Sunday, May 26, 2013

Bond dan John Perkins

November - 20 - 2008

Alexander Wibisono

Menonton film terbaru James Bond, Quantum of Solace, membuat saya terkesan. Meski beberapa aksinya memang sedikit tidak masuk akal, tapi agen rahasia Inggris itu tampil lebih manusia.

Bond tampil sebagai pria yang berpenampilan dingin, kekar dan kasar. Bukan juga manusia yang sempurna atau selalu benar dalam bertindak. Terbukti, ia malah kena masalah karena membunuh pengawal Guy Haines, penasihat perdana menteri Inggris, yang sedang menyamar. Selain itu Bond juga dipenuhi perasaan dendam untuk membalas kematian kekasihnya, Vesper.

Selain cerita Bond juga manusia, yang lebih menarik dalam cerita itu adalah keberadaan sindikat yang bernama Quantum. Sindikat ini beranggotakan para pengusaha hitam dan anggota agen-agen rahasia seperti CIA dan MI6. Quantum bertujuan mengeruk keuntungan dengan cara membentuk negara-negara boneka dan menguasai sumber daya alam di negara itu.

Dominic Green, dalam film ini menjadi tokoh sentral. Green adalah anggota Quantum yang menggunakan kedok organisasi lingkungan Greene Planet untuk menjalankan aksinya. Caranya, ia mengumpulkan donasi-donasi atas nama lingkungan. Uang itu lalu digunakannya untuk membiayai kudeta. Seperti yang akan dilakukan Jendral Medrano terhadap pemerintahan Bolivia yang sah. Sebagai gantinya, Green Planet menguasai 60 persen sumber energi di Bolivia. Salah satunya, sumber air.

Menonton plot cerita ini, saya jadi teringat sebuah buku berjudul “Confession of an Economic Hit Man” yang ditulis John Perkins. Buku ini terbit pertama kali terbit tahun 2004 dan menjadi best seller. Terbitan edisi bahasa Indonesia muncul setahun kemudian dan mengalami beberapa kali cetak ulang. Ya, buku ini menarik karena bercerita tentang pengalaman pribadi seorang Economic Hit Man atau ekonom perusak.

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman Perkins selama puluhan tahun dia menjadi an Economic Hit Man (EHM). Dan apa yang saya tulis ini, saya kutip dari “John Perkins Confession of an Hit Man” edisi bahasa Indonesia, cetakan keenam, terbitan Abdi Tandur 2005.

Apa itu EHM? EHM adalah agen yang bertugas untuk menipu negara-negara di seluruh dunia triliunan dolar. Mereka menyalurkan uang dari Bank Dunia, USAID, dan organisasi “bantuan” luar negeri lainnya menjadi dana korporasi-korporasi raksasa dan pendapatan beberapa keluarga kaya yang mengendalikan sumber-sumber daya alam planet ini.

Caranya, membuat para pemimpin ini terjerat dalam belitan hutang sehingga mereka akan loyal dan setia. Sarananya adalah laporan keuangan yang menyesatkan, pemilihan pimpinan negara yang curang, penyuapan, pemerasan, seks, dan pembunuhan.

EHM ini terdiri dari para profesional berpenghasilan tinggi yang bergabung dalam organisasi yang disebut MAIN. Tapi dalam aksinya, mereka bersimbiosis dengan organisasi keuangan internasional yang dikendalikan pemerintah dan perbankan Amerika. Mereka juga berada di perusahaan-perusahaan besar negeri paman sam itu.

Targetnya adalah negara-negara berkembang yang kaya akan sumber daya alam. Perkins memberi contoh Ekuador, yang diklaimnya proyek berhasil dirinya sebagai EHM.

Eksploitasi minyak di lembah sungai Amazon Ekuador dimulai akhir tahun 1960-an. Pemain utamanya adalah perusahaan minyak Texaco. Selain itu ada juga, Standard Oil yang dimiliki keluarga John D. Rockefeller.Perusahaan ini nantinya pecah dan menjadi Chevron, Exxon dan Mobil.

Perkins menyebut untuk minyak mentah senilai $100 yang diambil dari hutan hujan ekuador, perusahaan minyak menerima $ 75. Sementara sisanya yang $ 25, tiga perempatnya mesti dipakai untuk membayar hutang luar negeri, sebagian sisanya lagi untuk menutup biaya militer dan biaya lainnya yang dikeluarkan pemerintah. Sementara program kesehatan, pendidikan dan bantuan bagi orang miskin alokasinya hanya $ 3. Padahal, mereka adalah orang-orang yang terkena dampak buruk bendungan, pengeboran, pemasangan pipa, dan sekarat karena kekurangan makanan dan air minum.

Tidak berhenti disini. Korporasi Amerika ini juga mengeruk keuntungan lewat pembangunan proyek listrik tenaga air Agoyan yang berkapasitas 156 megawatt. Proyek ini membendung sungai Pastaza dan mengalirkan airnya ke terowongan raksasa yang dibor menembus gunung. Proyek ini memotori industri-industri yang menjadikan segelintir keluarga Ekuador kaya raya. Terutama mereka yang terlibat dalam pemerintahan dan bisnis. Sebaliknya, mendatangkan penderitaan bagi para petani dan penduduk lainnya yang tinggal sepanjang sungai.

Lalu bagaimana dengan mereka yang menolak tawaran para EHM ini? Mereka akan menghadapi penggulingan kekuasaan atau tewas dalam “Kecelakaan” yang mengerikan.Seperti yang dialami Jaime Roldos, Presiden Ekuador pertama yang dipilih secara demokratis.

Roldos dikenal sebagai pemimpin yang nasionalis. Saking nasionalisnya, korporasi minyak disana menjulukinya Castro dari Ekuador. Lewat kebijakan hidrokarbonnya, Roldos memperingatkan semua korporasi asing terutama perusahaan pengeboran minyak, untuk tidak melepas tanggung jawab dan memperhatikan kesejahteraan rakyat Ekuador. Jika tidak ditaati, maka Roldos mengancam akan mengusir mereka keluar.

Hasilnya, Roldos meninggal karena helikopternya terbakar dan jatuh pada tanggal 24 Mei 1981. CIA pun dituding berada dibalik kematiannya dengan melakukan sabotase. Gaya yang sama juga dilakukan CIA kepada Jenderal Omar Torrijos, Presiden Panama yang juga meninggal dalam kecelakaan pesawat tanggal 31 Juli 1981.

Perkins menyebut Roldos dan Torrijos sebagai pahlawan Amerika Latin yang berani melawan adikuasa Amerika. Roldos ingin perusahaan minyak ambil bagian dalam kesejahteraan rakyat Ekuador. Sedang Torrijos menginginkan terusan panama kembali ke pemiliknya yang sah, yakni rakyat Panama.

Sepeninggalan Roldos, Osvaldo Hurtado yang mengambil alih kursi kepresidenan mengambil kebijakan sebaliknya. Menyenangkan hati para komprador Amerika. Hurtado memberikan kesempatan seluasnya bagi perusahaan minyak Amerika, Texaco untuk meningkatkan pengeboran.

Dalam kasus lain, dan jika kebetulan para srigala, begitu Perkins menyebut para ahli sabotase itu, gagal maka puluhan ribu tentara Amerika pun dikirim untuk membunuh dan dibunuh. Perkins mencontohkan apa yang terjadi di Irak dan Afganistan.

Antara apa yang dilakukan sindikat Quantum dan para EHM ini sama. Menguasai sebuah negara untuk kepentingan negara adikuasa dan keuntungan organisasinya. Dengan cara, menghisap darah korbannya sampai habis. Cara-cara yang dipakai pun relatif sama. Tawaran bantuan baik materi maupun peralatan. Mereka juga pandai betul memanfaatkan ketamakan dan kerakusan para elit politik, militer, dan ekonomi, yang pada akhirnya menjadi jalan masuk bagi mereka untuk menjerat korbannya. Hutang adalah instrumen paling penting. Dan jika para elit ini tidak bisa lagi diatur, maka para perusak ini menyingkirkan mereka. Kemudian berpaling ke lain hati dengan mudahnya. Yang penting bagi mereka adalah mencari elit-elit atau pemimpin negara yang bisa mereka tipu, diajak kerjasama, dan penurut.

Tapi pesan dalam film Bond tidak berhenti disini. Peringatan lain yang penting untuk dicermati yakni, bagaimana para pelobi ini ternyata juga punya kepentingan sendiri untuk menguasai sumber daya alam sebuah negara. Seperti ucapan Green saat ia menginginkan penguasaan atas sumber air di Bolivia. “Urusan Amerika soal mudah asal mereka dapat minyaknya”, kata Green.

Ini berarti negara berkembang menghadapi dua leviathan penghisap. Di satu sisi, berjuang supaya tidak dihisap habis-habisan oleh kepentingan Amerika. Tapi di sisi yang lain, ternyata ada lagi musuh yang tidak kentara yakni organisasi-organisasi yang tampaknya membantu kita dalam perjuangan itu. Yang katanya, membantu kita untuk bangkit dan mandiri.

Ironisnya, Indonesia yang sukses mengakhiri masa kebersamaannya dengan IMF, kini malah seakan-akan mengundang kembali lembaga donor itu. Setidaknya, ini terungkap dari pernyataan Presiden SBY di Meksiko yang mengatakan Indonesia tetap memerlukan IMF. Apakah pemerintah lupa, betapa IMF pernah menjebloskan kita ke dalamnya jurang krisis lewat resep-resep ekonomi yang diberikannya. Salah satunya dengan melikuidasi bank-bank. Ataukah ini berkaitan dengan perebutan kekuasaan pada pemilu 2009 nanti. Seperti Perkins dan Green yang mengatakan, para leviathan ini akan berbuat apa pun untuk bisa berkuasa.

Layaknya agen 007, yang akan berganti-ganti wajah dan baju untuk mendapatkan apa yang dia mau.  Jadi waspadalah terhadap hantu-hantu kapitalisme yang berwajah malaikat, tapi sebenarnya Leviathan atau monster penghisap darah!

Seperti pelajaran yang dipetik Bond, tidak lagi percaya siapa pun. Termasuk atasan dan teman-temannya sendiri di MI6. Tak heran jika ia terkadang dianggap desersi. Atau seperti Chavez dan Lula yang tidak mau patuh terhadap Amerika. Beranikah kita?

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

26 Komentar pada “Bond dan John Perkins”

  1. marcel says:

    kalau pernyatan SBY itu benar berati langkah mundur bagi inonesian ini sangat kaitan erat dengan pemilu 2009,maka seruan tolak kapitalime dan IMF

  2. adi purwo says:

    Sebuah tulisan yang menarik. Memang kita sebagai bangsa harus berani dan bisa mandiri. Negara kita sebetulnya sangat kaya akan sumber daya alam, dan sudah pasti diketahui oleh amerika. Dulu pada masa pemerintahan Bung Karno, beliau selalu meneriakkan slogan “berdikari” berdiri pada kekuatan sendiri. Karena beliau sadar bahwa mental imperialas kapitalis barat akan selalu mengincar kekayaan negara-negara berkembang dengan sistem kolonialisme baru yaitu penjajahan ekonomi. Maka beliau selalu menolak segala bentuk bantuan dari amerika. Baliau pernah berucap: “go to hell with your aid”. Dan akhirnya seperti yang kita ketahui bersama, Bung Karno pun digulingkan juga oleh pemerintahan yang tunduk pada amerika. Mungkin amerika juga yang mendalangi peristiwa itu, entah lah….

  3. rudolf says:

    Indonesia bisa lepas dari ketergantungan Amerika…???
    mimpi kaleeeee… Indonesia suka kok dibegoin ama amrik,
    trus pejabatnya juga pada pura2 bego klo di demo rakyat…
    udah basi kali ya kita ngomongin kekayaan alam, laut dan emas yg berlimpah dibumi pertiwi ini tapi ga ada hasil apa2 buat kemakmuran rakyat.
    itu bukti klo bangsa indo selama ini jadi negara boneka kerakusan amrik dan antek2nya.
    suka nafsu gw klo ngomongin Indonesia yg porak-poranda ginih.

  4. Gusseka says:

    Indonesia.Negara yang masih tergantung pada negara lain.Kita tidak bisa memungkiri bahwa negara kita tidak bisa lepas dari negara lain,kususnya negara Amerika.Contoh nyata.Amerika krisis negara kita kena dampaknya.Yang penting Indonesia bisa memanfaatkan keadaan,bukan kita yang dimanfaatkan.

  5. yenni says:

    Yaaa… mo gimana lagi tho???

    Indonesia suka dirayu & mudah terkena rayuan palagi dari negeri yang paling dipuja ntu.
    Maunya seh da yang ngasih duit buat perkembangan negara, trus ntu duit dipake ma pejabat2 buat nebelin isi kantongnya..

    Kalo pemerintahan dah ganti, da kebijakan baru buat lunasin warisan utang yang ujung2nya bikin rakyat makin melarat…

    Hidup KONGLOMELARAT!!!!!!!

  6. Bang Bar says:

    Dari semua film James Bond 007,yang saya nonton Film Quantum of solace Film Jmes Bond inilah yang paling jelek, biasanya ada sedikit adegan yang nyeleneh since of humor yang enak dilihat bikin penonton tersenyum dalam seluruh adegan saya lihat ,James Bond tegang terus dan nafsu membunuh

  7. bakhri_Fals says:

    Indonesia sebenarnya bakal maju kalo mau mandiri,,,,, Pentingkan dulu masalah dalam negeri. kalau saja kekayaan alam indonesia di olah sendiri dan di pakai sendiri untuk rakyat pastilah kehidupan di negri ini takkan terlihat begitu timpang antara pengusaha yang super kaya ma pengemis. bayangin, indonesia yang punya potensi minyak bumi mengapa terlalu memikirkan masalah harga minyaknya yang tinggi. mengapa minyak yang saat ini di butuhkan oleh rakyatnya sendiri malah di Ekspor? Eh, tapi kenyataannya indonesia juga malah impor dah gitu pake subsidi segala.
    Mengigat masalah ini saya pengen banget kasih aspirasi buat pemerintahan kita, barang kali aja ga kepikiran oleh mereka yang dah jadi mentri. Moga aja ada mentri yang nanganin masalah ini baca blog ini. HATI-HATI jangan sampe minyak di indonesia ini di tingkatkan jumlah ekspornya kala harganya sedang turun,,, amerika ngertinan. AMERIKA super licik, wes dadi mentri mbok yo paham ma kebutuh rakyatnya….. yang dah pernah hianat ikut makan duwit rakyat cepet-2 tobat, tak doakan di ampuni dosanya

    KALO AJA ADA YANG TAU CARANYA MEMBERIKAN ASPIRASI YANG BENER-BENER NYAMPE KE TELINGA PARA PEMIMPIN KITA, TOLONG KASIH TAU CARANYA LEWAT BLOG INI. BANYAK BANGET IDE YANG BAKAL MUNCUL UNTUK KEMAJUAN NEGERI TERCINTA KITA TANPA ANARKIS alias demo

  8. OneOne says:

    Jangan nyalahin orang klo benci Amrik, kelakuannya aja kayak lintah darat, bahkan lebih dari itu. Bener juga tuh tulisan, amrik tuh pantesnya disebut monster berwajah malaikat. Kekayaan yg ddapat selama ini untuk membangun negerinya ternyata memeras dari negeri kaya sumber daya alam. Seperti Indonesia ini, lihat saja perusahaan2 minyak itu Amrik yg kuasain. Jangan tertipu wajah manisnya, Amrik itu “Monster Kapitalis”…SADAR INDONESIA

  9. Torijos says:

    Cakep banget nih tulisan, Jadi pengen beli buku Jhon Perkins Jilid Dua,Judul Asli: The Secret History of The American Empire
    Penulis: John Perkins
    Pengantar: Budiarto Shambazy
    Cetakan: Pertama, Agustus 2007
    Tebal: xxvi + 465 halaman
    Penerbit: Ufuk Press

    KENDATI untuk edisi Indonesia buku John Perkins ini terbit setahun lalu, tapi sangat aktual dengan situasi mutakhir terutama setelah terpilihnya Barack Husein Obama Junior menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat dalam Pilpres 4 November lalu.

    Euforia Obama telah melahirkan harapan dan impian perubahan tata dunia baru yang lebih adil. Amerika kembali digugat dan Obama dipandang Dunia Ketiga sebagai “Dewa Penyelamat”. Sebuah ekspektasi yang dahsyat termasuk dari seorang Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad sekalipun.

    Seperti apa sih dosa Amerika Serikat di mata dunia sehingga Obama menjadi sangat penting? Buku Confessions of an Economic Hitman dan sekuelnya The Secret History of The American Empire bisa menjadi bukti dan dokumen kejahatan Amerika Serikat di seluruh belahan dunia. Amerika Serikat, lembaga keuangan dunia dan pengusahanya gotong royong menjarah kekayaan alam Dunia Ketiga, termasuk Indonesia.

  10. Torijos says:

    Terus kasih pencerahan ke Msyarakat, Two thumbs Up for Bang Alexander.

  11. Ecko says:

    Setelah Bung karno, belum ada pemimpin Indonesia yang berani melawan hegemoni asing. Sebaliknya, pemerintah berkuasa justru dengan sukarela menyerahkan diri untuk dikuasai asing. Pengaruh mental? Bisa jadi.

    Jadi ingat ketika Presiden SBY menitipkan foto masa kecil Barack Obama di Jakarta pada Kedubes RI di AS pada saat menghadiri pertemuan G20 yang baru lalu. :(

  12. Dd says:

    kpan ido bsa bwt Flm kyk gtuuuuu,, mantep bener dah!!:-D

  13. viestinlove says:

    Amrik itu “Monster Kapitalis”…SADAR INDONESIA

    benci amrik?? tapi konsumsi produk amrik ya. benci amrik pake produk amrik. aneh…
    tapi filmnya bagus kok, lebih manusiawi kalo aku bilang.

  14. Aviation says:

    Bapak nontonya di mana? Bioskop atau DVD? Kalau DVD bajakan atau originil? Selain bangga sama James Bond, saya lebih bangga kepada POLRI, karena sudah bisa ngeberantas VCD & DVD bajakan. Tapi kadang-kadang kesal juga, lagi pengen nonton pilem baru kalo nungguin di bioskop lama, beli DVD harga originalnya kemahalan, cari yang bajakan kagak ada LAGI…………….

  15. rudi says:

    ya..
    itulah bangsa kapitalis amerika
    penjajah..
    hati-hati dengan yang namanya pinjaman yang mengatasnamakan BANTUAN…padahal pinjaman berbungga
    he..he..
    kapan pintarnya ya indonesia
    habis tiap hari anak mudanya pacaran mulu sich..

  16. tukul says:

    ya….orang indonesia itu susah sih…taunya kalau melihat orang gede nyalinya langsung ciut,,,lihat saja sikap presiden kita yang nyelipkan foto barack ketika kecil di kedubes ri kalau benar….kan ada apa2nya…untuk apa itu dilakukan, kita kan bangsa besar yang dapat mengatakan yes or no kapan saja kita mau sepanjang buat kesejahteraan umum, tapi ya itu tadi susah cari pemimpin indonesia yang mempunyai nation building yang tinggi…taunya mau cari muka melulu, akibatnya tak ada lagi bargaining kita kalau ngomong dengan pihak luar, tak berani membantah, kita pikir kita sudah mendapatkan hasil yang luar biasa dengan mereka mengelola sda kita, yang pada kenyataannya kepahitan dan bencana lah yang kita peroleh, hanya segelintir orang pusat sana dan penguasa daerah yang merasakan enaknya kehadiran para tuan asing tsb, selebihnya sebagian besar hanya sanggup melihat kehebatan mereka dengan memakai koteka dan sarung yang sudah usang dan penuh tambal, ini salah siapa?…masih adakah pemimpin kita yang punya hati nurani termasuk wiranto kalau terpilih kelak jadi presiden…tapi itulah duit yang dapat menggelapkan mata siapa saja,,,jangankan presiden yang tak kenal dengan semua rakyatnya, dalam berkeluarga saja bisa jadi gelap mata kalau bicara tentang duit, komisi, so mereka hadir ke indonesia kan dalam rangka memakmurkan rakyat indonesia dalam proposalnya, selebihnya ya undertable, buat penguasa yang tinggal tunggu tanggal dan bulannya buat mengucurnya setoran gemuk yang bisa buat kumis kembali jadi klimis dan sepatu bermerk, dapat travel voucher dan fasilitas fasilitas wah lainnya, sementara rakyat yang berdekatan dan bersinggungan langsung dengan daerah operasi, ya itu tadi kembali ke laptop pakai koteka dan sarung si doel…jadi kalau mau negara ini baik, pilihlah pemimpin yang rela mati demi rakyat yang dicintainya yang tidak sanggup melihat rakyatnya makan nasi tiwul dan mati di rumah pelan pelan karena tak sanggup ke rumah sakit…pertanyaannya…masih adakah di republik yang kita cintai ini…..?

  17. AMLS says:

    kayaknya itu juga terjadi di indonesia, dimana Korporasi besar menguras kekayaan negara kita Di Irian, jawa, sumatra dll.

    Pertanyaannya apakah kita diam saja mengetahui ini sudah berlangsung di negara kita ini?

  18. Memang benar apa kata Bung Karno “GO HELL AMERICA !!!” !

    Sayang pemimpin kita sekarang tidak menyadari dampaknya.

  19. Muaulana says:

    Indonesia bukan bangsa bodoh,indonesia bukan negara miskin,indonesia doesnt need d world but d world need indonesia,kita punya apa yg mereka tidak punya, jadi saya harap seluruh rakyat INDONESIA jangan golput pada saat pilpres karena di situ ada bisa menentukan mau di bawa ke mana negara tercinta kita ini, semua nya ada di tangan anda, jangan hanya bisa bicara, Just do it!!
    SAYA CINTA MERAH PUTIH, SAYA CINTA GARUDA PANCASILA…
    MERDEKA!!!! ( vote for prabowo subianto )

  20. audryn says:

    kalo memang itu betul,maka waspadalah karena berarti semua parpol dan tokoh peserta pemilu 2009 kemungkinan udah jadi antek2nya EHM!! trus mau pilih siapa dong?! by the way nonton dimana dvd or bioskop,klo dvd emang udah ada?

  21. martha says:

    setuju bush dilempar sepatu…sekeluarga memang maniac perang…

  22. ken says:

    hmm, indonesia mudah-mudahan tidak mudah dihisap. Dihisap tuhan di hari kiamat lebih berat

  23. tora says:

    kapan ya Indonesia bisa seperti AMERIKA?? Indonesia buat organisasi EHM dan menguras sumberdaya alam negara ke-4,-5,-6 dst. atau mencaplok negara yang mau berkembang, akan berkembang atau negara yang baru ditanam ?? (tumbuhan kalee).

    Amerika sih seharusnya bukan dilawan … tapi dimanfaatkan.. tull ngga??

  24. g peduli amerika baik ato buruk yang penting filmnya keren dan faktanya…kita liat filmnya dan menikmati filmnya tanpa liat baek buruknya amrik

  25. nico says:

    amerika itu ga punya pa2 yang bisa dibanggain.
    negara sich luas,tapi ga ada yang pinter,kita lihat semua Ilmuwannya berasal dari luar negeri,bahkn perkembangan teknologinya pun dinilai paling terlambat dibanding Jerman,Jepang dan Korea.Wajar kalu dia suka ngrampok.Lihat aja latar belakangnya Amerika kan dulunya tempat pelarian penjahat2 dari Eropa

  26. wawan says:

    Yang penting kita bisa mengambil hikmahNya

    harus bangkit dan bisa menciptakan kreasi sendiri, walaupun negara negara lain lebih maju, diantaraNya Amerika, Jepang, Korea, Dll

Tinggalkan Komentar