Saturday, April 19, 2014

Surat untuk Munir

January - 2 - 2009
surat-untuk-munir

Yus Ariyanto

Cak Munir,

Tiba juga 2009. Ya, telah lima tahun berlalu. Tapi, perjalanan kasus pembunuhan Anda terus dibikin buntu, berhenti di sebuah mata rantai bernama Pollycarpus Budihari Priyanto. Padahal, akal sehat siapa yang bisa diyakinkan bahwa Pollycarpus memang yang mengatur kejahatan itu? Padahal, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah bilang, penyingkapan kejahatan itu adalah test of our history.

Tentu, pasti ada juga orang yang mensyukuri situasi ini. Mereka pikir, kematian sampeyan adalah yang terbaik buat Indonesia. Mereka yakin, Anda adalah pengkhianat bangsa. Ya, saya jadi teringat cerita pendek Seno Gumira Ajidarma berjudul Keroncong Pembunuhan.

Seorang pembunuh bayaran disewa. Tumben, sang eksekutor merasa terganggu saat hendak melaksanakan tugas, terutama lantaran alasan si penyewa: calon korban adalah pengkhianat bangsa. “Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di luar negeri.”

“Kau tak keliru? Benarkah ia seorang pengkhianat?

“Tidak usah tanya-tanya, tembak sekarang.”

Cerita tersebut dipublikasikan pada 1985, saat Orde Baru bertengger di puncak kejayaan, sembilan belas tahun sebelum Anda meregang nyawa akibat racun arsenik itu.

Ya, pasti ada juga orang-orang berpikiran cupet yang menganggap Anda pantas dikorbankan demi nama harum bangsa. Right or wrong is my country. Tapi, pasti ada lebih banyak orang yang mengamini Albert Camus. Pengarang Prancis itu menulis dalam Letter to a Jerman Friend, “Ada hal-hal yang tak bisa dikorbankan…Aku tak ingin sembarang kebesaran, apalagi kebesaran yang lahir dari darah dan kepalsuan. Aku ingin negeriku besar dengan tetap memiliki keadilan.”

Cak Munir,

Pada 7 September 2004, hari kematian Anda, saya sedang meliput acara pertemuan Yudhoyono dengan para pendukungnya di sebuah hotel bintang lima di Jakarta Selatan. Saat itu, ia masih harus menjalani pemilihan presiden putaran kedua.

Ketika Yudhoyono menyampaikan sambutan, Andi Mallarangeng menghampiri sang bos. Yudhoyono turun sejenak dari mimbar. Ketika kembali, dengan suara agak tercekat, ia berkata, “Saudara kita, Munir, meninggal dunia di Bandara Schipol.” Semua hadirin terdiam.

Pada 31 Desember 2008, menjelang siang, terdengar kabar yang memantik rasa sesak di dada. Pada hari yang sama, Rocky Gerung menulis esai di Kompas di bawah judul Munir dan Demokrasi. Ia menutup tulisan dengan kalimat ini: “Kini kita menunggu majelis hakim mengucapkan sebuah putusan yang melegakan kemanusiaan dan menciptakan peradaban politik baru.” Ternyata, harapan dosen filsafat Universitas Indonesia itu masih jauh panggang dari api.

Malam harinya, menjelang pergantian tahun, saya menatap ke atas, ke langit yang kelam. Saya teringat sampeyan, Cak. Telah lima tahun berlalu dan kasus pembunuhan Anda terus dibikin gelap.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

85 Komentar pada “Surat untuk Munir”

  1. raden kukuh says:

    Disitulah politik yang bicara…

    Tragedi Bom Bali yang begitu rumit saja bisa ketemu dalangnya , tapi kalo urusan pencarian dalang pembunuhan sdr.Munir sampai gak ketemu juga….. wheleh2x..

    Ingat, kru pesawat dimana sdr.Munir dibunuh pada masih hidup dan merekalah saksi kuncinya.

    Intelijen kita itu hebat2x , alat sudah super canggih , akses ada , waktu ada , biaya ada ,tapi masih belum ketemu juga….?

    Wheleh 2x…!!!!

  2. Wong Ndeso says:

    Pengadilan dunia JAUH dari adil
    Pengadilan AKHIRAT yang akan MENGHUKUM MEREKA MEREKA PENGUASA YG ZALIM

  3. PAIJO LONDO says:

    Biarlah Yang Lalu terus Berlalu…. memang sdh Garisnya MUNIR harus mati dgn cara sprt itu… biarlah pengadilan di Akherat nanti yang membalas…. mari kita bersatu untuk kedamaian di Indonesia tercinta ini… untuk Mbak SUCIWATI yang ayu…. Ikhlaskan lah….

  4. nanda says:

    saya juga sedikit belum mengenal siapa Munir, sepak terjang munir. kok sampai sebegitu kuat perjuangan dan biaya untuk menyibak kasus Munir? Siapa Munir? Bagaimana dengan kasus-kaus lain yang menimpa anak kecil. pedulikah para aktivis ataupun semacamnya terhadap nasib mereka layaknya kepedulian mereka terhadap kasus munir? ataukah ini hanya sebagai komoditi politik semata.

  5. nanda says:

    maaf ralat bukan anak kecil tetapi orang kecil maksudnya

  6. Yudi says:

    Kalau dibandingkan dengan kasus-kasus lainnya yang menimpa aktivis, mungkin kasus terbunuhnya Munir tidaklah terlalu besar. Hanya saja kita semua perlu memahami bahwa suatu kasus bisa menjadi ‘besar’ juga karena adanya rekayasa media.

    Sekarang bagaimana agar kepahaman kita juga dapat menjadi penyeimbang bagi media.

  7. Indohub.net says:

    Peraturan adalah peraturan, kalo di campur dengan rasa. akan sangat menyulitkan pelaksanaannya

    “Seorang pembunuh bayaran disewa. Tumben, sang eksekutor merasa terganggu saat hendak melaksanakan tugas, terutama lantaran alasan si penyewa: calon korban adalah pengkhianat bangsa. “Ia pengkhianat, ia menjelek-jelekkan nama bangsa dan negara kita di luar negeri.”

  8. lunna says:

    nanda, km itu lucu, cak munir itu org yang sangat patut diajungin jempol,…. jasanya utk menegakkan ham patut kita banggakan, km lucu deh nanda…

  9. lutfi says:

    Mudah-mudahan suatu saat nanti hukum akan berjalan semestinya.

  10. rian says:

    duh bingung mo komen apa.. :D
    yg jelas penegak hukum kita harus emang brn” tegas tuk kasus kyk ini..

  11. adi purwo says:

    memang berat untuk mengungkap kebenaran kasus alm. bung Munir. karena yang dihadapi adalah oknum aparat negara yang sudah terlatih untuk menyimpan rahasia, ahli tutup mulut dan menutup mulut rekan-rekannya, punya akses ke semua lembaga pemerintah dan mengusai senjata. untuk menghadapi mereka sangat diperlukan keberanian dan kesabaran yang ekstra.

    kalaupun sampai benar-benar tidak terungkap siapa dalangnya, yang pasti alm. bung Munir sudah jadi pahlawan bagi orang-orang yang anti kekerasan dan para pejuang ham. biarkan bung Munir istirahat, mari kita lanjutkan perjuangannya.

  12. hadi says:

    Tuhan tidak tidur, keadilan itu pasti datang…

  13. evi says:

    Cak Munir…saya bangga dengan pejuangan Anda! jangan khawatir, perjuangan Anda tak berhenti disini! Para generasi muda yang terbuka mata hatinya akan meneruskan perjuangan Anda! Untuk para pelaku jangan senang dulu karena sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga!

  14. rustam effendi says:

    apakah masih ada saudara-saudara kita yang ada diatas sana punya hati dan keberanian untuk mengungkap ini semua ?adakah saudara-saudara intelijen kita yang berani berkata jujur seperti di luar negeri ? anggota intelijen layaknya seperti diluar negeri ada yang baik ada jg yang jahat,kami semua menunggu wahai para intelijen yang baik untuk menggungkap ini semua.kami yakin dan percaya kalian pasti bisa.lebih baik hidup sebentar tapi jujur daripada hidup lama penuh dengan kebohongan.merdeka intelijen

  15. robin says:

    untuk ibu suciwaty, saya hanya bisa berkata, sabar ya ibu… tuhan pasti akan membukakan jalan untuk ini semua. god bless you.

  16. juki says:

    Itulah dunia modern jangan aneh kalo kejahatan akan menang, jangan aneh kalo ketamakan akan jaya, jangan aneh kalo kemungkaran akan semakin banyak di dunia ini.
    tapi walau bagaimanapun buruknya, bobroknya sikap para peminpin kita, wajib bagi kita untuk mematuhi semua perintahnya selagi perintahnya adalah kebaikan.

  17. Jhonny Depp says:

    Bung Munir tugas-mu blm selesai cita2-mu blm tercapai tapi pengharapan-mu smakin berapi2 u/ membuka mata hati anak bangsa akan ketidak-adilan,kekotoran anjing2 pejabat yg korup dan rakus. Smoga anak bangsa mengikuti jejak langkah-mu, mencontoh budaya kerja-mu dan mengubah nasib bangsa ini yg hidup segan mati tak mau. Aku bermimpi waktunya tlah tiba, Tuhan akan menegakkan keadilan and menghukum para pembunuh sdr Munir,pembunuh pelita keadilan di tengah kegelapan lautan badai.
    Rasanya mimpi ini adalah jump start process pencarian keadilan… mimpi yg menjadi kenyataan adalah hal yg plg terindah yg bisa didapat didunia fana ini..

  18. friend says:

    semoga keadilan yang sesungguhnya segera berpihak kepada setiap manusia dinegeri ini khususnya dan didunia ini pada umumnya…

  19. yulida fatayati says:

    munir…..? sbg sesama muslim tentu sy prihati dengan kematiannya. tp mungkin itulaH garis Tuhan untuknya.smpai hari ini kt tidak pernah tahu siapa pembunuhnya? jika dalang semuanya adalah BIN sy pikir pasti bin punya alasan dibalik iti. Memang tidak ada pembenaran untuk sebuah pembunuhan, tp jika bin benar melakukan apa yang dituduhkan, mungkin sja munir adalah sosok yang dianggap bs merongrong NKRI, atau menjual rahasia negara pada kita pd negara lain…..kira polemik ini tak perlu dibuat komoditi politik oleh pihak mana pun, masih banyak masalah bangsa yang perlu kita selesaikan bersama. IBARAT SEGELAS AIR TAWAR….MAKA SEKALIPUN KASUS MUNIR TERUNGKAP TIDAK AKAN MAMPU MENETRALKAN ASINNYA AIR LAUT.

  20. edo says:

    andaikata usaha yg dilakukan Munir untuk memperjuangkan hukum-hukum Allah SWT untuk di terapkan di bumi ini pastilah beliau sedang di surgaNya Allah

    sayang mendewakan HAM
    ham menggeset otoritas sang pencipta
    semoga diampuni dosa-dosanya

  21. fredy says:

    tenang ae cak, sebentar lagi sampeyan isok leren tenang nok kubur, aku yakin bebasnya muchdi adalah jalan terkuaknya seluruh teka-teki ini.
    jaman sekarang gak ada yang sakti, sabar ae mbak suci..
    ndonga terus …. Allah kang nuduhno ….

  22. andre says:

    Keadilan hakiki adalah keadilan oleh yang maha Adil.pengadilan yang ada didunia bisa saja dimanipulasi,di putarbalikkan oleh hakim manusia,Apakah di pengadilan akhir nanti ada yang bisa menghindar dari putusan hakim Agung yang Maha Adil?

  23. ali says:

    Mungkin Munir meninggal untuk sesuatu yg ia perjuangkan.
    Mungkin orang yang membunuh Munir pun berjuang untuk sesuatu yang ia perjuangkan.
    Seseorang yang mati (Munir) saat memperjuangkan kebenaran JIKA memang karena Allah maka ia Sahid.
    Orang (Mr. Killer & CS) yang menanggung resiko akibat kematian munir JIKA memang perjuangannya untuk sesuatu yg baik dan karena Allah maka ia pun Mujahid.

    Membunuh dalam peperangan itu boleh, dan ada aturannya.
    Membunuh dalam hal tugas ekskusi hukuman mati itu boleh, dan ada aturannya.
    Namun para penentang hukuman mati berpendapat hanya Tuhan yang berhak menentukan hidup mati seseorang, bukan negara atau orang lain.

    Masalahnya sekarang adalah:
    Apakah Munir benar2 berjuang untuk HAM?
    Apakah Mr Killer benar2 membunuh munir untuk sesuatu yang benar?
    Apakah Munir menyadarai jika ia pun bisa ditunggangi oleh “Lawan Pelanggar Ham” ?
    Apakah munir menyadari cara dan sepak terjangnya bisa atau mungkin telah mengorbankan (nyawa) pihak lain?

    Semua itu hanya Munir, Mr. Killer dan Allah SWT yang tahu

    jika kita meyakini 100% apa yang diberitakan media masa maka kita adalah victim.

    Cobalah para pembaca yang budiman melihat pula secara proporsional masalah ini.

    Perjuangan HAM tentu kita banggakan.
    Kamatian Munir tentu kita sayangkan.

    Belajarlah dari pengalaman, berjuanglah dengan cara-cara yang benar, baik dan santun sehingga kematian Munir tidak terjadi lagi pada Pejuang2 HAM lainnya.

    OK… peace dah,,,

  24. apurnamaz says:

    Ana hanya bisa mengatakan : MUnir nanti yang akan menjawab siapa pembunuhnya!
    Karena di Indonesia belum ada MUnir sampai sekarang.

  25. Budi Lumajang says:

    Cak Munir adalah pahlawan sejati yg berjuang untuk kaum tertindas.

  26. tinung says:

    Saya hanya mengerti sedikit tentang hukum, tapi menurut saya tak ada yang pantas dihukum dalam kasus kematian aktivis HAM Munir. Mari mundur ke belakang, ke persidangn Pollycarpus, menurut saya aparat hukum, telah gagal membuktikan secara pasti siapa sebenarnya yang menaburkan racun arsenik ke makanan, minuman, atau entah apalah namanya, hingga racun itu masuk ke dalam tubuh Munir. Racun itu masuk ke dalam perut alm. Munir adalah fakta, tapi cara masuknya sampai saat ini barulah sekedar perasaan dari Majelis.

    Dalam sidang pengadilan di tingkat Pertama majelis Hakim memvonis Pollycarpus bersalah dan “berteori” bahwa almarhum Munir dibunuh melalui MIE GORENG yang dibubuhi racun arsenik, itu dilakukan Pollycarpus DI ATAS PESAWAT GARUDA yang terbang sebelum mendarat di Singapura. Di tingkat banding majelis hakim mementahkan putusan pengadilan tingkat pertama dengan berteori lagi bahwa racun itu dimasukkan Pollycarpus melalui ORENGE JUICE, masih dalam penerbangan yang sama. Dalam peninjauan kembali, teori itu berubah lagi, bahwa racun itu dimasukkan bukan di atas penerbangan Jakarta – Singapura, tapi DI COFFE BEAN BANDARA CHANGI SINGAPURA berdasarkan keterangan saksi-saksi yang melihat Pollycarpus duduk semeja dengan almarhum Munir (dengan kata lain majelis Hakim PK menganggap fakta2 hukum yg menjadi dasar vonis pengadilan di bawahnya TDK BENAR). Keterangan saksi-saksi dalam sidang PK pun sangat tidak meyakinkan, bahkan ada yang menarik keterangannya yang telah diberikannya di depan penyidik. Saksi dari BIN bersaksi hanya melalui tulisan yang “diembel-embeli” di bawah sumpah bahwa Pollycarpus adalah anggota BIN. Apakah karena anggota BIN Pollycarpus bisa diindikasikan membunuh Munir? Kalau Pollycarpus membunuh Munir berarti diperintah oleh BIN, sudahkah dibuktikan adanya perintah itu? Memenuhi azas keadilankah kesaksian yang menentukan nasib seseorang hanya melalui “secarik kertas”? Apakah sumpah yang dibacakan itu masih sakral?

    Seandainya Pollicarpus sampai ke Amsterdam, jangan-jangan teori itu pun berubah, bahwa Polly meracuni Munir pada penerbangan dari Singapura ke Amsterdam dengan saksi-saksi yang seolah-olah melihat peristiwa peracunan itu. Barangkali memamg benar Pollycarpus yang membunuh Munir, tapi sangat tidak adil memvonis bersalah hanya berdasarkan perasaan dan rangkaian cerita-cerita yang dikemas begitu runut hingga seolah-olah adalah bukti yang kuat. Ketidakmampuan aparat hukum membuktikan bukti-bukti kongkrit harusnya menguntungkan Pollycarpus. Begitu juga dalam persidangan Muchdi Jaksa tdk mampu menghadirkan saksi2 yg kredibel dan bukti2 yg akurat, dimana para saksi banyak yg menarik kesaksiannya dan bukti2 sepertinya absurd, seperti bukti rekaman pembicaraan telepon, bukan membikin terang, tapi malah menimbulkan pertanyaan, ada ataukah tidak rekaman itu?

    Saya yakin kalau jaksa mampu menampilkan saksi2 dan bukti2 yg kredibel dan akurat ( seperti yg ditunjukkan KPK memproses koruptor), tak ada alasan bagi pendukung Muchdi maupun Pollycarpus membela mereka, apalagi bagi seorang pengamat yg netral

  27. (Hendra Sampit) Kalimantan Tengah / kotim says:

    Wew memang sekarang jadi rasa percuma jikalo berurusan den pengadilan karna mereka seperti nya slalu berat sebelan dan tanda kutif itu slalu ada main2 uang…sukses slalu buat Munir dari Pendukung mu HENDRA Di KALIMANTAN TENGAH kabupaten Kotim

  28. jalan kebenaran suatu hari kan terungkap …apalagi untuk seorang pejuang kemanusiaan …biar mereka tertawa ..biar mereka puas ..puas …melakukan kejahatannya …MUNIR memang sudah mati… tapi yang penting perjuangannya yang tak akan mati akan hiduplah lagi MUNIR-MUNIR yang lain yang akan membela kaum yang lemah …semoga CAK MUNIR TENANG DAMAI DISANA ….semangatmu akan selalu berkobar didlm sanubari para pejuang penerusmu …

  29. Kebenaran hanya milik ALLAH Swt. Kejujuran pengawal dr kebenaran. Untuk skrng (didunia ini) pemimpinx adalah kejahatan. Krn lbh mudah melakukanx dibandingkan berbuat baik. Tp ALLAH tidak diam. Branikan berus menjadi yg ju2r. Salam kejujuran

  30. abdie satria says:

    tak kan ada aturan yg lurus kecuali perintah allah.SWT tak kan ada hukum yg pasti kecuali hukum alllah.SWT..kita manusia mencoba dan merubah..jadi apapun keputusan manusia itu hanya maya…bung munir ku bangga akan dirimu dan kunanti penggantimu..

  31. abdie satria/pekanbaru says:

    buk suci..dan teman2 seperjuangan..kita rela dan iklaskan kepulangan bung munir menghadap illahi…mari lanjutkan dan segarkan kembali jalan yg sudah ditempuh bung munir semasa hidup…masih banyak mereka yg butuh akan perjuangan kita semua…negara ini sudah merdeka tapi tidak untuk mereka yg masih dibelenggu penindasan dan pelanggaran…MERDEKA….

  32. rode says:

    BODOHLAH ORANG-ORANG SIPIL YG BEKERJA BAGI INTELIJEN UNTUK MEMBUNUH SESAMA ANAK BANGSA (BUKAN MUSUH) SEPERTI SI POLICARPUS ITU, KARENA YG DIADILI PASTI YA SIPIL-SIPIL GOBLOK ITU, INGAT KASUS TIMOR-TIMUR $ PELANGGARAN HAM LAINNYA, ORANG-ORANG SIPIL LAH YG DIADILI, KENAPA NASIB BURUK MENIMPA MEREKA? KARENA MEREKA BODOH, SIPIL TAPI JIWANYA KEMILITER-MILITERAN, CENDRUNG FASIS, NAH, FASIS-FASIS GOBLOK INILAH YG DIMANFAATKAN MILITER UNTUK JADI UMPAN PELURU & SASARAN TEMBAK UNTUK TUNTUTAN PELANGGARAN HAM, SEMENTARA PARA JENDERAL & PEMIMPIN MILITER YG BERTANGGUNG JAWAB BISA MELENGGANG BEBAS.

  33. Fauzan says:

    Kita lebih percaya peradilan Tuhan atau manusia? bertindaklah sesuai dengan kepercayaan kita itu. (Ketuhanan Yang Maha Esa)

    Tidak adil terus membuang energi, sumberdaya & waktu menyelidiki lebih jauh lagi kasus Munir, tidak adil bagi pahlawan lain yang gugur tapi tidak ketahuan masyarakat karena “pembunuhnya” tidak melakukan kesalahan perhitungan, bahkan mereka tidak pernah disentuh sejarah sedikitpun. (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab)

    Tidak membayar pajak juga pengkhianat negara bahkan mahasiswa yang meneliti Indonesia atas biaya negara lain (yang tentunya hasilnya juga bisa diakses negara donor) juga bisa dikategorikan pengkhianat negara, lebih baik membahas status yang jelas dibandingkan fitnah yang tidak akan pernah jelas dan hanya membawa permusuhan. (Persatuan Indonesia)

    Kalau benar-benar menghormati Munir, sebaiknya fokus saja pada apa yang diperjuangkan beliau hingga harus berkorban nyawa dan lindungi dengan lebih baik pejuang-pejuang yang saat ini masih hidup. (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat permusyawaratan & perwakilan)

    Sebejat-bejatnya lingkungan yang menahan kepastian keadilan bagi (keluarga & pendukung) Munir, mereka sedang mengurus seluruh masyarakat Indonesia. Perjuangan harus dilakukan tanpa henti, tapi kadang-kadang berhenti pada waktu yang tepat adalah bentuk perjuangan sejati. (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia)

  34. warga biasa says:

    Di negara Republik Indonesia, mana ada kasus yang menyangkut Tentara bisa diungkap tuntas?? Jikalau pada saat kejadian team medis di Belanda tidak melakukan analisa lebih lanjut terhadap kematian Munir, akan sangat mungkin berita yang kita dengar adalah kematian nya akibat serangan jantung.

  35. paijo korea says:

    Menjadi pahlawan sekaliber alm.Munir memang harus siap mati syahid dan beliau memang telah siap untuk membuktikannya…tanpa memandang agama aku yakin dia berada ditempat selayaknya, disisi semua Tuhan yg menjunjung asas kebenaran dan kemanusiaan. Kalau mau cari penggantinya saya tidak yakin di indonesia masih ada “tokoh besar” yang siap syahid seperti beliau selama kasusnya belum terungkap.

    Jadi tinggal kita yang memilih..apakah munir hanya tinggal kenangan saja, atau kita sendiri yang siap meneruskan keberanian dan perjuangan beliau.

    Trimakasih Om munir… atas semua sikap dan keberanian anda. semoga saya bisa mencontoh dan mengharumkan namamu..amin

  36. chriswanto says:

    auk ah… gelap banget

  37. basuki says:

    kalo saya pernah dengar pernyataan-pernyataannya memang sangat pedas, benar memang pepatah orang jawa kalo dalam hidup kita harus setiti lan waspada jadi benar banyak orang yang menaruh dendam dan sakit hati terhadapnya…,memang garis hidupnya begini, ihklaskan sajalah….

  38. didos says:

    allah maha tahu mana yang benar dan yang salah mudah2an untuk pelajaran kita, tidak ada lagi korban munir yang lain

  39. sebenarnya seberapa besarkah sumbangan dia untuk negeri tercinta ini?
    sebesar pahlawankah?
    kalau cuman demo yang lain juga bisa.
    buktinya dari sebelum ada dia sampai sekarang
    banyak banget tuh para pendemo.
    coba renungkan deh.

  40. mas_atta says:

    jangan kuatir Bu Suci, kalau g dikasih keadilan di dunia, ntar dikasih sama BOS di akhirat

  41. paijo korea says:

    Mungkin yang cuma bisa menulis komentar tanpa tahu siapa beliau, cuma menanyakan seberapa pentingnya beliau.

    Tapi bagi saya yang menjadi warga tanjung priok sangat mengharapkan dan menghargai bantuan beliau terhadap kasus pembunuhan massal warga tanjung priok. setidaknya ratusan atau ribuan warga yg mati syahid dan diculik.Ada tetangga saya yang bisa pulang dari penculikan itu tapi dalam keadaan tidak waras lagi gimana caranya konfirmasi.

    Apakan menjelek2an negara dalam pelanggaran HAM membuat anda berpikir bahwa dia penghianat bangsa? Padahal korban yang dia bela adalah putra bangsa kita sendiri.

    Semoga kebenaran bisa terungkap agar Munir-munir yang lain bisa terus ada dibumi Indonesia tercinta ini.

    Bagi anda yang belum tahu beliau bisa dilihat disini:
    http://nusantaranews.wordpress.com/2009/01/01/biografi-munir-seorang-pahlawan-ham-indonesia/

  42. dani aceh says:

    MUNIR ITU BEDA, DIA BUKAN SEPERTI PAHLAWAN LAINNYA,
    YANG PADA KESIANGAN.
    MUNGKIN KURANG LEBIH SEPERTI UDIN ATAU MARSINAH. DIA DIBUNUH KARENA BENAR…
    DIA DIBUNUH KARENA BERANI BERKATA BENAR…

    DIA TAU KONSEKWENSINYA, TAPI DIA TIDAK MAU MEMBUTAKAN MATA HATINYA.
    KETIKA DI IMPASIAL, AKU PERNAH SEMEJA DENGANNYA, BERDISKUSI TENTANG ACEH. DIA MEMANG BEDA. AKU INGAT, DIA MENAWARKAN NASI BUNGKUSNYA UNTUK KAMI. HATIKU SERING MENANGIS JIKA MENGINGATNYA, PERHATIANNYA KEPADA MEREKA YG DIBUNGKAM, YANG DIHILANGKAN DARI PERHATIAN KITA.

    KAU TERUS HIDUP CAK MUNIR, TAK ADA ORANG ACEH YANG TAK INGAT JASA MU PADA KAMI. SEPANTASNYA PEMERINTAH ACEH MENG ANUGERAHKAN PENGHARGAAN BUAT MU DAN PARA PENCARI KEADILAN DIBELAKANGMU. KAU TERUS HIDUP DIDADA KAMI, ALLAH MERAHMATIMU.

    AKU DAN TEMAN AKTIVIS ACEH BERHUTANG NYAWA PADA MU, SEMOGA ALLAH MEMBALAS SEMUA KEBAIKAN MU. AMIN.

  43. toxy says:

    ini bukan kasus mudah,karena semua dalang di balik kematian bang MUNIR ada di lapisan dalam,bukan di luar.Maka dari itu tiada penyelesaiyan untuk kasusnya.Dan satu hal lagi bahwa BANGSA INI LEBIH MENJUNJUNG TINGGI KEKUASAAN BUKAN KEADILAN YANG DI INGINKAN PARA PEJUANG,BAIK SEBELUM MAUPUN SESUDAH KEMERDEKAAN.OLEHKARNA ITU BANGSA INI TIDAK MENYADARI BAHWA BANGSA INI MASIH DI JAJAH BELUM MERDEKA.

  44. Ahmad says:

    NYAWA DI BAYAR DGN NYAWA, PEMBUNUHAN BERENCANA KOK? DIHUKUM 20THN PENJARA, ANCAMAN HUKUMAN MATI AJA BIAR DISEBUTKAN DALANGNYA SIAPA!?

  45. Deneesh says:

    Saya sangat setuju dengan ‘pecinta indonesia’. Apa jasa2 almarhum untuk negara ini? Yang saya tau cuma berbuat untuk sekelompok orang yang pengen negara ini terus dalam situasi tidak stabil.
    Pertama kali saya mendengar di Indonesia ada orang dibunuh pake racun secanggih arsenik. Saya nga pernah percaya kalo pelakunya orang Indonesia. Pasti the culprit sejenis international agency, something like that…

  46. H.M.Sulasi says:

    Kenapa kasus munir sampai 5 th belum terungkap, Saya setuju dg pendapat Gus Dur, bahwa negeri kita ini memang masih dikuasai tentara, dimana-mana tentara itu ya begitu itu anti demokrasi,otiriter. sekarang banyak tentara pada bikin partai, sok demokratis. kita jangan mudah percaya, itu semua bohong dan omong kosong. Kenapa kemarin hakim kita memutus bebas muchdi. ya gimana gak memutus bebas, kalau dia berani menghukum Muchdi dia pasti sudah ditembak tentara.

  47. anonyma 159 says:

    Masih membingungkan…
    Semacam sandiwara tanpa script yang juga tak jelas pengarangnya…

  48. arqu3fiq says:

    Sudahlah… Dimana-mana itu “lakonè menang kèri” (tokoh utama menang belakangan).

    Kita tunggu aja.

  49. ugikz81 says:

    masalahnya, seperti yg disampaikan kalo gak salah Djafar Assegaf pengacara Muchdi PR atau mahendradata , BAP jaksa adalah pepesan kosong krn hanya berdasar impian jika bukti-bukti telp Muchdi PR n policarpus via telp dijadikan acuan keterlibatan mereka dlm pembunuhan Munir.
    Ini merupakan indikasi untuk membuka jalan dan dari pengacara senior tsb menyebut harus ada hitam di atas putih yg menunjukan “indikasi iya kalo pelakunya Muchdi PR”. ini yg perlu diasah

Tinggalkan Komentar