Saturday, May 18, 2013

Memburu Salo di Pelosok Wamena (1)

December - 18 - 2008
memburu-salo-di-pelosok-wamena-1

Anastasya Putri


Namanya pendek. Salomina. Tapi keinginan hidupnya panjang bak liukan sungai-sungai yang membelah tanah kelahirannya, Wamena, Papua.  Dan, siapa sangka sosok gadis lugu itu mendapat perhatian para juri Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008?!

Bersaing dengan 4 finalis lain dari stasiun televisi lain, yang lebih banyak  mengetengahkan laporan investigasi, para juri justru menemukan inspirasi dari sosok Salomina. Dan, karya kami (saya dan juru kamera Yanto Sukma) tentangnya diganjar Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008 untuk kategori karya jurnalistik televisi.

Di malam penganugerahan itu, kami berdua mengalami de javu, kilas balik mengenang kesulitan kami menemukan sosok Salomina.

21 April 2008 adalah hari bersejarah bagi kami. Sebuah NGO yang peduli pada masalah pendidikan anak-anak mengajak kami untuk menginjakkan kaki di pulau paling timur di negeri ini. Papua. Ini sejarah karena ini adalah kali pertama saya bisa mengunjungi kota dengan tradisi lelaki berkoteka itu.

Agenda di Wamena adalah menyoroti tentang pendidikan anak-anak di pedalaman. Kami mencari seorang anak pedalaman yang bisa mewakili  bagaimana sulitnya meraih cita-cita di tengah keterbatasan fasilitas. Akhirnya dari staf NGO itu, meluncurlah nama Salomina, remaja putri kelas 3 SMA yang harus menempuh perjalanan 2 jam ke sekolah dengan berenang menyeberangi sungai.

Hari pertama tiba di Wamena, kami sempat kecewa Salomina tak ada di tempat. Hanya ada sang kepala suku  yang juga ayah Salomina. Penampilannya khas: berkoteka. Ikut menemui kami, ibu dan dua saudara kandung gadis yang kami buru.  Mereka berpesan supaya besok kami kembali lagi, karena saat ini Salomina terpaksa menginap di sekolah karena besok ujian. Jika tidak menginap, bisa-bisa besok pagi ia tidak bisa mengerjakan ujian, karena kelelahan dalam perjalanan ke sekolah. Ehmm, sambil  menggaruk-garukkepala, saya, “Wow, semangat sekali anak ini.” Tapi dalam hati sempat menggerutu: sudah jauh-jauh datang begini.  Kami semalaman menempuh perjalanan udara Jakarta-Jayapura, dilanjutkan dua jam perjalanan darat, pada jam 4 pagi, plus berjalan kaki tanpa alas,  tidak sempat makan, pulang tanpa hasil.

Hari kedua, akhirnya kami bertemu Salomina. Kami disambut antusias keluarganya. Sepintas gadis Papua ini terlihat seperti laki-laki, berbadan kekar. Menyebut namanya saja kami sering salah-salah. Untunglah panggilan akrabnya cukup mudah diucapkan: Salo. Semudah melihat senyumnya yang  selalu berkembang setiap bersua.

Tapi kecerdasan Salomina sudah terlihat sejak awal. Tekad Salo juga demikian besar, ingin kuliah, tidak menjadi petani seperti bapaknya. Ia Juga tidak ingin seperti  dua kakaknya yang melepas lajang di usia belia. Salo ingin membuktikan, selalu ada jalan jika kemauan dibentangkan. Di SMA, ia mendapat beasiswa. Selepas itu? Salo menggelengkan kepala.  “Saya ingin menjadi dokter,” kata Salo, beberapa saat sebelum kami memulai proses syuting.

Ah, Salo… Ia ternyata bisa memahami semua yang kami inginkan dalam pengambilan gambar. Nah, saat berkesan adalah ketika menyaksikan Salo berenang menyeberangi sungai. Pakaian seragamnya dilipat dan dimasukkan ke tas. Ia hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Kami tidak membayangkan jarak lokasi rumah keluarga Salo dengan sungai ternyata begitu jauh. Sementara, hujan membayangi sepanjang perjalanan kami. Tentu, kami, orang kota ini, kebingungan bagaimana harus melindungi kamera dan kepala kami dari tetesan air hujan. Payung tidak ada, jas hujan apalagi. Tapi anak-anak yang mengikuti kami tiba-tiba menawarkan daun pisang sebagai pelindung. Tidak hanya itu mereka juga sangat perhatian, melihat kaki-kaki kami yang penuh dengan lumpur, sandal jepit pun bahkan mereka tawarkan.

Terbersit keharuan yang hampir membuat mata kami berkaca-kaca. Ini hal yang langka kami jumpai di ibukota, tempat uang jadi simbol kekuasaan.

Hari sudah hampir gelap. Kami harus segera menyelesaikan momen paling dramatis ini, yaitu saat salomina harus berenang. Adegan ini terpaksa harus diulang-ulang, dan ia melakukan dengan riang. Duh, Salo maafkan kakak-kakakmu ini karena harus membuatmu berkali-kali terjun ke sungai dengan cuaca hujan. Salo bercerita, saat masih kecil, ia pernah dimarahi oleh sang bunda di pinggir sungai. Untuk mengusir kekesalan, ia bermain air hingga akhirnya bisa mencoba berenang sendiri.

Siang telah berganti malam dan kami masih berada di dalam hutan. Langkah kaki kami pun terpaksa dipercepat. Pasalnya nyamuk-nyamuk hutan juga sudah mulai menggigiti kulit kami. Gatal-gatal di sekujur tubuh mulai terasa, belum lagi lapar karena sejak siang perut kami belum terisi.

Di ujung jalan akhirnya kami menemukan kehidupan. Keluarga Salomina sudah menanti dengan ubi rebus, jagung rebus, dan pisang rebus. Bak menemukan air di padang pasir, makanan tradisional ini terasa nikmaaaaat sekali… Sambil menggigil kami tersenyum bahagia.

Dalam perjalanan pulang, saya selipkan sebuah kartu nama di tangan Salomina… (Bersambung)

Catatan: Untuk melihat hasil liputan Putri dan Yanto, sila klik di sini.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

22 Komentar pada “Memburu Salo di Pelosok Wamena (1)”

  1. adi purwo says:

    buat Putri dan Yanto, setelah kalian mendapatkan penghargaan, apa yang akan kalian berikan kapada Salomina yang kalian jadikan sebagai obyek liputan? alangkah mulianya bila SCTV mau memberi Salomina bea siswa hingga jenjang pendidikan tertiggi yang mampu dia raih, selanjutnya direkrut sebagai karyawan SCTV. tentu itu tidak akan menyianyiakan potensi yang dia miliki dan ikut mengangkat kesejahteraan keluarga Salomina.

  2. khecap solo3 says:

    salut buat mbak putri dan mas yanto
    kembangkan terus imajinasi kalian,aku ikut bangga mendengar berita ini melalui liputan6.com di negeri orang
    HIDUP INDONESIA!!!!!!!!

  3. martha says:

    Banyak hal luar biasa bisa kita dapat dari hal-hal yg biasa bg orang lain. Sungguh Inspiring…..

  4. inoue says:

    salut banget sama Salomina..sebuah suatu perjuangan hidup yang hebat, demi cita-cita kau selalu bersemangat untuk melewati hambatan-hambatan yang kau temui. saya jadi malu dengan diri sendiri karena tidak memiliki tekad dan semangat seperti yang kau miliki.
    selamat juga buat mbak Anastasya Putri dan mas Yanto Sukma atas penghargaan yang telah diterima..

  5. Rahmabaik says:

    saya udah cape liat tv kalo beritanya lagi2 ttg korupsi dll, kalau acara2 penuh inspirasi sprt salomina emang layak diganjar perhargaan.
    Semoga ga berhenti berkarya, dan berikan karya jurnlalistik terbaik untuk negeri ini.

  6. deni ari says:

    thanks to mbak putri dan mas yanto yang sudah mengungkap fakta pendidikan di indonesia… fenomena laskar pelangi dengan sarana pendidikan yang amat jauh dari layak belum juga menggugah pemerintah untuk meratakan pendidikan. bahkan seperti yang ditayangkan di liputan 6 mengenai dunia pendidikan indonesia, tak jauh dari ibukota tercinta pun pendidikan masih ada saja yang sangat memprihatinkan. bagaimana yang jauh dari kota??? semoga apa yang ditampilkan oleh mbak putri dan mas yanto bisa menyadarkan kita semua, tak hanya pemerintah bahwa pendidikan di indonesia masih banyak yang harus dibenahi. modal sudah ada, yaitu anggaran sudah naik signifikan dan harusnya mereka-mereka yang di pedalaman dan yang sarana pendidikannya masih kurang itu yang harusnya menikmati lebih banyak. tks.

  7. raden kukuh says:

    Sungguh luar biasa perjuangan Salo.Keinginannya sangat kuat demi meraih cita-cita.

    Hrs ada uluran tangan bagi mereka yg MAMPU & MAU membantu mewujudkan harapan Salomina. Sangat disayangkan apabila harapannya kandas di tengah jalan.

    Semoga ada Salomina2 lain yg serupa di tanah Papua yg diharapkan kelak akan dpt membangun daerahnya menjadi daerah yg makmur dan maju seiring perkembangan jaman yg lebih modern dan kompetitif…..

  8. sanjaya says:

    hmmm…banyak sebenarnya anak pintar yg penuh semangat di negeri tercinta ini seperti ditunjukan Salo,namun sayang perhatian dr pemerintah terutama jg dr org2 yg mampu utk bisa tersentuh hati utk membantu meringankan anak2 sperti Salmo msh blm terlihat (mungkin). Kadang kita terharu melihat perjuangan anak spt Salo. Saya hanya berharap SCTV melalui pejuang2 seperti Putri n Yanto lbh banyak menampilkan semangat anak2 seperti Salo dg keterbatasan fasilitas yg ada,berharap ini semua bisa menjadi inspirasi generasi muda Indonesia yg hidupnya mungkin lebih baik dari Salo namun tdk memilikitekad n semangat seperti Salo.. Sukses buat Putri n Yanto..

  9. masdanank says:

    selamat dan sukses ya buat Tim dari SCTV yang udah dapet penghargaan atas penelusuran tentang semangat remaja papua dalam meraih pendidikan dan mencapai cita-citanya.
    tapi sayangnya tayangan tersebut sepertinya belum menggugah sebagian besar pelajar n remaja kita, kayanya hal itu juga perlu dipikirkan, jadi tidak semata-mata memberikan tayangan yang mendapatkan penghargaan saja, namun hasilnya jadi kurang tepat sasaran, saya mengusulkan buat liputan 6 dan tim terutama SCTV gimana caranya membangkitkan semangat pelajar n remaja kita agar punya semangat seperti salomina sehingga banyak semangat salomina-salomina yang lain dan bermunculan.
    terus terang saya agak miris dengan kondisi pelajar n remaja sekarang, teknologi berkembang dengan pesat, informasi makin mudah didapat, teknologi udah canggih, fasilitas udah banyak, tetapi kenapa banyak yang masih menyia-nyiakan hal itu ya, kebanyak lebih suka berkutat dengan masalah pergaulan mereka biar bisa dibilang gaul n berkutat dengan HP n gadget berteknologi tinggi dan mahal supaya terlihat keren, tapi kalo urusan prestasi amat sangat minus.
    saya berharap temen-temen jurnalis juga bisa membantu membangun negeri ini dari awal dengan membentuk generasi muda yang ada saat ini agfar tercipta bangsa yang maju, soo tolong donk tayangan dan pemberitaannya jangan terlampau berat tayangin berita yang sifatnya membangkitkan motivasi dan optimisme buat generasi muda, biar semakin banyak salomina-salomina di negeri kita, gimana setuju ga????

  10. Vengky says:

    Proficiat buat Putri dan Yanto. Harap tidak berhenti di situ saja. Selain Salomina, ada juga teman-teman Salomina di pedalaman Papua yang kondis hidupnya hidup tidak berbeda jauh dengan Salomina.
    Yang penting adalah tidak hanya mengangkat tokoh-tokoh ini dalam pemberitaan tapi, melihat potensi yang ada, apa yang bisa kita lakukan buat mereka agar mereka bisa keluar dari keterbelakangan, ketertinggalan, keterisolasian dan mereka bisa berkembang menjadi sama dengan saudara-saudara di daerah lain??? Ini PR untuk kita semua. Tidak hanya mengangkat mereka dalam media elektronik tapi juga selanjutnya memikirkan bagaimana mereka bisa dibantu. Mereka perlu bantuan..mereka perlu dibantu.. dan mereka sangat membutuhkan bantuan kita…bukan duit yang diharapkan..tapi kehadiran..pendampingan…sehingga mereka bisa belajar sesuatu dari kita… Hanya persoalan yang ada adalah tidak banyak orang yang suka tinggal dan bekerja di tengah masyarakat begini. Banyak orang hanya suka mengomentari, mengeksploitasi tapi tidak berbuat sesuatu yang nyata dan yang bisa dialami langsung oleh masyarakat pedalaman…. SCTV lanjut terus Liputan6, perjalanan sosial kemasyarakatan

  11. Deni says:

    Selamat buat Putri & Yanto atas penghargaan yang diterima. Buat Salomina, saya salut sekaligus malu pada Anda. Semangatmu untuk meraih cita2 sangat kuat walau rintangan menghadang, padahal saya dengan segala fasilitas yang ada masih aja malas. Moga kamu bisa meraih cita2mu. Amin.
    Pak SBY & Pak Mendikbud…gimana nih, kok kekayaan Papua aja yang ‘diperhatikan’, untuk kesejahteraan masyarakatnya malah nutup mata????

  12. yuk_yuk says:

    salut utk Salomina & selamat utk putri dan yanto atas penghargaan yang diterima..
    saya pernah melihat tayangan di liputan6, kalau Salomina sekarang berada di Jogja untuk melanjutkan pendidikannya atas bantuan seorang dermawan. Mungkin Liputan6 mau membuat liputan lg bagaimana perkembangan salomina terkini??

  13. friend says:

    selamat untuk putri dan yanto atas penghargaannya salut buat salomina putri papua yang memiliki tekad dan keinginan yang kuat untuk meraih cita cita hidupnya tak peduli rintangan dan hambatan menemuinya tiap hari semoga benar berita kalau salomina sekarang berada dijogja atas bantuan seorang dermawan untuk melanjutkan pendidikannya dan semoga juga cita citanya berhasil diraih sehingga dapat mendarma baktikan bagi bangsa indonesia pada umumnya juga mampu mengangkat papua dari segala ketrtinggalan…semoga dan semoga…

  14. tarto says:

    masih banyak yang lebih dari itu mbak kjdian di negri ini, tapi sayang tidak ada yang perduli lagi setelah tau smuanya, SEMOGA ANDA BISA MEMBANTU MEREKA TIDAK CUMA HANYA KASIHAN SAJA

  15. ikutan ngucapin selamat deh… and moga moga punya prinsip suket juga ya mbak dan mas :smile:

  16. Abu Aisyah says:

    Aku lihat liputannya, ternyata adegan pas renang itu dilakukan berulang-ulang ya? Kukira cuman sekali :D

    Btw, selamat buat mbak putri.

  17. rofi says:

    Subhanalloh,,,ternyata perjuangan kalian untuk mendapatkan berita besar sekali,,,tapi alhamdulillah Alloh memberikan suatu penghargaan kepada kalian ,,,selamat ya,,,mba putri sama mas yanto

  18. rudicr7 says:

    ternyata semua orang baru sadar kalau pendidikan di indonesia tidak merata. Yang kaya sekolah malas2an n yang kurang mampu kaya kita ini mau sekolah gak ada biaya. Duh malang benar nasibku… Semoga cita2 kita bisa tercapai ..Amien,

  19. EpRiL says:

    wah ebad bgt…..

    truz smangat yaw…

    btw kak klo jdi wartawan yg baik tu gmn n jg presenternya…?bri tips2 yaw

  20. Hanny says:

    Masih banyak yang bernasib seperti salomina di negeri ini…..

    Selamat untuk mbak yanti dan mas yanto atas penghargaan yang telah di raih….

    Terus semangat dan sukses

  21. irfan says:

    Kalau mbak putri dan mas Yanto bisa mencarikan bea siswa, sungguh akan berarti bagi saudara kita di papua sana…semoga Allah memberi jalan.

Tinggalkan Komentar