Syaiful Halim
Di sebuah perusahaan farmasi, seorang brand manager bernama Helmi rajin mengajak teman-temannya berdiskusi tentang agama. Buku-buku dan print-out hasil browsing tentang masalah tauhid menumpuk di meja kerjanya. Sehingga tidak jelas lagi, sebenarnya ia tengah bekerja atau memanfaatkan ruang kerja untuk mengaji?
Padahal, ia tidak sedang diparkir atau masuk kotak. Kesibukannya juga sangat banyak. Maklum, ia merupakan manejer untuk memasarkan produk-produk farmasi ethical dan OTC. Ethical merupakan jenis obat yang diresepkan, sedangkan OTC merupakan jenis obat yang dijual bebas. Tapi, ia tetap saja meluangkan banyak waktu dan memfaatkan kesempatan sebisa-bisanya, untuk melengkapai wawasan agama. Dan, sedapat mungkin berwasiat juga tentang kebenaran dan kesabaran kepada karyawan lain.
“Sampeyan itu sudah seperti sufi,” kata saya suatu ketika.
Ia tersenyum saraya mengernyitkan dahinya. “Kalau menurut sampeyan, sufi itu apa?”
Sejenak saya tertegun. Satu sisi saya merasa bersalah lantaran tiba-tiba memberikan predikat baru buatnya – meski positif. Di sisi lain, saya jadi merasa diuji, kok bisa-bisanya memberikan julukan itu buatnya. Jangan-jangan ada perbedaan pemahaman di antara kami soal sufisme. Namun, karena terlanjur membuka masalah maka saya harus bertanggung jawab untuk menuntaskannya. Ya, memulainya dengan mengumbar definisi atau pemahaman tentang masalah itu.
“Sufi itu sendiri sekedar istilah untuk menggambarkan perjalanan seseorang dalam menyucikan akhlak dan tingkatan spiritualnya. Mengamalkan secara istiqomah ajaran tasawuf atau ajaran penyucian akhlak. Yakni, dengan menjalankan prilaku dan sikap terpuji, tidak menyakiti orang, dan senang berbuat kebajikan.
Dari segi ibadah, orang semacam itu melakukan seluruh amaliyah di atas rata-rata. Melaksanakan shalat fardhu dan shalat sunnah secara kontinyu dan tepat waktu. Shalat sunnah pun dianggap seperti shalat fardhu. Termasuk juga zikir-zikirnya. Meningkatnya amaliah nawafil atau tambahan, maksudnya,” saya mulai berteori bak Jalaluddin Rakhmat. Ah, biar. Siapa tahu Helmi bisa melengkapinya dan memberikan tambahan gizi buat otak saya.
Saya harus menempatkan Helmi ke predikat seperti itu, sejujurnya, dalam konteks membandingkannya dengan kaum muslim kebanyakan, yang lebih asyik berdiskusi dan berdebat ketimbang mengamalkan pemahamannya. Banyak orang yang merasa pintar tasawuf, berdiskusi di sana-sini, dan bergaya seperti sufi. Padahal, maaf, cuma akting. Ya, pseudosufisme, atau sufi-sufian. Di saat bersamaan, kita juga digempur informasi yang jelas tentang berbagai masalah spiritual dari berbagai media. Kalau tidak pintar membedah dan memilah, kita justru tengah dijerumuskan ke lembah kebingungan. Karena, betapa banyak media massa yang berani mengumbar topik-topik spiritual tanpa didukung orang-orang yang mumpuni. Dalam pengertian, mereka hanyalah orang-orang yang memiliki sedikit data, tapi tidak pernah terlibat secara penuh dengan ajaran tasawuf.
Adakah korelasinya seseorang yang tengah ditugaskan menginformasikan suatu masalah dengan keterlibatannya dalam masalah itu secara total? Banget! Betapa banyak sebuah topik diulas dan disebarkan secara luas, tapi terasa hambar dinikmati. Penyebabnya, karena penggarapnya hanya mengenal kulit alias permukaan. Akhirnya, kesalahan demi kesalahan yang terus berhamburan ke hadapan kita. Termasuk, hal-hal yang berkaitan dengan spiritual.
“Apa pendapat sampeyan tentang kelompok tarekat?” tanya Helmi kemudian. Ia sepertinya terpuaskan dengan jawaban singkat saya tentang sufisme, sehingga mencoba masuk ke topik yang lebih dalam.
“Pada kenyataannya, praktik para sufi memang identik dengan peleburan diri dalam kelompok tarekat tertentu. Karena sang salik (penempuh jalan kesucian) memang membutuhkan arah atas kendaraan yang ditumpanginya. Jika ibaratnya agama atau ajaran syariat merupakan kendaraan, maka tarekat merupakan jalan yang harus dilewati untuk mencapai tujuannya. Yakni, berdekatan secara intim dengan Yang Mahapencipta. Konsekwensi dari keterlibatannya itu, maka mereka pun dituntut untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah seperti yang diterapkan dalam kelompok tarekat yang diikutinya.
Bila di hari-hari kemarin, mereka harus patuh dan taat untuk menjalankan shalat fardhu dan shalat sunnah, maka setelah masuk kelompok tarekat, mereka akan diperkenalkan dengan shalat yang dilakukan secara terus menerus atau shalat daim. Sepanjang waktu. Selagi mata kita terbuka. Sebuah kelompok tarekat terkemuka di tanah air kita menyebutbnya zikir khofi. Zikir dalam hati. Maknanya, merupakan upaya untuk terus mengingat adaNya dan kuasaNya. Atau, eling dalam filosofi Jawa.
Orang-orang yang tergabung dalam kelompok tarekat sama artinya dengan menceburkan diri dalam penyucian hati secara total. Mereka juga akan terus meniti perjalanan ibadahnya secara maksimal. Sehingga, mereka bisa mencapai tujuan sebagai manusia yang sempurna. Insan kamil. Dengan shalat daim sama artinya dengan shalat sepanjang waktu. Sepanjang detik hanya menyebut namaNya. Penyerahan diri secara kaffah. Total. Dengan begitu, mereka pun harus benar-benar menjaga prilaku dan sikapnya, karena mereka merasa terus diawasi oleh Yang Mahamengawasi.
Dengan kata lain, mereka mencoba untuk berma’rifat. Mereka itulah yang mencoba merasakan atmosfir shalatnya orang mu’min adalah ma’rifat. Dari segi syariat, ada ulama yang berpendapat, dengan seseorang merasa sebagai sufi, maka pelaksanaan ibadah syariatnya jadi lebih hebat. Secara kualitas maupun kuantitas. Ilmu Tasawuf bukanlah sekedar ilmu pengetahuan. Ilmu Tasawuf bukan sekedar pelajaran tauhid. Ilmu Tasawuf juga bukan hanya teori soal proses penyucian akhlak dan totalitas ibadah. Tapi, di dalamnya memang terdapat proses panjang, untuk menapaki maqom-maqom spiritual. Stasiun-stasiun pencapaian spiritual.
Ada ulama yang berpendapat, tasawuf dibagi dua; yang amaliah dan filsafat. Tasawuf Amaliah menekankan pada totalitas penyucian akhlak serta kualitas dan kuantitas ibadah. Ya, dengan menjalankan amaliyah nawafil seperti yang diperlihatkan oleh Baginda Rasulallah Muhammad saw. Kelompok ini menyandarkan pada pemurnian ajaran Al-Qur’an dan hadits, dan tidak membaurkan dengan pengaruh lokal atau budaya setempat.
Sebaliknya dengan Tasawuf Filsafat, yang lebih menekankan pada totalitas penyucian akhlak, tapi tidak mengharuskan pengikutnya menjalankan praktik syariat. Bukan berarti mereka tidak melaksanakan shalat. Karena, sesungguhnya mereka menjalankan apa yang disebut shalat daim, tanpa berhenti sedikit pun. Sedangkan shalat fardhu atau shalat sunnah tidak perlu dilakukan lagi,” saya makin bersemangat bercerita. Helmi menyimaknya penuh perhatian. Tiba-tiba, saya jadi merasa dibutuhkan. Sehingga, saya pun jadi makin bernafsu untuk mengumbar pemahaman saya tentang masalah ini.
Helmi dengan kesibukan berburu pengetahuan agama (di sela-sela kesibukannya di kantor), bisa jadi, tak berbeda jauh dengan saudara-saudara kita, yang telah tercerahkan dan makin haus dengan wawasan ketauhidan dan ma’rifat. Perbedaan mencoloknya, Helmi tengah berada di posisi yang sangat baik dan dimuliakan. Tapi, ia justru tetap istiqomah menjadi insan yang tercerahkan, dan terus bertekad menyempurnakan penitian maqom-maqom spiritualnya.
Jauh sebelum Helmi mendapat kemuliaan dan surga yang didapatnya sekarang, ia pun pernah digempur persoalan-persoalan di lingkungannya. Kerja keras yang lebih dari 15 tahun, untaian prestasi yang ditorehkannya bertahun-tahun, sempat mengantarkannya ke “pos pembuangan”. Meski begitu, ia menjalaninya dengan kesabaran nan tiada tara, seraya mensyukuri apa-apa yang didapatnya. Berpasrah diri atas apa-apa yang didapat. Bahkan, dalam keterasingan dan ketiadaberdayaannya itu, ia justru menghasilkan ide-ide brilian. Pada akhirnya, hal itu pun menjelamakan kemuliaan.
Melengkapi perjalanan bersabar dan bersyukur yang telah dirintisnya, ia pun makin istiqomah bertawakal. Segala prilaku dan sikapnya merupakan cerminan akhlak yang senantiasa berpasrah atas segala keputusanNya. Bahkan, dengan posisinya yang telah mapan, ia pun berupaya terus menghijaukan sekelilingnya dengan iman dan tauhid. Serta mengembangkan dengan sepenuh hati amanah sabda Baginda Rasulallah saw, untuk terus berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran.
Dengan tangan kecilnya, Helmi berharap terjadi perubahan pula di lingkungan kerjanya. Sehingga, lingkungan kerja itu bakal menjadi lebih sejuk dan menetramkan. Ia bukan hanya menikmati kenyamanan Islam sebagai kendaraan untuk menapaki jalan lurus. Tapi, ia justru makin melarutkan diri dengan kedalaman ajaran Islam itu sendiri, untuk menjangkau surga yang sebenar-benarnya. Surga di dunia dan akhirat.
Karena itu saya berani memastikan, ia adalah sufi dengan jubah modernitasnya. Ia tidak memancang janggut panjang, memasang sorban sebagai penutup kepala, dan pakaian-pakaian gamis. Tapi, kesufian ditunjukkannya dengan akhlak yang mulia. Perilaku dan sikap nan senantiasa menyejukkan sekelilingnya dan, semoga juga, menyejukkan pandangan Yang Mahamelihat.




















assalamualaikum wr wb
saya berkomentar bukan berarti menentang tasawuf, tetapi karena saya belum paham dengan msd anda.
Anda menulis : Pernyataan bohong yang lain, Setelah menyadari kekeliruannya, Imam Al-Ghazali kemudian menggunakan Kitab Bukhari sebagai rujukan. Ini juga statement konyol, bagaimana mungkin seorang ulama diangkat menjadi imam dan diberi gelar guru besar oleh negara dan bahkan dianugerahi gelar hujjatul Islam oleh ulama-ulama dunia, kalau dia melakukan diskriminasi hadits-hadits shohih!.
Comment by Engkir S. — April 29, 2009 @ 8:25 pm
“Apakah konyol kalau manusia menyadari kesalahannya, dan apakah merupakan hal yg aneh atau diskriminasi kalau Imam Gazali menggunakan kitap Bukhari sebagai rujukan?”
Memang ada hadits-hadits dho’if atau maudlu’ yang digunakan oleh Imam Ghazali, tetapi ahli hadits dan ulama telah bersepakat, bahwa walaupun hadits-hadits itu dho’if bahkan maudlu’ sekalipun, tetapi jika isinya merupakan anjuran kebajikan sudah seharusnya hadits-hadits tersebut dipakai. Dan seluruh hadits yang dikutip oleh Imam Ghazali itu, semuanya merupakan anjuran kebajikan dan larangan terhadap kejahatan dan kemungkaran. Walaupun ahli hadits menilai dho’if, tetapi tidak ada satu pun dari hadits-hadits yang digunakan oleh Imam Ghazali bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Comment by Engkir S. — April 29, 2009 @ 8:25 pm
“Kalau memang ada hadist Shahih-nya untuk apa pake yg Dho’if?” Btw hadis dho’if itu hadis yang bagaimana sih?
Disamping itu, jika mereka (kaum sufi) itu menemukan hadits atau keterangan yang tidak jelas keshahihannya, maka mereka mengadakan kontak batin dengan Rasulullah saw, sebagaimana diungkapkan oleh Abdul Wahab Asy-Sya’rani dalam bukunya yang berjudul: Tanbihul Mughtarrin (peringatan bagi orang-orang yang terbuai) ditulis pada abad ke-10 H, berkata: Diantara kaum sufi ada sekelompok orang yang apabila tidak menemukan dalil yang melandasi amal perbuatan dari sunnah Nabi saw dan tidak pula ditemukan dalam kitab-kitab syari’ah mereka, lalu mengadakan hubungan batin dengan Rasulullah saw. Setelah mereka sampai lalu menanyakan kepada Beliau. Jawaban Rasulullah saw lalu diamalkan. Namun yang demikian itu terbatas hanya pada orang-orang besar tertentu.
Comment by Engkir S. — April 29, 2009 @ 8:25 pm
“Abdul Wahab Asy-Sya’rani itu siapa dan orang besar tertentu siapa aja yg terbukti bisa ngobrol bareng dengan Rasulullah SAW?”
Seorang pangeran masuk ke istana diam-diam dan mengambil harta raja yang rakus yang juga ayahnya, kemudia harta itu dia bagikan ke rakyat miskin.
Nah, ini adalah perbuatan baik, tapi tidak benar (bukan ajaran Islam).
Kalau harta raja yang rakus itu merupakan uang negara…kan tidak bisa diblang mencuri, anggap saja sang pangeran mengembalikan hutang sang raja rakus kepada Rakyat. peace Bro.
Seorang pahlawan merampok, kemudian hasil rampokannya dia berikan ke rakyat miskin.
Nah, ini juga perbuatan baik, tapi tidak benar (bukan ajaran Islam).
Comment by yan yan — April 25, 2009 @ 7:44 pm
Wah jadi rame ga karuan saya sebagai orang bodoh malah jadi bingung.
Cerita mengenai hadist, mengenai ulama, ustadz, mengenai ihtijah para ulama, makin bingung!
Nah, sukanya orang2 Islam disini membahas Hadist mulu, ga ada yang membahas Al Qur’an, padahal saya amat butuh sama orang yang dapat dijadikan partner diskusi tentang pelaksanaan Al Qur’an dsalam Aplikasi kehidupan sehari hari.
Bukan cerita hadist melulu bingung Bapak! Apalagi ada yang nulis Syekh Abdul Qodir Jaelani dapat menghidupkan orang mati sudah ratusan tahun malah makin bingung, bukannya hidup dan mati itu urusan Allah, seperti yang saya kutip dalam surat Al Anam 162
Kayanya Sekh Abdul Qodir Jaelani lebih hebat dari Rosululloh Muhammad SAW kali yah.
Coba kalau Syekh Abdul Qodir Jaelani hidup di zaman Rosululloh ketika Rosul Muhammad SAW berperang selama 22 kali dan jutaan pengikut/umat beliau meninggal syuhada dimedan perang, bisa dihidupkan lagi jadi tidak pernah kalah dan tidak akan ada gencatan senjata selam sepuluh tahun kali yah!
Mbo ya kalau ada perbedaan pendapat dalam hal penafsiran, ya biasalah tidak mesti diperuncing, dan saya kira tidak perlu ada bahasa MERASA BENAR SENDIRI, MERASA PALING PINTER.
Marilah kita bersatu padu di jalan Allah dan jangan bercerai berai:
3. Ali ‘Imran
103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Jujur dan Jiwa Besar jika kita memang masih banyak memiliki kekurangan, mbo ya nrimo pendapat orang yang memang sandarannya/refrensinya benar ( Al Qur’an )
Dan saya mohon dengan snagat kepada Saudara Saudara Islam saya agar tidak mengkotak kotakkan diri atau mengelompokkan diri dengan tujun memecah belah.
Mohon maaf, kalau saya baca tulisan Bapak Bapak disini terkesan Islam itu sulit, belajar hadisnya saja susah.Bayangkan Abu Huraerah mengaku dia memiliki hadist 60.000 tapi yang diakui hanya 5000 saja, yang mana itu? Aku ta’ tau!
Kenudian Abu Daud punya hadist 50.000 tapi yang benar cuma 4850 saja, yang mana itu?Aku ta’ tau!Sulit khan
Kasihanilah Bapak2 di Kampung saya banyak orang Kristen mau masuk Islam, karena Islam susah, ruwet, sulit bisa nggak jadi masuk Islam!
2. Al Baqarah
286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”
Banyak Saudara kita diperkampungan yang membutuhkan Bapak Bapak transfer Ilmu Al Qur’an dan sudah saat menegakkan yang Hak itu Hak dan yang Bathil itu Bathil:
2. Al Baqarah
42. Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu[43], sedang kamu mengetahui.
[43]. Di antara yang mereka sembunyikan itu ialah: Tuhan akan mengutus seorang Nabi dari keturunan Ismail yang akan membangun umat yang besar di belakang hari, yaitu Nabi Muhammad s.a.w.
Semoga
Sufi adalah orang yang menempuh jalan penyucian jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan gaul adalah istilah yang dipakai dalam pergaulan anak muda jaman sekarang, misalnya yang disebut anak gaul yang gambarannya seperti ini : bercelana jean, rambut dicat warna warni, pakai T-shird dengan tulisan aneh-aneh dan beranting. Karena itu saya sangat risih membaca judul tulisan ini.
KOMENTAR ATAS PERNYATAAN santri:
Kayanya Sekh Abdul Qodir Jaelani lebih hebat dari Rosululloh Muhammad SAW kali yah.
Coba kalau Syekh Abdul Qodir Jaelani hidup di zaman Rosululloh ketika Rosul Muhammad SAW berperang selama 22 kali dan jutaan pengikut/umat beliau meninggal syuhada dimedan perang, bisa dihidupkan lagi jadi tidak pernah kalah dan tidak akan ada gencatan senjata selam sepuluh tahun kali yah!
Mbo ya kalau ada perbedaan pendapat dalam hal penafsiran, ya biasalah tidak mesti diperuncing, dan saya kira tidak perlu ada bahasa MERASA BENAR SENDIRI, MERASA PALING PINTER.
Comment by santri — May 5, 2009 @ 4:42 pm
KOMENTAR ANDA INI BISA JUGA BERARTI:
Bagaimana mungkin peristiwa yang luar biasa (karamah) itu banyak ditampakkan pada diri seorang ulama, padahal para sahabat saja yang nota bene mendapat pengajaran agama dan pendidikan ruhani langsung dari Rasulullah saw dan melihat langsung bagaimana ilmu agama tadi dipraktekan sehari-hari oleh Rasulullah saw, dengan demikian kualitas aqidah dan syariah para sahabat akan jauh lebih baik, lebih taqorub kepada Allah dan oleh karenanya lebih dicintai Allah SWT; kepada mereka tidak banyak diberikan sesuatu yang luar biasa, artinya tidak banyak karamah yang kita dengar lewat para sahabat Nabi saw.
JAWAB
Justru karena sinar Islam, kekuatan ruhani Islam pada zaman sahabat dan tabiin, masih sangat terang-benderang ibarat lampu yang bersinar dengan daya 1000 watt, karena mereka langsung mendapat bimbingan dan asuhan Rasulullah saw, maka dalam kondisi saat itu hampir tidak diperlukan media lain, semacam karamah, untuk membuktikan kebenaran ajaran-ajaran Islam. Walaupun demikian ada beberapa karamah (kejadian luar biasa) yang ditampakkan oleh Allah melalui para sahabat, misalnya
1. Khutbah Jum’ah Khalifah Umar ra ditujukan kepada Sariyah di balik gunung, berisi petunjuk-petunjuk perang, yang dapat didengar dengan jelas oleh Sariyah itu, padahal antara tempat Sariyah berperang dan tempat Umar berkhotbah berjarak ratusan kilo meter. Sariyah adalah komandan tentara yang sedang bertempur.
2. Abu Bakar ra dapat melihat jenis kelamin anak yang akan lahir dari kandungan ibunya.
dan lain-lain
Setelah Rasulullah saw meninggal, kemudian siar Islam dijalankan oleh para sahabat. Setelah generasi sahabat meninggal, siar Islam dijalankan oleh tabiin. Setelah generasi tabiin meninggal, siar Islam diteruskan oleh tabiit-tabiin. Dan setelah generasi tabiit-tabiin meninggal, maka bergantilah generasi umat ke generasi para ulama. Sinar kekuatan Islam, aqidah-syariah-akhlak umat mulai terdegradasi pada masa ini, terkikis oleh perubahan zaman. Berbagai bentuk kemusyrikan, khurafat dan tahayul merajalela di tengah-tengah masyarakat.
Disamping itu, sejalan dengan perkembangan IPTEK, pola hidup konsumerisme, hedonisme dan materialisme tumbuh subur, sehingga manusia amat sangat cintanya kepada dunia dan melupakan kematian. Selain itu, akibat lemahnya kadar IMTAK umat, muncul berbagai penyakit masyarakat-dekadensi moral atau kemerosotan akhlak dan kejahatan, seperti perjudian, mabuk-mabukan, narkoba, perzinahan, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, KKN dan lain-lain. Akibatnya kekuatan ruhani Islam semakin hari hari semakin redup, ibarat lampu yang intensitas sinarnya pada zaman sahabat 1000 watt, kini telah berkurang hanya tinggal 100 watt lagi atau bahkan lebih rendah lagi.
Jadi, kondisi lingkungan masyarakat pada generasi ulama ini identik atau bahkan lebih kompleks dan lebih berat dibandingkan dengan kondisi lingkungan masyarakat yang dihadapi oleh para Nabi.
Kalau para Nabi dilengkapi dengan media yang disebut mu’jizat untuk menyeru umat kepada kebaikan dan kebahagiaan, yang diikuti dengan seruan kenabian yang tujuannya untuk menampakkan kebenaran pada seorang utusan Allah.
Maka Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Penyayang, memperkuat misi da’wah para ulama pewaris nabi dengan media yang disebut karamah, yang tujuannya adalah untuk menampakkan bukti bahwa :
1. Aqidah, syari’ah dan akhlak ulama tersebut wushul (sampai), diterima dan diridhoi oleh Allah SWT. Jadi umat tidak ragu lagi untuk mengikuti ulama tersebut.
2. Ajaran yang di’amalkan dan dida’wahkan oleh para ulama tadi adalah benar, sesuai dengan Al-Qur’an dan sesuai pula dengan ajaran Nabi saw dan oleh karenanya diterima dan diridhoi oleh Allah SWT.
Rasulullah saw bersabda : “Ulama umatku sama dengan Nabi bani Israil”.
Nabi Isa adalah salah seorang nabi bani Israil. Kalau Nabi Isa bisa menghidupkan orang mati, maka sesuai janji Nabi saw, ulama umat Muhammad dapat juga menghidupkan orang mati.
YANG PALING PENTING DIPAHAMI, karamah itu diberikan oleh Allah karena kehendak Allah, bukan atas keinginan si Ulama. Jangan dipahami seperti pertunjukkan debus. Peristiwa dimana Syeikh Abdul Qodir menghidupkan orang mati, itu hanya terjadi sekali itu saja.
KISAHNYA SEBAGAI BERIKUT
Syeikh Abdul Qadir Jailani menghidupkan orang yang sudah mati ratusan tahun.
Dalam kitab Asrorut Tholibin diriwayatkan bahwa Syekh Abdul Qodir pada waktu melewati suatu tempat, beliau bertemu dengan seorang umat Islam yang sedang hangat bersilat lidah, beranggar kata, berdebat dengan seorang umat Nasrani. Beliau kemudian mengadakan penelitian dan pemeriksaan yang seksama apa penyebab terjadinya perdebatan yang sengit itu.
Kata seorang muslim : Sebenarnya kami sedang membangga-banggakan Nabi kami masing-masing, siapa diantara Nabi yang paling baik dan saya berkata kepadanya bahwa Nabi Muhammad saw yang paling utama. Sedangkan orang Nasroni mengatakan bahwa Nabi Isa yang paling sempurna.
Syekh bertanya kepada orang Nasroni : Apa yang menjadi dasar dan apa pula dalilnya, kamu bisa mengatakan bahwa Nabi Isa lebih sempurna daripada Nabi yang lainnya. Lalu orang Nasroni itu menjawab : Nabi Isa mempunyai keistimewaan, beliau bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Syekh melanjutkan lagi pertanyaannya : Apakah kamu tahu bahwa aku ini bukan Nabi, aku hanya sekedar penganut dan pengikut Agama Nabi Muhammad saw. Kata orang Nasroni : Ya benar saya tahu. Lebih jauh Syekh bertanya lagi : Kalau sekiranya aku bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati, apakah kamu bersedia untuk percaya dan beriman kepada Agama Nabi Muhammad saw ?. Baik, saya mau beriman kepada Agama Islam, jawab orang Nasroni itu. Kalu begitu mari kita mencari kuburan, kata Syekh Abdul Qodir. Setelah mereka menemukan sebuah kuburan dan kebetulan kuburan itu sudah tua, sudah berusia lima ratus tahun.
Lalu Syekh mengulangi lagi pertanyaannya : Nabi Isa kalau akan menghidupkan orang yang sudah mati bagaimana caranya ?. Orang Nasroni menjawab : Beliau cukup dengan mengucapkan : Qum ! bi-idznillah, artinya : Bagun kamu dengan izin Allah. Nah sekarang kamu perhatikan dan dengarkan baik-baik, kata Syekh, lalu beliau menghadap pada kuburan tadi sambil mengucapkan : Qum ! bi-idzni, artinya : Kamu bangun dengan izin ku. Mendengar ucapan itu orang Nasroni tercengan keheran-heranan dan kuburan itu terbelah dan bangunlah mayat dari kuburan sambil bernyanyi. Konon pada waktu hidupnya mayat itu seorang penyanyi (musisi). Melihat dan menyaksikan peristiwa yang aneh itu, seketika itu juga orang Nasroni berubah keyakinannya dan beriman masuk Agama Islam.
JADI DI DALAM KARAMAH ITU ADA MISI DAKWAH, BUKAN PERTUJUKKAN KEDIGJAYAAN.
JAWABAN UNTUK SAUDARA ZACH
Saya menulis statement:
“Pernyataan bohong yang lain, Setelah menyadari kekeliruannya, Imam Al-Ghazali kemudian menggunakan Kitab Bukhari sebagai rujukan. Ini juga statement konyol, bagaimana mungkin seorang ulama diangkat menjadi imam dan diberi gelar guru besar oleh negara dan bahkan dianugerahi gelar hujjatul Islam oleh ulama-ulama dunia, kalau dia melakukan diskriminasi hadits-hadits shohih!”.
Zach berkomentar:
“Apakah konyol kalau manusia menyadari kesalahannya, dan apakah merupakan hal yg aneh atau diskriminasi kalau Imam Gazali menggunakan kitap Bukhari sebagai rujukan?”
Jawab:
Nampaknya anda belum menyimak statement di atas dengan cermat. Maksud statement di atas adalah bahwa ada orang yang merekayasa seolah-olah Imam Al-Ghazali tidak pernah menggunakan Kitab Bukhari sebagai rujukan dalam amalannya/dakwahnya/karya tulisnya. Padahal kita tahu, orang awam pun tahu bahwa Kitab Bukhari berisi kumpulan hadits-hadits shohih (berisi keterangan-keterangan yang valid).
Jadi, jika demikian Al-Ghazali sebagai ulama, sebagai ilmuwan, beliau telah melakukan diskriminasi hadits-hadits shohih. Jika demikian, maka beliau telah melakukan perbuatan yang tidak pantas dan tidak selayaknya bagi seorang ulama/ilmuwan. Dimana seorang ulama/ilmuwan harus senantiasa menjunjung tinggi obyektivitas, kejujuran, ketelitian, validitas dan netralitas.
Jadi, jika demikian maka Al-Dhazali tidak akan dinobatkan sebagai guru besar oleh negara, tidak akan diangkat sebagai imam oleh umat dan tidak akan diberi gelar hujjatul Islam oleh ulama-ulama dunia.
Karena kita tahu bahwa syarat untuk menduduki jabatan guru besar selain telah memenuhi sejumlah kridit point tertentu dari hasil karya ilmiahnya, juga syarat kepatutan/kepantasan antara lain: objektif, jujur, teliti, netral, tidak mendiskriminasi ilmu atau kebenaran.
Demikian, mudah-mudahan menjadi jelas.
Memang ada hadits-hadits dho’if atau maudlu’ yang digunakan oleh Imam Ghazali, tetapi ahli hadits dan ulama telah bersepakat, bahwa walaupun hadits-hadits itu dho’if bahkan maudlu’ sekalipun, tetapi jika isinya merupakan anjuran kebajikan sudah seharusnya hadits-hadits tersebut dipakai. Dan seluruh hadits yang dikutip oleh Imam Ghazali itu, semuanya merupakan anjuran kebajikan dan larangan terhadap kejahatan dan kemungkaran. Walaupun ahli hadits menilai dho’if, tetapi tidak ada satu pun dari hadits-hadits yang digunakan oleh Imam Ghazali bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Comment by Engkir S. — April 29, 2009 @ 8:25 pm
“Kalau memang ada hadist Shahih-nya untuk apa pake yg Dho’if?” Btw hadis dho’if itu hadis yang bagaimana sih?
Disamping itu, jika mereka (kaum sufi) itu menemukan hadits atau keterangan yang tidak jelas keshahihannya, maka mereka mengadakan kontak batin dengan Rasulullah saw, sebagaimana diungkapkan oleh Abdul Wahab Asy-Sya’rani dalam bukunya yang berjudul: Tanbihul Mughtarrin (peringatan bagi orang-orang yang terbuai) ditulis pada abad ke-10 H, berkata: Diantara kaum sufi ada sekelompok orang yang apabila tidak menemukan dalil yang melandasi amal perbuatan dari sunnah Nabi saw dan tidak pula ditemukan dalam kitab-kitab syari’ah mereka, lalu mengadakan hubungan batin dengan Rasulullah saw. Setelah mereka sampai lalu menanyakan kepada Beliau. Jawaban Rasulullah saw lalu diamalkan. Namun yang demikian itu terbatas hanya pada orang-orang besar tertentu.
Comment by Engkir S. — April 29, 2009 @ 8:25 pm
“Abdul Wahab Asy-Sya’rani itu siapa dan orang besar tertentu siapa aja yg terbukti bisa ngobrol bareng dengan Rasulullah SAW?”
Comment by zach — May 5, 2009 @ 3:03 am
Seorang pangeran masuk ke istana diam-diam dan mengambil harta raja yang rakus yang juga ayahnya, kemudia harta itu dia bagikan ke rakyat miskin.
Nah, ini adalah perbuatan baik, tapi tidak benar (bukan ajaran Islam).
Kalau harta raja yang rakus itu merupakan uang negara…kan tidak bisa diblang mencuri, anggap saja sang pangeran mengembalikan hutang sang raja rakus kepada Rakyat. peace Bro.
Seorang pahlawan merampok, kemudian hasil rampokannya dia berikan ke rakyat miskin.
Nah, ini juga perbuatan baik, tapi tidak benar (bukan ajaran Islam).
Comment by yan yan — April 25, 2009 @ 7:44 pm
Comment by zach — May 5, 2009 @ 3:16 am
Sekitar 13 tahun yang lalu saya jg berpengalaman terasingkan, bahkan orang-orang di sekitar saya menganggap saya sedang stress selama kurang lebih 6 bulan..padahal dalam 6 bulan itulah saya merasakan sedang asyik-asyiknya dekat dan bercengkrama dengan Al Khaliq..
setidaknya 6 bulan itu telah menjadi pondasi kadar keimanan saya, akhlaq saya..
dan alhamd dg hikmah kesabaran saya sekarang merupakan pemuda yang berpenghasilan lumayan (20jt-an/bulan).
Tapi bukan itu tujuan hidup saya, tujuan saya adalah kedekatan saya dengan Al Khaliq di saat apapun juga, di saat smua org menganggap saya stress, saya ttp dekat dg Allah, juga disaat orang banyak mengelu-elukan saya jg tetap dekat dg Al Khaliq..
Pengalaman 6 bulan itu tidak hanya suatu kesengajaan saja, karena saat-saat itu memang telah lama saya rindukan dan nanti-nantikan..dan akhirnya datang juga kebinasaan saya, keterpurukan saya..tapi akhirnya menjadi pondasi kesuksesan saya pada hari ini hattal yaumil qiyamah..dan akan terus saya wariskan kepada generasi-generasi keturunan saya maupun siapa saja yang mau mengambil tauladan ini..
Saya jg menyitir salah satu hadis qudsi,”suatu ketika mintalah petuah kepada hati nuranimu, jika hati nuranimu mengatakan bahwa sesuatu itu baik maka hakikatnya itu adalah baik, dan apabila hati nuranimu mengatakan bahwa sesuatu itu jelek maka hakikatnya itu adalah jelek”.
Tetapi saran saya bwt smua utk menuju kemuliaan akhlaq jgn menunggu ketika terpuruk, sedini mungkin memahami ajaran Allah dan rosulNya dengan mendalam insya Allah akan jg bsa meceburkan diri pada akhlaqul karimah seperti yg dicontohkan oleh Rosulullah SAW..
Segala jenis perbedan & pendapat sebenarnya telah menunjukan sifat kecenderungan tiap masing-masing hamba Tuhan yang memang dibuat dengan sengaja oleh Tuhan, walaupun pada tingkat ulama jumhur sekalipun, kecuali Para Nabi yang tidak pernah saling menyerang dan berhujah atas kebenarannya, dan merasa paling benar, karena mereka satu misi dalam menegakkan kebenaran Tuhan.
Sikap yang demikian terdapat pada para pewarisnya(warisatul Anbiya) baik para ulama-ulama mahzab,para ahli hadits, hingga para waliyullah.
Bila diantara umatnya masih membanggakan hujahnya dan merasa paling benar maka itu menandakan lemahnya mental-kejiwaan, dan rendahnya aqal pemikiran, sehingga tumbuhlah sifat iblis dalam dirinya yang seharusnya ditundukan dengan bersujud dihadapan Tuhan.
Gerakan iblis bukan saja pada bidang-bidang yang buruk secara kasat mata saja, pada bidang pengkajian kebenaran agamampun secara tidak sadar manusia akan digiring untuk membelokan kebenaran secara halus dan tidak terasa hingga jauh tersesat.
Nabi saw Pernah bersabda bahwa yang dikhawatirkan kepada umatnya diakhir jaman adalah adanya sifat syirik kecil(riya), syirik tsb bukanlah menyembah pohon dan batu, tetapi tatakala keyakinan kita terhdap Tuhan terselip kepentingan pribadi(nafsu) yang halus tak terasa.
Selanjutnya Nabi bersabda :
Kelak diakhir jaman banyak kaum usia mudah yang pandai dan lantang membicarakan ayat-ayat Tuhan namun tidak sampai melewati kerongkongannya.
Artinya mereka hanya mampu menjadikan ayat-ayat Tuhan menjadi suara saja, namun ayat tsb tidak berada pada keyakinan di dalam hatinya, melainkan hanya hafalan yang memenuhi fikiran & otaknya, sedang hatinya buta terhadap Tuhan, tidak mampu melihat & merasakan Tuhannya.
Syirik kecil(riya) menurut Nabi saw bagaikan semut hitam diatas batu hitam ditengah malam yang kelam. Artinya hal tsb tidak terlihat bahkan tidak terasa oleh diri sendiri, karena kebenaran tsb disampaikan bukan oleh tegasnya keyakinan terhadap Tuhan,tetapi karena merasa benar baru pada taraf pemikiran(‘ilmulyakin)atas pembelajaran dengan mendengar, membaca, & hafalan , bukan karena aynulyakin(penglihatan mata bathin),ataupun haqulyakin(kebenaran ats Yang Maha Benar).
Sebab bila telah mencapai taraf haqulyakin, maka masing-masing kita akan mampu saling intropeksi dan saling mengukur kekurangan diri masing-masing, dan tanggungjawab atas tugas masing-masing dalam pengabdian terhadap Tuhan sebagai mana para Nabi & Rasul, sebab kita semua adalah umat Nya yang melanjutkan tugas sebagai warisatulanbiya, sekaligus khalifah Allah(wakil Allah) untuk memakmurkan bumi.
PERTANYAAN UNTUK SAUDARA FADHILA
Fadhila menulis:
“saya memang berasal dari klrg sufi,tapi setlh saya belajar,ternyata sufi itu banyak amalan2 yg tidak di contohkan Rasululluh saw.kesimpulannya,amalan yg tdk
ada diamalkan Rasulullah saw,lalu kita kerjakan itu namanya amalan yg di ada2kan sama hukumnya dgn bidah.jadi hadits mengatakan kullu bidah pinnar.jadi coba pelajari lagi amalan2 yg sering dikerjakan Rasul,dan jgn kerjakan yg tdk di kerjakannya.sukran wa la jaklan”
Comment by fadhila — April 25, 2009 @ 2:02 pm
Tolong dirinci amalan apa yang menurut anda diada-adakan alias tidak ada contohnya dari Rasulullah?
Saya ingin tahu.
Trims.
Om Engkir S, dari pada om nanya ke Fadhila amalan apa saja yang dilakukan Sufi yang tidak ada contoh dari Rasulullah, mending om Engkir S aja yang uraikan amalan-amalan apa saja yang Om Engkir dan Sufi-Sufi lain lakukan yang memang ada contoh dari Rasulullah (dalilnya yang lengkap ya : perawinya siapa, yang meriwayatkan siapa, kitab hadist nya apa kalau bisa rujukan kitabnya yang berbahasa arab) supaya kami-kami yang masih belajar ini bisa mencari kitabnya dan membuktikan kalau haditsnya benar-benar shahih dari Rasulullah.
Mas Engkir punya karomah tidak ? Kalau tidak punya, berarti Allah tidak Ridho dan tidak Cinta donk sama Mas Engkir. Para Sahabat Rasulullah aja tidak SUFI dan tidak punya KAROMAH tapi Allah Ridho kepada mereka dan mereka pun Ridho kepada Allah (baca Al-Qur’an Surah At Taubah ayat 100).
Thank’s berat Bang Engkir atas petunjuk anada sebagai guru saya di situs ini.
Buat saya Syech Abdul Qodir Jaelani itu siapa dan seperti apa, tidak ada dalam persaratan Islam harus mempercayai beliau, harus mengikuti jejak beliau.
Islam hanya menyatakan:
1.Laksanakan tanpa reserve segala apa yang tertera dalam Al Qur’an
2. Laksanakan pula contoh/anjuran/ajakan yang telah dilakukan oleh Muhammad Rosululloh SAW.
Setiap langkah Rosululloh SAW senantiasa mendapat restu/bimbingan Allah SWT dan kemudian diteruskan kepada para sohabat:
Abu Bakar Siddiq
Umar Bin Khotob
Usman Bin Affan
Ali Bin Abi Talib,
Iseng iseng Bang Engkir, saya persilahkan untuk mencoba buka buka bukunya HASAN HAEKAL yang menyadur Riwayat Hidup Rosululloh Muhammad SAW dan ke4 sohabat beliau tersebut.
Terlepas dari itu semua Bang Engkir sebagai Ustadz saya di situs ini, saya masih menjadi pertanyaan besar manusia biasa seperti halnya Tuan Syech Abdul Qodir Jaelani dapat menghidupkan orang yang sudah meninggal ratusan tahun. Itu saja Bang yang saya bingung karena hidup dan mati itu KEPUNYAAN ALLAH Azza Wazzalla.
Para Rosulpun saat itu yang diberikan Mu’jizat Allah SWT saja sangat terbatas, seperti misalnya mu’jizat yang diberikan Allah SWT kepada Musa a.s Rosululloh dalam hal berkaitan dengan kematian:
2. Al Baqarah
72. Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.
2. Al Baqarah
73. Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu !” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti[64].
[64]. Menurut jumhur mufassirin ayat ini ada hubungannya dengan peristiwa yang dilakukan oleh seorang dari Bani Israil. Masing-masing mereka tuduh-menuduh tentang siapa yang melakukan pembunuhan itu. Setelah mereka membawa persoalan itu kepada Musa a.s., Allah menyuruh mereka menyembelih seekor sapi betina agar orang yang terbunuh itu dapat hidup kembali dan menerangkan siapa yang membunuhnya setelah dipukul dengan sebahagian tubuh sapi itu.
2. Al Baqarah
Keimanan orang Jahudi sukar diharapkan dimasa Rasulullah s.a.w.
75. Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?[65].
[65]. Yang dimaksud ialah nenek-moyang mereka yang menyimpan Taurat, lalu Taurat itu dirobah-robah mereka; di antaranya sifat-sifat Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat itu.
36. Yaasiin
12. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).
Demikian ‘tuk sementara Bang Engkir yang dapat saya sampaikan, wejangan selanjutnya di forum ini tetap saya nantikan maklum taraf pembelajaran banyak nanya dan terkesan cerewet.
Bang Engkir kalau kebetulan ngobrol atau masuk kesitus lain titip salam buat sohib saya dalam situs swaramuslim, hizbutahir:
Ustadz Abu Didat,
Ustadz Abu Aqilla,
Ustadz Abu Audah,dan
Ustadz Fahmi Basya
Semoga kita senantiasa dilindungi Allah SWT, Amin
JAWABAN BUAT EMI
EMI MENULIS: “Om Engkir S, dari pada om nanya ke Fadhila amalan apa saja yang dilakukan Sufi yang tidak ada contoh dari Rasulullah, mending om Engkir S aja yang uraikan amalan-amalan apa saja yang Om Engkir dan Sufi-Sufi lain lakukan yang memang ada contoh dari Rasulullah (dalilnya yang lengkap ya : perawinya siapa, yang meriwayatkan siapa, kitab hadist nya apa kalau bisa rujukan kitabnya yang berbahasa arab) supaya kami-kami yang masih belajar ini bisa mencari kitabnya dan membuktikan kalau haditsnya benar-benar shahih dari Rasulullah.
Comment by Emi — May 11, 2009 @ 12:16 am”.
JAWAB:
Seperti telah diungkap di atas bahwa kaum sufi itu adalah pengamal ilmu tasawwuf. Dan metode pengamalan tasawwuf itu dinamakan thoriqoh. Dan thoriqoh untuk mengamalkan tasawwuf itu sering disebut Thoriqoh dzikir.
Disebut Thoriqoh dzikir karena dzikrullah adalah tiangnya Thoriqoh. Seorang sufi, Imam As-Syadzili berkata, Dzikrullah itu rukun yang kuat di dalam Thoriqoh orang-orang mulia, bahkan dzikrullah itu tiangnya Thoriqoh, tidaklah seseorang akan bisa sampai (wushul) kepada Allah kecuali hanya dengan berdzikrullah.
Jadi, mengamalkan dzikrullah berarti menegakkan Thoriqoh. Dengan demikian, pengamalan dzikrullah merupakan ciri utama berthoriqoh.
Apa dzikrullah ?. Kata dzikir dalam bahasa arab adalah wazan (bentukan) dari : dzakaro-yadzkuru-dzikron, yang artinya : menyebut dan/atau mengingat.
Jadi, dzikrullah dalam arti yang pertama adalah menyebut-nyebut : Dzat-Nya, Sifat-Nya, Martabat-Nya, Ayat-Nya.
Dzikrullah dalam arti yang kedua adalah mengingat Allah, atau mengenang Allah, atau merasakan kehadiran Allah di dalam hati nurani.
Dzikrullah juga bisa didefinisikan dengan menyebut (Nama) Allah, atau mengingat Allah dengan cara menyebut Nama-Nya.
Ada empat katagori/jenis dzikrullah,
1). Dzikir af’al, adalah dzikir dengan melakukan sesuatu amal / perbuatan yang menghantarkan hati ingat kepada Allah. Shalat, Zakat, Puasa, Haji, Jihad, dll., adalah aktivitas-aktivitas ibadah yang menghantarkan hati ingat kepada Allah. Oleh karena itu, ketika kita sedang melaksanakan Shalat, Zakat, Puasa, Haji, Jihad, dll., maka pada saat itu dapat dikatakan kita sedang melaksanakan dzikir af ’al.
Sesungguhnya Akulah Allah, tiada Tuhan melainkan Aku dan dirikan sholat untuk dzikir kepada Ku. (QS. Thaha : 14).
2). Dzikir jahar, adalah dzikir dengan mengucapkan kata-kata yang menghantarkan hati ingat kepada Allah. Pada saat dzikir jahar ada huruf dan suara yang ke luar dari rongga mulut. Yang diucapkan adalah kalimat-kalimat seperti : Suhanallaah, Alhamdulillaah, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha Illallaah, dll., termasuk membaca Al-Qur’an. Akan tetapi dari sekian banyak bacaan dzikrullah itu ada bacaan dzikir yang paling utama, yakni : laa ilaaha illallah seperti telah disebutkan di atas.
Dalil-dalil mengenai keutamaan dzikir dengan kalimah thoyyibah Laa Ilaaha Illallaah banyak sekali, antara lain :
1.Dzikir jahar yang paling afdhol adalah dengan mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallaah, sebagaimana bunyi hadist :
“Dari Jabir bin Abdillah, Nabi SAW bersabda : ‘Dzikir yang afdhol adalah membaca kalimat Laa Ilaaha Illallah, sedangkan do’a yang afdhol adalah membaca Al-hamdulillah (pada permulaan dan akhirnya)’ ” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i).
2.Dzikir dengan kalimat Laa Ilaaha Illallaah di amalkan oleh para Nabi, hal ini diberitahukan oleh Nabi SAW :
Yang paling utama apa yang aku ucapkan dan apa yang diucapkan oleh Nabi-Nabi sebelum Aku, adalah : Laa Ilaaha Illallaah.
3.“Dari Abu Hurairah ra berkata, ‘Rasulullah saw bersabda’, ‘Perbaharuilah imanmu’. Dikatakan, ‘ Bagaimana kita memperbaharui iman kita wahai Rasulullah’. Beliau bersabda, ‘Perbanyaklah membaca laa ilaaha illallah’ ” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).
4.“Dari Usman bin Malik berkata, ‘Rasulullah bersabda’, ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan api neraka untuk membakar orang yang mengatakan laa ilaaha illallah dengan hati yang ikhlas untuk mencari keridhaan Allah ‘ ” (HR. Bukhori Muslim).
5.“Dari Ali bin Abi Thalib berkata : Nabi saw bersabda : Jibril pernah bicara (padaku); Allah berfirman : laa ilaaha illallah adalah bentengKu, barang siapa yang mengucapkannya berarti memasuki bentengKu, dan barang siapa yang memasukinya maka akan aman dari siksaanKu” (HR.Ibnu Asakir).
6.“Iman itu lebih dari 77 cabang, setinggi-tingginya iman adalah mengucapkan laa ilaaha illallah dan serendah-rendahnya menghilangkan segala rintangan di jalan. Dan sifat malu itu termasuk bagian dari iman“ (HR. Bukhori dan Muslim).
7.“Dari Abud darda’ ra dari Nabi saw bersabda : Tidak ada seorang hamba yang membaca laa ilaaha illallah 100 kali kecuali Allah membangunkannya di hari kiamat, sedang wajahnya bersinar seperti bulan purnama di waktu malam. Pada hari itu tidak ada amal perbuatan seorangpun yang diangkat (ke sisi Allah) yang lebih baik dari amalannya (orang yang membaca laa ilaaha illallah 100 kali) kecuali orang-orang yang turut membacanya atau mau menambah bacaannya” (HR. Thabrani).
8.“Dari Ummu Hani’ ra dari Nabi saw bersabda : Membaca laa ilaaha illallah mempunyai pahala yang tidak bisa dikejar dengan amal perbuatan yang lain, dan tidak meninggalkan dosa (kalimat itu menghapuskan dosa-dosa orang yang membacanya)” (HR. Ibnu Majah).
9.“Dari Abu Said Al-Khudry dari Nabi saw bersabda : Nabi Musa as. pernah berdo’a : Wahai Tuhanku berilah pelajaran aku sesuatu bacaan yang aku gunakan untuk dzikir padaMu, lalu Allah berfirman : Bacalah laa ilaaha illallah, lantas Musa berkata : Wahai Tuhanku, seluruh hamba-hambaMu mengatakan seperti itu, sesungguhnya aku menghendaki sesuatu yang khusus Engkau berikan untukku. Lalu Allah berfirman : Wahai Musa seandainya seluruh langit yang tujuh dan bumi yang tujuh dan seluruh penghuni bumi dan langit dan seluruh penghuni yang ada diantara keduanya selain Aku, diletakkan pada sebelah daun timbangan dan pahala laa ilaaha illallah diletakkan pada sebelahnya maka bobot pahala laa ilaaha illallah akan lebih berat” (HR. Nasa’i).
10.“Dari Abu Bakar ra berkata : Hendaklah kamu selalu membaca laa ilaaha illallah dan istighfar. Usahakan kamu membaca keduanya yang banyak. Sesungguhnya Iblis pernah bilang : Aku telah merusak manusia dengan beberapa dosa yang dijalankan, dan mereka membinasakan aku dengan bacaan laa ilaaha illallah dan istidhfar. Ketika aku melihat mereka berbuat sedemikian rupa maka aku membinasakan mereka dengan beberapa keinginan hawa nafsu yang diikuti. Sedang mereka mengira mendapat petunjuk”
(HR.Abu Ya’la).
11.”Dari sahabat Muadz ra dari Nabi saw bersabda : Barang siapa yang akhir ucapannya (di waktu akan meninggal dunia) adalah bacaan laa ilaaha illallah maka masuk surga” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
12.“Dari Abu Hurairah berkata : Ada malaikat maut datang kepada seorang lelaki yang mati, lalu dia membedah anggauta tubuh mayat itu, ternyata dia tidak menjumpai amal baik. Kemudian membedah hati mayat, ternyata disana tidak ada amal kebaikan. Lalu dia buka mulutnya, lantas ditemui ujung lidahnya melekat ke langit mulutnya yang membaca laa ilaaha illallah. Lantas mayat itu diampuni dosanya, lantaran kalimat ikhlas” (HR. Ibnu Abiddunya dan Al-Baihaqi).
3). Dzikir khofi, adalah dzikir dengan menyebut-nyebut Nama Allah di dalam hati, tidak ada huruf dan bunyi yang keluar dari rongga mulut, melainkan hanya aktifitas qolbu. Hal ini didasarkan pada keterangan :
Dan sebutlah (nama) Tuhan-mu dalam hatimu dengan merendah diri dan takut dan dengan tidak menjaharkannya, … (QS. Al-‘Araf : 205).
4). Dzikir sirri, adalah dzikir tanpa huruf dan suara hati, dzikir ini di dalam rasa, yakni merasakan kehadiran Allah. Al-Qur’an Surat Al-Mulk : 13 memberikan isyarat tentang adanya dzikir jahr dan sirr ini : “Dan jaharkanlah perkataanmu atau sirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati”.
Demikian mudah-mudahan ada manfaatnya.
Wass.
JAWABAN BUAT ACIK
ACIK MENULIS:
Mas Engkir punya karomah tidak ? Kalau tidak punya, berarti Allah tidak Ridho dan tidak Cinta donk sama Mas Engkir. Para Sahabat Rasulullah aja tidak SUFI dan tidak punya KAROMAH tapi Allah Ridho kepada mereka dan mereka pun Ridho kepada Allah (baca Al-Qur’an Surah At Taubah ayat 100).
Comment by Acik — May 11, 2009 @ 1:04 am ”
JAWAB.
Karomah itu adalah kemulyaan yang dianugerahkan Allah kepada ulama pengamal ilmu tasawwuf (sufi), baik di dunia lebih-lebih di akhirat nanti.
Walaupun saya belum sampai pada tingkatan yang disebut ulama tasawwuf, namun alhamdulillah,dengan memasuki ALAM tasawwuf, insya Allah, Allah SWT telah menganugerahkan keyakinan ke dalam hati saya lewat Kekuasaan/Kebesaran-Nya yang ditampakkan kepada saya (maaf saya tidak boleh menyebutkan secara detail).
Sehingga menambah keyakinan saya, sebagaimana ulama-ulama Tasawwuf katakan, misalnya Imam al-Muhasiby ra. Mari kita simak apa yang beliau katakan:
Diantara karya Abu Abdullah Al-Harits Al-Muhasiby (w. 243 H) adalah Al-Luma’ dan Kitabul Washaya, yang sangat popular diantara kaum sufi. Beliau pernah mengatakan berkaitan dengan perjuangan dirinya dalam mencapai wushul kepada Allah melalui jalan tasawwuf dan tokoh-tokoh sufi, Amma Ba’du, sudah ada penjelasan bahwa umat ini terpecah menjadi lebih dari tujuh puluh golongan.
Diantara golongan itu ada satu golongan yang selamat. Wallahu A’lam sisanya. Dan sepanjang usia saya, sering diperlihatkan perbedaan antara umat. Saya mengikuti metode yang jelas dan jalan utama. Saya mencari ilmu dan amal. Saya menapak jalan akhirat melalui petunjuk para ulama dan saya memegang ayat Al-Qur’an melalui penakwilan para fuqoha’ dan aku merenungkan urusan umat dan menganalisa pandangan dan madzhabnya.
Saya berfikir mengenai apa yang mampu dan betapa banyak perbedaan yang begitu mendalam yang menenggelamkan banyak orang. Hanya sekelompok manusia yang selamat. Saya melihat bahwa mereka berpendapat bahwa golongan merekalah yang selamat. Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah golongan orang tasawwuf.
Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitabul Washaya hal. 27-32.
Setelah menggambarkan berbagai kelompok madzhab dan golongan, Al-Muhasiby mengatakan, Kemudian aku sangat mencintai madzhab kaum sufi dan sangat banyak mengambil faedah dari mereka, menerima adab-adab mereka karena ketaatan mereka yang sangat lurus dan tak seorang pun melebihi mereka.
Kemudian Allah membukakan padaku bukti-bukti (kebenaran) tasawwuf, keutamaannya mencerahkan jiwaku dan aku berharap agar keselamatan ada pada orang yang mengakuinya atau merias dengan perilakunya. Aku sangat yakin adanya pertolongan besar bagi yang mengamalkannya dan aku pun melihat adanya pelencengan pandangan bagi yang menentangnya. Aku juga melihat adanya kotoran yang mengerak pada hati yang menentang tasawwuf dan terlihat pula adanya argumentasi yang luhur bagi yang memahaminya.
Bahkan kemudian aku mewajibkan diriku untuk mengamalkannya. Aku meyakininya dalam aqidah rahasia batinku dan meliputinya pada kedalaman rasaku bahkan kujadikan tasawwuf itu sebagai asas agamaku, dimana aku bangun amal-malku, lalu dibangunan itu aku mundar-mandir dengan perilaku hatiku..
Saudara ACIK !. Para sahabat Nabi pun mendapat karomah. Contoh: Khutbah Jum’ah Khalifah Umar ra ditujukan kepada Sariyah di balik gunung, berisi petunjuk-petunjuk perang, yang dapat didengar dengan jelas oleh Sariyah itu, padahal antara tempat Sariyah berperang dan tempat Umar berkhotbah berjarak ratusan kilo meter. Sariyah adalah komandan tentara yang sedang bertempur.
Wass.
Oh,………….Jaka sembung bawa Golok!
Bapak Bapak, Ibu Ibu dan Saudara Saudara sekalian ternyata Bang Engkir itu adalah orang Qodariah Na’sabandiyah, eh pantas zdikirnya juga banyak dan jadi bingung buat orang kaya saya yang lagi belajar.
Setahu saya Dzikir itu…afdulu dzikrifa’lan andahu:LA ILAHA ILLALLAH.
Trus kalo Subhanalloh, Alhambudlillah, Allahu Akbar yang saya pernah baca itu mah bukan dzikir.
Subhanalloh > tasbih, Ahlamdulillah> Tahmid, Allahu Akbar> Takbir.
Bang Engkir bilang:
4.“Dari Usman bin Malik berkata, ‘Rasulullah bersabda’, ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan api neraka untuk membakar orang yang mengatakan laa ilaaha illallah dengan hati yang ikhlas untuk mencari keridhaan Allah ‘ ” (HR. Bukhori Muslim).
Emang ada sohabat Nabi yang baru?Namanya Usman Bin Malik baru tahu nih.
Yang saya tahu Usman bin Affan, Annas Bin Malik
Terima kasih lah Bang Engkir sebagai Ustadz saya disitus ini. Banyak sudah yang saya dapat dari Bang Engkir mudah mudahan menjadi renungan buat saya, ngomong ngomong Bang Engkir ga ngajar di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya?
semuanya itu bagus, tp kenapa harus diributkan coba saja renungkan dan melihat ke pada diri sendiri apakah kita telah benar menjalankan agama kita, apa yang telah kita lakukan dan bagaimana untuk orang lain, bergunakah saya untuk orang lain disekitar kita dan kalau bisa saya minta alamatnya Bapak Engkir S, karena saya juga pingin tahu dan belajar terima kasih Wassalam….
Kalau menyimak tanggapan Mas atas pertanyaan saya, artinya Allah baru akan Ridho kepada Mas sampai Mas mencapai tingkatan ulama pengamal tasawwuf, jadi sekarang ini Allah belum Ridho. Tentang Shahabat, Mas Engkir rupanya tidak jadi membaca Surah At Taubah ayat 100 nya ya !!!!! BACA DULU MAS. Mas Engkir tahu tidak berapa jumlah Shahabat Rasulullah Shollollohu ‘Alaihi Wasallam? Baaaa…..nyak mas, RATUSAN!!!!!! Mereka semua DIJAMIN Allah Subhanahu Wata’ala masuk jannah. Kalau hanya satu atau dua orang shahabat saja yang mas Engkir bilang punya karomah, berarti yang lain tidak diridhoi Allah donk, alias TIDAK DIJAMIN masuk jannah, berarti Allah “SALAH” kalau begitu mewahyukan At Taubah ayat 100. Kalau membaca seluruh tulisan Mas Engkir dari awal sampai akhir di blog ini, saya punya kesimpulan sementara bahwa : tidak semua SUFI memiliki Karomah yang berarti tidak semua SUFI di Ridhoi Allah, karena menurut Mas Engkir bukti kalau SUFI itu di Ridhoi Allah dengan adanya Karomah. Lain halnya dengan para Shahabat, mereka semuanya di Ridhoi Allah dan dijamin masuk jannah, walaupun Mas Engkir cuma sebutkan satu atau dua orang Shahabat saja yang punya karomah (itupun data dari Mas Engkir). Coba untuk lebih ilmiahnya diskusi kita ini dan sebagai bahan pembelajaran bagi kita semua, dikitab mana saya bisa membaca KAROMAH yang dimiliki masing-masing shahabat yang jumlahnya ratusan tersebut,supaya nyambung dengan At Taubah ayat 100, atau ini cuma kebohongan belaka.
Om Engkir payah, jawabannya panjang melulu, tapi rujukan kitabnya tidak ada. Apa nama kitab dan Siapa Penulisnya, saya mau beli dan baca sendiri !!!!!
Alhamdulillahi robbil ‘alamin, rasa syukur dan terima kasih yang tak terhingga atas seluruh respon nan dasyat. Sehingga, saya membayangkan, andai kita berada di ruangan yang sama sambil menikmati secangkir teh manis dan membahas masalah ini dengan penuh kehangatan.
“Sufi Gaul” adalah judul kolom yang dirancang untuk kebutuhan daya tarik pembaca dan mesin pencari, tanpa dirancang untuk membangun kebingungan, salah anggapan, apalagi kesesatan. Sebagai kolom, bentuknya dan isinya memang disusun sesederhana dan seringan mungkin. Bahkan, tanpa terkesan mendakwahi atau menggurui. Bila kesan yang didapat menjadi “pengguliran perbaikan akhlak” mohon diartikan sekedar berbagi cerita dan membagi inspirasi.
Bila pada akhirnya, para pembaca merespon dengan dalil dan bukti-bukti yang menunjukkan kekuatan pesan yang saya maksud, saya hanya mengatakan terima kasih. Allah SWT Mahamengetahui. Semua pendapat kang Engkir benar. Tapi, pendapat yang menolaknya, juga benar (setidaknya untuk saat ini). Karena, pada saatnya Allah SWT akan menghadirkan hidayah dan kebenaran yang senyata-nyatanya. Inti seluruh tulisan, sekali lagi, sekedar inspirasi untuk memulai kehidupan dengan akhlak mulia.
Melalui surat ini, saya mohon doa dan izin para pembaca untuk mengikhlaskan pendapat-pendapat di atas (juga pada tulisan-tulisan saya terdahulu) untuk dimuat dalam buku yang sebentar lagi akan diedarkan. Allah SWT akan membalas semua kebaikan dan keikhlasan yang diberikan. Terima kasih.
Ibu2/Bapak2 Saudara Muslim wal Muslimahku,
Marilah kita sadari sepenuhnya bahwa kita adalah manusia salah satu mahluk ciptaan Allah SWT yang sarat dengan keterbatasan!
Kita sebagai manusia dan sekaligus sebagai orang Islam yang merupakan hamba Allah, sangat lemah, sangat tidak berdaya, kecuali atas idzin Allah SWT ( Subhanallohi wal hamdulillah wala haula wala kuwwata
illabillahil ‘aliyyul adzim ).
Bahasa Idzin Allah adalah bahasanya Allah, siapa yang diberi idzin dan siapa pula yang tidak diberi idzin.
Begitupun dengan Bahasa Karomah, Magfiroh, Ridho, Takdir, dan sejuta lagi bahasanya Allah Azza wazzalla yang hanya merupakan Hak PREOGRATIF Allah SWT yang tidak diketahui oleh siapapun termasuk MalaikatNYA Allah SWT, apalagi manusia seperti kita.
Makanya sangatlah bingung luar biasa buat saya khok ada yang Ge eR terkesan seolah olah mendapat Karomah dari Allah karena di seorang sufi!Kok bisa tahu, apa bedanya antara orang yg diberikan karomah dengan yg tidak.Malaikat apa yang datang ke Bang Engkir yang menyampaikan karomah dari Allah SWT?Atau Karomahnya hanya sebatas perkataan Guru Guru Bang Engkir bahwa Okey Bang Engkir saya beri Karomah!
Jauh jauh ngomong karomah orang yang diberikan Allah SWT taufik dan hidayah saja sulit untuk dibedakan!
2. Al Baqarah
48. Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at[46] dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.
[46]. Syafa’at: usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. Syafa’at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa’at bagi orang-orang kafir.
Bingung saya berikutnya adalah Muhammad Rosululloh SAW saja sangat menyadari keterbatasannya, mari kita simak firman dibawah ini:
7. Al A’raaf
188. Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”
Kemudian buat Bang Syaiful Halim sebagai pembuat artikel.
Kita sebagai umat Islam harus konsisten! Tegakkanlah dan dirikanlah bahwa yang BENAR itu BENAR yang SALAH itu SALAH, supaya kita memiliki barometer dalam hal beragama, jangan memberikan opini yang meragukan.
2. Al Baqarah
42. Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu[43], sedang kamu mengetahui.
[43]. Di antara yang mereka sembunyikan itu ialah: Tuhan akan mengutus seorang Nabi dari keturunan Ismail yang akan membangun umat yang besar di belakang hari, yaitu Nabi Muhammad s.a.w.
Dan buat Saudara saudaraku muslimin wal muslimah marilah kita berdoa semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita kejalan yang BENAR.
Robbana dzolamna anmfushana Waillam tagfirlana lataqunanna minal khosi’in.
7. Al A’raaf
23. Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.
Wassalam.
TANGGAPAN ATAS SAUDARA Ku: Santri dan Ishaq.
Santri menulis:
“Yang saya tahu Usman bin Affan, Annas Bin Malik
Terima kasih lah Bang Engkir sebagai Ustadz saya disitus ini. Banyak sudah yang saya dapat dari Bang Engkir mudah mudahan menjadi renungan buat saya, ngomong ngomong Bang Engkir ga ngajar di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya?”
Comment by santri — May 20, 2009 @ 8:26 am
Ishaq menulis:
“semuanya itu bagus, tp kenapa harus diributkan coba saja renungkan dan melihat ke pada diri sendiri apakah kita telah benar menjalankan agama kita, apa yang telah kita lakukan dan bagaimana untuk orang lain, bergunakah saya untuk orang lain disekitar kita dan kalau bisa saya minta alamatnya Bapak Engkir S, karena saya juga pingin tahu dan belajar terima kasih Wassalam….”
Comment by ishaq — May 20, 2009 @ 11:26 am
JAWAB:
Mungkin saya salah kutip, yang benar adalah Annas bin Malik.
Saudara-saudaraku tulisan saya mungkin sebagian kurang berkenan di hati saudara-saudara. Oleh karena itu maafkanlah saya. Saya tidak bermaksud membuka front untuk adu argumentasi. Semata-mata hanya ingin berbagi pengalaman, apa yang saya rasakan dan saya ketahui selama ini.
Saya sendiri tidak berlatar belakang pendidikan agama secara formal.
Latar belakang pendidikan formal saya:
S1-Fisika ITB-Bandung (1976-1981).
S2-Materials Science UI-Jakarta (1988-1991).
Pekerjaan : Peneliti Utama Bidang Fisika Zat Mampat di Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir-BATAN, Puspiptek, Setu, Tangerang, Banten.
Hingga Tahun 1992, terus terang saya tidak (kurang) khusyu dalam menjalankan syariat Islam, padahal agama Islam ini telah saya anut sejak lahir. Mungkin karena sebagian besar waktu saya, sejak masa kanak-kanak hingga tua, dicurahkan hanya untuk mempelajari Ilmu Umum khususnya Ilmu Pengetahuan Alam. Saya lahir di Garut tahun 1956.
Pada Tahun 1992 saya dikirim training ke Jepang untuk yang kelima kalinya. Namun Allah SWT mentakdirkan saya untuk jatuh sakit, akibat menderita stress. Saya stress karena ada persoalan keluarga yang cukup berat bagi saya.
Hingga akhirnya saya minta pulang lebih awal (baru menjalani 7 bulan dari program 12 bulan).
Di Rumah di Serpong, secara lahiriah saya kelihatan sehat-sehat saja, saya bisa berangkat kerja seperti biasa. Namun sesungguhnya otak saya sudah terganggu (mungkin ada syaraf otak yang error barangkali) akibat stres tadi. Sehingga saya bolak-balik (rutin)berobat/konsultasi di RS Fatmawati bagian syaraf/kejiwaan.
Berbulan-bulan saya jalani terapi tersebut, namun tidak kunjung sembuh. Badan/kepala baru terasa enak manakala minum obat. Jika obat habis, penyakit kambuh lagi.
Akhirnya saya menjadi kebergantungan obat.
Melihat saya terus menderita, salah seorang teman saya menyampaikan rasa belas kasihannya kepada saya. Dia menyarankan untuk menjalani terapi dengan cara lain (alternatif). Caranya adalah dengan mengikuti majelis dzikir, yang kebetulan tidak jauh dari tempat tinggal saya (Serpong) ada tempat manaqib Syeh Abdul Qodir Al-Jailani qs, tepatnya di Parung. Saya awalnya menolak, karena saya merasa sudah biasa mengamalkan wirid dzikir, diajari oleh orang tua saya. Saya dari keluarga besar nahdiyin.
Wirid dan dzikir dengan ucapan Laa Ilaaha Illallaah juga, sudah biasa saya amalkan terutama ba’da maghrib sampai menjelang shalat Isya.
Namun, akhirnya saya mengalah dan mengikuti saran teman saya itu, karena saya juga ingin kembali hidup sehat, hidup normal kembali.
Awalnya saya kaget, ada dzikir jahar dengan suara yang demikian keras. Ternyata itu adalah majelis dzikir Thoriqoh Qodiriah wan Naqsabandiyyah (TQN) dari Pondok Pesantren Suryalaya.(PPS). Kemudian saya ditalqin dzikir oleh Wakil Talqin dari PPS tersebut.
Awalnya saya tidak (kurang)mengerti, oleh karena itu saya ulangi lagi pada bulan berikutnya. Dan saya amalkan wirid dzikrullah sesuai petunjuk guru tadi, dari hari ke hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Akhirnya alhamdulillah-segala puji bagi dan milik Allah, penyakit yang saya derita sembuh total melalui wasilah dzikrullah.
Saya penasaran kenapa bisa sembuh. Saya sebagai peneliti, memiliki kebiasaan untuk mencari tahu jawabannya secara ilmiah. Dari situlah saya mulai tertarik dengan ajaran agama Islam, wabil khusus Tasawwuf dan Thoriqoh Dzikrullah.
Demikian sekilas perjalan ruhani saya dalam menemukan thoriqoh dzikir.
Wass.
Engkir S.
TANGGAPAN ATAS PERNYATAAN ACIK
Mas ACIK menulis:
“Kalau membaca seluruh tulisan Mas Engkir dari awal sampai akhir di blog ini, saya punya kesimpulan sementara bahwa : tidak semua SUFI memiliki Karomah yang berarti tidak semua SUFI di Ridhoi Allah, karena menurut Mas Engkir bukti kalau SUFI itu di Ridhoi Allah dengan adanya Karomah”.
Jawab:
Kesimpulan anda bahwa tidak semua SUFI memiliki Karomah. Kesimpulan itu kurang tepat bahasanya. Yang benar adalah di antara para sufi ada yang ditampakkan karamahnya, dan ada pula yang tidak ditampakkan sama sekali karamahnya.
Jadi, kosep karamah di atas tidak bertentangan dengan teks Al-Qur’an S. At-Taubah:100. Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti Muhajirin dan Anshar semuanya adalah Auliya Allah. Oleh karena itu, mereka diridhoi Allah dan mereka pun ridho kepada Allah.
Sebab, yang disebut Auliya Allah adalah mereka yang senantiasa mencurahkan jiwanya untuk Ubudiyah kepada Allah, dan menjauhkan jiwanya dari kemaksiatan kepada Allah. Sesuai dengan Firman Allah dalam hadits qudsi yang diceriterakan oleh sahabat Abu Hurairah pada kitab Hadits Bukhary (telah saya tuliskan di atas).
Jadi ditampakkannya karomah pada diri seseorang hanyalah SALAH SATU bukti (bukan satu-satunya bukti)bahwa seseorang dicintai Allah. Dan karena dicintai Allah, maka dia diridhoi Allah.
Karamah itu, adalah limpahan anugerah Ilahi, buah dari taqorrub ilallaah, bukan karena usaha-usaha selain itu.
Karamah sendiri bukanlah syarat dari kewalian. Kalau saja muncul karamah pada diri seorang wali, semata hanyalah sebagai petunjuk atas kebenaran ibadahnya, kedudukan luhurnya, yang senantiasa berpijak pada perintah Nabi SAW.
Karena itu di antara orang-orang yang saleh ada yang mengetahui derajat kewaliannya, dan orang lain tahu. Ada pula yang tidak mengetahui derajat kewaliannya sendiri, dan orang lain pun tidak tahu. Bahkan ada orang lain yang tahu, tetapi dirinya sendiri tidak tahu.
KESIMPULAN:
Jika pada diri anda tidak ditampakkan karamah, bukan berarti anda tidak diridhoi Allah. Anda telah dan/atau akan diridhoi Allah sepanjang anda senantiasa mencurahkan jiwa anda untuk Ubudiyah kepada Allah, dan menjauhkan jiwa anda dari kemaksiatan kepada Allah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Tetapi, jika pada diri anda ditampakkan karamah, itu adalah salah satu bukti di dunia bahwa anda diridhoi Allah. Jadi, dalam hal ini Allah memberi tahu kepada Anda sejak di dunia ini bahwa aqidah, syariah dan akhlaq anda diridhoi Allah SWT.
Penjelasan lengkap lihat di:http://sufinews.com/
Segmen: Dunia Wali, Gerbang Cinta Para Wali.
Wass.
Subhanallah, setelah terlibat perdebatan panjang dan “menggairahkan” akhirnya membuahkan silaturahim sesama kita, khususnya di antara para ikhwan. Kalau saja Allah SWT memberikan kesempatan, semoga Kang Engkir bisa mampir juga ke sohibul MANFAAT dan berjumpa juga dengan wakil talqin kita, KHM Siradjuddin Ruyani.
Ini pertemuan yang sudah diatur olehNya dan semoga bisa “menghijaukan” sekeliling kita. Amien…
Prihatin sekali kepada saudara muslim kita yang masih banyak belum memahami Islam secara Kafah, sehingga mereka bagaikan buih diair terjun, begitu terhempas angin langsyng hilang, kemudian timbul dan hilang lagi terus seperti itu atau ibarat keledai yang menggendong setumpuk buku dan dia tidak mengerti apa isi buku itu.
Kaya program Penerimaan Mahasiswa Baru ( Sipenmaru )yang daftar sejuta yang lulus dan diterima 100 orang.
Begitupun nanti pada pasca pengadilan Illahy Robby akan tergambar:
56.Al Waaqi’ah
[Daftar Surat]
56. 11. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah.
56.Al Waaqi’ah
[Daftar Surat]
56. 12. Berada dalam jannah keni’matan.
56.Al Waaqi’ah
[Daftar Surat]
56. 13. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu,
56.Al Waaqi’ah
[Daftar Surat]
56. 14. dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian [1451] [1451] yang dimaksud adalah umat sebelum Nabi Muhammad dan umat sesudah Nabi Muhammad SAW.
Jadi ummat yang sekarang ini ( kite kite nih! ) sedikit yang masuk syurga, seperti pnjelasan saya diatas, lalu hal lain yang melatar belakanginya adalah:
31.Luqman
[Daftar Surat]
31. 21. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?
Saya kutip juga pendapat Irene Handono: Bahwa umat Islam di Indonesia, 10% bisa baca Qur’an, 2% mengerti Qur’an dan 1% yang mengamalkan Qur’an.
Tuntunan sangat berbeda dengan tontonan.
Kalau Rosululloh Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Medinah para Kiayi dan Ustadz di Indonesiapun banyak yang Hijrah dari Mesjid/Pesantren ke Studio Televisi( teken kontrak dapet duit lagi ).
Yah!Memang Qualitas dan Qwantitas punya arti dan ma’na yang berbeda!
UNTUK MAS SYAIFUL HALIM terimaksih. Insya Allah kita bisa berjumpa dan kami pun ingin memperluas jaringan silaturahim. Bolehkah saya tahu dimana alamat sohibul manfaat?.
Wass.
jalan yang terbaik adalah jalan yang dicontohkan rasulullah apabila ada orang yang mengatakan bahwa jalan para wali/ulama/kiai lebih baik dari jalan rasulullah adalah dusta bahkan batil.Marilah kita beribadah sesuai dengan tuntunan rasulullah insyaallah kita akan selamat dunia akhirat
Subhanallah…
Luar biasa..
Luar biasa sabarnya pak Engkir S..
mencoba menjelaskan dengan penuh kesabaran kpd orang2 yang menentang sesuatu hal, cuma karena ada kata “tasawuf”..
Lucu-lucu komentar mereka2 itu.. (ironically)
seolah-olah mereka adalah ‘sarjana-sarjana’ didikan Rasulullah SAW.. Biasa hidup enak, kok mau ngomentari orang yang pernah hidup susah? Kalo udah pernah merasakan sulitnya kehidupan, pasti gak akan keluar kata-kata merendahkan orang lain. Kita ini harus berhati-hati, jangan sampai hendak menggarami lautan.
Kalau tidak ingin sesat, jangan pernah berdebat dengan dalil. Dalil Al Qur’an dan Hadits terlalu mulia untuk dijadikan alat pemenangan Ego.
Pengalaman adalah guru terbaik. Sudahkah pengamalan dan pengalaman Al Qur’an menjadi guru bagi diri? Sudahkah diri kita mengalami apa-apa yang tercantum di dalam Al Qur’an dan Hadits? Janganlah kita umat Islam membuat sedih hati Rasulullah, kawan..
Dan memang ‘isu’ tasawuf ini sangat sensitif, bukanlah sesuatu yang dapat didiskusikan secara bebas lintas pemahaman, sama seperti teknologi nuklir lho, pak..
(Nuklir itu bid’ah lho, karena di jaman Rasulullah maupun para sahabat, belum ada … hehehehehe)
Pak Engkir, izinkan dan perkenankan saya untuk berkorespondensi dengan Anda..
Email saya byjchz@gmail.com
Terima kasih & salam hormat saya
Bang Syaiful Halim mohon maaf udah numpang nih
Salam hormat dan salam kenal juga buat Bang Syaiful
wassalam
Ass. Astagfirullohal adzim…..istigfarlah kepada Alloh…!!!!!
Bang Saiful halim….apa kabar…? kenalkan nama saya Irfan dari Cianjur.
bang secara tidak sengaja saya buka postingan akang, menarik sekali. sampai-sampai ada keributan paham dan adu intelektualitas. saya mohon untuk di ganti postingannya, kenapa? karena yang ada kemadhorotan ketimbang manfaatnya. hati saya menangis..sedih karena komentar yang muncul disana-sini. semuanya memakai hadist dan alquran sebagai media pembenaran secara hakiki. sampai ada yang menyinggung masalah imam al ghozali segala…, nanti imam al ghozali sendiri kalau tau seperti bukannya marah tapi sedih.
ada yang promosi gelar segala….aduh kang saya mah malu…, ada yang promosi dzikir,
karomah ga perlu dipertanyakan atuh…. kan itu mah sudah menjadi urusan alloh SWt….,
sekali lagi jangan di harapkan sebuah karomah karena karomah bagi seorang muslim bukan tuntutan yang paling utama, karomah itu hanya bukti kalao alloh itu benar-benar Ada dan Maha dari segala maha kebaikan.
woooo…yyyyy…karomah teh moal tiasa di peser ku logika, karomah mah etamah upami teu leupat ujian ti alloh kanggo jalmi anu keur nyucikeun diri supaya manehna ikhlas jeung ridho. karomah teh ujian yeuh ti gusti alloh pikeun ngukur kaikhlasan hamba dina jalan anu bener nu keur di jalankeun. jadi lain tuntutan kudu kapimilik.
yang dingin yang dingin…. teh poci teh gelas mountea teh kotak yang dinginnya yang dingin….
Ass. Untuk Muhammad yang menyebut Imam Al Ghozali dan Alloh SWT pakai huruf kecil, kumaha atuh?
Pak Syaiful dan Pak Engkir yang sabar ya, untuk mengerti dan PAHAM yang TERSURAT itu susah, apalagi yang TERSIRAT! Dibutuhkan sesuatu yang “LAIN”, makanya ketika ada RESISTENSI terhadap TASSAWUF dari BELIAU-BELIAU yang cerdas-cerdas itu harap dimaklumi!Kalau biasa makan PADI jangan dikasih tahu kalau NASI itu lebih empuk,mungkin mereka seneng kulit padi-nya yang agak RENYAH itu! Otot lehernya memang sangat kuat ya mereka-mereka itu…wassalam.