Sunday, May 19, 2013

KONI Vs Menpora

January - 8 - 2009
koni-vs-menpora

Erlangga Wisnuaji

Beberapa hari lalu KONI pusat mengumumkan bahwa mereka akan mengadakan Pelatnas yang akan dimulai bulan Februari 2009 dalam rangka menghadapi 6 event Internasional tahun depan. Target puncak adalah di bulan Desember 2009 saat berlangsungnya SEA Games ke 25 di Laos.

Setiap kali jelang event olah raga Internasional, memang itulah ritual yang dilakukan KONI, memanggil sejumlah atlet untuk diikutkan dalam pelatnas, namun kali ini ceritanya mungkin agak berbeda, sebab sebelum KONI berencana mengadakan pelatnas pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga telah membuat Program Atlet Andalan (yang entah kenapa disingkat menjadi PAL bukan PAA).

Polemik pun muncul, ibarat orang kebakaran jenggot, KONI “menentang” PAL, alasannya Kemenegpora seharusnya sebagai wakil pemerintah hanya sebagai pembuat regulasi, sementara urusan pelaksana semua harus dilakukan oleh KONI.

Tapi, biarlah urusan itu menjadi urusan KONI dan Kemenegpora, masing-masing pasti punya seribu argumen, seribu rujukan undang-undang, yang kalau kita dengarkan dijamin akan membuat ngantuk. Sekarang mari kita lihat sebenarnya apa sih PAL itu??

Secara garis besar PAL adalah program pembinaan jangka panjang selama 4 tahun yang diikuti oleh atlet-atlet kita yang berprestasi, yang secara resmi dimulai bulan November 2008.

Dalam PAL ada tiga kategori atlet, kategori utama, madya dan pratama, dengan sistem promosi dan degradasi berdasarkan performance atlet. Dan tak hanya atlet yang tergabung dalam PAL ini para pelatih-pun  juga ikut dilibatkan.

Dalam satu kesempatan, seorang pelatih PAL dari cabang atletik berpendapat bahwa PAL ini sebenarnya adalah program yang baik, dari ceritanya semua perkembangan atlet selalu tercatat, mulai dari bangun tidur-latihan-hingga kembali tidur.

Istilah kerennya PAL ini mencoba menerapkan Sport Science untuk mendongkrak prestasi yang tentunya saya yakin akan terwujud bila ini benar-benar dilakukan secara konsisten selama 4 tahun.

Bicara soal kesejahteraan , dalam PAL ini atlet dan pelatih benar-benar mendapat perhatian yang layak, untuk seorang atlet PAL kategori utama, atlet mendapat uang saku Rp 5 juta per bulan. Sebuah jumlah yang besar, setidaknya menurut saya yang penghasilan per bulannya pun belum mencapai angka tersebut, untuk pelatih angkanya pun tak jauh berbeda.

Tapi olah raga di Indonesia memang terkadang aneh bin ajaib. Kurang dari 2 bulan PAL berjalan, KONI mengumumkan akan menggelar Pelatnas. Memang tidak ada yang salah bila KONI ingin menggelar pelatnas. Tapi cobalah sedikit berfikir jernih..apa sih sebenarnya tujuan PAL dan Pelatnas itu??? Sama-sama ingin mencetak prestasi tertinggi bagi atlet Indonesia bukan??? Toh saya yakin, atlet yang saat ini mengikuti PAL adalah atlet terbaik yang kita miliki yang sudah hampir pasti juga akan terpilih mengikuti pelatnas.

Belum lagi bicara biaya. Untuk tahun pertama PAL pemerintah telah mengucurkan dana Rp 100 miliar, sekarang KONI ingin menggelar pelatnas yang sudah pasti akan menghabiskan uang dengan jumlah yang tidak sediki. Koreksi saya kalau saya salah, bukankah itu pemborosan? Mengeluarkan uang banyak untuk program yang sebenarnya setali tiga uang?

Sudahlah…lupakan saja pasal-pasal di Undang-undang Sistem Keolahragaan Nasional yang selalu menjadi andalan argumen KONI dan kemenegpora untuk menyebut dirinya yang paling benar, paling berhak dan paling tahu untuk mengelola olahraga Indonesia.

Berbesar hatilah dan legowo, kalau memang dengan PAL saja cukup kenapa harus menggelar Pelatnas lagi? Apalah arti sebuah nama? Toh tujuannya sama, yang perlu diingat hanya satu. rakyat Indonesia sudah lama rindu akan kejayaan kita di arena  SEA Games yang sudah lama lepas dari genggaman, 2011 kita akan menjadi tuan rumah SEA GAMES, masa sih kita tidak mampu menjadi juara umum dengan waktu persiapan 4 tahun?? Belum lagi bicara Asian Games dan Olimpiade…

Ahh..bicara tentang pembinaan olahraga Indonesia memang tak akan ada habisnya. Satu hari diskusi pun saya rasa tak akan cukup, apalagi hanya dengan tulisan pendek saya ini.

Bravo olahraga Indonesia!!!!

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

21 Komentar pada “KONI Vs Menpora”

  1. adi purwo says:

    yach…begitulah Indonesia, belum mampu memanage negara dengan baik. selalu terjadi tumpang tindih kewenangan yang justru mengakibatkan sesuatu yang harus diurusi malah tidak tertangani dengan baik. apa susahnya sich sebenarnya kalau menegpora dan koni duduk semeja kemudian membuat split of work dalam program pembinaan atlet secara berkesinambungan, dari jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

    kalau selalu otot-ototan tanpa koordinasi mana mungkin bisa tertangani dengan baik dan menghasilkan prestasi.

  2. rudi says:

    hidup menpora,,,,
    bravo olahraga indonesia…

  3. Indohub.net says:

    Hidup Indonesia !!

  4. Rindu says:

    Mendingan gini aku punya solusinya! Gabungin aja kedua2nya jadi PALATNAS beres kan !! Gitu aja ko susah. Pingin gaji buta sih sebenarnya kemakmuran gak sepenuhnya menunjang prestasi malahan melemahkan spirit perjuangan. Yakiiiiin.

  5. raden kukuh says:

    - Yang terpenting jangan ada korupsi
    - Yang terpenting olah raga Indonesia bisa maju

    “GITU AJA KOK REPOT…..!”

  6. Yudi says:

    Yang penting prestasinya, nama bukanlah masalah…

  7. razita says:

    Kepada koni cobalah mengaca diri, selama ini atlet-atlet Indonesia sebelum bertanding di even-even internasional selalu di”pelatnaskan” tapi hasilnya?!!… Dana rakyat bermilyar-milyar tapi hasilnya tidak memuaskan..!! masa di tingkat asean saja hasilnya jeblok terus..!?. Apabila sekarang kemenegpora “mengambil alih” itu wajar kan,.!?. Jadi.. cobalah beri kesempatan kepada kemenegpora untuk memperbaiki citra olahraga bangsa ini, cuma 4 tahun…, gak lama kan..!? pleas dong ah… Terus maju pak adiyaksa kami, rakyat Indonesia siap mendukung kebijakan Bapak, kami merindukan kembali harumnya citra olahraga bangsa ini di even-even internasional. Semoga Allah senantiasa memudahkan jalan menuju kesuksesan.Amiin…

  8. Fred EM says:

    Kayak enggak tahu aja sich kalo kerja mereka itu kan orientasinya proyek. Mana ada yang profesional. Semua selalu dihitung dengan uang. Mau pelatnas atau pal kek, ya uud.
    Gitu aja repot.

  9. budi says:

    kebiaasaan ribut kok seneng sekali. menpora udah bagus sekali mau juga sibuk memajukan olah raga nasional, kok yang lain , bukannya mendudung tapi malah iri.
    kita semua udah tahu semua di sini/indonesia itu yang paling netop dan maju/pengen beken itu pengurusnya bukan atlitnya, JADI PAnTAS AJA TIDAK MAJU-MAJU.
    Saran ku buat yang gila hormat dan gila pujian berangkat aja ke palestina bantu rakyat palestina perang pasti tenar dan beken kalian semua.

  10. chokichim says:

    ya…beginilah indonesia…mau apa lagi?..yang penting buat anak muda semua di negara yang tercinta ini tetap harus membuat sesuatu yang positif dan maju

  11. @rl22 says:

    Jayalah terus Olah Raga Indonesia,, klo bisa menpora’e tetap bpk adhyaksa dault aja, dya sangat memperhatikan olah raga nasional,, terbukti olah raga kita bisa bangkit dari keterpurukan yang slama ini terjadi,,, Terus cari atlet2 muda yang masih kuat dan latih terus agar kita punya generasi untuk menyabet paling tidak 3 medali emas pada olimpiade 2012.

  12. yos says:

    kalo selalu seperti ini kayaknya koni dibubarkan saja lalu semua urusan atlet langsung ditangani menpora.

  13. tanti says:

    sepertinya PAL lebih cocok diterapkan dalam sistem desentralisasi di daerah2 yg dianggap memiliki sumber daya atlit, pelatih, fasilitas, dsb, dengan jangka waktu yg relatif panjang. Sedangkan Pelatnas lebih ke sistem sentralisasi dengan jangka waktu yg relatif pendek menuju suatu even.

  14. zul says:

    Mungkin masyarakat olahraga Indonesia belum tahu, bagaimana cara megorogoti uang negara dari proyek olahraga, mungkin KPK sendiri pasti tidak akan bisa membuktikan bagaimana di setiap cabang olah raga praktek korup lancar2 saja sehingga prestasi Indonesia semakin anjlok di event dunia, eh asia, bukan2 di tingkat asia tenggara saja payah.

  15. ringgo says:

    Para pengurus hanya satu yang mereka target yaitu DANA untuk kesejahteraan para pengurus bukan target untuk Prestasi jadi ngimana INDONESIA bisa seperti THAILAND, SINGAPURA, APALAGI KOREA DAN JEPANG mana mungkin…….?

  16. agustri says:

    semrawut banget ya pembinaan di negara kita,
    mentalnya gk kayak dulu. kita di sepakbola saja bisa jadi macan asia, sekarang jadi macan ompong

  17. Adityawarman says:

    Biasalah itu karena ada uangnya, kalau ndak ada mana ada ada yang peduli,

  18. Alungehe says:

    Sunter kebanjiran,pak lurah ketiduran,anak2 bolos ke sekolahan

  19. mini says:

    Akan lebih baik PAL dan KONI bermerger saja. Toh pada akhirnya tujuan akhir dari lembaga itu adalah sama2 mencetak atlet2 yang berperestasi demi kepentingan membela negara.Daripada harus sendiri2 yang akan membuat dana yang digunakan untuk tujuan yang sama itu membengkak.Sebenarnya percuma juga kan mengeluarkan dana untuk dua lembaga yang mempunyai tujuan akhir yang sama. Lebih baik dana yang berlebih itu untuk membiayai fasilitas2 yang lain yang juga penting, seperti fasilitas kesehatan misalnya. Masih banyak kan masyarakat2 yang tidak dapat memperoleh layanan kesehatan yang memadai. Untuk berobat saja mereka harus mengeluarkan dana yang tidak sedikait. Kalaupun ada jamkeskin ataupun sejenisnya, untuk mendapatkannya memerlukan birokrasi yang cukup pelik dan jika dapatpun biaya rumah sakit tidak sepenuhnya tertanggung.

  20. andy_avay says:

    tanggal bulan februari salah tuh pengaturannya
    sekarang hari jum’at tgl 6 februari 2009
    bukan hari sabtu
    thank’s

  21. chodirin says:

    selama ini pelatnas nggak ada hasilnya.
    kita tunggu saja langkah menpora. kalo berhasil, kita dukung. kalo gagal, coba cara lain. jangan pelatnas lagi, sudah terbukti gagal.

Tinggalkan Komentar