Friday, May 24, 2013

Lompatan Ksatria Katak (2)

February - 5 - 2009
lompatan-ksatria-katak-2

Syaiful Halim

Seorang teman menyatakan keprihatinannya atas cerita “Lompatan Ksatria Katak” terdahulu. “Sangat real,” katanya. Karena, ia pun merasa jadi bagian dari kaum Ksatria Katak itu. Dalam konteks organisasi yang diikutinya, tentu saja. Sebaliknya, seorang teman lain bertanya-tanya, adakah cerita itu di dunia nyata? Kalau iya, bagaimana gambaran rincinya?

Bila teman yang pertama berada di sebuah lingkungan perusahaan besar, maka teman yang kedua baru saja lulus dari bangku kuliah. Maka, sangat wajar, bila cerita “Lompatan Ksatria Katak” menghadirkan dua persepsi yang bertolak-belakang; keprihatinan dan ketidakpercayaan. Sehingga, saya harus memilih, untuk memberikan cerita tambahan untuk kedua teman saya itu. Dan, semoga masing-masing menangkap pesan yang saya maksud dengan kejujuran.

Menyangkut pertanyaan pertama, di manakah setting cerita “Lompatan Ksatria Katak” itu terjadi? Jawabnya, sudah pasti melingkupi semua organisasi dengan banyak nama, bentuk, tujuan, dan ciri-ciri kekhasan lainnya. Bahkan, juga organisasi keagamaan. Termasuk juga, yang telah mengurusi para ikhwan yang tengah menekuni jalan menuju Tuhan sejenis komunitas tarekat. Motifnya, macam-macam dan bikin muak untuk dibahas!

Bila jawaban di atas belum juga bisa menjelaskan, menurut saya, ada baiknya mengingat-ingat kembali lelakon “Petruk Dadi Raja” yang kerap dimainkan di panggung-panggung pewayangan. Semiotik cerita itu, pada hakekatnya tentang kesemrawutan sistem, hingga seorang punakawan bisa menjadi pemimpin. Bila ada sekuel lanjutan, maka cerita itu akan menghadirkan para punakawan lain yang bergegas naik pangkat. Entah menjadi menteri, dirjen, direktur, atau Ketua RT. Dengan beranjaknya status kaum sudra yang juga “sudra” dalam kompetensi dan aturan profesional, maka muncullah kesemrawutan-kesemrawutan lain. Hingga, lompatan-lompatan para Ksatria Katak jadi tidak bermakna. Namun, kibas sayap burung merak, celoteh latah burung beo, auman harimau ompong, trik-trik licik kancil, atau penyamaran bunglon, menjadi lebih diperhitungkan.

Bila ilustrasi di atas terasa begitu subyektif dan tidak menjangkau nalar ilmiah, maka ada baiknya saya kutipkan esai Emha Ainun Nadjib dalam buku “Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki”. Alkisah, terdapat dua musafir di padang pasir nan gersang, yang sayup-sayup melihat titik hitam di kejauhan. Musafir pertama yakin, titik hitam merupakan kerbau. Sedangkan musafir kedua tak kalah yakin, titik hitam itu merupakan benteng. Lalu, mereka pun bergegas mendekati sumber perdebatan itu.

Dalam setiap jarak tertentu, mereka terus menjejalkan keyakinannya. Yang satu mengatakan kerbau dan yang lain mengatakan banteng. Dan, keduanya sama-sama keras kepala. Sama kerasnya dengan batu yang tak retak akibat sengatan matahari. Hingga, mereka pun berhasil mendekati titik hitam itu. Sesaat kemudian, titik hitam yang telah berbentuk itu terbang ke angkasa.

“Burung!” kata musafir pertama.

Namun, musafir kedua tetap dengan keyakinannya bahwa titik hitam itu merupakan banteng. Musafir pertama emosi. Karena, ia merasa matanya masih sehat dan wawasannya yang mumpuni untuk menyimpulkan, titik hitam yang bisa terbang itu merupakan burung. Musafir kedua juga tak kalah galaknya, untuk mempertahankan argumennya. Sehingga, keduanya juga tidak pernah bisa akur dan keukeuh dengan keyakinannya.

Profil musafir kedua yang ngotot dengan pendapatnya – meski salah dan jelas-jelas salah – merupakan gambaran orang-orang yang memainkan sistem di Kerajaan Rimba. Persisnya, dengan pemimpin yang tidak memiliki trah dan sudra dalam segala hal. Ya, persis sekuel lelakon “Petruk Dadi Raja”. Ia hanya patuh pada kebijakan sang Raja, sesalah atau sebodoh apapun. Dan, sudah pasti mereka tidak mengenal jargon “lompatan Ksatria Katak” dalam kamus pribadinya. Karena, mereka hanya mengenal ensilokpedi yang disodorkan sang Raja.

Sebaliknya dengan musafir pertama yang lurus dan jujur, maka jadi makhluk tidak popular di lingkungan kerajaan itu. Ia laksana pohon kayu, yang sudah pasti langsung ditebang pemiliknya. Sedangkan kayu bengkok, ya dibiarkan bertahan di pohonnya. Dan, seandainya ia mau diperhitungkan kembali hingga bisa bergabung dalam tim, maka ia harus memperbaiki kepolosan nalarnya. Jangan takut dibilang bodoh atau tidak berwawasan. Karena, patokan kompetensi sudah bergeser. Bergegaslah untuk mengikutinya, atau terlempar dari sistem dan menjadi ksatria-ksatria tak bertuan ala Ronin.

Masalahnya, apakah seseorang yang merasa memiliki Tuhan, apapun agamanya, ikhlas menyerahkan dirinya bulat-bulat kepada keadaan? Apakah keimanan yang dibangun sejak balita harus luntur, hingga tanpa sadar menuhankan manusia lain? Padahal, Yang Mahaperkasa pun memiliki kecemburuan yang tinggi dan sangat tidak ikhlas hambaNya harus bergeser, hanya karena takut kehilangan posisi dan masa depan. Bukankah kedua hal itu sudah diatur olehNya?

Meniatkan diri untuk mulai ber“hijrah” secara ruhaniah merupakan lompatan ala Ksatria Katak terbesar dan bersejarah dalam kehidupan manusia. Tumbuhnya kesadaran untuk makin mengenalNya jauh lebih penting dibandingkan hal apapun. Sehingga, ketika para merak, beo, harimau ompong, kancil, bunglon, atau hewan-hewan lain yang takut susah berkeliaran dan menggoda keimanan, kita tetap istiqomah untuk berada di jalanNya.

Dan agar niat itu tidak sia-sia dan sekedar pelampiasan keputusasaan, maka harus dibuktikan dengan amaliyah. Setiap agama memiliki cara masing-masing untuk menunjukkan kesungguhannya ber”hijrah”. Yang dibutuhkan. kedisiplinan untuk menjalankannya. Plus, tanpa menoleh kiri-kanan. Tapi lurus ke depan ke arah Yang Mahakuasa.

Bila hal itu juga masih membuat hati dan pikiran goyah, maka segeralah mendekati guru yang sebenar-benarnya guru. Dan, tidak larut dalam diskusi-diskusi pepesan kosong atau buku-buku bacaan. Amaliyah bukan untuk diributkan, tapi harus diyakini dan diamalkan sesungguh-sungguhnya. Jangan lagi terjebak dalam jargon-jargon modern yang sekedar memodifikasi istilah. Tapi, tidak memberikan jalan terbenar untuk menjangkauNya. Buku-buku bacaan pun tidak bisa menjadi sandaran penuh, untuk menjawab seluruh pertanyaan tentang Tuhan. Karena, subyektivitas penulis dan berbagai keterbatasan untuk memaparkan hal yang sebenarnya tidak bisa ditunjukkan huruf-huruf.

Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jalilani QS, “Buanglah buku-bukumu dan carilah seorang guru, bila engkau ingin mendekatiNya.” Tujuannya, agar kita benar-benar mendapat bimbingan yang betul untuk mendekatiNya dan tidak diombang-ambing pendapat-pendapat yang tak jelas. Dengan adanya guru, maka “hijrah” itu jadi lebih terarah dan benar-benar memberikan makna atau lompatan terbesar ala Ksatria Katak itu.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

13 Komentar pada “Lompatan Ksatria Katak (2)”

  1. zanikhan says:

    “Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jalilani QS, “Buanglah buku-bukumu dan carilah seorang guru, bila engkau ingin mendekatiNya.” Tujuannya, agar kita benar-benar mendapat bimbingan yang betul untuk mendekatiNya dan tidak diombang-ambing pendapat-pendapat yang tak jelas. Dengan adanya guru, maka “hijrah” itu jadi lebih terarah dan benar-benar memberikan makna atau lompatan terbesar ala Ksatria Katak itu.” itu adalah ilmu yang harus di tiru oleh bangsa Indonesia, tapi dengan catatan bahwa “GURU”-nya adalah “GURU” yang LUAR BIASA.

  2. guru yang baik adalah guru yang mampu mentranferkan ilmunya dengan benar kepada muridnya.. tapi sepertinya kalo ngeliat kondisi zaman .. setiap ilmu ada harganya :lol: jadi harus cari guru yang ikhlas ya om :smile: and menurut saya.. jangan dibuang bukunya, mending disumbangin aja kalo dah nggak kepake :wink:

  3. rudi says:

    hallo lagi pada apa…?
    guru yang mengerti akan persatuan….UMAT
    bukan yang suka asbun
    buku juga sangat penting untuk menjaring berbagai pendapat.
    tentu yang baik-baik aj di ambil…

  4. kikie says:

    karena manusia sudah keliru mensifati Yang Maha maka terombang ambinglah akal fikirinnya karena merasa,sehingga fikirinnya mereka jadikan Tuhan tanpa mereka sadari

  5. must three says:

    Saya kembali teringat pesan teman saya : Berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu haruslah ada alasannya. Untuk bisa memberikan alasan tentunya harus didukung ilmu yang cukup. Untuk mendapat ilmu yang cukup, tentu saja kita memerlukan bimbingan guru, guru yang benar-benar menguasai ilmunya, sehingga tidak justru membuat kita sesat.

  6. dahlan says:

    buku adalah guru yang setia, sedangkn guru adalah buku yang banyak pamrih …. ya om

  7. Matamalam Purnomo says:

    Guru? Guru itu siapa, apakah dia adalah orang yang membuat kita pandai, memberikan kita bekal kemampuan dari kita tidak bisa menjadi bisa, atau mungkin guru juga yang menjerumuskan kita ke dalam hal-hal yang tidak ingin kita pelajari. Sebagai contoh, seorang anak SMP yang menyukai pelajaran musik harus berlapang dada hanya menerima pelajaran yang ia sukai hanya sekali seminggu, dan matematika yang ia benci justru hampir setiap hari ia temui. Yang salah bukan guru tentunya tapi sistem pendidikan yang tidak berorientasi pada minat dan bakat, sementara itu seluruh generasi muda bangsa harus siap stress akan perjumpaan yang diatur undang-undang dengan hal yang tidak disukai.
    Sekedar informasi saja Guru-guru di Cilacap diwajibkan memilih partai yang diamanatkan sang Bupati Probo Yulastoro yang tidak lain merupakan partainy sang Bupati sendiri. Melalui kepala dinas Depdikpora di tiap kecamatan para guru tidak hanya diwajibkan memilih partainya Probo dgn ancaman mutasi atau dinonaktifkan apabila tidak nurut, bahkan para guru wajib mengajak 10 orang tiap kepala, wah kayak MLM aj, terus kira-kira bonusnya apa ya?

  8. Ramkur says:

    Seorang Guru seyogyanya memberikan contoh, karena contoh merupakan tauladan yang nampak, bukan sekedar kata kata

  9. razif kadapi says:

    kalau menurut saya apa yang saya baca sesuai dengan Al-qur’an dan sunnah Nabi apabila ada pemahaman yang menyimpang dari ajaran agama ISLAM maka amal perbuatannya akan tertolak dan bukan pengikut Nabi Muhammad SAW

  10. toles says:

    mencari ilmu itu perlu,tapi kalau mencari GURU mesti extra hati-hati soalnya pada zaman sekarang ini banyak guru jadi-jadian seperti membikin agama baru,menjadi malaikat,menjadi nabi dan banyak lainya.

  11. @dahlan

    kalo gw bilang bukan pamrih om.. tapi guru adalah buku yang tidak punya pilihan, and gw sedikit setuju dengan bang matamalam purnomo :D

  12. Joe says:

    memsng buku adalah sebuah kunci yang sangat berharga

  13. ponari says:

    Buanglah buku-bukumu dan carilah gurumu… tapi biasanya sih kalo udah ketemu guru, bakalan dikasi buku lagi :-)

    paling2 buku yang dikasi juga sama dengan buku yg sebelumnya dibuang ..he..he…

    kalau menurut pendapat saya, ilmu dicari dari buku..bukan dari orang/guru. Iya kalo gurunya pinter..kalo ngga? malah tambah bodoh…

Tinggalkan Komentar