Syaiful Halim
Seorang pembaca (Ibud) di blog saya menulis:
Saya merasa, pengalaman Helmi 15 tahun di tempat ‘pembuangan’ mirip pengalaman saya. Namun saya belum menjadi sufi. Saya baru belajar bersabar dan mudah-mudahan tetap sabar. Apakah sosok helmi adalah real atau hanya rekaan? Kalau benar real ALLAH memang Mahapengasih dan Mahapenyayang siapa pun yang merasa terpinggirkan, sendiri dan tidak berdaya selalu disinari nurNYA sehingga dapat menemukan kesabaran, mencari pengetahuan untuk lebih dalam mengenalNYA sebagai penguat hati, tempat bersandar dan bertawaqal. SUBHANALLAH Maha Suci ALLAH.
Pembaca lain (Navis) juga menorehkan pengalamannya:
“Sekitar 13 tahun yang lalu saya juga berpengalaman terasingkan, bahkan orang-orang di sekitar saya menganggap saya sedang stress selama kurang lebih 6 bulan. Padahal dalam 6 bulan itulah saya merasakan sedang asyik-asyiknya dekat dan bercengkrama dengan Al Khaliq. Setidaknya 6 bulan itu telah menjadi pondasi kadar keimanan saya, akhlaq saya, dan alhamdulillah dg hikmah kesabaran saya sekarang merupakan pemuda yang berpenghasilan lumayan (20jt-an/bulan). Tapi bukan itu tujuan hidup saya. Tujuan saya adalah kedekatan saya dengan Al Khaliq di saat apa pun juga. Di saat semua org menganggap saya stress, saya ttp dekat dg Allah, Juga di saat orang banyak mengelu-elukan saya jg tetap dekat dg Al Khaliq. Pengalaman 6 bulan itu tidak hanya suatu kesengajaan saja, karena saat-saat itu memang telah lama saya rindukan dan nanti-nantikan. Dan akhirnya datang juga kebinasaan saya, keterpurukan saya. Tapi akhirnya menjadi pondasi kesuksesan saya pada hari ini hattal yaumil qiyamah dan akan terus saya wariskan kepada generasi-generasi keturunan saya maupun siapa saja yang mau mengambil tauladan ini. Saya jg menyitir salah satu hadis qudsi, ‘Suatu ketika mintalah petuah kepada hati nuranimu, jika hati nuranimu mengatakan bahwa sesuatu itu baik maka hakikatnya itu adalah baik, dan apabila hati nuranimu mengatakan bahwa sesuatu itu jelek maka hakikatnya itu adalah jelek.’ Tetapi saran saya buat semua utk menuju kemuliaan akhlaq jgn menunggu ketika terpuruk, sedini mungkin memahami ajaran Allah dan rosulNya dengan mendalam Insya Allah akan jg bisa meceburkan diri pada akhlaqul karimah seperti yg dicontohkan oleh Rosulullah SAW.”
Bagi saya, kisah Ibud dan Navis adalah inspirasi yang luar biasa. Kekuasaan Allah SWT membuat keadaan bisa berubah sekedakNya. Atas atau bawah, depan atau belakang, samping kiri atau samping kanan, hanyalah soal waktu. Karena, pada hakekatnya Allah SWT telah mencatat seluruh perjalanan hidup manusia dalam skenario Lauh Mahfudz.
Bila cerita dan keyakinan soal skenerio hidup belum bisa menjadi jawaban atas deraan cobaan atau ujian duniawi, seorang sahabat saya menyodorkan tiga pertanyaan sekaligus tiga jawaban atas surat di atas. Katanya, “Cobalah bertanya kepada diri kita sendiri dan menjawabnya secara jujur tentang kita sendiri. Introspeksi. Khususnya, menyangkut berjuta keinginan yang membelenggu hati dan pikiran. Sehingga, kita menjadi kehilangan arah dan melupakan kekuatanNya.
Apa yang sebenarnya sedang kita cari?
Kalau arah pertanyaan itu tentang jabatan, kedudukan, posisi, atau keinginan mendapatkan fasilitas duniawi, maka alangkah hinanya diri ini. Karena, itu sama artinya dengan memberhalakan dan memuliakan masalah-masalah duniawi. Jabatan atau posisi memang berdampak status sosial dan kekayaan. Selain itu, juga akan berdampak pada penghormatan atau aktualisasi diri di tengah masyarakat. Begitu menggiurkan, memang.
Siapa yang tidak ingin kaya? Siapa yang tidak ingin memiliki banyak harta-benda? Siapa yang tidak ingin dihargai? Siapa yang tidak ingin dimuliakan? Pasti semua orang, buruh di pabrik mana pun, karyawan di perusahaan mana pun, atau pejabat di instansi mana pun, memang berkeinginan dan berlomba-lomba memburunya. Tapi, apa hal-hal seperti itu yang menjadi tujuan hidup? Padahal tanpa itu semua, Allah pun tetap memberikan tempat untuk orang-orang yang mau dekat denganNya. Orang-orang yang taqwa. Banyak contoh tentang orang-orang yang kaya-raya, memiliki jabatan dan posisi terhormat, dan dielu-elukan orang di mana pun, tapi hatinya merana. Hatinya tersiksa. Hatinya justru dipenjarakan oleh keduniawiannya sendiri.
Karena itu, pendapat untuk mengedepankan jabatan, posisi, fasilitas, harta, atau kehormatan, tanpa mengindahkan pemberian yang sesuai porsi dari Nya, jelas keliru. Karena, khawatir, jabatan, harta, dan kehormatan itulah, yang akan membawa kita lari dari Allah. Sungguh malu rasanya, ketika kita ditantang untuk menjawab pertanyaan tentang tujuan hidup, namun sesungguhnya kita termasuk orang yang mendewakan jabatan, harta, dan kehormatan. Naudzubillah.
Tidak cukupkah apa-apa yang telah kita dapat selama ini?
Bagaimana pula menjawab pertanyaan ini, bila kita tidak pernah merasa cukup dengan apa-apa yang kita dapat selama ini. Sungguh, kita termasuk orang yang tidak bisa berterima-kasih. Kita tergolong orang-orang yang tidak bisa bersyukur. Padahal, Allah telah melimpahkan segala-galanya untuk hidup kita.
Cobalah menoleh sedikit saja ke samping kanan atau kiri. Bahkan, ke bawah. Perhatikanlah, adakah mereka yang hidup tidak seberuntung kita? Jawabannya, pasti sangat banyak! Sangat banyak dibandingkan harga burger yang kita beli di foodcourt. Artinya, sesungguhnya kita sudah hidup berlebih. Lebih di atas rata-rata. Jadi, saatnyalah bersyukur dan berterima-kasih.
Tidakkah kita inginkan kemuliaan di alam baqa?
Inilah pertanyaan terberat, yang sulit untuk dijawab. Karena, arahnya meraih kemuliaan di alam lain yang masih abstrak. Hidup secara sederhana dan apa adanya, serta berbuat banyak kebajikan untuk memanjakanNya, namun memperoleh tempat terhormat di alam abadi nanti. Artinya, keinginan untuk mengiyakan pertanyaan ini sama artinya, dengan terus mengakui adaNya dan kuasaNya. Yakinlah, Allah itu ada dan mengawasi setiap gerak kita. Allah juga begitu berkuasa untuk mengatur segalanya. Terutama, kehidupan makhluk-makhluk ciptaanNya. Karena itu, tidak alasan untuk lepas dari keyakinan tentang adaNya. Inilah pelajaran tauhid pertama yang perlu dirasakan kebenarannya.
Bila adaNya telah kita dapati, maka saatnyalah menjejaki keyakinan tentang kuasaNya. Sesungguhnya, perjalanan hidup manusia dan segala geraknya adalah atas kuasaNya. Pabrik, kantor, atau perusahaan hanyalah syariat. Boss atau atasan pun syariat, untuk meyakini adaNya dan kuasaNya. Karena itu, kita harus makin meyakini adaNya. Kita juga harus merasakan kuasaNya.
Teruslah mendekatkan diri dengan shalat dan zikir agar adaNya memang terasa. Sehingga, kita tak lagi ragu akan kebenaran dan keagunganNya. Bila keraguan itu tak ada lagi, bila keyakinan itu makin menebal, saatnya jugalah kita menikmati kuasaNya. Bukan lagi sebatas obyek, yang terus disuapi nikmat dan hidayahNya. Tapi, jadilah kepanjangan tanganNya. Dengan berbuat kebajikan di segala kehidupan.
Istighfar dan teruslah istighfar. Bertanya lagi pada diri kita tentang tujuan hidup. Akankah jabatan, posisi, dan fasilitas perusahaan, menjadi sasaran kita? Sungguh sayang seribu sayang, bila pada akhirnya akar masalah dan jawabannya hanyalah soal materi. Ya, persoalan duniawi. Saatnyalah meyakini pilihan terbaik untuk hidup kita. Tentukan posisi, di mana kita akan berdiri? Kita akan menjadi kaum apa? Tentukan pilihan dan rasakan resikonya. Karena, kita harus selalu sadar, setiap keputusan akan berbuah resiko. Saatnyalah membela kata hati kita sendiri, yang sudah kita yakini kebenarannya di lihat dari sudut mana pun. Dengan begitu, barulah kita bisa berani memutuskan diri, untuk beristiqomah. Memulai hidup baru dengan konsep yang tercerahkan, dengan akhlak yang lebih mulia, dan dengan optimisme yang lebih besar. Tidak lagi memelihara penyakit hati.
Sebagai manusia, kita hanya wajib bersyariat. Sedangkan masalah hakekat, sepenuhnya menjadi hak Allah. Keseimbangan memaknai kewajiban dan hak itulah yang menunjukkan kemuliaan kita yang sesungguhnya. Semoga saja sebagai manusia yang sempurna atau insan kamil.
Yang pasti, bila di hati kita masih ada kejengkelan akan nasib yang belum pasti atau berbagai belenggu persoalan lainnya, maka segera saja membasuh wajah dengan air wudhu. Lalu, dirikan shalat sunnah dan fardhu, serta berzikir selepas-lepasnya. Kita coba tauladani setangkai rumput yang rajin membasuh daun-daunnya dengan embun pagi seraya mengalunkan pujian buatNya. Di hadapan Yang Mahahidup, kita bisa berserah diri sambil mengungkapkan kegalauan hati dengan sepuas-puasnya.
Dia ada, karena itu Dia hadirkan nama Baginda Rasullah Muhammad saw di langit ketujuh, sehingga Nabi Allah Adam as menyaksikannya. Bahkan, beliau berdoa atas nama makhluk ciptaanNya yang tersempurna dan terkasih itu.
Dia ada, karena itu Dia sediakan alam semesta dan isinya, untuk menampung harmoni kehidupan makhluk-makhluknya. Bahkan, Dia pun menebarkan kemuliaan nama-nama agungNya, agar dijadikan selimut bagi makhlukNya yang paling sempurna.
Dia berkuasa, karena itu Dia juga merancang dan mengatur alur kehidupan makhluk-makhlukNya dengan begitu sempurna. Hidup-mati, kaya-miskin, suka-duka, berhasil-gagal, adalah bukti-bukti kecintaan kepada makhluk-makhlukNya. Sehingga, Dia merasakan sentuhan bersabar, bersyukur, bertawakal, berzuhud, dan bertaslim, dari makhluk-makhlukNya. Agar mereka benar-benar mampu meraih cintaNya nan tiada tara.”
Saya ikut bahagia dengan apa yang dicapai Ibud dan Navis. Saya juga sangat berbahagia dengan cerita pencerahan yang dihadirkan teman saya. Karena, ia juga pernah seperti Ibud atau Navis. Dan pilihannya pada masalah spiritual menjejalkan harapan-harapan baru untuk masa depannya. Karena kenikmatan menjalani kisah barunya itu, ia jadi bersemangat pula untuk membagi-bagikannya buat orang lain.




















ALANGKAH INDAH PENCARIAN MEREKA BERDUA,SAMPAI SAAT INI SAYA BLM MENEMUKAN APA YG SAYA CARI.KADANGKALA SAYA SEMANGAT MENJALANKAN SYARIAT,LAIN WAKTU HILANG TAK BERBEKAS,ANGIN2NAN.PADA MLM YG SUNYI KADANG TERPIKIR APA SBTULNYA YG AKU CARI DI DUNIA INI?BUKANKAH SDH KEWAJIBAN KITA SBG MAKHLUKNYA HORMAT DAN TUNDUK PADA PERINTAHNYA,SAYA MERASA JAUH DENGAN SEMUA.KESEPIAN JAUH DILUBUK HATI,WALAU SAYA DIKELILINGI BYK ORG.YANG SAYA BUTUHKAN MEMANG PENCERAHAN
APA MUNGKIN SEMUA INI KRNA SAYA TIDAK PUNYA SOSOK SEORANG AYAH?SEMUA MASALAH SELALU AKU PENDAM SENDIRI KRNA AKU TAK MAU MEMBUAT BEBAN PADA IBU,YG MEMBESARKAN KAMI BEREMPAT SENDIRI.INI MENGAKIBATKAN AKU MENJADI ORG YG TERTUTUP PADA KELUARGA.TAPI AKU SKRG MULAI MEYADARI KELUARGA ADALAH YG UTAMA.SEMOGA SAYA CEPAT MENDAPATKAN PENCERAHAN,AKU INGIN BGT CURHAT DG SANG KHALIQ,MENCURAHKAN SEMUA YG ADA DLM BENAKKU,MENANYAKAN SEMUA PERTANYAAN YG BERKECAMUK.TAPI MSHKAH ADA KESEMPATAN BUATKU??????????
Inspirasi yang menyejukkan. Terima kasih mas Ibud dan mas Navis, juga mas Halim. Adakah cara lain, selain mengalihkan pandangan ke masalah agama?
hanya Alloh yang serba maha…
kita sebagai manusia seringkali merasa sombong dan tak tahu diri dengan apa-apa yang telah Alloh berikan kepada kita, sampai-sampai diri & badan manusia dianggap milik manusia. kalo memang diri ini milik manusia cobalah untuk satu hal saja yaitu “nafas” yang tiap saat kita nikmati, AKUI SAJA SEBAGAI MILIK KITA. seseorang yang mengakui sesuatu sebagai miliknya tentu akan berkuasa untuk mengatur/mengendalikannya…cobalah tarik nafas panjang lalu kendalikan nafas kita sebagai bentuk pengendalian milik diri, tahan nafaslah cukup 1 jam saja…akan mampukah kita mengendalikannya??? pantaskah kita menganggap nafas ini sebagai milik kita??? lalu siapakah pemilik nafas ini? siapakah yang mengendalikan nafas ini? bagi yang beriman tentunya menjawab : ALLOH. Lalu dimanakah Alloh kalo begitu? apakah di singgasana seperti seorang raja yang bertahta dan memantau kerajaannya seperti kita memantau dari kamera CCTV kita,…wahai saudaraku ALLOH ada di dalam diri kita menyelimuti seluruh gerak kehidupan alam ini baik di langit maupun di bumi, tanpa keberadaanNYA takkan ada alam semesta ini. sehingga cukup indah kalo kita pahami bersama tatkala Syeh Siti Jenar berkata “manunggaling kaulo lan gusti” yang dapat dimaknai secara sufi bahwa Gusti Alloh sebenarnya ada di dalam diri manusia. Namun demikian manusia tidak pernah sadar kalo hal ini yang terjadi, manusia masih menganggap bahwa manusia yaa manusia, Alloh yaa Alloh yang tak pernah dapat menjadi satu. Kalo memang ini keyakinan dari kebanyakan manusia, lalu untuk apa Alloh bersabda kepada Kanjeng Nabi Muhammad “wahai Muhammad, katakanlah jikalau hambamu bertanya di manakah Aku, maka jawablah kalo Aku lebih dekat dari urat nadinya manusia”. seberapa dekatkah manusia dengan urat nadinya??? tetapi Alloh lebih dekat dari itu. Tapi manusia sering merasa lebih dekat dengan istri/suami/anak/ibunya dari pada dengan ALLOH.
Saya turut berbahagia atas hidayah yang telah didapatkan oleh Ibud dan Navis melalui keterasingan.
Ibarat perumpamaan, kata SABAR mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan.
pertanyaanya kemudian, benarkah kita termasuk orang-orang yang sabar?
dalam berbagai hal, sabar memang kerap menjadi peneduh hati dan jiwa saat kita dirundung duka. tapi makna sabar yang sebenarnya, manusia dibumi ALLAH pun masih kerap melanggarnya. kecuali orang-orang yang mutaqin dan Baginda Rosuullah SAW yang memang dilahirkan untuk menjadi pribadi-pribadi yang sedemikian SABAR.
sampai akhirnya, mampukah kita menjadikan orang-orang yang sabar dan berserah diri pada sang KHALIK adalah sebaik-baiknya guru untuk kita teladani bersama.
sabar bukan berarti lemah.
Jadi,
mari kita bersabar dalam kekayaan.[tentunya, tidak sombong dan takabur]
bersabar dari kemiskinan hidup.[tentunya tidak hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan saja]
bersabar dari ruwetnya kehidupan.[tentunya, terus berusaha dan tidak putus asa]
bersabar dari belenggu kebodohan.[tentunya,ada usaha untuk pandai dan pandai]
bersabar dari indahnya kursi jabatan.[tentunya,kita harus ingat karena jabatan adalah amanah dihadapan Allah kelak].
bersabar dari segala kegagalan.[tentunya,tetap bekerja keras karena setelah gagal pasti ada sukses].
bersabar dari kesuksesan.[tentunya, kesuksesan yang kita raih ada hak bagi orang-orang gagal yang butuh pertolongan kita].
bersabar dari segudang ilmu yang kita miliki.[tentunya, tidak menggunakan ilmu yang kita dapat untuk berbuat zolim dan ingkar pada nikmat Allah].
kalau hal ini sudah bisa kita atasi, niscaya dunia dan segala bentuk gemerlapnya tak lebih lebar dari sepiring nasi yang kita santap sehari-hari..
jalan kehidupan memang tergantung dengan keberanian kita melangkah.
bagaiman saya memaknai setiap detak jantung saya.dan tiap hela nafas saya
Ingin sy mengenal Allah lebih dekat lagi seperti menyadari Dia lebih dekat dari urat nadi saya,atau kemana pun pandangan ini saya layangkan maka disana ada wajah Allah..
Terimakasih sebelumnya..
Luar biasa. Hanya dekat dengan Allah SWT, manusia bisa melepaskan diri dari kesengsaraan dan keterasingan. Adakah cara tercepat untuk menggapai keinginan ini?
Kami Kader dan simpatisan PKS Sumsel,mengucapkan Selamat.
gapailah sesuatu sesuai dengan kemampuan jangan kemauan, namun jika ada kemauan pasti ada kemampuan
Malam ini kembali sy merenung, kemana arah saya melangkah
Sdh merasa bosan dgn gaya hidup ini…
aku g ngerti ker,,mau komentar apa tentang partai di indonesia yang seperti kebun binatang.
SubhanAllah
say turut berkenan mendengarnya
“KEINDAHAN KEHIDUPAN ADALAH ADANYA SUKA DAN DUKA”
untuk dapat menyadari keberadaanNya kita harus kenali diri sendiri. dari mana kita berasal? untuk apa kita hidup? akan kemana kita kembali? insyaallah pencerahan dapat tercapai setelah kita mampu menaklukkan diri sendiri dan meluruskan hati, jiwa, pikiran dan seluruh diri untuk menuju haribaanNya dalam setiap keadaan.
pada saat manusia menyadari bahwa keberadaanya didunia mempunyai misi yang diemban yang mana misi itu sangat besar dan merupakan pernghormata manusia atas mahluq Alloh lainya…..’Tidak Aku ciptakan manusia dan jin kecuali untuk untuk beribah kepadaKU’ Alloh berkata dalam kitab sucinya.
jadi murni tujuan manusia hidup adalah untuk menjadi kholifahfilardhi/memelihara bumi Alloh seperti yang disyariatkan..dan untuk itulah Alloh memlengkapi semua sarana dan kebutuhan yang ada didunia ini agar manusia bisa melakukan tugas tersebut.
dan manusia yang melakasanakan tugas yang diemban dengan baik ( baca ikhlas dan ittiba) akan diberi kebahagian hidup didunia dan diakhirat…Alloh juga menjadikan dunia ini sebagai ujian bagi hambanya agar di akhirat nanti Alloh mengetahui siapa dari para hambaNya yang benar konsekwen dan kekeh dengan petunjuknya untuk hadiahi dengan surga yang dibawahnya mengalir sungai madu dan sungai susu dan dihilangkanya kesedihan hidup dan kepenatan hidup.
Namun manusia bukan tiada rintangan,sadar maupun tidak sadar mempunyai musuh sangat besar,setiap saat selalu mengintainya untuk menyeretnya dan menjadi temannya dineraka sana..saiapa lagi kalau bukan setan dan iblis yang terkutuk..yang permusuhan ini dimuali sedari awal bapak kita diciptakan oleh Alloh pada kali pertama…akibat rasa cemburu iblis pada bapak kita Adam AS.
Alloh menciptakan dunia ini dengan segala kelebihan dan kekuranganya…dan dengan ketidak sempurnaanya itu mengandung hikmah.Agar manusia sadar bahwa bukan tempat ini/dunia ini tujuan yang harus dicapai. orang jawa biasa berkata urip iku mung numpang ngombe terjemahan bebasnya hidup itu seperti numpang minum…hal ini sejalan dengan hadist nabi ‘ Jadilah kamu orang asing didunia ini’
Para sahabat nabi yang notabenenya adalah para konglomerat besar waktu itu…adalah orang yang paling peduli dengan akhirat dan dunianya…kareana mereka faham ilmunya….Jasad mereka didunia tapi hati dan pikiranya didunia….
Kika kita ingin sukses dunia khirat maka kita harus mencontoh dan perperilaku seperti sahabat nabi…