Thursday, May 23, 2013
battle-in-seattle-menggempur-pasar-bebas-di-kandang-kapitalisme

Rahman Andi Mangussara

“…Perdagangan bebas dan hubungan seksual bebas akan lebih berguna ketimbang cara lain dalam mengembangkan peradaban…”

James Wilson, seorang pendukung setia perdagangan bebas di Inggris, mengatakan kutipan di atas pada 1843. Begitu kuatnya kepercayaan Wilson akan argumen Adam Smith tentang perdagangan bebas, ia pun menerbitkan majalan The Economist yang didedikasikan untuk perdagangan dan pasar bebas. Dari Inggris, setelah negara ini siap betul bertarung di pasar bebas, perdagangan bebas dikumandangkan ke seantero bumi.

Kini, kata-kata Wilson itu seperti menemukan bentuknya yang paling nyata. Bukan hubungan seksual bebasnya yang saya maksudkan (entah kenapa Pak Wilson ini mengatakan hubungan seksual bebas dan perdagangan bebas dalam satu tarikan napas) melainkan perdagangan dan pasar bebasnya yang nyaris tak terbendung. Perdagangan dan pasar bebas nyaris tak terbendung. Selengkapnya klik di sini


Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) bersama dua lembaga yang dibentuk setelah perang dunia ke dua: Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia –yang oleh penentangnya sering diolok-olok sebagai trinitas tak suci– bersama-sama mempromosikan perdagangan dan pasar bebas. Hasilnya, ya.. itu tadi, hampir tak terbendung. Bahkan negara atau organisasi pemerintah yang relatif kuat sekali pun tak berkutik dibuatnya. Siapa yang tak mengikuti garis yang dibuat oleh tiga lembaga tadi dianggap sebagai lawan yang harus dimusuhi.

Maka, tak ada yang menyangka, setidak-tidaknya tidak ada yang mempedulikan, ketika sekitar 10 ribu orang menggelar demonstrasi di penghujung November yang membeku pada 1999 di Seattle, Amerika Serikat.  Demontrasi gabungan advokasi konsumen, pencinta lingkungan, pecinta binatang, organisasi buruh, mahasiswa dan tentu saja tak ketinggalan kaum anarkis membuat polisi kewalahan dan berhasil menunda pembukaan sidang WTO.

Dunia tersentak. Ternyata, masih ada kekuatan yang bisa melawan hegemoni tiga lembaga itu dan negara-negara kapitalis yang mendukungnya. Hebatnya lagi yang melakukan perlawanan itu adalah masyarakat sipil yang selama ini dianggap tak berdaya dan tak mampu mengorganisasikan diri.

Hasil dari demonstarsi yang berlangsung masif selama lima hari penuh itu adalah ditundanya pembicara menyangkut pemberlakukan perdagangan bebas atas sejumlah komoditi termasuk sektor kesehatan yang dituding kelewat komersial sehingga membuat banyak orang miskin mati tanpa pengobatan. Tidak itu saja. Pesan yang dikirimkan  oleh para pendemo ini justru jauh lebih penting dari sekadar diakomodasinya sejumlah kepentingan negara berkembang yang dirugikan oleh perdagangan bebas yakni: masyarakat sipil belum mati di hadapan kekuatan hegemonik negara dan korporasi multinasional. Gaung dari peristiwa ini terasa hingga sekarang.

Cerita itulah yang diangkat dalam film Battle in Seattle oleh sutradara Stuart Townsend. Film yang bisa dibilang setengah dokumenter ini memperlihatkan bagaimana masyarakat sipil itu melakukan demonstrasi dengan rantai komando yang begitu banyak tapi berhasil membuat polisi putus asa.  Bagaimana menggelar unjuk rasa bisa dipelajari di film ini.

Jika Anda membayangkan film ini hanya menceritakan demontrasi tanpa konflik, opss.. jelas itu salah. Di sini ada konflik keluarga antara seorang polisi dengan istrinya yang tengah hamil tua. Pak polisi ini harus meninggalkan sang istri yang tengah terbaring di rumah sakit setelah dihajar polisi anti huru–hara karena dikira salah seorang demonstran saat terjebak di tengah-tengah massa yang tengah kacau. Sang istri tak mau tahu dengan semua alasan suaminya dan mulai membenci polisi yang menyebabkan ia keguguran anak pertamanya.

Jadi, ini bukan film yang hanya wajib ditonton kaum anarkis dan demonstran sejati, Anda juga bisa.  Masalahnya, untuk penonton Indonesia, film dengan jenis seperti ini yang bintangnya bukan aktor papan atas, mungkin sekali tak akan ditayangkan di jaringan bioskop XXI. Paling-paling, Anda bisa berharap pada Blitz yang biasanya mau mengimpor film-film indie atau film yang mencerahkan. Atau, kalau mau menonton dengan kualitas suara dan gambar yang tak terlalu bagus datanglah ke tokoh penjual DVD bajakan… :)

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

3 Komentar pada “Battle in Seattle; Menggempur Pasar Bebas di Kandang Kapitalisme”

  1. Sohi says:

    Kalo om wilson bilang gitu, ku bilang gini..

    “..perdagangan bebas dan seks bebas akan lebih efektif dalam meruntuhkan peradaban..”

    :D D
    palagi bwat negara kita yg masih (kata orang) merangkak kayak gini.. mana siap?

    Kayaknya filmnya ga bagus kalo da konflik dari pihak polisinya..
    Btw, mbajak boleh ya om? Di tipi-tipi bilang koq ga boleh?

  2. Blangkond says:

    Terserahlah dunia ini mau apa, aku sih siap-siap saja. Tapi bagiku yang terpenting aku akan berusaha memakai produk-produk khas Indonesia. Kalau di sini tidak ada baru kita boleh membeli dari dunia mana saja, yang penting Indonesia tidak dijor oleh negara lain, gracias.

  3. menerutku sih perdagangan bebas menuntut kita untuk lebih cermat dan bijak dalam memilih,masalah persaingan dari dulu sampai sekarang pasti ada hanya bentuk dan sistemnya yang berkembang.sex bebas dalam artian dunia barat tidak terlalu menjadi isu nasional, karena yang dilihat hanya economi,bisnis dan politik

Tinggalkan Komentar