Wednesday, May 22, 2013
albert-arnold-gore-jr

Rinaldo

Malam itu, 4 November 2000. Al Gore mengangkat gagang telepon dan menghubungi George Walker Bush. Dia mengucapkan selamat atas kemenangan Gubernur Negara Bagian Texas itu dalam pemilihan presiden. Percakapan tersebut tak berlangsung lama, dan Gore yang ketika itu masih menjabat sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat sekaligus calon presiden dari Partai Demokrat, menutup telepon.

Sebagaimana galibnya dalam budaya politik AS, Gore pun bersiap menyampaikan pidato kekalahan di depan pendukungnya. Namun, dalam rentang tak terlalu lama, dia dikejutkan oleh telepon dari Ron Klain, manajer kampanyenya. Kabar yang didengarnya bak petir di siang bolong. Klain mengatakan ada yang salah dengan hasil suara di Negara Bagian Florida. Dan, tipisnya selisih suara antara  Gore dan Bush, membuat kesalahan itu cukup untuk mengantarkan Gore menjadi pemenang dalam Pilpres 2000. Intinya, siapa yang memenangkan Florida dipastikan bakal berkantor di Gedung Putih.

Seketika itu juga, konstelasi politik di AS berubah. Sebagian besar media elektronik mencabut running text tentang kemenangan Bush. Media cetak pun buru-buru membuat edisi ralat. Reporter yang berada di lapangan mengubah arah pemberitaan dengan mengatakan “belum ada Presiden AS terpilih”. Sejak malam itu, sebuah “drama” yang disebut-sebut sebagai the most controversial presidential election in US history tersebut dimulai. Selengkapnya »

kekalahan-awal-media-massa-konvensional

Zaky Muzakir

Kecepatan adalah salah satu unsur berharga dalam sebuah berita. Di kalangan media, kecepatan yang menjelma sebagai aktualitas ini bahkan acap menjadi ukuran gengsi. Kalah cepat menayangkan berita dibanding media tetangga, terasa sebagai pukulan telak.

Tak heran media yang sedang Anda baca ini pun menempatkan unsur “aktual” dalam slogannya di urutan pertama, sebelum diikuti “tajam” dan “terpercaya”.

Tapi, kini media tidak lagi hanya bersaing dengan sesama media. Soal aktualitas, Anda bersama seluruh khalayak ramai bisa mengalahkan media konvensional. Selengkapnya »

demokrasi-buruk-bagaimana-khilafah

Moh. Samsul Arifin

Rakyat sebagaimana dimaklum adalah entitas yang abstrak. Dalam medan politik, ia senantiasa diperebutkan untuk diatasnamakan, diwakili [representasi] dan dijadikan sumber legitimasi. Inilah mengapa kita perlu instrumen untuk mengukur kehadiran rakyat dalam politik. Kehadiran memastikan rakyat wujud. Di sini ia konkret.

Sistem yang paling mungkin menghadirkan rakyat disebut demokrasi. Sistem ini mensyaratkan rakyat senantiasa wujud dan karenanya konkret. Instrumennya, apalagi jika bukan pemilihan umum (election). Dalam kotak suara, rakyat menyatakan diri. Ia tak hanya hadir di tempat pemungutan suara [TPS], tapi sejatinya memasukkan kehendak. Inilah yang suci dan lalu diterjemahkan dalam angka. Pada titik ini pula demokrasi bertemu dilema. Selengkapnya »

siapa-peduli-pendidikan-kaum-miskin

Zaky Muzakir

Bersekolah sederhananya ada guru, ada murid. Ada ilmu dari guru, dan ada murid yang mendambakan pengetahuan baru. Itu saja. Tapi tidak sesederhana itu di masyarakat modern. Setidaknya masyarakat Indonesia mutakhir.

Seiring dengan kampanye pemilihan legislatif dan presiden, isu pendidikan gratis kerap didengungkan. Semua politisi pun akur, pendidikan vital bagi kehidupan berbangsa. Karenanya, pendidikan memang perlu disubsidi lebih besar dari sebelumnya.

Itu bagus tentu saja. Sayang, kabar gembira ini bagi sebagian masyarakat lebih banyak menimbulkan kebingungan. Gembar-gembor iklan bahwa pendidikan dasar sembilan tahun gratis bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan.
Selengkapnya »

Garuda di Dadaku

July - 14 - 2009 43 KOMENTAR
garuda-di-dadaku

Leanika Tanjunggaruda

Ini film anak-anak loh…

Pertama kali mendengar judulnya, aku bilang ke temanku film apa ya itu. Judulnya terlalu berat, sepertinya tidak layak tonton, apalagi diliput. “Ini tentang anak kecil yang punya ambisi besar jadi pemain sepak bola,” jawabnya.

Aku mulai tertarik. “Anak itu harus melakukan berbagai cara agar bisa masuk tim nasional karena ditentang kakeknya,” lanjutnya.

Hhmmm … Aku makin tertarik. Aku penasaran bagaimana seorang sutradara Indonesia memfilmkan sebuah ambisi, sebuah motivasi dan keinginan. Aku teringat film Iran, Children of Heaven, yang bercerita tentang seorang anak di Iran, yang saking miskinnya, harus berganti sepatu dengan adiknya, tiap kali ke sekolah. Selengkapnya baca di sini. Selengkapnya »

capres-di-depan-kamera

Syaiful Halim

Debat capres berakhir sudah. Meski tidak menggambarkan secara nyata apa-apa yang bakal diperbuatnya kelak, momen itu telah berhasil “melukis” kemampuan para capres di depan kamera. Adakah pengaruhnya terhadap masyarakat?

Sepuluh tahun yang silam, ketika Timor Timur bergolak dan jutaan warganya hijrah ke Nusa Tenggara Timur. Perbatasan Mota’ain di Belu hingga Pelabuhan Tenau di Kupang menjadi gerbang utama eksodus. Selama berhari-hari, jutaan drama berhamburan di depan mata. Saya termasuk jurnalis yang sangat beruntung bisa leluasa merekam seluruh momen, tanpa takut dihadang para pengungsi.  Selengkapnya »

battle-in-seattle-menggempur-pasar-bebas-di-kandang-kapitalisme

Rahman Andi Mangussara

“…Perdagangan bebas dan hubungan seksual bebas akan lebih berguna ketimbang cara lain dalam mengembangkan peradaban…”

James Wilson, seorang pendukung setia perdagangan bebas di Inggris, mengatakan kutipan di atas pada 1843. Begitu kuatnya kepercayaan Wilson akan argumen Adam Smith tentang perdagangan bebas, ia pun menerbitkan majalan The Economist yang didedikasikan untuk perdagangan dan pasar bebas. Dari Inggris, setelah negara ini siap betul bertarung di pasar bebas, perdagangan bebas dikumandangkan ke seantero bumi.

Kini, kata-kata Wilson itu seperti menemukan bentuknya yang paling nyata. Bukan hubungan seksual bebasnya yang saya maksudkan (entah kenapa Pak Wilson ini mengatakan hubungan seksual bebas dan perdagangan bebas dalam satu tarikan napas) melainkan perdagangan dan pasar bebasnya yang nyaris tak terbendung. Perdagangan dan pasar bebas nyaris tak terbendung. Selengkapnya klik di sini

Selengkapnya »