Sunday, May 19, 2013

Alexander Wibisono

Saat ini, mungkin tidak ada calon presiden alias capres yang sebingung Jusuf Kalla. Hal ini memang aneh, tetapi bukan tanpa dasar. Kesediaan Kalla menerima pencalonan dirinya oleh Dewan Pimpinan Daerah Tingkat I Partai Golkar seusai menghadiri Rapat Konsultasi Nasional di kantor DPP Partai Golkar, membawa beban sendiri bagi dirinya. Terjadi benturan antara harapan dan kenyataan bagi Kalla untuk maju pada pemilihan presiden (Pilpres) 2009 sebagai capres Partai Golkar.

Pertama, sebagai Ketua Umum Partai Golkar, Kalla adalah kader terbaik partai berlambang beringin. Ini artinya Kalla juga tidak bisa menghidar atau berkata tidak. Kesediaan Kalla menjadi capres bukan cuma soal ambisi politik personal, tetapi juga menyangkut masa depan dan harga diri Partai Golkar sebagai partai besar. Selengkapnya »

mega-sudah-yudhoyono-sudah-jenderal-nagabonar-presiden

Moh. Samsul Arifin

Anda sekalian barang kali sudah menonton Nagabonar atau Nagabonar (Jadi) 2. Nah, sebentar lagi akan beredar lakon lain berjudul “Nagabonar Jadi Presiden?”. Anda pasti menyangka ini fiksi di layar perak atau layar kaca. Salah besar!

Megawati capres lumrah. Yudhoyono capres tentu saja. Sri Sultan capres sedikit luar biasa. Kalla capres kenapa tidak? Deretkan lagi yang lain termasuk calon perseorangan—yang sudah digagalkan Mahkamah Konstitusi—seperti Ratna Sarumpaet, Fajroel Rachman atau Bugiakso (cucu Jenderal Besar Soedirman). Langkah mereka menerbitkan nuansa yang menghangatkan politik nasional.

Bagaimana halnya jika tokoh jenderal pencopet dari Lubuk Pakam [Deddy Mizwar] mencalonkan diri sebagai capres? Ah…ini bercanda, tak serius atau parodi yang disengaja untuk mengolok-olok politisi yang kini kian riuh-rendah memasang-masangkan tokoh satu dengan tokoh lain. Jelang Pemilu Legislatif, parpol kini saling mengintip, menjajaki kemungkinan berkongsi. Soal kepastian siapa yang jadi capres sesungguhnya, tentu saja “kenduri demokrasi” 9 April 2009 yang akan memastikannya. Selengkapnya »

Punggawa Perahu Sandeq

February - 20 - 2009 19 KOMENTAR
punggawa-perahu-sandeq

Syaiful Halim

Kawasan pesisir Sulawesi Barat dikenal sebagai tempat bermukimnya suku Mandar – salah satu suku laut di pulau Sulawesi. Dalam dunia antropologi, nama suku Mandar senantiasa disejajarkan dengan suku Bugis, suku Makassar, atau suku Bajo. Salah satu perbedaan suku Mandar dibandingkan suku-suku laut lainnya di pulau Sulawesi, mereka dikenal sebagai possasiq atau pelaut-pelaut yang tangguh.

Sebenarnya, mereka bukan hanya dikenal sebagai pelaut yang sanggup mengarungi lautan berapa pun jauhnya. Tapi, mereka pun handal dalam mengumpulkan ikan di laut-laut dalam. Mereka memang menggantungkan nafkah sehari-harinya pada laut. Sehingga, perahu dan laut pun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan mereka. Selengkapnya »

tak-ada-wikipedia-di-lapak-buku-bekas

Yus Ariyanto

Melihat tumpukan Encyclopedia Britannica di lapak buku bekas, beberapa pekan silam, saya tertegun. “Ini sebentar lagi menjadi sejarah. Atau, mungkin sudah…” ujar saya dalam hati sambil mendekat, lalu mengusap sampul-sampul tebal dan gelap itu.

Penggantinya: Wikipedia. Ah, pasti cukup banyak di antara Anda yang mencibir: “Masak pseudo-ensiklopedia kayak gitu dipercaya…” Selengkapnya »

lompatan-ksatria-katak-2

Syaiful Halim

Seorang teman menyatakan keprihatinannya atas cerita “Lompatan Ksatria Katak” terdahulu. “Sangat real,” katanya. Karena, ia pun merasa jadi bagian dari kaum Ksatria Katak itu. Dalam konteks organisasi yang diikutinya, tentu saja. Sebaliknya, seorang teman lain bertanya-tanya, adakah cerita itu di dunia nyata? Kalau iya, bagaimana gambaran rincinya?

Bila teman yang pertama berada di sebuah lingkungan perusahaan besar, maka teman yang kedua baru saja lulus dari bangku kuliah. Maka, sangat wajar, bila cerita “Lompatan Ksatria Katak” menghadirkan dua persepsi yang bertolak-belakang; keprihatinan dan ketidakpercayaan. Sehingga, saya harus memilih, untuk memberikan cerita tambahan untuk kedua teman saya itu. Dan, semoga masing-masing menangkap pesan yang saya maksud dengan kejujuran. Selengkapnya »

slumdog-millionaire-wajah-kemiskinan-yang-kelam

Anton Bahtiar Rifa’i

Kemiskinan selalu menyisakan ruang gelap. Potret tentang kelamnya kemiskinan terurai dalam nasib hidup Jamal Malik, lelaki berperawakan agak kurus asal sebuah kawasan kumuh di Mumbai, India. Tokoh dalam film Slumdog Millionaire itu kemudian sampai pada suatu titik penting yang akan menentukan arah hidupnya: apakah ruang gelap itu akan menjadi sesuatu yang terang benderang ataukah akan tetap gelap.

Jamal Malik, tokoh yang diperankan aktor Dev Patel, mendapat kesempatan mengikuti sebuah acara kuis di televisi, Who Wants To Be A Millionaire, untuk memperebutkan hadiah 20 juta rupee. Jamal dapat menjawab satu per satu pertanyaan dalam kuis tersebut. Namun, saat selangkah lagi menuju hadiah utama, Jamal mendapat ujian berat. Karena berasal dari keluarga miskin dan tidak berpendidikan, ia dituduh berbuat curang. Interogasi polisi yang disertai siksaan –adegan ini menjadi pembuka film—harus dihadapi Jamal.  Selengkapnya »

Demokrasi (Sudah) Mati?

February - 3 - 2009 68 KOMENTAR
demokrasi-sudah-mati

Moh Samsul Arifin

Kematian Ketua DPRD Sumatra Utara Abdul Azis Angkat di tengah riuh rendahnya demonstrasi menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli adalah sesuatu yang bermakna tunggal: Anarkisme kini kembali berkuasa dan dipilih sebagian masyarakat negeri ini untuk mewujudkan keinginannya.

Ada yang tumpang tindih di sini, mengapa untuk membentuk daerah administrasi baru atau memekarkan provinsi induk, jalan tak beradab yang dipilih? Demokrasi memiliki prosedur, dan tatkala prosedur memperoleh persetujuan parlemen daerah belum dikantongi, apakah jalan kekerasan menjadi absah?

Selengkapnya »