KAYA-MISKIN, PJABAT-ORANG AWAM,dll. cape gw nulisnya pokoke masih buuanyak

  32. nova says:

    yang pentink positif thinking aja semua pasti aman……………cm orang bodoh aja yng selalu salh mengartikan situz pertemanan ini sebagai sarana komunikasi yg negatif

  33. reno ardiansyah says:

    semua itu dari individu masing-masing!apapun tanggapan orang tentang FB tinggal kita bagaimana cara kita menyikapinya….!OK

Tinggalkan Komentar