Thursday, April 17, 2014

Terhasut “Maryamah Karpov”

December - 9 - 2008
terhasut-maryamah-karpov

Moh Samsul Arifin

Pejaten-Tugu Pancoran, akhir November 2008. Hujan memukul jendela, menerjang daratan dan menyulut kemacetan hebat. Sudah pasti aku terlambat ke tempat acara. Tapi, sejurus kemudian seseorang di sebelahku membuka bukunya. Gambar biola yang didekap mesra pemainnya menyelinap. Baris-baris kalimat terlintas di depan mataku, “Maryamah Karpov”—Mimpi-mimpi Lintang. Aha…buku ini adalah sekuel yang paling ditunggu para pecinta Laskar Pelangi yang telah difilmkan pula. Provokasikah?

Kali ini, ia tak lagi bercerita soal piawainya Andrea Hirata membingkai cerita, menyusun kata dan melempar mimpi kepada pembaca. Lebih konkret dari itu, ia membacakannya untukku. Lebih setengah jam Pejaten-Tugu Pancoran, 20 halaman telah diperdengarkannya padaku. Aku terhasut…Ya oleh kepintaran seorang Melayu yang tengah bergelut memperoleh master di Universitas Sorbonne, Prancis.

Seorang calon grand master asal Georgia, Ninochka Stronovsky mati kutu di depan para doktor dan profesor yang menguji tesisnya. Stronovsky yang anak kandung peradaban Eropa gagal, bagaimana pula dengan anak Melayu?

Sungguh keliru sembilan puluh sembilan meremehkan anak Nusantara. Andrea membuktikan itu, saat ia bisa meyakinkan Dr Antonia LaPlagia, doktor paling sinis di kampusnya, bahwa logika matematika yang ia susun dalam tesisnya dapat diterima. Anak Melayu ini, telah membuat perhitungan dengan tuntas bahwa nasib manusia—dengan latar belakang apa pun, termasuk kuli timah di Belitong—dapat diubah dengan kerja keras. Inilah suku kata pertama yang mengarahkan banyak hal yang terjadi pada Ikal—tokoh utama—hingga kalimat terakhir “Maryamah Karpov”.

Hasutan yang berhasil…karena selepas itu, aku terpompa untuk menyelesaikan “Maryamah Karpov” hingga halaman terakhir. Renyah seperti kacang goreng, sang penulis mendiskripsikan sederet warga Belitong di kampungnya. Penuh detail, menyibak dan yang pasti menawarkan “kejutan”. Simak Bang Zaitun—sopir angkutan, bekas pemimpin orkes Melayu. Sungguh santai tokoh ini menjalani hidup. Pernah gagal, namun seni memberi padanya ilmu untuk menyiasati hidup. Dengan cara itu, penumpang yang naik bus miliknya dapat mereguk “madu” dari titik nol sejak orang itu menginjakkan kaki di Belitong. Beragam watak manusia disingkap penulis. Kita pun menyaksikan spektrum pelangi kepribadian manusia.

Kian terhasut karena aku menikmati fiksi dalam sebagian besar halaman. Njoo Xian Ling, ini kata lain dari cinta bagi Ikal, yang menggerakkan fiksi Andrea tersusun rapi. Etos seperti apa yang bisa menjelaskan master ekonomi komunikasi bisa merancang perahu yang memerlukan perangkat fisika dan konstruksi? Energi apa pula yang bisa menggerakkan seorang jadi kuli timah, menebang pohon dan kerja serabutan lainnya demi mengumpulkan sen demi sen rupiah? Atau keberanian jenis apa yang membikin seseorang rela menyeberangi lautan demi mengetahui nasib seseorang yang belum pasti masih hidup atau tidak?

Demi perahu Ikal rela kerja keras. Bahkan sudi menempuh sedikit “petualangan mistis” yang jadi kegemaran Mahar—sahabatnya yang putar haluan menjadi dukun amatir. Ikal juga dibantu sang jenius “Issac Newton” yang menghuni pikiran cerdas Lintang. Maka tersusunlah, perahu asteroid yang tersusun dari papan lambung perahu milik perompak abad 19. Lintang lah yang menentukan ukuran perahu itu dari panjang, bobot, jarak lengkung lambung, linggi, tinggi lambung hingga motor dobel 40 tenaga kuda. Pokok kata, inilah “Mimpi-mimpi Lintang” yang lantas disematkan pada perahu tersebut.

Ya…perahu inilah yang membawa Ikal ke pusat mimpinya yang lain, cinta. Ikal pun mendaki, menerabas setiap halangan, bahkan rela menukar nyawa menembus ganasnya ombak yang membelah Belitong dan Batuan, pulau luar dekat Singapura. Seluruhnya dilakukan asal bertemu A Ling…Pendakian Ikal ini memang membawa hasil. Pujaannya selamat dan bisa dibawa pulang. Namun, penulis menyudahi petualangan Ikal yang ksatria dan mendebarkan itu dengan klise. Sang ayah tak merestui Ikal meminang A Ling. Pembaca diminta menebak sendiri, apa sesungguhnya alasan ayah Ikal menolak. Tapi diatas segalanya, Ikal masih memburu, “…aku tak kan menyerah pada apapun untuknya…”

Penutup yang sia-sia. Meski begitu bukan tak mungkin justru akan mengantarku pada tiga sekuel terdahulu. Mungkin saja…

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

57 Komentar pada “Terhasut “Maryamah Karpov””

  1. Jabon says:

    memang bagus sih ulasannya.sudah cukup mewakili.Tapi buat yang sudah baca yang 1-3 jadi binggung kok “maryamah karpov”nya cuma di masukin setengah2 mending nggak usah sekalian atau dibahas di buku maryamah karpov jilid 2

  2. Djoko Widodo says:

    Saya sudah curiga bahwa seri keempat ini hanya sekedar “ngambeknya” Hirata pada kultus dirinya. Maka jadilah Maryamah Karpov terasa banget gigitan fiksinya.
    Kecurigaan saya terbukti dengan hadirnya Padang Bulan dan Cinta Di Dalam Gelas..yang tak lain adalah Maryamah Karpov 2. Bagaimanapun, salut buat Hirata atas keberhasilan tuturnya yang mampu mengaduk emosi pembaca dan sesekali melontarkan kritik lucu ringan atas kondisi aktual bangsa ini.

  3. khoda says:

    sebenarnya Ninochka itu ada nggak sih ?
    klo ada siapa nama aslinya ?

  4. Rama says:

    Emang semua yang ada di tetralogi laskar pelangi nyata? kok kisah ikal dan A ling gak ada lanjutannya? trus maryamah karpov di dwilogi padang bulan jadi tokoh kakak buat ikal, padahal di maryamah karpov, maryamah adalah makcik.

  5. Rama(ade rahma) says:

    Novel” andrea hirata dah ngebuat sya jd pemimpi!sya b’hrap karya andrea ttap b’lanjut!

  6. Ria says:

    Saya sedikit bingung dgn tokoh ‘Maryamah’ ini. Spt komen Rama diatas atas saya. Yang saya tahu dari novel Maryamah Karpov, Maryamah adalah makcik dan putrinya yang lihai memainkan biola, itu pun sedikit cerita di dlm novel itu. Sedangkan Maryamah di Cinta di Dalam Gelas adalah pendulang timah dan pemain catur wanita pertama di Belitong. Justru di Cinta di Dalam Gelas lah Maryamah Karpov lbh bnyak diceritakan a.k.a mendominasi. Ini penempatan judul yang agak gimana atau emang strateginya Andrea Hirata? Anyways Andrea itu masih T.O.P menurut saya u,u

  7. maoels says:

    ah ternyata bukan saya saja yang bingung. Awalnya saya fikir itu semua nyata, ternyata fiksi ya hehe.. tapi seru lah baca nya, kadang cekakakan sendiri kadang juga sedih sendiri.

Tinggalkan Komentar