Sunday, March 21, 2010
tuan-nyonya-capres-dengarlah-rintihan-dhea

Moh Samsul Arifin

Dhea begitu ia biasa dipanggil. Usianya baru sepuluh tahun. Ia terpaksa melupakan ikut EHB [Evaluasi Hasil Belajar], tengah Juni lalu lantaran tiba-tiba jatuh sakit. Murid SD Aren Jaya 14 Bekasi ini sudah tiga kali pindah rumah sakit. Alih-alih sembuh, penyakit yang dideritanya baru dipastikan setiba di RS yang bersebelahan dengan kampus kedokteran UI Salemba, Jakarta.

Lebih dari dua pekan ia terbaring (kadang tak sadarkan diri, kadang sadar) di ruang gawat darurat (ICU) anak RSCM Jakarta. Dokter yang merawatnya menyebut ia positif mengidap Sindrom Guillain Barre atau SGB. Ini adalah sebentuk kelainan sistem saraf akut yang mengenai radiks spinalis dan saraf perifer, dan kadang saraf kranialis. Mereka yang mengidap SGB bisa dikenali dari sejumlah gejala, mulai dari kelumpuhan, kerusakan saraf dan jika parah bisa menimbulkan koma.

Ini sindrom langka. Bukan saja di Indonesia, tapi di dunia dengan fasilitas kesehatan berkilau mutiara seperti Amerika Serikat. Pernah tahun 1976 silam, sindrom ini mencuri perhatian. Pemerintah AS menggelar program imunisasi massal terhadap influenza. Hasilnya, dari 46 juta orang yang diimunisasi, ternyata 4.000 orang mengalami sindrom ini. Di Indonesia, belum diketahui berapa jumlah penderita SGB. Yang jelas, SGB menyerang semua usia [3 bulan hingga 95 tahun] dengan insidensi/kejadian lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki [2:1].

Pada penderitanya yang lumpuh, serangan biasa berawal dari bawah—mengenai kaki (umumnya kedua tungkai), dan terus merembet keatas hingga menyebabkan gangguan pernapasan dan penurunan kesadaran. Serangan lebih lanjut membuat tungkai kedua kaki dan kedua tangan mengalami lumpuh layuh. Kejamnya SGB bisa menyerang saraf otot, juga indera peraba. Sang penderita bisa mengalami baal atau mati rasa.

Dhea bukan Prita Mulyasari yang dapat menulis surat elektronik berisi keluhan atas layanan kesehatan sebuah RS di Tangerang. Email Prita membuatnya sempat mendekam di hotel prodeo selama tiga pekan. Beruntung kasus Prita tercium media massa dan juga capres yang hendak memperebutkan lebih dari 176 juta pemilih pada Pilpres nanti. Alhasil ia menghirup udara bebas. Keluar dari penjara dan kasusnya [delik pencemaran nama baik] tidak dilanjutkan. Tuah kerja sama manis media dan kandidat presiden.

Dhea atau lengkapnya Dhea Rizky Yulianingsih tak seberuntung Prita. Jangankan berbagi cerita—seperti pernah dilakukan anak korban tsunami Aceh dengan “kawan penanya” di Amerika Serikat—hidupnya tergantung alat bantu pernapasan [ventilator]. Ia berjuang di antara hidup dan mati. Hanya doa sang bunda, ayah, kakek, nenek, kerabat serta kawan-kawannya menyertai perjuangan Dhea.

Saya—yang kebetulan kenal dengan bundanya—dua kali menyaksikan Dhea. Ia tergolek. Tak ada tawa lagi. Selang ventilator masih terlilit di hitungnya. Ia tertidur. Napasnya terengah-engah. Bundanya bercerita, pernah dokter yang merawatnya coba melepas ventilator itu. Tapi Dhea belum kuat. Lambungnya terinfeksi. Darah keluar dari mulut mungilnya. Terpaksa dokter memasang alat itu kembali hingga tulisan ini dibuat. Sang dokter berujar mungkin penyembuhan Dhea bisa makan waktu dua bulan.

Sang bunda bercerita lagi. Suatu siang, ada reporter sebuah stasiun televisi meliput Dhea. Buat stasiun itu, penyakit yang didera Dhea adalah news value. Sebentuk kepedulian yang berhulu dari rasa kasih. Lewat tayangan dalam program beritanya, stasiun ini berharap dapat mengetuk solidaritas khalayak di tanah air.

Ya… biaya perawatan untuk Dhea memang tidak sedikit—tak cukup jika hanya ditebus dari pendapatan orangtuanya. Untuk menebus obat saja, mereka harus merogoh Rp600 ribu per hari. Ini baru dari satu jenis obat. Sementara yang dibutuhkan Dhea lebih dari itu. Untuk kembali ceria seperti sedia kala, puluhan juta rupiah harus dikumpulkan orangtua Dhea. Seluruh ikhtiar, termasuk menyambangi sejumlah perusahaan telah dilakukan orangtua Dhea. Apa daya rupiah di saku ortu Dhea tidak cukup. Mereka berharap uluran tangan dari dermawan atau mungkin dari tuan dan puan calon presiden sekalian.

RS yang merawat Dhea hanya lima menit dari Jalan Diponegoro atau 15 menit dari Jalan Teuku Umar Jakarta. Di dua kawasan elite Menteng ini, kandidat presiden [JK, Megawati] dan tim sukses SBY-Boediono memancang strategi dan taktik untuk bisa merebut simpati publik dan menakhodai Indonesia. Seandainya rintihan Dhea mengusik hati nurani. Dhea dan ortu menunggunya di sini: 0857-2041052.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

13 Komentar pada “Tuan-Nyonya Capres, Dengarlah Rintihan Dhea”

  1. fajar

    tks infonya.
    klo ada potretnya sekalian bagus sekali
    bisa kirim doa minimal
    lebih bagus lagi dibukain rek bca,
    jd pembaca bisa langsung isi
    sekali lg tks

  2. nofal

    Allohuma isfi mardona wamardol muslimin..ya Alloh berilah kesembuhan sakit kami dan sakitnya kaum muslimin..begitulah Rosul mengajari kita untuk selalu berdoa….Adiku dea semoga Alloh memberikanmu kesabaran dan memberimu pahala yang besar.
    ‘Dan apa apa yang menimpamu baik itu yang kebaikan maupun keburukan telah tercatat dalam kitab yang agung /lohmahfud demikian itu aku beritakan agar kamu tidak terlalu bergembira jika mendapat nikmat dan tidak terlalu bersedih jika tertimpa musibah bertakwalah kamu kepada tuhanmu sesungguhnya Dia maha menndengar dan maha melihat’ demikian Robuna tuhan kita mengatakan dalam kitabnya’
    Adiku Dea apa yang menimpamu adalah ketentuan yang kuasa…berdoalah kepadaNya agar segera memberikan kesembuhan kami juga ikut berdoa unutk kesembuhanmu.
    Tentunya sebagai manusia kita diwajibkan ikhtiar dan semoga dengan moment ini bisa membuka mata para capres dan cawapres yang lagi jual omongan yang tentunya malaikat pencatat akan mencatat semua janji mereka dan akan diminta pertanggung jawabnya kelak dikemudian hari….
    Semoga lekas sembuh dea …amin

  3. DAVID SIAGIAN

    Semoga mereka mau mengerti dan memahami situasi. Seharusnya pihak sekolah harus memberikan pengecualian terhadap siswa/muridnya jika tidak dapat mengikuti EHB yang dikarenakan harus mwnjalani perawatan. Hai Guru dimana hati nurani anda

  4. ismituti ismail

    semoga cepat sembuh ya dea,kita doakan,amin

  5. indah mayasari

    asalam,
    saya cukup prihatin bahkan sangatsangat prihatin.
    hanya doa yang bisa saya sumbangkan
    semoga ayah dan bunda dea bisa melihat dea tersenyum dan tertawa lagi…
    cepat sembuh dea…

  6. adrizal

    assalamualaikum w w, adk ku dea……
    kk tidak dapat ngasih apa2…melain kan doa…..
    smg dea di kesembuhan oleh yg maha kuasa….
    dan smg dea seht sperti adanya kembali

  7. cuma bisa nitip doa, semoga cepat sembuh dan senantiasa diberikan kesabaran

  8. Alhamdulillah masih ada yang melihat,peduli semoga masih banyak lagi dan semoga yang lagi sakit di beri kesembuha dan di beri ketabahan dan kekuatan iman terimakasih

  9. gyanuar

    buat adik dhea, semoga diberikan kekuatan oleh yang maha kuasa…dan di berikan kesembuhan agar dapat berkumpul dengan keluarga tercinta.

    amiin…

  10. deddip

    Insya Allah Dhea dapat sembuh. Bung Moh Samsul Arifin, kami bermaksud memberi bantuan untuk Dhea. Mohon infonya lewat japri. Amin.

  11. siapa yang nanti mau peduli dengan Dhea?
    Apa milyaran uang yang dimiliki oleh orang2 kaya cuma untuk diri sendiri? Sayang, susahnya menggugah hati kasih orang… Apa kita harus menunggu untuk mengalami apa yang dialami Dhea agar bisa merasakan kesulitan orang lain?!

  12. Semoga dik Dhea lekas sembuh dan diberi kekuatan untuk terus bertahan dari Allah SWT. Untuk orang tua Dhea, mohon untuk bersabar ya pak/bu. Pasti ada jalan untuk dapat mengobati penyakit Dhea.

Tinggalkan Komentar