Wednesday, June 19, 2013
suara-anak-palestina-seandainya-aku-terlahir-palestina

M. Nurul Amin

Palestina, ya, Tuhan menghendaki aku terlahir di Palestina. Negeriku, Palestina, darahku, Palestina. Aku terlahir di tengah desing peluru dan aroma kematian. Aku tak tahu, mungkin saat aku dilahirkan, tak jauh dari sisiku, ada saudaraku sesama anak Palestina  yang meregang nyawa dengan luka menganga di dada dan kepala  akibat peluru yang meghujam atau pecahan bom yang mendera.

Aku menangis saat dilahirkan, itulah garis hidupku, untuk menangis diawal kehidupanku. Mungkin tak jauh dari sisiku, ada juga yang menangis, ya, Ibu dari anak Palestina yang kehilangan anak akibat kejamnya peperangan. Anak itu sudah tidak bisa lagi menangis, mana mungkin, dia sudah terbujur kaku, tak berdaya dengan darah mengalir dari luka yang pasti sakit tak terkira…

Ibuku, pasti tersenyum saat aku lahir ke dunia, meski aku yakin, ia tak akan menampakkannya saat melalui lorong kematian di rumah sakit yang penuh sesak dengan gelimpang korban anak Palestina. Ibuku, pasti menangis jua, meski tertahan sesak di dada.

Ayahku, saat itu tak ada, kelak aku tahu bahwa saat aku memandang dunia, dia tengah memandang kematian dengan sekedar batu melawan tank dan tentara yang membabi buta, menyerang menggila. Aku beruntung, masih bisa bertemu ayahku, meski pada akhirnya aku harus rela, ayahku kelak juga terbujur di tengah deru pesawat tempur yang memuntahkan bom kemana saja, di kota yang kucinta.

Gaza, itu tercatat dalam buku kelahiranku, aku terlahir di Gaza.

Masa kecilku, kulalui dengan mainan senjata dan perang-perangan, ya, bagaimana tidak. Kotaku dikuasai  pasukan asing bersenjata. Sesekali kulihat senjata itu menyalak, memuntahkan isinya, ada gas air mata, dan tentu ada yang peluru tajam meminta nyawa, warga Palestina, dan tak jarang anak Palestina.

Aku melihat anak Palestina seusiaku, sudah berani melawan pasukan asing meski hanya dengan ketapel kecil berisi sejumput batu yang tak berarti apa jika mengenai tameng tentara atau besi kendaraan lapis baja. Mereka berani tampil ke muka hingga ke dekat moncong senjata. Aku tak tahan, akhirnya akupun ikut jua.

Aku senang, karena aku merasa sebagai pejuang, alias jagoan. Aku tak takut, bukankah anak Palestina lain juga tidak takut ?

Aku belum berusia remaja sampai suatu saat kelak aku kehilangan kawanku yang kulihat kerap melempar batu dan melontar ketapel tak lelah-lelahnya, ya kelak ku tahu itu bernama Intifada. Kawanku menjadi korban Intifada.

Lama kelamaan aku menjadi terbiasa, melihat dan mendengar  kawan, saudara, kerabat ataupun orang tak kukenal yang  hilang atau  tak tentu semesta, kabarnya dibawa pasukan asing dimasukkan ke penjara gelap gulita, atau tewas tak bernama. Aku terbiasa mengalami kehilangan, aku terbiasa melihat dan merasakan derita, aku terbiasa melihat airmata dan pasti aku terbiasa melihat warna merah mengalir dimana-mana.

Kata semua orang, kini kau sudah menjadi anak Palestina !.

Baru kutahu, anak Palestina berarti anak terjajah, yang harus membebaskan negeri dari cerita kelam negeri yang terlunta. Dan baru kutahu, Israel adalah negara yang dahaga atas tanah Palestina. Aku mulai merasa, bahwa aku bermakna dan bangga menjadi anak Palestina.

___________________

Kini, di penghujung tahun, kudengar lagi deru mesin tempur berseliweran di langit kotaku, kudengar dentuman membahana di sudut-sudut wilayah permaiananku, kutatap  kilatan cahaya mematikan menyilaukan pandangan mataku disertai bunyi sirene di segala penjuru.

Pagi, siang dan malam terus berlanjut tak menentu, deru itu, dentuman itu dan kilatan cahaya itu menyergap seluruh sisi hidupku. Kulalui hari dengan berlari, berlindung dan bersembunyi dari serbuan tak menentu.

Aku tak tuli, kudengar tangisan dimana-mana, kudengar jerit teman sebaya, Ibu-ibu Palestina menggendong anak dan orang tua paruh baya yang terpaksa harus terpapah tanpa daya. Dan kudengar lenguh terakhir nyawa di dada.

Aku tak buta, kulihat luka, kulihat jasad dimana-mana, kulihat merah itu ada dan tak terkira, kulihat kotaku tak lagi indah mempesona. Dan harapan itu sepertinya sirna.

Aku tak menangis, meski ayahku menjadi jasad tersisa di tengah gempuran melanda kota. Tak ada lagi tangis, aku sudah terbiasa, seperti juga anak Palestina lainnya.

Waktu itu tiba, kata orang mulai ada perang kota !

Aku berlindung dibalik reruntuhan bangunan rumah ibadah, yang hancur oleh tembakan serdadu nista,  aku lihat, ada orang Palestina bersenjata, dengan tutup wajah dimuka, kutahu juga ada remaja Palestina memanggul senjata. Mereka sigap, lincah, berlari ke sudut-sudut tak terjamah, melawan pasukan asing yang menyerbu kedalam kota. Aku tahu, mereka siap mati di tanah tercinta.

Ah, seandainya aku bisa melalui hari-hari ini, tanpa sebutir peluru mengenai dada, tanpa pecahan bom menerpa kepala, mungkin aku tak-kan lupa, ini catatan kelam manusia di tanah terjajah, Palestina.

Tuhan, perkenankan aku menjadi remaja, agar aku bisa berlari membawa bendera Palestina, berikat kepala, bolehlah juga bersenjata, apa adanya, melawan pasukan Israel  sampai tetes terakhir itu tiba.

Kalau kau berbaik hati Tuhan, ijinkan aku menjadi dewasa, agar aku mengikat keras bendera Palestina di tiang dan sisa bangunan menjulang ke angkasa. Kulekatkan ikat kepala, selekat jiwa dan raga, senjata, apapun bisa kuguna, melawan hingga gelora di dada sirna bersamaan dengan hembusan nafas yang tersisa.

Aku anak Palestina, selamanya Palestina, darahku, merahnya Palestina..

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

263 Komentar pada “Suara Anak Palestina (Seandainya Aku Terlahir Palestina)”

  1. Jihad says:

    Ass. Alaikum wr.wbr…
    telah nyata ayat-2 dlm Al-Quran bahwa “mereka yahudi & nasrani membeci kalian (islam) sampai kalian mengikuti agama mereka ” & “tidak terjadi kiamat sampai bangsa yahudi musnah dari muka bumi”. Perang ini jelas menguntungkan buat anak-2 Palestina utk lebih kuat n jadi pakar dalam perang kelak. Senjata lawan batu ?? Jelas Palestina bukanlah bangsa yang pengecut. Mereka tidak peduli apa komentar kita karena sibuk menjaga tanah Palestina. Klo punya duit n rezeki bantulah mereka agar bisa membeli senjata yg lebih baik…seikhlas kalian. Komentar-2 sperti ini gak ada pahalanya. Justru jika ada yg membela Israel itu hanya utk mengalihkan perhatian kalian dari memberi bantuan. Jgn lupa bahwa Nabi dahulu serius berdakwah, Allah juga serius dgn janjinya, & ternyata Iblis juga serius dgn janjinya. Dunia ini mmg tempatx konflik agar ketahuan siapa golongan beriman, siapa yang munafik. Klo Allah tidak turunkan Iblis ke bumi pasti dunia ini sperti sorga bukan ? So Dont Talk..Do More !! Allahu Akbar… Support terus…Palestina Pasti Menang…Amiiin.

  2. yam says:

    ANAK PALESTINA ADALAH KORBAN NYATA DARI KEBIADAPAN ZIONIS ISRAIL TERLAKNAK. ISRAIL INGIN MENDIRIKAN NEGARA YAHUDI DI TANAH PALESTINA, SESUAI NUBUAT KITABNYA, YG DI DUKUNG OLEH SETAN2 BERDASI. TAK SATU PUN NEGARA DI DUNIA MENGATAKAN ISRAIL TERORIS, EXTERM, RADIKAL DAN TETEK BENGEK LAINNYA. LAIN DENGAN NEGARA YG BERPENDUDUK ISLAM, INGIN MENDIRIKAN NEGARA ISLAM, MALAH DI TUDUH TERORIS, DAN MACAM2 KALIMAT NEGATIF. SEKARANG SIAPA YG TERORIS ?

  3. ahmadmusa says:

    YA ALLAH ,berikanlah segala sesuatu yg terbaik untuk saudara kita di palestina………!!!!!!!! amin

  4. BABI NGEPET says:

    kalao mau mendirikan negara islam di indonesia itu mimpi di siang bolong,indonesia itu PANCASILA biarpun saya islam saya tidak setuju indonesia menjadi negara islam malah ini akan bikin kacau negara alasannya saya juga menghormati orang yang menganut dan kepercayaan agama lain, menurut perkiraan saya penyebaran islam waktu dulu ke indonesia pasti dengan cara kekerasan dan paksaan makanya sampai sekarang pun kalao menyelesaikan masalah pasti dengan cara kekersan betulkan,,,,,teroris

  5. ahmad's says:

    salam “babi ngepet” ada apa dengan anda, masalah teroris itu masalah universal yang diartikan kepada semua yang merusak tatanan yang ada (bisa siapa saja yang merusak tatanan yang sudah ada) jadilah komentator yang mengarah ke kebaikan, jangan sampai kita saling menjadi pemicu kerusakan, semua orang punya tujuan baik dalam perorangan atau bernegara, sebaiknya mulailah menjadi penyejuk.
    bernegaralah dengan baik, jangan men”judgment” kelakuan sebagian kecil orang menjadi kebanyakkan orang, karena tulisan anda akan menggiring kearah kerusakan. jadi…peace!!!

  6. Albino says:

    Hei mr nunusaku anda jangan asal bicara,anda bicara tentang islam tapi anda tak tahu islam itu apa,sepertinya anda sendiri bukan islam,gak usah banyak komentar

  7. tes saja says:

    cuma mau ngetes, apakah komentar ini otomatis muncul atau diseleksi dulu?

  8. tes saja says:

    wah ternyat tunggu dimoderasi ya….

    bingung, kok komentar2 liar di atas ditampilkan juga ya???

  9. Al says:

    Mudah-mudahan palestina segera merdeka..aamiiin.

  10. Mito amtex says:

    Aku cm hrpkan smg dunia ini akn bk2 aja

  11. setyo says:

    cerita yang menarik untuk dibaca

  12. Mito amtex says:

    Bt yg ter bk akn ber hsil jg yg bk

Tinggalkan Komentar