Syaiful Halim
Saya mengenalnya sebagai pak Haji. Karena hampir setiap saat, ia mengenakan kopiah putih dan gamis. Jenggot panjang menggantung di dagunya. Kaca mata tebal selalu duduk manis di atas hidungnya. Namanya, Haji Acep. Belakangan saya juga tahu, ada dua gelar kesarjanaan di belakang namanya.
Dulu saya menduga, ia pengikut semacam aliran tarekat. Atau, ia pastilah bagian dari orang-orang yang sepanjang hidupnya berserah diri kepada Yang Mahamandiri. Kalangan kaum sufi, bisa jadi. Rasa segan sudah pasti merasuk di dalam jiwa ketika bertemu dengannya. Karena, saya merasa, belum bisa seperti dia. Selengkapnya »
