Merdi Sofansyah
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ritual ibadah haji tahun ini sarat dengan keluh kesah para jemaah tentang lokasi pemondokan yang jauh dan sulitnya mencari tranportasi menuju Masjidil Haram. Entah apa alasannya, lokasi pemondokan jemaah haji Indonesia saat ini jauh dan terpencar-pencar di segala penjuru kota Mekkah.
Satu diantaranya yang saya kunjungi tepat berada di sisi Bukit Tsur yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Masjidil Haram. Jauh dari denyut kehidupan. Tak ada penjual makanan apalagi taksi yang menuju ke lokasi mereka. Satu-satunya harapan adalah shuttle bus yang hanya tersedia di jam-jam tertentu. Tentu saja, saat seluruh operasional bus dihentikan, mereka seakan “terpenjara” di pemondokannya. Tak bisa pergi ke Baitullah, sehingga hanya nongkrong dan bercengkrama dengan teman sesama maktab. Sehingga muncullah istilah haji maktab, kata mereka.
Tahun-tahun sebelumnya, lokasi pemondokan jemaah haji Indonesia terkonsetrasi dalam blok-blok tersendiri dan yang paling jauh hanya berjarak sekitar 6-7 kilometer dari Masjidil Haram. Perluasan Masjidil Haram yang dilakukan saat ini dijadikan kata pamungkas untuk mengacak-acak area lokasi pemondokan.
Namun jika itu alasannya, mengapa hanya jemaah haji Indonesia yang terpinggirkan. Mengapa pula blok-blok pemondokan yang dekat dengan Masjidil Haram dan dahulunya ditempati jemaah Indonesia kini justru berkibar bendera negara lain di dindingnya ? Padahal dari semua negara yang datang ke Arab Saudi, kuota Indonesia adalah yang terbesar, mencapai 210 ribu orang.
Ingin mencari salah satu lokasi pemondokan Indonesia ? Jangan harap bisa menemukan kalau tak berbekal peta atau pemahaman yang cukup tentang kota Mekkah. Apalagi sebagian besar sopir taksi di Mekkah saat musim haji adalah sopir sewaan yang belum tahu persis lekuk liku kota ini. Saya pernah menemukan sebuah minivan yang membawa jemaah Indonesia dan sudah berputar-putar mencari pemondokan mereka. Wajah para penumpangnya nampak lelah dan keringatan karena berdesakan lama di dalam kendaraan. Cerita tentang jemaah haji yang nyasar, terlalu sering ditemui, terutama di maktab yang jauh dan terpencil. Mencari dengan mengurutkan nomor pemondokan juga bukan ide yang bijaksana, karena seringkali nomor tersebut dibuat acak.
Meski menempati banyak rumah yang baru, tapi jangan juga bicara tentang fasilitas. Di kamar yang berukuran sekitar 7 x 4 meter harus dijejali 7 bahkan hingga 10 ranjang. Hanya sedikit ruang sempit tersisa untuk bergerak orang. Belum lagi debu karena beberapa rumah pemondokan ada yang masih direnovasi. Maka, penyakit batuk seakan jadi wabah, karena cepat menular. Salah seorang tim medis di sebuah pemondokan, sempat mengaku kehabisan formulir berobat, saking banyaknya pasien yang datang.
Apa yang ingin diajarkan pemerintah kepada para jamaahnya? 600 bus yang kabarnya disediakan, sudahkah berjalan semestinya? Bukan rahasia lagi, jika bus yang harusnya gratis, tetap saja ditarik ongkos 1 real (Rp. 3.500) per jemaah agar bus segera berangkat.
Sabar dan tawakal memang harus mengiringi setiap langkah manusia menjumpai Sang Khaliknya. Namun ternyata sabar juga ada batasnya. Peristiwa perusakan kaca bus yang dilakukan beberapa jemaah di sektor 7 beberapa waktu lalu membuktikan bahwa di Mekkah sekalipun jemaah haji bisa emosi karena mendapat layanan yang kurang memadai.
Padahal, esensi haji adalah mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Sedekat dan sesering mungkin. Sehingga mengunjungi Masjidil Haram dan sholat lima waktu di sana adalah dambaan setiap jemaah. Kalau bisa, setiap orang yang pergi ke Mekkah ingin disebut haji mabrur, bukan haji maktab.




















Ass.wr.wb
Astagfirullah,Astagfirullah,Astagfirullah…..
saya sangat sedih membaca dan mendengar berita tentang jamaah haji indonesia yang begitu memprihatinkan…
Untuk para pejabat yang berwenang dlm menangani haji dan pemerintah hendaknya bs lebih tegas dalam mengambil kebijakan dengan pemerintah Arab saudi,agar jemaah haji dr indonesia ini d perhatikan krn indonesia adlah quota terbesar dr negara2 lain.
Kasihan sekali melihat jamaah Haji dari negeri kita, bukannya tenang dan nyaman beribadah, tetapi malah “tersiksa” dengan kurangnya fasilitas. Padahal jamaah haji dari negara kita kebanyakan sudah uzur. Saya heran apa saja yang sudah dilakukan pemerintah dan DEPAG selama ini?
wah ternyata Indonesia (pemerintah,red) kurang bisa memahami keadaan kota Mekkah dan Arab Saudi…
*hanya bercermin pada yang lain, mereka bisa lebih “ngeh” pada keadaan Jamaahnya…
“Sabar dan tawakal memang harus mengiringi setiap langkah manusia menjumpai Sang Khaliknya. Namun ternyata sabar juga ada batasnya. Peristiwa perusakan kaca bus yang dilakukan beberapa jemaah di sektor 7 beberapa waktu lalu membuktikan bahwa di Mekkah sekalipun jemaah haji bisa emosi karena mendapat layanan yang kurang memadai”.
yang saya tahu, SABAR itu sendiri tidak ada batasnya, tetapi kemampunan manusia untuk senantiasa bersikap Sabar itu yang terbatas. Karena manusia pada hakekatnya senantiasa berproses. Mudah2an ibadah haji yang sedang dijalani ini kembali meningkatkan kualitas keSabaran para Jamaah haji Indonesia.
“Selamat menjalankan Ibadah haji, Semoga benar-benar mendapatakan haji Mabrur”. Jangan Lupa, doakan anak negeri agar menjadi Adil dan Sejhatera serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
wallahu’alam, Selamat bertugas Haji Merdy
Sebelum menulis, mas merdy ini harus tahu dulu apa itu haji. Saya kira kalau mas merdy tahu apa itu haji, mas merdy gak akan menulis seperti ini. Yg namanya haji itu ya WUKUF DI AROFAH + rukun2 haji yg lain. Mengenai arbain, sholat 5 waktu dimajidil harram, mengerjakan umroh yg ber ulang2, itu gak ada tuntunannya, semampu kita aja. ALLOH SWT selalu memberi keringan pd kita, semampu kita. Kalau kita dimaktab, kita gunakan aja untuk mendekatkan diri, berzikir dsb, sbb kita masih di tanah harram. Dan mengenai org sabar, islam tdk mengenal apa yg namanya “SABAR ADA BATASNYA”, itu bukan ucapan org islam. Dalam islam “SABAR GAK ADA BATASNYA” mas.
Haji mabrur tdk bisa hanya disebut, karna yg tahu hanya ALLOH SWT
dan org yg melaksanakan ibadah haji itu sendiri. Mas merdy jgn takut kalau pulang dari haji nanti, nggak dipanggil HAJI MERDY, krn itu tdk penting. Yang penting sepulang dari haji nanti ,mas merdy bisa berubah jd sabar, baik sama org sekitar dll kebaikan, mas merdy pasti akan masuk dlm kriteria seorang haji yg menuju mabrur, insya ALLOH.
Wallohuaklam bissowwaf..
sabar ya,tidak dapat fasilitas yang memadai….. ALLAH lebih tau yang terbaik…..toh pahala yang mengatur ALLAh……….Amin….
Semoga Allah memberikan,melapangkan dan meluaskan kesabaran seperti Allah Meluaskan Barat dan Timur bagi saudara saudara kita yang sedang beribadah Haji.Semoga Ibadah nya di terima Allah SWT dan Mabrur.Amin
mungkin orang indo pengen untung yang gede,soalnya kalo tempat yang terpecil biayanya lebih murah,dan mungkin juga karena kurang koordinasi,yang baik dari jauh-jauh hari sehingga gak dapat penginapan yang dekat dengan masjidil haram, orng indo kan menganggap semuanya gampang -gampang aja,itu kebiasaan orang indo.”GAMPANGLAH KALO UDAH NYAMPE.”
Sedih dan terharu saya membacanya,namun apapun alasannya hendaknya ini dijadikan pelajaran bagi pemerintah khususnya Depag,saya baca beritanya ICW menyuruh KPK tuk mengusut banyaknya kasus di tubuh Depag,terlebih lagi masalah ibadah haji yg rutin setiap tahun, namun juga rutin dengan masalah yg gak kunjung beres.Semoga KPK cepat tanggap dengan usulan ICW.Dan semoga pula para jemaah haji Indonesia,dapat menjadi haji yg mabrur.Amiin
Masih sekitar 10 km kan. ya mbok seharusnya bersyukur Allah dah ngasih keringanan,msh byk umat muslim d tanah air yg blom bs menginjakkak kaki di tanah arab. di jaman ini,jaman dimana ibadah haji hanya dijadikan tren bagi beberapa golongan,dimana orang2 yg berangkat haji hanya dengan kemampuan materi,hanya untuk mendapatkan sanjungan dari manusia,kejadian seperti jauhnya pondokan saya kira cukup bisa dimaklumi. cuma beberapa kilometer saja,kenapa gak jalan kaki,bandingkan saja dengan berapa jauh anda berjalan seumur hidup anda,tidak ada apa2nya. Allah maha mengetahui,juga niat di hati kita. Allah maha besar,kejadian seperti ini seharusnya mengingatkan kita tentang kebesaran itu. niat kita kesana adalah ibadah,jadi fokuslah dgn hubungan kita dgn Allah. mengenai siapa dan apa aja yang telah mengambil keuntungan pribadi dari kita selama menjalankan ibadah haji,biarlah dipertanggungjawabkan mereka kepada Allah. masih percaya hari akhir kan. sebenarnya,semua ini sudah dijelaskan dalam Al-quran,kenapa harus terkaget-kaget,saya memang hanyalah org biasa2 yg hanya tahu sedikit,bahkan tdk bs membaca tulisan arab di sampulnya.
Itulah Haji, memang untuk menjadi manusia yang bertaqwa, untuk menjadi haji yang mabrur tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan. Oleh karena itu sebaik-baik bekal haji adalah TAQWA. Kalau kita mau benar-benar mengikuti amaln sunnah Nabi, masih banyak yang jemaaah haji tinggalkan. Haji sekarang tidak seberapa dibandingkan dengan perjuangan dulu dengan beberapa km harus berjalan. Dan bedanya sekarang biasa di indonesia enak, kemudian menghadapi kesulitan sedikit jadi agak di besar-besarkan. Mohon kepada jamah haji Indonesia, saya sarankan bersabarlah….bersabarlah dan bersabarlah…..Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabaar. Jagalah ucapan dari memaki orang dan sebagainya yang akan menghapus semua amalanmu.
Biarkan hanya Allah yang akan membalas, orang-orang yang menipu, orang-orang yang telah mendholimi jamaah.
Sekarang,,,temuin panggilan Allah…panggilan Allah untuk haji dah tiba..ucapkan lah TALBIAH…. LABAIKALLAH HUMMA LABAIK..
Adapun bagi pemerintah dan lembaga yang bertanggung jawab. Tolong di perhatikan lagi mengenai,tanggung jawabmu dalam mengeurus jamaah haji,,,, semua amalanmu akan di minta pertanggung jawabanya, tidak akan pernah bisa di tutupin di hadapan pengadilan Allah Aza wazalla yang maha adil.
mmn
Jemaah haji tdk ada yg diistimewakan.semua sama. Jd kalo disana terasa diperlkukan tdk adil harap jgn timbul emosi. Itulah ujian.Maka ketika mereka kembali ke tanah air insya Allah mereka tdk hanya bergelar Haji/hajah saja, melainkan amalan2 serta ibadahnya semakin meningkat shg menjadi contoh warga yg blm berkesemptan pergi ke tnh suci……..insya Allah.
Seharusnya pemerintah lebih perhatian terhadap jama’ah haji. Mestinya belajar dari pengalaman tahun-tahun yang lalu. Khan tiap tahun mengelola keberangkatan haji, pasti ada yang dapat dijadikan pelajaran supaya kejadian buruk yang serupa tidak menimpa jama’ah haji Indonesia.
Kalau untuk jama’ah haji, tiada kata lain selain “bersabarlah, setiap kejadian terkandung hikmah.”
Astagfurullah………..
saya kira itu cerminan bagaimana tingkah laku kita di tanah air…kalo di tanah air saja malas ke masjid ya tentu di tanah suci oleh Allah di persulit…ni pengalaman saya tahun lalu walo dekat masjid banyak jemaah kita yang hanya kong-kow…bahkan terkesan tawaf di pasar seng….yang perlu kita sadari adalah seberapa besar persiapan kita tuk ke mekkah itulah yang akan kita dapat di sana……
maap kalo salah…..
wassalam
betul sihh klo sabar itu ga ada batasnya, cuma utk pengeluaran yg bgt besar, dpt fasilitas yg minim, ya….harus makan ati kuadrat. coz, pemerintah dah punya jurus jitu yg sgt handal…ucapan ” sabar ya pak/bu” ucapan yg mana bg mrk sendiri amat sgt sulit melakukannya dan mungkin takkan pernah mau melakukannya, yg penting sdh punya moral ksh duit hbs perkara, mulai seluruh pejabat atas ke bawah tak ada bedanya.
bukan bermaksud menilai orang juga bukan bermaksud mengukur kemampuan orang.
pertama cek siapa pemilik agen haji walau pemerintah dalam hal ini depag, tapi perlu diingat bangsa kita selalu berdalih oknum.
nah oknum,….. yang aku sedikit tahu para agen ini adalah orang indonesia tapi mereka tidak memiliki jiwa nasionalis.
dan mereka adalagh pengusaha.
pengusaha tidak peduli halal haram yang penting untung.
tindakan apa yang sudah dilakukan pemerintah pada agen perjalan haji nakal nothing, sekarang ditutup tapi begitu dibuka lagi ya orang itu lagi yang menjalankan usaha, karena dari mereka adalah bagian keserakhan manusia.
any way selamat menjalankan ibadah haji , insyaallah menjadi haji mabrur , amal manusia hanya Allah yang tahu.
Oknum depag korupsi juga hanya mereka yang tahu, jadi apa yang boleh dibuat sebagai rakyat jelata.
serahkan ke wakil rakyat,…………..? kita juga tahu bahwa OKNUM wakil rakyat juga banyak yang kena karena dapat bagianya
saya rasa penulis sudah berada dalam posisi yang cukup benar, karena masalah ini harus segera terungkap kita berbicara pada fasilitas bukan pada rukun atau pun pengertian secara ibadah ataupun istilah dalam haji. oleh sebab itu kalau seandainya permasalahan ini ditinjau dari segi rukun haji maka pastinya ga nyambung karena permasalahan ini adalah permasalahan bagaimana para petugas kita menjalankan tugasnya bukan pada keabsahan haji itu tersebut. mudah-mudahan para diplomat ataupun pihak yang bertanggung jawab akan segera memperbaiki ini semua, buktikan sebuah slogan yang terpampang dengan banyaknya di saudi arabia ” Khidmatul Hujaj Syarofun lana ” ( melayani para hji adalah kehormatan bagi kami “. apakah membiarkan jama’ah terlantar adalah sebuah kehormatan bagi mereka ?……hadaa na Allahu Ajma’in….akhirnya wallahu waliyu tawfiq wa sadad…
Dibalik suatu masalah dan musibah pasti ada hikmahnya.kt percy 4jj itu maha bijak dan mengetahui.dg keberadaan jamaah haji indonesia yg spt ini insya 4jj mrk akan diberikan haji yg mabrur.amiin
Haji Maktab apa Haji Kolokan..? memang bnyak sekali saya lihat sendiri jemaah yg “enggan” untk menuju ke Arafah menunaikan tugas Wukuf nya dgn dalih ber-aneka ragam..Pada dasarnya mereka sudah melupakan syarat2 utama untk dpat menunaikan Ibadah Haji,salah satu nya;Mampu,Sehat Rohani – Jasmani nya!
Jdi tdak ada alasan krna tdk ada angkutan dllsbnya!Bagi yg jasmani nya tdk sehat ada angkutan chusus bwt mereka asalkan Mau membayar,misalnya saja yg lumpuh atau jompo tdk kuat mengerjakan Tawaf? Bisa menggunakan “Taxi” resmi alias Tandu yg digotong oleh supir2 taxi c kulit hitam.
Anyway, Disana semua fasilitas disediakan.
Andai saja ticket/kupon transportasi tdk terpakai? Uangnya dkembalikan kontan saat mau keluar airport Jeddah. Jdi tdk ada alasan2 untuk tdk bisa menunaikan Ibadah yg dijalani kecuali hrus ada di Hospital krna alasan kesehatan.Ktinggalan Bis? Tdk ada Angkutan? BISA JALAN KAKI! Eid Mubarak, Minal Aidin Wal Fa Idzin 1429H.
saya dengar dri seseorang,bahwasanya dari sekian banyak orang yang pergi haji setiap tahunnya yang jumlahnya kurang dari 3jt. yang diterima oleh Allah Swt hanya 600rbu orang setiap tahunnya.benarkah itu!!!,,pertanyaan saya, “jika itu benar”. mungkin ada benarnya jg,jangan-jangan mereka pergi karena membawa masalah dalam dirinya,,
semoga saja tidak.!!????
Sesungguhnya menunaikan ibadah haji itu baik dan merupakan salahsatu rukun islam,tetapi kita lupa bahwasanya syarat-syarat menuju tanah suci,berada di tanah suci,dan setelah dari tanah suci juga harus kita perhatikan.Kita lupa bahwa ada syarat “bagi yang mampu” yang kita jarang perhatikan,diantaranya mampu dalam dananya,dari mana dana itu didapat halal haramnya dsb dsb,kesabaran dan kepasrahan selama disana,memangnya kita disana mau ibadah atau sekedar ganti tempat tidur?setelah dari tanah suci apa tingkat moral,iman dan ketakwaanya bertambah atau berkurang,jangan2 hanya cari titel aja?.Dari sebagian kecil syarat2 yg saya kemukakan tadi tentunya akan berimbas kepada yang menunaikan ibadah haji itu sendiri,”wamayya’mal miskhaaladzarrotin khoiroyyaroh,wamayya’mal miskhaaladzarrotin syarroyyaroh”…Inamal a’maalu binniyat..bagi yang belum /tidak mampu jangan berkecil hati bukankah shalat jumat itu adalah naik hajinya orang fakir?…
Membaca cerita jamaah haji Indonesia sangat, sangat menyedihkan. Kenapa jamaah Indonesia selalu bernasib sial,apda jamaah indonesia merupakan jamaah terbanyak . Mudah- mudahan jamaah Indonesia dapat perlindungan dari Allah Swt. dan selalu mendapat kesabaran
Yang terakhir kali saya dengar melalui salah satu travel agen di jakarta setahun yll adalah: bahwa inventaris yang dimiliki pemerintah Indonesia di madinah misalnya ada wisma Indonesia, itu dah dijual ama menteri Agama yg sekarang semenjak ia menjabat. Kenapa wisma Indonesia malah dijual. Alasannya waktu itu adalah:operasional cost dari wisma2 haji tsb diluar bulan haji itu ada, tetapi kalau ada anak/kerabat pejabat yang umroh, itu selalu mereka ga bayar di wisma haji tsb. Sekarang, yg saya denger, malah menteri agama mau beli lagi untuk dijadikan wisma haji Indonesia. Dulu kenapa di jual?Padahal kan wisma haji itu diluar musim haji mestinya bisa dioprimalkan, misal dijadikan hotel kelas murah untuk jemaah umrah Indonesia.Inilah kacaunya kita. Kemudian untuk yang sekarang dikatakan lokasi pemondokan jauh, padahal dulu sempet deket. Menurut menteri agama sendiri, bahwa yang dulu sempet deket itu karena kita yang “nakal” nyerobot duluan dalam hal penyewaan pemondokan jemaah haji milik Turki.Mending yang paling aman adalah, pemerintah indonesia bisa kembali punya properti pemondokan disana. Kan diluar musim haji juga bisa dikomersilkan untuk menutup operasional cost diluar musim haji kalau ada. jadi ga dibiarkan nganggur. Mengingat pasti hal semacam ini akan terus berulang.
Mending buat saya mah: pemerintah kasih duit aja lah sama jemaah haji, biar jemaah haji cari makan sendiri. Kalau saya jadi calon haji, saya mendingan tinggal di Masjidil haram, saya cari makan sendiri diluar.Mandi juga dah ada toilet dan tempat mandi dihalaman Masjidil Haram wong saya mo fokus ibadah. Ngapain capek2in pulang ke pemondokan? pemondokan itu cuma buat parkir barang aja.Gitu aja koq repot
Itulah cermin pemerintah yang tidak visioner. Pemimpin kita berpikir jangka pendek, tiap tahun bikin panitia, cari rumah, cari akomodasi, cari transportasi, cari catering, dsb. Nggak beda jauh dengan kepanitiaan karang taruna di kampung. Kalau karang taruna, salah satu tujuannya adalah memberikan pengalaman organisasi pada panitianya. Tapi kalau panitia haji??? Masa’ iya tiap tahun harus mengulangi step-step kepanitiaan yang sama? Kapan bisa bikin efisiensi kalau setiap tahun adalah tahun pembelajaran?
Padahal tiap tahun harus mengurusi 210.000 jemaah. Tapi tiap tahun mencari 900 rumah pondokan untuk ONH. Yaaa mana mungkin bisa memuaskan? Mana mungkin bisa dapat 900 rumah dengan stándar yang sama? Coba kalau berpikir visioner. Bekerja sama dengan pemerintah Saudi untuk membangun 100 rumah/asrama masing2 berkapasitas 2000 orang. Maka dalam pelaksanaannya akan memudahkan. Koordinasi posko jadi mudah, koordinasi transportasi lebih mudah, dsb. Rumah-rumah jadi berdekatan dalam satu area kecil. Dan rumah/asrama tsb dijamin tidak akan kosong sepanjang tahun. Sepanjang tahun, ratusan ribu jemaah umroh tetap akan bisa memanfaatkan fasilitas tsb.
Padahal Indonesia adalah konsumen umroh/haji terbesar. Kalau dalam bisnis, seharusnya bisa dapat discount khusus, dan bahkan bisa menyetir produsen/supplier untuk mengikuti pola bisnis yang diinginkan. Hipermarket seperti Carrefour, Giant, dsb dengan mudah bisa menekan produsen seperti Unilever, P&G untuk mengikuti pola bisnis yang diinginkan. Sayang dalam urusan haji, Indonesia bukan perusahaan yang berusaha menekan supplier untuk memuaskan konsumen (jemaah haji). Indonesia adalah perusahaan yang dikuasai oleh oknum tanpa visi jangka panjang.
astagfirullah..
andai seindonesia, kaum muslim ikhlas beristighfar
andai seindonesia, pegawai depag ikhlas bertobat
andai seindonesia, birokrat ikhlas sadarkan diri untuk melayani…
semoga ada jemaah haji yang tulus berdoa semacam ini juga…
**saya jadi teringat Ayah saya yang berangkat ibadah haji, saya yang susun koper beliau. Karena sudah penuh, saya pesan Ayah nanti beli piring plastik di sana saja ya.. katanya banyak yang jualan.. sekalian lauk pauknya
Saya pingin dengar cerita Ayah, apakah di maktab Saukiyah, ada yang jualan tidak..
Semoga perjalanan kembali ke tanah air berjalan lancar dan selalu dalam rahman-rahimNya
sebaiknya depag hanya mengurusi bidang agama saja, biar berkonsentrasi dalam satu bidang, terlalu banyak yang diurusi akhirnya semua urusan tidak bisa maksimal, penyelenggara haji yang tiap tahun selalu banyak masalah, pendidikan yang carut marut, dan lain – lain,
Assalamualaikum Wr Wb,
Saya hanya hamba Alloh yang hina, saya ingin menuliskan sedikit comment dari saudara2 kita yang mungkin kayaknya sering atau malah di Makkah Almukarromah. Yang Haji Merdi Sofansyah sampaikan memang benar adanya dan tidak jauh dari kenyataan, saya memang terlalu sering mendengarkan keluhan2 dari masyarakat akan kurangnya sarana dan pra sarana dari pemerintah / agen2 pebisnis untuk haji. Seandainya jamaah haji kita semua pintar2 dan mengetahui jalan2 di Makkah sempurna dan mereka bisa berkomunikasi dengan bagus dengan pendu2k Makkah mereka tidak akan kesulitan sama sekali dan menerima kata sabar dengan ikhlas walaupun diletakkan pemondokannya di perbatasan Makkah, Atau mungkin saudara2 kita yang memberikan comment diatas yang bermukim di Makkah mungkin tidak keberatan ditempatkan di perbatasan Makkah dan membayar mahal ongkos2 Haji mereka karena mereka Ikhlas dan sabar.
Pokok permasalahannya adalah : Haji2 kita adalah orang yang pasrah, yang penting bayar segitu dan bisa haji walaupun fasilitas2nya kurang memadai, tidak peduli dengan mutu ataupun kwalitas. Mau pergi ke Masjidil Haram bagaimana kalo tidak tahu jalan dan komunikasi, mau balik kemana jika tidak tahu route pemondokannya yang jelas? Apalagi komunikasi pake bahasa tarzan lebih menyulitkan mereka. Maka mereka memilih diam / tinggal di maktab2 mereka karena keterbatasan mereka.
Untuk DEPAG dan pebisnis2 Haji, Adakah kita berpikir untuk membahagiakan saudara2 kita, saudara se-iman yang berhaji? Apakah kita mempermudah atau mempersulit mereka? Apakah saya sudah memperoleh uang yang halal dari berbisnis Haji?
Berbisnis haji adalah yang menguntungkan bagi seluruh pebisnis2 tahunan. Uang2 hasil mereka akan dihisab di yaumul Mahsyar. Akhirnya kita kembalikan lagi urusan2 ini kepada Alloh S. W. T, semoga kita termasuk orang2 yang diberi Hidayah dalam mengikuti perintah2nya. Terima kasih mas Merdy informasinya, tingkatkan terus liputannya untuk mencerdaskan dan memajukan bangsa.
” BRAVO SCTV “