Monday, May 20, 2013

Capres di Depan Kamera

July - 5 - 2009
capres-di-depan-kamera

Syaiful Halim

Debat capres berakhir sudah. Meski tidak menggambarkan secara nyata apa-apa yang bakal diperbuatnya kelak, momen itu telah berhasil “melukis” kemampuan para capres di depan kamera. Adakah pengaruhnya terhadap masyarakat?

Sepuluh tahun yang silam, ketika Timor Timur bergolak dan jutaan warganya hijrah ke Nusa Tenggara Timur. Perbatasan Mota’ain di Belu hingga Pelabuhan Tenau di Kupang menjadi gerbang utama eksodus. Selama berhari-hari, jutaan drama berhamburan di depan mata. Saya termasuk jurnalis yang sangat beruntung bisa leluasa merekam seluruh momen, tanpa takut dihadang para pengungsi. 

Asal tahu saja, saat itu para pengungsi sangat sensitif terhadap wartawan. Terutama, wartawan asing. Mereka bukan hanya tidak bersedia memberikan data. Tapi, mereka tidak segan-segan mengejar dan menganiaya jurnalis yang tidak disukainya. Walhasil, para jurnalis umumnya lebih banyak menunggu di hotel dan mengutus strengernya untuk mencari gambar atau data.

Saat Kupang sangat sibuk dengan jutaan “tamu” dari “negeri” tetangga, Megawati Soekarnoputri juga ikut ambil bagian. Ketua Umum PDI Perjuangan itu menyempatkan diri mengunjungi para pengungsi di Desa Noelbaki, Kupang, seraya berdialog dengan penuh kesehajaan. Kharisma sebagai “ibu” dan keputusasaan membuat Megawati mendapati tempat di hati para pengungsi.

Usai kunjungan singkat itu, Megawati meluangkan waktu untuk jumpa pers di Bandara El Tari. Sejumlah wartawan mengajukan pertanyaan. Dan sejumlah jawaban juga bermunculan – dengan visi sebagai “ibu” wong cilik dan korban ketidakadilan sistem. Namun, ketika seorang wartawan asing melontarkan pertanyaan yang sepertinya “tidak mengenakkan” hatinya, ia langsung geram dan memberikan kesempatan kepada wartawan lain. Ketidaksukaan atau ketidaksetujuan akan pertanyaan sang wartawan langsung dijawab dengan reaksi.

Tahun-tahun berikutnya, Megawati Soekarnoputri dengan PDI Perjuangan senantiasa tampil dengan citra “ibu” kaum wong cilik. Seiring dengan itu, ia juga senantiasa menjadi tambatan para wong cilik dan tatapan puluhan kamera. Michropone para reporter sering bermunculan di hadapan wajahnya. Kekuatan sebagai “ibu” kerap lebih menonjol dibandingkan pencitraan lain. Namun, “penyakit” memunculkan reaksi atas ketidaksukaan suatu masalah juga belum hilang.

Setelah diangkat menjadi presiden menggantikan KH Abdurahman Wahid, ia semakin malas berbicara dan mempelihatkan “keibuan”nya di depan kamera. Sehingga wartawan cenderung menggali informasi dan pernyataan-pernyataannya melalui pidato atau orang-orang dekatnya.

Di luar sikap tertutup dan “kepolosan” mengumbar reaksi, menurut saya, pernyataan-pernyataannya cukup sulit “dipelintir” menjadi berita. Saya harus dituntut berpikir keras ketika harus memilah fakta dan memilihnya menjadi bagian-bagian berita. Jujur saja, saya lebih memilih Mentri Keuangan Sri Mulyani atau mantan Meneg Pembedayaan Perempuan Khofifah Indar Parawansa, sebagai narasumber favorit di depan kamera.

Sebelum menjadi Menko Polsoskam, Susilo Bambang Yudhoyono termasuk tidak terlalu sering menjadi newsmaker.  Namun, ia dikenal pintar berbicara dan menyodorkan fakta di hadapan kamera. Pertanyaan sekeras atau setajam apa pun biasanya mampu diluluhkan oleh jawaban-jawaban rincinya. Ia memang cenderung berbicara dalam kalimat-kalimat panjang, teratur, sistematis, artikulasi yang jelas, dan tempo suara yang stabil. Ia juga tidak temperamen dan mudah menaikkan intonasi suara.

Saat menjadi Menko Polsoskam, ia lebih banyak berbicara dalam suasana formal. Dalam artian, ia lebih menyukai berbicara dalam suasana jumpa pers dibandingkan doorstop. Dan, kalaupun ia harus menjelaskannya secara doorstop, biasanya ia langsung memberikan penjelasan materi dengan gayanya tanpa harus wartawan mengajukan wartawannya. Penjelasan itu diberikan setelah ajudan melaporkan masalah-masalah yang ingin digali para wartawan.

Dalam kondisi seperti itu, maka reporter dan kamerawan harus bersiap-siap berkeringat. Karena, ia pasti akan memberikan jawaban yang panjang dan rinci. Bahkan, tidak memberi peluang adanya pertanyaan tambahan. Kalau harus membandingkan, maka Menhan Juwono Sudarsono menjadi pilihan saya dibandingkan SBY untuk menggali informasi masalah polkam. Karena, ia senantiasa memberikan jawaban cerdas dan lebih taktis saat di depan kamera.

Setelah menjadi presiden, ternyata SBY menjadi sangat dekat dengan wartawan. Ia justru makin terbiasa untuk berbicara apa saja dan menjawab pertanyaan apa saja, serta di tempat apa saja. Artinya, kutipan-kutipan penting tidak mesti harus didapat dari pidato. Tapi, sumber data itu bisa didapat di segala suasana dan peristiwa.

Muhammad Jusuf Kalla adalah pengusaha, politisi, dan pejabat negara yang terbiasa dekat dengan media massa. Ia bisa “ditodong” di mana saja dan kapan saja, serta dengan pertanyaan apa saja. Ia juga cenderung bisa mengendalikan diri dan tidak langsung naik pitam, ketika ia disodorkan pertanyaan yang tidak mengenakkan hatinya.

Suatu ketika, saya pernah memancingnya dengan pertanyaan konyol soal Jaring Pengaman Sosial di sebuah acara. Spontan saja, seorang mentri yang mantan anggota DPR sewot. Bahkan, menunjuk-nunjuk saya sebagai “wartawan ngawur”. Tapi, JK meredakan sang mentri dan langsung menjawab pertanyaan dengan tenang dan taktis.

Ketika menjabat sebagai Menko Kesra, saya termasuk wartawan yang sering memburu isu-isu baru dari JK. Bahkan, saya tidak pernah segan untuk mengetuk pintu ruangannya. Dan, ia pun tidak pelit untuk menyediakan waktu dan pendapatnya. Kelemahan aksen dan artikulasi yang cenderung tidak jelas dibalas dengan keramahan .

Menyangkut masalah kesra, menurut saya, ide-ide dan jawaban untuk konsumsi berita cenderung belum dasyat. Karena, setelah wawancara, saya juga harus berpikir keras untuk “memelintirnya” menjadi berita. Di bidang ini, saya menepatkan Menko Kesra sebelum, Haryono Suyono, sebagai newsmaker yang handal. Pernyataan apa pun darinya cenderung berisikan data atau fakta baru.

Setelah menjadi wapres, JK tetap tampil dengan dirinya. Ia tetap mudah disodorkan mike dan menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan. Karena keterbukaannya, ia justru membangun kontrovesi dan polemik. Terutama, menyangkut ketidaksingkronannnya dengan SBY.

Ketika ketiganya berkumpul di satu podium bernama “debat capres” di bawah tatapan sejumlah lensa kamera dan ratusan penonton, maka suasana baru pun tercipta. Kali, mereka berbicara tidak lagi di bawah tekanan doorstop atau kesejukkan jumpa pers. Tapi, benar-benar suasana baru yang menjajal pencitraan dirinya sebagai calon-calon pemimpin negeri.

Penguasaan data, mutlak dibutuhkan. Kecermatan memilih fakta sesuai pertanyaan moderator, mutlak dimiliki. Kejernihan artikulasi dan kontrol intonasi, mutlak dipunyai. Di luar seluruh public speaking skill itu, lensa kamera tidak bisa menyembunyikan kepribadian, kendali emosi, dan hasrat tampil lebih dibandingkan lawan.

“Megawati sekarang lebih pintar dan menguasai masalah dibandingkan lima tahun yang lalu,” kata seorang kamerawan. “Sayang, masih terlihat jutek dan belum menyodorkan hal baru dalam presentasinya.”

“Kalau SBY dan JK?” Tanya saya.

“SBY memang jagonya kalau berbicara di depan publik. JK juga tetap tampil dengan kesehajaannya. Kok, sepertinya pertarungan itu hanya di antara mereka berdua?”

Saya hanya tersenyum. Jawaban dan pertanyaan itu muncul dari seorang kamerawan yang cukup berpengalaman di balik kamera. Artinya, ia terbiasa membingkai objek dalam ruang yang sebatas garis gambar. Lebih fokus dan mengupas detail. Artinya lagi, “debat capres” berhasil menghadirkan gambar-gambar jernih untuk dijadikan bahan renungan sebelum mencontreng 8 Juli nanti – setidaknya bagi para jurnalis televisi.

Tangerang, 04 Juli 2009

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

18 Komentar pada “Capres di Depan Kamera”

  1. mayki says:

    semoga semua hal yg didebatkan dilaksanakan dengan baik kelak saat menjadi RI 1

  2. Mutiara says:

    Kalo menurut saya, SBY kalo berbicara lebih santun dan semua omongan yang dikeluarkan dilengkapi dengan data-data dan angka :)

  3. unyeng2 says:

    Saya percaya pengetahuan anda cukup untuk membahas masalah ini, tidak seperti sebelumnya yang sering membahas masalah keagamaan yang jauh panggang dari api. Lanjutkan mas bakatnya dalam jurnalis tetapi jangan kebablasan.

  4. ismituti ismail says:

    mega prabowo lah yang ekonomi kerakyatan,semoga sukses

  5. Roofi says:

    Saya akui Presiden SBY memiliki kharisma sebagai seorang Kepala Negara.Namun kebijakannya baru bisa dinikmati oleh kalangan PNS sedangkan untuk pegawai swasta, terutama buruh belum lah terasa. Ayo lanjutkan upaya peningkatan kesejahteraan buruh di Indonesia.

  6. hyoga says:

    Kita hanya bisa berharap siapapun pemimpinnya bisa membawa perubahan terhadap NKRI ini kedepannya (paling tidak untuk 5 tahun kedepa). siapapun Presiden yang terpilih harus bresifat Negarawan.

  7. hyoga says:

    Pengalaman anda sebagai jurnalistik patut di acungn jempol.
    Sekarang rakyat sudah memlih dan sudah menentukan plihannya, namun rakyat masih berharap banyak akan perubahan Bangsa ini untuk kedepannya (paling tidak untuk 5 tahun kedepan).

    namun bicara soal Capres didepan kamera belakangan ini begitu hangat kita dengar karena memang momentnya sekarang ini, dan mereka berusaha untuk memanfaatkannya dari media untuk mencari perhatian, begitu juga sebaliknya (hanya beda versi). hehehe……

  8. perry says:

    dengan itu setidaknya masyarakat bisa menilai dan menyelami kepribadian masing2 calon. keep the good job…

  9. Siapapun presidennya nanti, semoga itu yang terbaik buat bangsa ini, dan semoga jika ada prestasi semoga bisa di”lanjutkan” dan dipertahankan, namun jika ada kekurangan dari pemerintahan sebelumnya semoga bisa diperbaki dengan lebih cepat dan lebih baik, sehingga itu akan lebih menguntungkan bukan hanya bagi wong gede tapi juga bagi “rakyat” atau “wong cilik’.

    Selamat berjuang Bapak Negara….

  10. lunna says:

    yg terbaik pasti menang, kwak kwak kwak….. kt jk

  11. niehands says:

    Seorang Presiden memang sudah seharusnya memiliki kemampuan publik speaking yang baik, dan mungkin saja kamuflase yang baik.

    Review mengenai debat capres kemaren, saya rasa Bp. SBY memang unggul dari segi publik speaking dan data-data yang dimiliki. Mengenai data-data ini, tim suksesnya Bp. SBY yang patut diacungi jempol. Adapun Bp. JK, ide-ide briliannya dalam beberapa iklan masih kalah dibandingkan dengan kemampuan publik speakingnya. Sedangkan ibu Mega, saya setuju kalo beliau semakin baik daripada kampanye periode sebelumnya. Mudah-mudahan tahun 2014 ibu Mega menjadi semakin membaik lagi,karena saya rasa beliau ini saya prediksikan akan mencalonkan diri lagi, insyaallah.

    Berbicara tentang capres 2014, sepertinya bakal diisi oleh orang-orang dari tim sukses capres-capres sekarang, mengingat Bp. SBY dah tidak mungkin lagi mencalonkan diri berdasarkan UU. Prediksi saya ada yang berkumis, ada yang berkacamata. Hehehe. Just intermezo..

  12. Bagaskara says:

    Akhirnya tuntas juga perhelatan paling akbar di negeri ini. Artikel cukup membantu mebahami kualitas para calon penggede negeri. Good job, Kang!

  13. ca2h says:

    tolong janga banyak sekali bicara ya .. . . . .

  14. Gladis says:

    kalo soal bicara di khalayak ramai, pasti sebisa mungkin harus tampil optimal dan tidak boleh terlihat ragu atas apa yang sudah dilontarkan…tapi dibalik itu semua,masyarakat pada umum’y juga melihat kualitas dan pembuktian atas pidato2′y…..so,kita lihat saja apa yang akan kita dapatkan atas janji2 pemimpin kita nanti..semoga saja yang terbaik bagi semua’y….SALAM DAMAI untuk semua’y

  15. fransiscus says:

    saya setuju dengan komentar Roofi : Saya akui Presiden SBY memiliki kharisma 125 cc,sebagai seorang Kepala Negara.hehe Namun kebijakannya baru bisa dinikmati oleh kalangan PNS sedangkan untuk pegawai swasta,buruh,dan pengangguran belum lah terasa.Terus buat “seorang kamerawan yang cukup berpengalaman di balik kamera”,manusia bukan benda yang bisa dinilai dari luar (senyum dan tutur kata). tapi manusia harus dinilai dari tingkah lakunya dan hatinya. Kita lihat saja apakah pegawai swasta kontrak yg “Outsourcing” dan “pengangguran” lebih bagus dari PNS atau tidak tinggal anda yang menilainya dan me “Lanjutkan”. dan diantara salah satu dari Capres yang EKSIS nantinya walupun tidak terpilih dia benar – benar CAPRES yang bisa di handalkan..Syalam

  16. Sofree says:

    Sebagai bukan rakyat RI, SBY dimata saya seorang yang bertanggungjawab, ikhlas dan jujur. semoga rakyat Indonesia kedepannya makmur dan aman.

  17. dealer pulsa says:

    yg saya harapkan indonesia maju kedepany merdeka untuk indonesia

  18. haiiii..walking here and read ur post..nice site :D

Tinggalkan Komentar