Thursday, May 23, 2013

Eat, Pray, Love

December - 15 - 2008

Dal centro della mia vita venne una grande Fontana…
“From the center of my life, there came a great fountain…”

—“Eat, Pray, Love” by Elizabeth Gilbert, p. 39
(taken from a poem by Louise Glück)

Penulis: Elizabeth Gilbert
Penerbit: Viking Adult, 2006

Empat bulan berada di Italia, Elizabeth Gilbert mulai menemukan kekuatan dalam dirinya untuk bangkit dari reruntuhan jiwanya: pascaperceraian dan kebangkrutan. Di Italia, Gilbert bukan turis biasa. Negeri itu baginya merupakan tempat pelarian, awal sesuatu yang baru, yang dapat menghidupkan kembali seorang perempuan usia 30-an, yang sedang kehilangan kendali hidup. Lewat pendalaman bahasa asing yang eksotis, perkenalan dengan orang-orang Eropa yang penuh kehangatan, serta piring demi piring pizza dan pasta nan lezat, penulis asal New York itu kembali menemukan alasan berdamai dengan dirinya.

Tapi tak semudah itu berdamai dengan Jiwa yang terus dirongrong Depresi dan Kesepian. Meninggalkan keramaian Italia, ia pergi mencari ketenangan India. Di sana, ia menetap sebagai murid dan pelayan sebuah ashram. Sebagai murid, ia belajar meditasi dan membangun hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Sebagai pelayan, ia bekerja bagi Guru dan sesama penghuni ashram. Di India pula, ia belajar makna ajaran kitab Bhagavad Gita, bahwa lebih baik menjalani nasib sendiri secara tidak sempurna daripada meniru hidup orang lain secara sempurna. Episode di India bagi Gilbert adalah Episode Pencerahan Spiritual.

Baca selengkapnya di sini.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

9 Komentar pada “Eat, Pray, Love”

  1. zanikhan.tk says:

    di coba untuk di “terjemahkan” dalam kehidupan….

  2. sanjaya says:

    bisa kita ambil dr ulasan di atas,bahwa hidup yg dialami Elizabeth Gilbert bisa dialami oleh siapa saja. Sesulit apapun masalah yg kita alami sebenarnya selalu ada solusinya selama kita sabar dan sadar pada saat kita mendapatkan masalah dan berserah diri pada Nya ssdh kita berusaha utk mengatasinya. Dan yakin kita akan mendapatkan apa yg kita inginkan yg mkn lebih besar dr yg kita bayangkan. Intinya hidup ini adalah perjuangan jadi ya jalnkan saja!

  3. adi purwo says:

    tiap manusia punya cara yang berbeda-beda dalam meraih kebahagiannya. dan tiap manusia juga punya terjemahan yang berbeda mengenai arti kebahagiaan. pada dasarnya kita tidak akan pernah bisa mengejar kebahagiaan, karena letak kebahagiaan ada dalam rasa syukur kita atas segala nikmat yang telah diberikan Tuhan kepada kita. keberhasilan mengumpulkan materi, pencapaian karir yang gemilang, pasangan hidup yang mempesona tidak menjamin kebahagiaan hidup. semua kitab suci agama yang ada di dunia bersuara sama, yaitu mengajarkan kepada umat manusia untuk tidak terlarut dalam kemilau duniawi. manusia harus mampu mengendalikan dirinya dalam menjaga keseimbangan pemenuhan kebutuhan material maupun spiritualnya.

    cobalah untuk tidak mencari kebahagiaan, tapi bahagiakanlah orang disekitar kita, maka kebahagiaan akan mendatangimu.

  4. apa adanya emang selalu lebih baik kok dibanding ada apanya ~kabur

  5. momon says:

    Hidup penuh perjuangan, dan ini di alami oleh setiap insan. Yang paling penting bagaimana kita bisa menerima, mengatasi masalah hidup tersebut agar kita bisa survive.
    EAT,PRAY,LOVE:
    Eat for life, kalau kita ga makan, maka mati dehhhhhh. Allah memberikan bumi dengan segala apa yang terkandung di dalamnya, untuk di olah oleh manusia (manusia sebagai khalifah di muka bumi ini).Maka makanlah apap-apa yang telah di halalkan.
    PRAY : tentu kita harus pray, hidup di dunia tidak abadi (tidak kekal), dan janganlah kita terperdaya dengan hidup yang tidak kekal ini, tujuan hidup kita adalah akherat yang kekal dan abadi. Jadi gunakanlah hidup di dunia ini untuk pray, agar kita bisa memetik kebahagian di akherat kelak…begituuuuuuuuu jerrrrr.

    LOVE: bercinta itu penting, hidup tanpa cinta adalah hampa……Anugrah Allah yang diberikan kepada kita kasih,sayang, nafsu dan sebagainya..Bukankah Allah juga telah menciptakan alam ini berpasang-pasangan…..Oleh karena itu carilah pasangan itu agar kita bisa saling mencintai dan menyangi….

    EAT-PRAY-LOVE : selalu ada pada jiwa manusia….Namun bagimana kita bisa mensinergi kan semua itu……terseharah anda…..

    Cherrr Momon

  6. arqu3fiq says:

    Wah bagus penuh dengan petualang. Kayaknya bagus harus beli dan membaca samapai tuntas.

  7. Agung says:

    Ini buku udah keluar tahun lalu dan saya beli januari 2008, Cerita nya tentang medicine man di Bali ketut liyer itu bohong belaka. Saya orang Bali jadi saya tau yang nama nya ketut liyer di desa Ubud itu hanya ingin rip off para tourist yang kesana dengan menbaca jalan hidup mereka lewat garis tangan, bohong belaka. jadi jangan percaya omongan kosong tersebut. Tapi ini hanya saran kalau Anda mau beli dan mencoba itu terserah anda. Cheers.

  8. Sigit Kristiantoro, SS.B.Th. says:

    “Non Scholae Sed Vitae Discimus”, sebuah validasi empirik dari kisah pengalaman Elizabeth Gilbert, “Belajar bukan hanya untuk sekolah, tetapi untuk kehidupan”. Ada banyak cara, waktu, dan tempat di mana kita bisa belajar, salah satunya dari berbagai peristiwa dan pengalaman kehidupan kita. Kebahagiaan bukanlah sebuah akhir atau hasil, tetapi lebih sebagai sebuah proses yang kita pilih. Inilah sejatinya manusia pembelajar, orientasi proses adalah gambaran dinamika perjalanan hidup manusia. Belajar berarti melihat berbagai pengalaman kehidupan secara jujur dan memaknai setiap detailnya dengan keseimbangan budi dan hati.
    Manusia pembelajar tidak pernah akan berhenti, sebab segala sesuatu adalah bahan belajar. Pembelajar sejati tidak “hidup di perbatasan”, sebab batas hanyalah dimensi ruang dari segala sesuatu yang sebenarnya tak terbatas. Batas memberi pertanda bahwa di seberang sana masih tersimpan berbagai realita kehidupan yang menanti untuk dipilih. Batas justru memberi ruang bagi kita untuk menjadi petualang, meskipun tidak harus ke Itali, India, dan Bali. “Eat, Pray, Love” adalah hasil dari sebuah petualangan yang jujur dalam proses hidup. Justru “kejujuran” itulah yang menjadi “core values” (nilai inti), sebab dengannya kita bisa melihat berbagai macam tawaran dan bersamanya kita bisa memilih mana yang bisa mendatangkan kebahagiaan sejati. Sayangnya, kejujuran ini semakin hari semakin mahal harganya…

  9. moko says:

    kadang hal baik dateng justru ketika tidak terlalu banyak mengharapkan kebaikan dan lebih kepada memberi.
    ketika liz tidak beraharp terlalu banyak pada hubungannya dengan kekasihnya, dia justru merasa laki-laki itulah orang yang tepat dan mebuatnya bahagia.
    pada dasrnya buku ini mengajarkan, setiap hal baik akan datang pada akhirnya.Tinggal cara kita menemukanya.

Tinggalkan Komentar