Anton Bahtiar Rifa’i
Dalam politik, selalu ada kreatifitas untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan. Ketika wacana menghidupkan kembali Poros Tengah digulirkan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, sesungguhnya sebuah kemungkinan baru tengah ditawarkan. Tawaran menghidupkan lagi Poros Tengah –yakni menyatukan kekuatan parpol-parpol berbasis massa Islam seperti tahun 1999—merupakan respon atas UU Pilpres yang mencantumkan syarat 20 persen kursi parlemen atau 25 persen suara sah nasional untuk pencalonan presiden. Ketentuan UU tersebut dianggap hanya menguntungkan parpol besar.
Meski sistem politik kini telah berubah, secara esensi keberadaan Poros Tengah tetap kontekstual, yakni untuk menjadi kekuatan penyeimbang bagi dominasi parpol besar. Mungkin tingkat pencapaiannya saja yang berbeda. Karena, yang perlu diingat, Poros Tengah hanya efektif dimainkan di tingkat parlementer. Pada tahun 1999, ketika presiden masih dipilih oleh MPR, pencapaian keberhasilan Poros Tengah diraih saat pemilihan presiden. Jika Poros Tengah dihidupkan kembali pada tahun 2009, maka pencapaian maksimal yang mungkin bisa diraih adalah saat pencalonan presiden, yakni memunculkan calon presiden alternatif. Setelah itu, pilihan akan tetap ditentukan oleh rakyat.
Poros Tengah di tahun 1999 memang telah menjadi catatan prestasi tersendiri bagi kekuatan politik Islam. Dimotori Amien Rais, parpol-parpol berbasis massa Islam yang saat itu “berserakan”, bersatu dalam Poros Tengah. Ketika itu, dengan dominasi PDIP dan Partai Golkar di parlemen, orang beranggapan bahwa Amien Rais, Gus Dur, atau Yusril Ihza Mahendra, sudah tak punya harapan di pentas politik. Namun, Poros Tengah dapat membalikkan keadaan. Posisi Presiden dan Ketua MPR disapu oleh Poros Tengah. Sementara PDIP, partai pemenang pemilu, hanya “disisakan” jabatan Wakil Presiden. Terpilihnya Gus Dur sebagai presiden memang dipengaruhi situasi politik ketika itu, yakni panasnya rivalitas antara Megawati dan Habibie, serta mundurnya Habibie dari bursa capres sehingga suara Golkar beralih kepada Gus Dur. Tapi, “seni menciptakan kemungkinan” melalui Poros Tengah tetap merupakan prestasi dalam melawan kebuntuan politik.
Wajar jika romantisme itu menggoda sejumlah kalangan untuk menghidupkan kembali Poros Tengah. Namun, mungkinkah Poros Tengah direalisasikan lagi? Rasanya tidak mudah. Bagaimanapun, Poros Tengah sangat ditentukan oleh tokoh-tokoh inti yang bisa jadi perekat. Ketika itu, tahun 1999, Amien Rais (PAN) dan Gus Dur (PKB) memegang peranan kunci. Kedua tokoh itu masih sangat berpengaruh di Muhammadiyah dan NU, dua kekuatan Islam terbesar di Indonesia. Seperti diketahui, antara PAN dan Muhammadiyah, serta antara PKB dan NU, masih memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Kedua tokoh itu juga telah menjadi simbol anti-status quo di zaman Orde Baru.
Karena itu, ketika Amien dan Gus Dur bersatu membentuk koalisi parpol-parpol Islam, maka koalisi itu terasa lebih legitimate, dan membangkitkan gairah kekuatan politik Islam lainnya untuk bersatu. Poros Tengah sendiri sering disebut sebagai puncak kemesraan antara kalangan Nahdliyin dan Muhammadiyah. Faktor ketokohan Yusril Ihza Mahendra dan Hamzah Haz juga tidak dapat diabaikan dalam pembentukan Poros Tengah.
Nah, tokoh perekat seperti itu tampaknya sekarang sudah tidak ada lagi. Amien Rais kini tidak lagi menonjol di PAN. Di sisi lain, aroma Muhammadiyah sudah kurang terasa di tubuh PAN. Sementara Gus Dur sudah tersingkir dari PKB. Ditambah lagi, dibanding tahun 1999, kini NU tampak lebih “berjarak” dengan PKB. Dengan kondisi ini, mungkinkah peran Amien tergantikan oleh Sutrisno Bachir (Ketua Umum PAN)? Juga mungkinkah peran Gus Dur tergantikan Muhaimin Iskandar (Ketua Umum PKB)? Rasanya belum memungkinkan.
Karena itu, Poros Tengah jilid II harus dikemas dalam format baru, dan tidak melulu berkutat pada kekuatan politik Islam. Poros Tengah II juga harus bisa merangkul kekuatan lainnya. Kemungkinan-kemungkinan baru harus tetap diciptakan untuk mengimbangi hegemoni parpol besar dalam penentuan capres. Ini untuk memberikan alternatif kepada rakyat.




















seharusnya para pemimpin partai yang bernafaskan islam harus bersatu,jika bersatu pasti menang insya allah.coba kita kembali pada kitab alquran dan hadist
Tatkala RASULULLAH,SAW.hendak mengirim,MUAZD BIN JABAL.menjadi gubernur Yaman,beliau bertanya dulu dengan apa engkau memutuskan suatu perkara,Muazd bin Jabal menjawab,apa yg ada dalam kitab Aquran,bila tdk ditemukan,dengan Hadist,bila tdk ditemukan juga,Ya RASULULLAH YANG MULIA,Saya akan berijtihat dgn sekuat kemampuan yang saya miliki.Seandainya para pemimpin Negara/Rakyat MEMILIH,Pemimpin yang seperti yang di contohkan oleh Rasulullah.saw.Maka Negara ini akan makmur.Kedepan para tokoh ummat islam perlu dipikirkan
Sebuah saran yang bagus, semoga saja apa yang ada dalam tulisan ini dapat dibaca oleh semua Pimpinan Partai Politik yang ada yang bukan hanya Yang Berbasis Islam akan tetapi Non- Islam (Nasionalis,red) juga.
*semoga terbukti apa yang di prediksikan…
Banyak orang pada era sekarang ini politik dijadikan sumber mata pencaharian bukan lagi sumber penyampaian amanat rakyat, jadi yang dijadikan sasaran adalah Uang untuk kepentingan sendiri. Padahal politik (Parpol) adalah merupakan kendaraan amanat rakyat untuk menuju kepada kesejahteraan dan keadilan yang harus dinikmati bersama……Sadarlah wahai para pembawa amanat rakyat…ingat didunia hanya sementara tapi diakherat adalah tujuan yang kekal abadi!!!
Yg menggagas sudah pengen jadi Presiden, tetapi ketokohannya jauuuh sekali dengan Gus Dur. Cukup bermimpi saja ! Tidak usah muluk-muluk
Kalau dulu poros tengah terkait panasnya persaingan antara Megawati dan Habibie. Sekarang porors tengah jilid II terkait panasnya apa ya
Kalo jalan sudah sempit apalagi kalo ada perkiraan jalan buntu,diprlukan satu terobosan yang dulu pernah berjaya yakni ” POROS TENGAH” namun sekarang ini momentnya masih tepat?karena jaman telah berubah,tapi silahkan coba.barengkali manjur.
upaya menghidupkan kembali poros tengah tidak lepas dari kepentingan politik penggagas ide. di tengah persaingan menuju puncak pimpinan nasional yang didominasi muka-muka lama mereka ingin mencoba peruntungan. boleh- boleh saja mereka melakukan itu karena Indonesia adalah negara demokrasi, jadi setiap warga negara mempunyai hak yang sama termasuk dalam politik yaitu hak untuk memilih atau dipilih.
tapi kalau prediksi saya untuk pemilu 2009 masih akan tetap dimenangkan oleh partai nasionalis dan presiden juga dari golongan nasionalis. ini dikarenakan penilaian masyarakat terhadap partai Islam dianggap hanya membawa agama sebagai dagangan politik semata, akan tetapi perilaku politisi Islam tidak lebih baik dari yang lain. tokoh-tokoh nasionalis yang pernah duduk di pemerintahan baik sipil maupun militer ternyata lebih populer daripada tokoh yang menjabat ketua umum ormas Islam.
Lho yangnamanya tengah itu kan paling enak tho…jadi wajar deh kalau orang2 itu pengin enak…mestinya bukan kekuasaan orientasinya tapi mensejahterakan rakyat…om….! ah…kata-kata itu terlalu indah memang…Poros Tengah??? Harapan Kosong…
Wacana poros tengah merupakan solusi yang tepat dalam membangun negara ini, pengalaman kemarin menunjukkan bahwa poros tengah mengambil peran yang cukup signifikan dalam percaturan politik indonesia saat itu. Namun disayangkan pemimpin yang terpilih kala itu ternyata tidak mencerminkan visi dan misi poros tengah yang digagas oleh pendirinya.
Sekarang ketika wacana tersebut kembali digulirkan, masyarakat bersikap apriori terhadap hal itu, ini dikarenakan preseden buruk yang terjadi ketika partai islam berkuasa. Wacana Poros Tengah jilid II yang dilontarkan oleh Din Syamsudin diragukan kemurniannya, apakah memang benar-benar bertujuan untuk kemaslahatan umat (masyarakat umum) republik ini ataukauh hanya sebagai kendaraan politik beliau saja.
Dari sebagian orang yang bersikap apriori terhadap hal itu, saya tidak termasuk di dalamnya, karena saya yakin ketika wacana ini dijalankan dengan niat mengedepankan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamiin, niscaya niat baik ini akan terwujud. Yakin Usaha Sampai
indonesia tak butuh langkah politik yang segemilang apapun.Tapi IndonesIA butuh revolusi tanpa tedeng aling aling.kalow perlu bunuh semua tokoh politik yang sangat sangat membodohi rakyat, yang manfaatin rakyat dalam bendera partai anu, demi kekuasaan.
Wuih,berat bgt materinya. saya cuma kasih saran,jgn bawa2 nama islam kalo dalam praktek nanti tidak mencerminkan kaum muslim. jgn pernah berbuat dzolim kepada rakyat.
Mengenai wacana poros tengah, asal nanti benar2 bisa mencerminkan wajah Islam yg sesungguhnya, saya dukung.. Namun kalau hanya u/ menggoalkan salah satu calon dan nantinya tidak amanah, wah apalah jadinya.. jangan sampai pengalaman posteng I terulang, umat ISlam hanya dibuat gembira di awal2 saja, selanjutnyaa… Moga saja wacana posteng ini murni u/ maslahan umat n bangsa Indonesia..
siapa lawan siapa kawannya aja masih abu abu … kok ada wacana poros tengah ya ? ~kabur
menurut saya diperlukan sosok kayak amin rais dalam menyatukan lagi poros tengah. Emang sulit cari pemimpin jujur dan bersih kayak pak amin.
menurut saya, wacana untuk mendirikan poros tengah perlu untuk ditanggapi sebagai salah satu peta politik di indonesia. akan tetapi hal tersebut jangan terbawa sampai ke isu-isu yang sensitif seperti masalah agama.
poros tengah atau menggalang dukungan buat jadi capres? dulu poros tengah muncul setelah pemilu.. lah kok ini sebelum pemilu?? kalo sebelum pemilu kenapa ga sekalian aja munculkan ide merger parpol islam..klo dulu fusi dipaksakan pemerintah kan kalo sekarang kejadian berarti sukarela bersatu biar terlihat senasib sepenanggungan dan saya setuju bila hal ini yang terjadi hitung-hitung mengurangi anggaran dana negara buat parpol dan pemilu untuk dialihkan ke pos-pos lain yang membutuhkan..setuju??
Kenapa ya jaman sekarang paling banyak koq mikirkan golongannya sendiri ? Demokrasi OK, tapi yang berfikir u/ kepentingan seluruh bangsa agaknya koq minim, lalu bangsa ini akan menjadi bangsa apa ?? Mau pecah-pecah lagi ? Sekarang aja kita kan masih dijajah, ya otaknya, ya hatinya, ya pandangan hidupnya, semua kan niru bangsa asing to ? Ekonominya juga.Kalau niru asing semua, ya mesti beda-beda, lha wong asing itu banyak. Kapan ya kita bisa merdeka betulan ?
tetep merindukan suasana aman, nyaman, tenteram & murah sandang pangan papan seperti pada Zaman Pak Harto…. dan tetep TIDAK BUTUH trik2 politik yang membingungkan…
oalaahh, kok neko-neko to! untuk apa Posteng? yang ada aja suruh baik dan mikir rakyat kenapa? jangan sok jadi pahlawan kesiangan dech
Keliatannya PKS gak minat ama poros tengah.
mau Poros tengah Kek, Poros Samping Kek, Poros Atas kek….. rakyat tetep tidak peduli… Rakyat cuma merindukan Suasanan Aman, Nyaman, Murah Sandang, Pangan dan Papan seperti Pada Zaman Pak Harto…
Dalam sebuah negara Demokrasi, terlebih yang memiliki banyak partai, kreatifitas politik sangatlah diperlukan. Kreatifitas politik tentu saja memiliki cakupan yang luas; Partai Politik, Pembangunan Politik, Lembaga Politik, bahkan Paradigma Politik. Kreatifitas politik menjadi bentuk konkrit dari keterlibatan subyek-subyek politik dalam Politik Partisipan. Sebagai sebuah gerakan/movement (kelompok yang ingin mengadakan perubahan dengan tujuan yang lebih terbatas dan fundamentil serta bersifat ideologis, Lih. Prof. Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia Jakarta, 1982, h.162), Poros Tengah sangatlah dimungkinkan. Antipati terhadap berbagai upaya kreatif menunjukkan bahwa kedewasaan politik masyarakat kebanyakan belum terbina dengan baik. Justru di sinilah peran vital Poros Tengah, mampu menjembatani (menengahi) aspirasi masyarakat yang mungkin tidak tercover dalam Partai-Partai Besar. Mengingat visi yang diusung sangat berat (baca: hajat hidup orang banyak), maka perlu diformulasikan dengan baik dan bijak; libatkan berbagai unsur dan elemen dalam masyarakat (jangan hanya berbasis Partai Islam/Ideologi tertentu saja), misalnya: Praktisi Pendidikan, Kelompok Buruh, Pelajar dan Mahasiswa, Praktisi Kesehatan, Aktifis Lingkungan, dan lain sebagainya. Sejauh kita masih memiliki komitmen bagi kesejahteraan rakyat, kenapa tidak? Inilah Kreatifitas Politik, bukan Mempolitisir Kreatifitas.
Th. 2009 presiden dipilih oleh rakyat secara langsung tidak seperti th. 2004 dulu yang dipilih oleh MPR. Yang terpenting bagi rakyat kecil sekarang adalah soal perut dan mudahnya mencari minyak tanah/LPG, bukan mencari tiket ke akhirat. Poros-tengah adalah khayal. Walaupun dikatakan umat islam 90% tapi faktanya partai yang berbasis islam tidak pernah menang dengan partai nasional sejak pemilu th. 1955. Hidup nasionalisme.
satu yang pasti…politik sucks!!! Selalu ada kepentingan bermain disana sini. Kenapa bapak-bapak yang katanya selalu mencurahkan pikiran-pikirannya semata-mata demi rakyat, ga duduk bersama-sama dan hasilkan resolusi yang bisa bawa Indonesia ke arah lebih baik? Pikirkanlah semata-mata hanya rakyat, karena tanpa rakyat anda-anda itu juga bukan siapa-siapa toh?
HIDUP RAKYAT INDONESIA BERSATU!
Gw setuju poros tengah, supaya ada yang ngelawan partai besar khususnya golkar ama pdip. soalnya kebenaran bukan cuma milik golkar ama pdip. hidup poros tengah.
wacana poros tengah jld ii yg digulirkan tokoh PP Muhammadiyah saat ini adalah sangat perlu dan perlu bersatu bagi mencari solosi sahingga bisa menjadi penyeimbang bagi partai besar yang kemungkinan partai partai kecil tidak mungkin bisa bersaing dalam pencalonan capres 2009 . karena uu pilpres yang seolah olah mengebiri demokrasi itu ? Sahingga tokoh tokoh Yg dianggap bisa menjadi pemimpin bangsa tidak punya kendaraan yang solid. harapan saya para elit partai selain dua partai besar bersatulah agar bisa menjadi pembelajaran bangsa dalam arti memilih tokoh atau seorang pemimpin negeri yang selama ini dianggap kurang bisa . bersatulah dan segeralah kalau boleh poros tengah jadikan momentum untuk mencari pemimpin bangsa .
Saya mendukung POROS TENGAH. 1999 dan 2009 angka 9 sangat cocok untuk kemenangan poros tengah. Muhammadiyah jangan dicium aromanya, ingat Pemilu PERTAMA pemenangnya adalah MASYUMI yang isi dominannya Muhammadiyah.
yah saya sependapat kalau mau dibuat poros tengah harus sekuler, gak boleh cuma parpol islam. Karena kalau hanya mengandalkan itu saya yakin akan tidak efektif seperti tahun 1999. Tapi yang penting bukan penggalangan kekuatan aja tetapi galanglah kekuatan untuk memajukan negeri kita ini. I love indonesia
Bagiku POROS TENGAH JILID II sama sekali tidak memberikan harapan. Negara tercinta ini sudah babak belur. Bahkan sudah lebih ambruk dibanding negara Camelot seperti dalam film British itu. Satu-satunya obat untuk mengembalikan kewibawaan NKRI ini di mata dunia adalah dengan AMPUTASI. Ganti semua tokoh-tokoh tua yang kian pikun dengan tokoh-tokoh muda – tapi yang bebas dari kontaminasi neo-orba dan pengagum faham liberalisme/kapitalisme. HIDUP REVOLUSI!
kalau poros tengah jilid II ada lagi,nanti lima tahun lagi ada lagi POROS TENGAH TRILOGY…Amin Rais ikut main lagi gak ya……….?
Pemilihan Presiden di Indonesia akan selalu melahirkan model kerjasama politik seperti POROS TENGAH ini, disebabkan jumlah partai yang ikut dalam Pemilu lebih dari 3, sehingga tidak ada satupun partai yang dominan dalam PEMILU. Pada tahun Pilpres 2004 pun terjadi POROS TENGAH, hanya namanya berbeda, dan tidak disebutkan sebagai POROS TENGAH. DI Pemilu dan PILPRES 2009 kembali model POROS TENGAH ini akan terjadi.
Master Pemilu
Sejauh ini 2-3 tokoh kuat yang bisa menggalang POROS TENGAH sepertinya belum ada, berbeda waktu tahun 1999, saat itu ada amien dan gus dur yang bisa menggalang itu. Ketum muhamdiyah dan NU, tipikal modelnya tidak seperti tokoh sentral Poros Tengah pada tahun 1999. Jadi kita tidak bisa romantis lagi mengharapkan Poros Tengah bisa terjadi lagi.
Raka
POROS TENGAH Jilid 2, sejauh ini sampai dengan awal januari 2009 keliatannya tambah sepi-sepi saja. Semoga ada pilihan lain yang bisa membawa negara ini menjadi lebih baik.
Ella
Ibarat lagu nostalgia “Poros Tengah” memang indah dan manis. Faktanya, saat ini “perubahan” begitu cepat bergulir, dibutuhkan solusi konkret dan efektif untuk melakukna percepatan terhadap perubahan itu sendiri, so “Poros Tengah” telah berlalu, “Poros Tengah” hanya kenangan manis sebagai “Album JADUL”.
Saatnya, menggelorakan perubahan disertai konsep yang jelas, terukur, dan berfihak terhadap Rakyat.
Selamat Jalan “Poros Tengah I”, Lupakan “Poros Tengah II”…saatnya Menatap Hari esok dengan semangat dan kerja keras. Mimpilah untuk hari esok dan masa yang akan datang.
poros tngah poros pinggir bnyak porosnya sih achh…bingung dech… yg penting aman2 aja yo gos, jgn cakar2an piz,piiz,pizzz damailah indonesiaku trcinta…..