Friday, May 24, 2013

Politik Haji Acep

March - 27 - 2009
politik-haji-acep

Syaiful Halim

Saya mengenalnya sebagai pak Haji. Karena hampir setiap saat, ia mengenakan kopiah putih dan gamis. Jenggot panjang menggantung di dagunya. Kaca mata tebal selalu duduk manis di atas hidungnya. Namanya, Haji Acep. Belakangan saya juga tahu, ada dua gelar kesarjanaan di belakang namanya.

Dulu saya menduga, ia pengikut semacam aliran tarekat. Atau, ia pastilah bagian dari orang-orang yang sepanjang hidupnya berserah diri kepada Yang Mahamandiri. Kalangan kaum sufi, bisa jadi. Rasa segan sudah pasti merasuk di dalam jiwa ketika bertemu dengannya. Karena, saya merasa, belum bisa seperti dia.

Setahun ini, saya makin mengenalnya. Karena, ketika bensin sepeda motor saya habis, saya pasti menyinggahi kios daruratnya. Ia memang berjualan bensin eceran. Dan, kalaupun bukan ia yang menunggu kios, istri atau anaknya – yang juga mengenakan gamis super-tertutup lengkap dengan cadarnya – akan  melayani saya.

“Jangan lupa ya Pak, nanti pilih saya. Pilih tukang bensin eceran, biar jadi anggota DPR,” kata pak Haji, tiga bulan yang lalu. Saya hanya manggut-manggut. Antara kagum, tidak percaya, dan iri, beraduk-aduk jadi satu. Mencalonkan diri jadi anggota DPR?

Belakangan, saya makin yakin, ketika menjumpai fotokopian leaflet dirinya yang ditempel di sekeliling kompleksnya. Kebetulan, ia bermukim di kompleks yang terpisah dengan saya. Ternyata, ia caleg bernomor bagus dari partai baru kreasi mantan Pangkostrad. Medium komunikasi yang digunakannya begitu sederhana dan kalah mewah dibandingkan caleg-caleg lain. Barangkali, saya harus maklum. Karena, ia kan hanya tukang bensin eceran…

Sebulan yang lalu, saya juga mendapat kirimkan lengkap atribut parpol dari tetangga saya. Dulu, ia pernah menjadi pak RT. Lalu, promosi jadi pak RW. Ketika sahabatnya menjadi menteri di kabinetnya pak SBY, ia menempati pos Tim Ahli sang sahabat. Kemuliaan hidup memang tengah membimbingnya, hingga ia menjadi sekjen di parpol diikutinya. Karena itu, ia pun menempati nomor teratas dalam urutan caleg dari partai. Parpol besar, tentunya.

Berbeda dengan pak Haji, pak Sekjen parpol besar itu memberikan saya kalender, stiker, pin, dan kaos-kaos oblong bergambar dirinya. Plus, ada logo departemen di dada kanan. Saya hapal dengan logo itu, karena cukup lama tempat itu menjadi pos peliputan saya. Selain itu, baliho, spanduk, dan poster-poster cantik bergambar sang caleg juga nyaris memenuhi kota saya – jadi bukan lagi sekitar kompleks dan dengan kertas fotokopian.

Tiba-tiba, perdebatan hangat mengemuka di rumah dan lingkungan. Tampilnya dua caleg dengan kekontrasannya menjadi topik segar dibandingkan kawin sirri-nya Dewi Perssik atau colekan nakal Saipul Jamil ke “perhiasan” Kiki Fatmala. Mohon maaf, kali ini, infotainment sedang tidak menarik. Karena, masalah caleg sedang benar-benar seksi. Terlebih lagi, dua orang dekat yang mengajukan diri. Bahkan, anak-anak bau kencur yang biasanya meributkan lagu-lagu baru di ipodnya, kini keranjingan berghibah soal politik.

“Jadi, pilih siapa, Pa?” tanya anak sulung saya.

“Serahkan saja pada alam,” kata saya sambil menirukan gaya tokoh Mahar dalam film “Laskar Pelangi”.

“Ah, paling-paling juga tidur. Golput lagi!” ledeknya.

Saya hanya tersenyum. Sungguh, ketika di hadapan soal pilihan-pilihan pada setiap pesta demokrasi kita, saya selalu bingung dan tidak memiliki pilihan. Sehingga, pada akhirnya, saya tidak pernah datang ke TPS. Golput alias golongan yang kagak pernah nyoblos!

Sekarang? Jujur saja, saya masing belum memiliki pilihan. Saya mendapat “desakan” dari dua orang yang saya kenal baik. Keduanya menawarkan wajah. Tapi, saya belum menemukan niat di balik keinginan. Dan, juga sikap amanah atas ambisinya. Saya tidak peduli dengan visi dan misi, plus jargom-jargon komunikasi politiknya. Saya hampir hapal. Selalu seragam dan jauh dari bumi alias  di awing-awang.

Saya ingin bertanya banyak kepada mereka, apakah mereka melihat peta situasi negara ini dengan seabrek-abrek masalahnya. Ada segelintir warga yang lebih memilih berobat ke Ponari ketimbang dokter. Ada jutaan warga yang rajin mengantre minyak tanah, gas, dan BLT, hingga menerima zakat dari Haji Syaichon. Ada puluhan juta warga yang tidak paham mencontreng dan bingung dengan kertas suara. Ada ratusan juta warga lainnya yang tidak mengerti laju politik negara.

Apakah pesta demokrasi masih sekedar konvoi di jalan, joget-joget gratis dangdutan, kecipratan uang bensin, dan fanatisme yang tidak fokus? Sementara para calegnya hanya sibuk mengumpulkan busa di mulut, tapi tidak peka akan masa depan negara ini. Apakah mereka mengerti, para caleg adalah kumpulan orang-orang yang disayangi parpol – tanpa peduli kemampuan, visi, kepekaan sosial, dan sikap amanahnya? Sehingga, siapa saja bisa masuk daftar, asal nanti bisa menyumbangkan banyak suara dan pengabdian buat partainya.

Pada akhirnya, kita juga makin dibuat bingung, ketika para pejabat tinggi negara yang juga pengurus parpol, selalu saja mengumbar program pemerintah yang seakan program parpolnya? Apakah negara identik dengan parpolnya? Artinya, ketika sang pengurus parpol menjadi pemimpin negara mestikah menyebut-nyebut karya tim besar bernama pemerintah sebagai karya parpolnya? Bukankah tim itu bukan hanya atas orang-orang parpolnya?

Ada juga yang bangga dengan program BLT, hingga lupa bahwa program itu memajang potret kemiskinan di negara ini. Artinya, pemerintah belum juga berhasil mengentaskan kemiskinan. Padahal, pemilu telah berkali-kali digelar. Pemimpin-pemimpin negara dari berbagai parpol juga telah tampil ke posisi puncak. Kenyataannya, pengulangan program yang terus “menjual” kaum miskin terus saja berlanjut. Dari Jaring Pengaman Sosial pada masa pemerintahan Habibie hingga BLT pada masa pemerintahan SBY.

Meskipun begitu, bukan berarti saya berkeinginan memaksakan ide golput ini kepada Anda. Mohon jangan salah mengerti. Bila Anda mempunyai pilihan, atau tidak memiliki pilihan, boleh-boleh saja untuk datang ke TPS dan mencontreng apa pun yang diminati. Karena, itu adalah hak politik Anda. Dan, jangan-jangan ikutan pesimis hanya karena parpol memilih para kader-kadernya secara tidak sempurna, jadi lantas khawatir akan kualitas kepemimpinannya. Termasuk juga, pemimpin tertinggi kita nanti(?)

Biarlah hanya saya yang tetap bingung dan tetap tidak memiliki pilihan. Karena, saya masih berharap mendapatkan teman-teman, sahabat-sahabat, sanak famili, atau ikhwan yang tidak saya saya kenal sekali pun, yang beritikad untuk berbuat sesuatu untuk negara ini tanpa berpikir menjadi apa di negara ini. Menjadi apa itu penting. Tapi berbuat apa, itu jauh lebih penting. Dan, pengabdian untuk negeri tercinta tidak harus dilakukan dari kursi empuk di Senayan. Karena, saya sangat yakin, ada ahlinya yang lebih layak melakukan pekerjaan itu. Mereka adalah pemimpin-pemimpin yang istiqomah dan amanah.

Untuk pak Haji dan pak Sekjen, mohon maaf, kali ini saya tidak memilih Anda. Tapi saya berdoa, semoga bila kelak terpilih, Anda bisa menjadi inspirasi bagi para legislator lain untuk beristiqomah dan amanah.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

41 Komentar pada “Politik Haji Acep”

  1. Asep RM says:

    Sangat beralasan mengapa kita menjadi bingung dengan pilihan Parpol dan segudang Calegnya. “beritikad untuk berbuat sesuatu untuk negara ini tanpa berpikir menjadi apa di negara ini” itu yang terpenting.

    Tetap Semangat, Terus Berjoeang :D

    Salam.

  2. pieh says:

    Setiap orang boleh berpendapat apa saja, tapi tidak sedikit rakyat Indonesia yang sudah mengerti politik mereka juga sudah pandai menilai mana yang pantas duduk untuk menjadi wakil rakyat, mungkin betul banyak caleg yang coba-coba padahal kepentingan rakyat& negara bukanlah untuk jadi ajang coba-coba, mungkin banyak yang belum peka, tapi saya yakin dari sekian banyak itu tidak sedikit pula yang mempunyai hati yang amanah, bersih & profesional, saatnya kita beri kesempatan untuk mereka membuktikan apakah mereka akan sama dengan pemain-pemain lama atau mereka memang benar membawa perubahan, tidak salah kan kalau memberi sedikit kesempatan di 9 April Nanti.

  3. kusnan hadi says:

    Alhamdulillah, ada beberapa teman, saudara saya yg menjadi caleg baik untuk daerah maupun pusat, saya sendiri sekarang melihat dan mendengar berita yang begitu banyak tentang penyimpangan, kriminal,korupsi besar2 an dan bahkan yang membuat kemiskinan berkepanjangan dan penderitaan turun-temurun, sementara wakil-wakil yg kita pilih hanya memikirkan untuk memperkaya dirinya dan keluarganya, bahkan nyaris mereka memanfaatkan aji mumpung, mumpung berkuasa, mumpung terpilih, dsb. maka saya sekarang bingung mau pilih siapa? dan saya lihat skrg berlomba-lomba mencalonkan dirinya, tapi semoga saja apa yg mereka janjikan kepada negara ini bisa sedikit diterapkan, minimal akan ada perubahan untuk lebih baik, wass

  4. gemil says:

    memang tidak mudah untuk menjatuhkan pilihan yang benar2 amanah dan istiqomah, karena masa kampanye memang untuk berjanji sedangkan yang selalu terjadi adalah rakyat selalu berdemo menagih janji2 mereka setelah duduk di kursi empuk.
    mungkinkah mereka bingung antara janji atau kepentingan partai ????

  5. Hairun Noor says:

    Benar kata bung Syaiful, siapa pun yang terpilih tak ada perubahan dinegeri ini. Karena yang dipikirkan mereka untuk kembali modal. Jadi tak sempat lagi memikirkan konstituen, masyarakat, bangsa dan negara ini. Golput lebih baik dari pada salah pilih. Selamat berpesta demokrasi dan gila gali

  6. agus says:

    Ya sudah blak-blakan saja mas. Bilang aja ngajak gulpot. Eh golput. Dari uraiannya 70% ngajak golput.
    Cuma 5% bilang “saya tidak mengajak golput”. Sisanya bunga2 “pengindah”.

    Caleg2 itu banyak yang tidak bisa dipercaya, tapi media juga sama saja. peace

  7. budi says:

    Kl Bapak masih ragu2 n blm punya pilihan, pilih saja PKS pojok kanan atas. Insya Allah dah terbukti, Bersih Peduli Profesional

  8. yantisa says:

    wah2…. sibuk dengan pemilihan parpol…. jadi pucing………………………

  9. jack herry says:

    Ya..jangan menyerah Golput bukan solusi,pilihlah wakil rakyatmu yang amanah, bila kamu bingung ttg wakilnya coba lihat utk sementara ini partai mana yang selalu kiprah yang membela masyarakat luas seperti kalo ada bencana alam, tragedi kemanusiaan di Palestina, ataupun orang- orang partainya yang relatif Bersih, Agamis, Hidup sederhana, dan tidak suka trima Gratifikasi saat dia menjabat baik Legeslatif ataupun eksekutif. smoga kiranya gambaran sedikit utk pandangan kita semua…aku lihat Hanya PKS yg terbaik dan yang sesuai harapan rakyat yang madani.

  10. Ramuwan says:

    Tidak memilih alias Golput tapi mengharapkan perubahan yang positif dinegeri ini identik dengan “berdoa tanpa berusaha” Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak berusaha untuk merubahnya”. Memang melihat besarnya surat suara yang melebihi koran; kwalitas caleg yang tidak ketahui apalagi soal moral para caleg, kita jadi bingung untuk menentukan pilihan.Namun jadilah pemilih yang cerdas,lihat track record masing-masing orang-orang parpol, lihat kinerjanya selama masa reformasi, jangan terbuai janji-janji yang tidak mungkin bisa dilaksanakan, diantara yang buruk-buruk itu pasti ada yang baik dari kumpulan buruk itu, bahkan ada yang amanah dan istiqomah.Dengan menjadi Pemilih yang cerdas,mudah-mudahan kita tidak salah pilih dan kelak kita punya pemimpin yang amanah dan istiqomah.Tapi kalo kita jadi Pemilih yang memilih karena budaya kharismatik,paternalistik, karena fanatisme,karena menyerah pada serangan fajar, bagaimana kita bisa punya pemimpin yang amanah dan istiqomah ? dan sayangnya kelompok pemilih macam ini masih buaanyak teruma dari kalangan bawah menengah yang kurang wawasan dan pengetahuannya.
    Jangan menyesal jika Pemilu nanti dimenangkan oleh Kelompok Pemilh terakhir ini.Hasilnya hanya akan didapat Badut Politik yang jadi mayoritas di Senayan dan…. Pesiden dan Wapres kita bukan Pemimpin yang amanah dan istiqomah…

  11. apriadi hasibuan says:

    walaupun saya tidak tergabung dalam partai manapun kayaknya abstain bukan pilihan yang bijak, wajar jika banyak orang memilih abstain di karenakan kekecawaan yang dalam kepada pemerintah khususnya parpol yang ada, tapi dengan abstain kita juga tidak memberikan efek lebih baik kepada bangsa, jadi menurut saya klo kita tidak mau kecewa dan terjebak oleh pilihan kita, saran saya kita harus cerdas dan bijak dalam memilih the one and only PKS NO 8 pilihan bijak dan cerdas, jika anda ragu pelajari dulu 1 menit contrengan anda menentukan 5 tahun arah bangsa ORANG CERDAS PASTI PILIH YANG BERKUALITAS PKS 8

  12. Firman says:

    selamat bergolput ria Bung ,Dari komentar komentar yang ada tsb masih ada yang nggak mudeng orang golput bukan karena tidak punya pendirian atau tidak mau memikirkan bangsa ini tapi memang dalam hal ini malas aja gitu loh.
    Untuk yang terlalu PD dengan partainya yang paling bersih dan amanah sabar ya memang tidak ada kecap yang no 2 .
    Wassalam

  13. adenan says:

    saya kira akan lebih baik memilih PKS dari pada memilih partai GOLKAR yang sudah hampir 40 tahun menghisap kekayaan negeri ini.contoh PT.Freeport dijayapura 500 ton batang emas tiap bulan dikirim ke amerika sedangkan saudara kita disana baru mengenal koteka jangan kan mau mengenal televisi ,handphone dsb sungguh Ironis nasib negara kita ini terutama ORDE BARU kuda politiknya adalah GOLKAR WASPADALAHHHHHHHHHHHHHH

  14. dimas says:

    Jangan bingung Pak, Hidup adalah Pilihan, walaupun Golput juga merupakan pilihan tapi itu adalah berarti kita tidak bergaul, jangan anda terpaku kepada Pak Haji dan Pak Sekjen saja, Masih banyak Caleg-caleg lainnya yang mempunyai Moral dan ber-Hati Nurani, memang jadi Caleg saat ini dilema, karena legislatif dulu banyak yang ngaak bener jadi Caleg sekarang baru mencalonkan udah kena dampak Shuk’ufon, astgfirullah … kita kenali Caleg, doakan smoga mereka tetap amanah amin ,,, contreng deh, tku

  15. niehands says:

    Wah sepertinya dah mantap nih mas jadi golput. Ga istikhoroh dulu?

  16. sekas says:

    Ya pantes bingung BAng, la wong kridibilitas caleg sekarang ng diakui masyarakat secara luas diDAPILnya…

    1. ng keliatan kiprahnya.
    2. ng tersohor karena bijak,dermawan ato bela yg kecil.
    2. pinter ng nya me’ne’ke’te’he’.
    3. ng jadi panutan pula. boro2 kenal.
    4. zzzzzz…. hati2 banyak pengangguran sekarang…

    PR lu tuh KPU….!!!!!! jgn maen acc aj. NEGARA KOQ BUAT MAENAN.

  17. sekas says:

    zz ada yang lupa, SARAN UNTUK KPU…. mohon di setiap TPS, diwajibkan semua partai memajang FOTO + curriculum vitae CALEG-CALEGnya….mudah-mudahan membantu masyarakat berfikir lagi “mau CONTRENG SIAPA”. yang kita butuhkan CALEG YG SEHAT BERKWALITAS bukan AMBISI PARTAI, slamat berpesta demokrasi, tq.

  18. Aldi says:

    Hidup di jaman sekarang semakin bingung karena setiap kali kita harus dibingungkan dengan janji . Tolong bisa ditunjukkan agar bisa dipercaya ama rakyat agar rakyat tidak memilih golput. Itulah Perjuangan yang berat untuk meraih kebahagiaan Dunia dan Akhirat….

  19. dewi says:

    saya tuh malah bingung mengapa pada golput, saya yg gak mau golput aja gak bisa milih krn gak terdaftar!!

    tp skrg saya dah tahu jawabannya dari pak Firman: “orang golput bukan karena tidak punya pendirian atau tidak mau memikirkan bangsa ini tapi memang dalam hal ini malas aja gitu loh”

    kalo malas, yah saya nyerah deh…. penyakit ini emang sulit diberantas…hehehe…

  20. maisaroh says:

    tidak benar jika bapak peduli dengan negeri ini tapi memilih golput. Emang sih terlalu banyak pilihan sampe bingung. tapi ya begitulah keadaan negara kita. Saya sendiri bingung, tapi ya milih keluarga atau tetangga aja deh. selain dah kenal n tau baik gaknya, kan gampang negornya kalo gak bener. dari pada yang tenar tapi gak kenal. nanti klo negor cuma dibilang iri, mau demo dll. Tapi tetep harus milih. selamat mencontreng.

  21. antonius says:

    saya rada bingung dengan model pemilu sekarang, caleg begitu banyak, kualitas caleg antah barantah alias amburadul, kekhawatiran saya adalah akan semakin banyak yang berurusan dengan KPK karena korupsi untuk balikin modal saat kampanye. Siap-siaplah berjuang untuk diri sendiri karena penguasa negara, DPR dan Pemerintah akan asyik dengan urusannya sendiri bukan ngurusin rakyat.

  22. jj says:

    JANGAN PILIH CALEG Pengangguran lol

  23. choesnel djhari says:

    saya kira pak Acep ini akan menentukan pilihan dari 2 pilihan tsb. ternyata GOLPUT. kasihan…ndak punya pilihan dari ribuan caleg yang ada….apakah sedemikian jelekkah caleg yg ada ??? masih banyak caleg yg bersih dan sangat bermral dan bertanggung jawab. buka mata hati…buka pikiran….buka wawasan…pilihlah salah satu yg terbaik…jangan GOLPUT. (Tidak bertanggung jawab )

  24. marlon says:

    saya bingung kenapa saya g pernah dapat kartu pemilih??

  25. nasrullooh says:

    44 partai cuy bingung!!!!!!!!!

  26. cepi says:

    sepertinya penulis artikel ini sama dengan apa yang saya alami. memang banyak caleg, dari sekian ribu calon meneketehe siapa yang benar-benar ikhlas memperjuangkan rakyat. realitas membuat saya sendiri tidak percaya. dari sekian banyak anggota legislatif, yang menghiasi media massa karena prestasinya cukup banyak. sayang prestasinya itu adalah berhasil menggaet wanita dan menumpuk harta walaupun akhirnya mereka menderita. semoga Allah menunjukan kepada Anda para pemilih siapa yang benar2 pantas mewakili kita. ngeri kalau urusan negara diberikan kepada orang2 tak bermoral seperti yang sudah-sudah, meski tak semua tentunya.

  27. Ibu RT says:

    Lah….yang bisa baca tulis saja bingung, apalagi kaya pembantu saya yang bener-bener buta angka dan tulisan….Tapi, rupanya dia lebih pintar (jadi, saya salah sangka). Ketika saya bertanya, pilih mana mak???” Dia sudah siap jawaban……”yang kemarin kasih sembako, bu…ada lho potretnya dirumah, kan dibagi..bu”…….he…he.

  28. friend says:

    tidak akan pernah terjadi kemakmuran di negeri ini apabila hukum yang dibuat oleh orang orang yang kita pilih di parlemen masih banyak pengaruh kolonialismenya padahal kolonial telah menyengsarakan bangsa ini ratusan tahun tapi produk hukumnya melalui undang undang yang dibuat parlemen selalu tidak berpihak pada rakyat, sangat masuk akal apabila bung saipul masih bingung untuk memilih bahkan cenderung memilih golput.sama halnya dengan saya sampai hari ini masih ragu untuk menentukan pilihan, tapi jauh di dalam hati ada sedikit menaruh harapan ke sebuah partai yang mudah mudahan seandainya memiliki kekuatan di parlemen bisa membuat undang undang yang didasarkan pada hukum Allah yang selama ini banyak dipinggirkan oleh bangsa ini…

  29. mutu4h says:

    Pemilu itu ibarat sebuah pertandingan…Pemilih yang Golput ibarat peserta yang di diskualifikasi => sebanyak apapun jumlah orang yang golput, secerdas apapun orang yang golput, dan sebagus apapun permainan orang yang golput mereka tidak akan menentukkan & mempengaruhi hasil pertandingan itu…Dalam Pemilu akan tetap ada Sang Juara, Apakah Sang Juara itu buruk, lebih buruk atau sangat buruk kita-lah yang menentukkan..Kalau memang pilihannya hanya ada buruk,lebih buruk atau sangat buruk, bukankah kita lebih baik memilih buruk dibandingkan yang lebih buruk atau sangat buruk ==>> Percayalah diantara Caleg-caleg itu masih ada yang sedikit lebih baik dibandingkan yang lainnya..Meskipun hanya sedikit baiknya bukankah itu lebih baik dari pada tidak baik sama kali.

  30. mBah Klowor says:

    mas Ipul mesti tahu bahwa kita rakyat Indonesia adalah pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini, jadi jangan sia-siakan kekuasaan kita, dan jangan pula jual kekuasan kita macam pembantu bu RT, tentukan pilihan dng cerdas karena pilihan kita menentukan nasib bangsa dan negara. berbuat sesuatu sekecil apapun adalah lebih baik dari pada tidak berbuat apa apa.

  31. robert says:

    nggak pengin bingung tp gimana lg… dibelain sampe begadang di dpn kompt mnjelang nyontreng msh saja gak ktmu caleg yg pas.. tp sy percaya mash ada waktu unt berubah esok.. tetap hrus memilih karena nasi emang sebaiknya dimakan tidak sama kulit atau kerikilnya… biar sehat, biar semangat…jangan lupa bdo’a sbelum nyontreng bos…

  32. rhey says:

    saya setuju dengan mas,sudah berapa kali pemerintah ini ganti penguasa,tapi yang terjadi ganti penguasa ganti pula masalah nya,bukan masalah nya yang tambah selesai,
    tp inti nya itu pemerintah itu hanya bisa ngasih jalan,tinggal pribadi kita mw berubah atau nggak????
    chayooooooo…….

  33. teddy says:

    sy sebagai aparat memiliki rasa iri kepada masyarakat umum yg memiliki hak pilih pd setiap pemilu. Krn setidaknya ada ikhtiar dr kita utk membangun negara ini. Sy justru bingung klo ada yg golput krn tdk alasan utk itu. Walaupun ada sejuta caleg tp skg udah jamannya kemajuan teknologi bung. Carilah info sbanyak2nya. InsyaALLAH dpt pilihan tbaik. Selamat mencontreng..

  34. jajang says:

    anak saya SD kelas 6 seminggu menjelang pemilihan selalu mengingatkan jangan golput, karena kalau golput berarti bukan wni yang baik, tapi kenapa anak yang sekecil itu begitu membenci salah satu tokoh nasional yang sedang berkuasa? apa yang dia rasakan sebenarnya? jujur aja saya merasa belum ada perbaikan kesejahtraan masyarakat dalam era reformasi ini, apalagi melihat kasus-kasus korupsi di DPR wah mengerikan sekali,, mau dibawa kemana negara ini..

  35. N6/6 says:

    Maaf…saya tidak ikut ajaan golputnya…saya kemarin tetap pergi ke TPS tapi bukan pilih pak Haji atau pak Sekjen.

  36. CONDRAT SINAGA says:

    gw di Ostralia…males milih…kerja ajah seharian…bensin mahal…mobil gw parkir ajah…GOLPUT…??? up to you…up to me jugak man…!!! masing2 aja bah…!!!

  37. sigit says:

    hidup golput

  38. Jaya says:

    Yang pasti, pemilu telah berlalu. Kita tunggu saja, siapa yang terpilih dan bisa memenuhi segala aspirasi rakyat.

  39. frida says:

    Pemilu Caleg memang dah berlalu, tapi gue ndak nyesel tuh nama gue ndak tercantum di DPT, padahal gue juga ndak bermaksud golput kaya bang Ipul, yang penting untuk gue pemilu yang besok nih, karena gue nunggu banget untuk milih calon Presidennya, semoga Presiden yang terpilih nanti ndak cacat atau bego’ gitu, kasian rakyat Indonesia mosok orang nomor satunya berkriteria serendah itu, kaya’ ndak ada orang normal n berotak aja di negeri ini!! Semoga dipemilu PilPres besok kita dapat sosok presiden yang berhati,amanah dan bijak…Amin!! hidup Pemilu!! Jangan lupa nyontreng ya diPemilu PilPres 2009

  40. Raya says:

    Sama,,, aku juga bingung karena gak pernah dapat undangan nyontreng,,,

  41. FPBI says:

    Pemilu dan apresiasinya hanya meninggalkan sampah kertas, banner, atribut dan lain-lain. Yang jelas meninggalkan ketidakpastian. Dalam pengamatan tak ada satupun caleg mungkin capres dan cawapres yang mengedepankan pentingnya manajemen risiko bagi pembangunan di Indonesia, karena wilayah negeri ini adalah Hypermarket Bencana, dan naifnya yg selalu jadi korban adalah masyarakat sipil di pelosok atau di ujung perbatasan..yang dijauhkan dari sentuhan pembangunan yang manis itu….ironis…

Tinggalkan Komentar