Thursday, May 23, 2013
indonesia-versus-australia

Erlangga Wisnuaji

Kembali tim nasional sepakbola kita bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, Rabu (28/1) malam, dalam pertandingan kualifikasi Piala Asia 2011. Kali ini lawannya bukan main-main….Australia, tim yang menurut saya lebih banyak “Eropa” nya dibanding “Asia”-nya.

Walaupun datang dengan tidak diperkuat sejumlah pemain bintangnya yang merumput di liga-liga Eropa, Australia tetap saja lawan berat bagi Charis Yulianto dan kawan-kawan. Hal ini diakui sendiri oleh pelatih Timnas kita, Bung Benny Dollo. Selengkapnya »

catatan-dari-jalur-gaza-2-terowongan-rafah

Mauluddin Anwar

Tiga hari pasca agresi, pusat kota Rafah, Jalur Gaza kembali menggeliat. Suguhan kare ayam dan daging sapi di sebuah rumah makan membuat perut saya tak lagi “berontak”. Tidak seperti aroma umumnya bumbu masak di Timur Tengah yang “menyengat”, racikan bumbu kare Rafah klop banget dengan selera lidah saya yang sangat Sunda. Jam makan siang, meja-meja dipenuhi warga Rafah. Alamak, mereka juga dengan lahap menyesap soft drink Amerika, Coca-cola dan Pepsi! Benak saya langsung melayang ke aksi-aksi sweeping rumah makan waralaba Amerika oleh sejumlah demonstran di Tanah Air kala berdemo menentang agresi Israel. Kemarin, seorang pendakwah muda di Mesir juga dengan menggebu-gebu meyakinkan saya yang menyeruput Pepsi di siang bolong, bahwa Pepsi adalah akronim dari pay every penny to save Israel.

Jika sang pendakwah ini benar, maka sesungguhnya warga Rafah di depan saya tanpa sadar tengah bunuh diri, karena dari setiap kaleng Pepsi yang ia tenggak, ia ikut membiayai pembuatan bom Israel yang mungkin saja suatu saat akan menghajar rumahnya. “Kif dza hasol (kok, bisa-bisanya begini)?” Abu Hamzah, warga Rafah yang menemani makan, tersipu mendengar pertanyaan saya. “Tak ada yang salah dengan minuman itu. Yang keliru adalah kebijakan pemerintah Amerika,” jawaban Abu Hamzah membuat saya tertawa. “Saya akan sampaikan jawaban Anda pada para demonstran di Indonesia yang men-sweeping rumah makan Amerika.” Abu Hamzah manggut-manggut dengan mimik serius dan jempol tangan kanan teracung tanda setuju. Selengkapnya »

catatan-dari-jalur-gaza-1-warga-palestina-butuh-apa

Mauluddin Anwar

Baru saja dua pesawat tempur Israel membombardir kawasan perbatasan Rafah, Gaza. Imad Abdullah, seorang warga Mesir yang hanya berjarak 400-an meter dari perbatasan Gaza, membisiki saya. “Lihatlah, kami hanya kecipratan suara bising bom, yang sesekali mungkin saja akan menerjang polisi dan warga Mesir. Sementara saudara-saudara kami di Gaza, mendapatkan semuanya.” Imad menunjuk ratusan truk besar pengangkut bantuan dari berbagai negara yang mengantre di perbatasan Rafah, menunggu giliran masuk Gaza. “Semua mata dunia mengarah ke Gaza, sedangkan kami tidak mendapat apa-apa,” kata Imad lagi. Dari atap gedung sekolah di perbatasan Mesir saya memang bisa menyaksikan, kondisi bangunan-bangunan di Rafah, Gaza, jauh lebih mentereng ketimbang di Rafah, Mesir. “Mungkin wilayahmu harus dibombardir dulu,” candaan saya tak membuat Imad tertawa.

Lebih sepekan kemudian, saya dan kameramen Yon Helfi mendapat ijin masuk Gaza. Di kota Rafah, kami diajak keliling seorang polisi intel Hamas untuk menyaksikan kehancuran dampak pemboman. Seluruh bangunan milik pemerintahan Hamas luluh lantak, juga beberapa masjid, termasuk masjid terbesar di Rafah, Al-Abror. Banyak juga rumah warga yang dituding Israel memiliki terowongan rahasia, rata tanah. Namun sepanjang perjalanan dari Rafah ke Gaza City yang berjarak sekitar 30 kilometer, berkali-kali saya dan Yon gantian bertanya, “Mana bekas perangnya?” Warga beraktivitas seperti biasa, tak ada kepedihan, seperti tak pernah ada agresi yang merenggut lebih 1.300 nyawa. Selengkapnya »

Satir Amerika

January - 12 - 2009 9 KOMENTAR

Andy Budiman

Inilah komedi gelap ala Coen Brothers  (Joel & Ethan Coen). Sutradara yang dikenal sebagai Hollywood darling sekaligus kesayangan para juri Festival film ini muncul dengan film terbaru “Burn After Reading”.

“Burn After Reading” adalah film humor gelap Coen bersaudara yang bercerita tentang “kegilaan” Amerika dengan setting Washington DC.  Osbourne Cox (John Malkovich) adalah seorang agen CIA yang dipecat karena kebiasaannya menenggak minuman keras.

Baca selengkapnya di sini.

suara-anak-palestina-seandainya-aku-terlahir-palestina

M. Nurul Amin

Palestina, ya, Tuhan menghendaki aku terlahir di Palestina. Negeriku, Palestina, darahku, Palestina. Aku terlahir di tengah desing peluru dan aroma kematian. Aku tak tahu, mungkin saat aku dilahirkan, tak jauh dari sisiku, ada saudaraku sesama anak Palestina  yang meregang nyawa dengan luka menganga di dada dan kepala  akibat peluru yang meghujam atau pecahan bom yang mendera.

Aku menangis saat dilahirkan, itulah garis hidupku, untuk menangis diawal kehidupanku. Mungkin tak jauh dari sisiku, ada juga yang menangis, ya, Ibu dari anak Palestina yang kehilangan anak akibat kejamnya peperangan. Anak itu sudah tidak bisa lagi menangis, mana mungkin, dia sudah terbujur kaku, tak berdaya dengan darah mengalir dari luka yang pasti sakit tak terkira… Selengkapnya »

Lompatan Ksatria Katak

January - 9 - 2009 27 KOMENTAR
lompatan-ksatria-katak

Syaiful Halim

Cerita tentang Ksatria Katak saya dapat dari mantan Imamu Masjid Kraton Benteng Wolio di Pulau Buton dua tahun yang silam. Pada masa Kesultanan Kesultanan Butuni, Imamu Masjid memiliki peran sentral dalam bidang spiritual. Ia merupakan sultan kedua di organisasi itu dengan julukan Sultan Batin. Dan, di tingkat spiritualnya, ia diyakini bukan sekedar ahli tarekat atau hakekat, tapi ahli ma’rifat!

Namun, saya tidak akan berpanjang-panjang dengan cerita kejayaan dan era emas Imamu Masjid di masa silam. Karena, hanya akan menyita berlembar-lembar halaman dan konteksnya belum cukup penting untuk diungkap. Dan, saya lebih tertarik mengingat kembali amsal atau pemisalan yang diungkap sang mantan Imamu Masjid tentang Ksatria Katak. Selengkapnya »

KONI Vs Menpora

January - 8 - 2009 21 KOMENTAR
koni-vs-menpora

Erlangga Wisnuaji

Beberapa hari lalu KONI pusat mengumumkan bahwa mereka akan mengadakan Pelatnas yang akan dimulai bulan Februari 2009 dalam rangka menghadapi 6 event Internasional tahun depan. Target puncak adalah di bulan Desember 2009 saat berlangsungnya SEA Games ke 25 di Laos.

Setiap kali jelang event olah raga Internasional, memang itulah ritual yang dilakukan KONI, memanggil sejumlah atlet untuk diikutkan dalam pelatnas, namun kali ini ceritanya mungkin agak berbeda, sebab sebelum KONI berencana mengadakan pelatnas pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga telah membuat Program Atlet Andalan (yang entah kenapa disingkat menjadi PAL bukan PAA). Selengkapnya »

Surat untuk Munir

January - 2 - 2009 85 KOMENTAR
surat-untuk-munir

Yus Ariyanto

Cak Munir,

Tiba juga 2009. Ya, telah lima tahun berlalu. Tapi, perjalanan kasus pembunuhan Anda terus dibikin buntu, berhenti di sebuah mata rantai bernama Pollycarpus Budihari Priyanto. Padahal, akal sehat siapa yang bisa diyakinkan bahwa Pollycarpus memang yang mengatur kejahatan itu? Padahal, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah bilang, penyingkapan kejahatan itu adalah test of our history.

Tentu, pasti ada juga orang yang mensyukuri situasi ini. Mereka pikir, kematian sampeyan adalah yang terbaik buat Indonesia. Mereka yakin, Anda adalah pengkhianat bangsa. Ya, saya jadi teringat cerita pendek Seno Gumira Ajidarma berjudul Keroncong Pembunuhan. Selengkapnya »