Anton Bahtiar Rifa’i
Suasana suka cita tentu menyelimuti sebuah rumah di kawasan Cipayung Jaya, Depok, Jawa Barat, pada 7 Nopember ini. Salah seorang penghuni rumah, WS Rendra, berulang tahun yang ke-73. Usia yang sudah tergolong senja, tentunya. Perjalanan panjang yang telah dilalui Si Burung Merak itu, baik sebagai penyair maupun dramawan, telah menyisakan hamparan kenangan bagi banyak orang.
Ah, saya juga mengenang suatu hari yang tersapu gerimis. Di hari itu, saya bertugas mewawancarai Rendra di kediamannya–sekaligus memintanya membaca puisi, untuk melengkapi liputan saya tentang kilas balik peristiwa Mei 1998. Mas Willy –demikian Rendra biasa dipanggil—menyambut kami dengan bersahabat. Di rumah yang asri, hanya di hadapan saya, juru kamera, dan pembantu rumah, suara khas Rendra bergema membacakan sajak: “Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja. Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan. Amarah merajalela tanpa alamat. Ketakutan muncul dari sampah kehidupan.”
Sejujurnya, kenangan saya bangkit ketika mendengarkan puisi berjudul “Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia” itu. Sajak tersebut pernah dibacakan Rendra di DPR pada 18 Mei 1998, ketika ribuan mahasiswa mendesak Presiden Soeharto untuk lengser. Ya, Rendra berada di sana ketika orang-orang menyerukan perubahan, ketika orang-orang muak dengan kekuasaan yang korup dan menindas. Sosok Rendra memang tak bisa dilepaskan dari semangat perlawanan. Bedanya, jika para mahasiswa dan tokoh politik banyak yang kemudian memilih berorientasi pada kekuasaan, maka Rendra jauh dari itu. Ia bukanlah orang yang memiliki alternatif politik, ekonomi, bahkan ideologi. Ia hanya seorang penyair yang memberi kesaksian atas penderitaan, ketidakadilan, dan kekacauan hidup.
Profesor A. Teeuw, dalam tulisannya “Pamfletten van Een Dichter” menyebut Rendra sebagai orang yang setia pada dirinya sendiri. Misalnya, di zaman Orde Lama, ketika Lekra tengah “berkuasa” bersama cita-cita kebudayaan komunis, Rendra sama sekali tidak tergoda. Dipaparkan dalam tulisan itu, berbeda dengan Pramoedya Ananta Toer atau Sitor Situmorang, tidak ditemukan pengaruh ideologi dalam karya Rendra, seusai Rendra menempuh perjalanan ke negara-negara komunis. Meski begitu, dalam keyakinan Rendra, seperti halnya komunisme, kapitalisme juga tidak bisa diharapkan. Bagi Rendra: kita harus menjadi diri sendiri. Karena kemerdekaan luas yang ada pada dirinya, Rendra –dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern—tidak termasuk dalam salah satu angkatan seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an.
Rendra sendiri pernah mengurai tentang perlawanan atau pemberontakan yang kerap menyertai karyanya. Menurutnya, pemberontakan ditujukan terhadap segala keterbatasan diri. Bukan untuk orientasi politik dan kekuasaan. Karya Rendra memang banyak yang berisi semangat penolakan terhadap segala keterbatasan. Seperti diurai A.Teeuw, yang menjadi sasaran pemberontakan Rendra antara lain: tradisi kebudayaan, dogma agama, doktrin politik, keadaan sosial yang buruk, kemelaratan, atau kepicikan pengetahuan.
Misalnya, pendidikan yang tidak mencerahkan, pendidikan yang tidak menjawab persoalan zaman, bagi Rendra adalah petaka. Lihatlah dalam “Sajak Seonggok Jagung”. Rendra memaparkan seorang pemuda yang kurang sekolahan. Namun ketika melihat seonggok jagung, pemuda itu siap bekerja. “Ia melihat kemungkinan. Otak dan tangannya siap bekerja.” Di bagian lain sajak itu, ia menggambarkan seorang pemuda lulusan SLA, dan pemuda itu tidak melihat kemungkinan apa pun dari seonggok jagung. Ilmu yang dipelajari di sekolah menjadi tidak berguna. Dalam sajak itu, Rendra bertanya: “Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?”
Usia 73 tahun tentu tergolong usia yang senja. Namun, itu tidak akan memadamkan arti kesetiaan pada diri Rendra. Seperti ditulis Rendra dalam “Sajak Seorang Tua untuk Isterinya”: “…usia nampaknya lebih kuat dari kita tapi bukan kerna kita telah terkalahkan.” Selamat ulang tahun.




















W.S. Rendra atau mas Willy adalah legenda hidup sastra Indonesia modern. Tulisan-tulisannya yang menyuarakan semangat kebebasan banyak mengilhami tokoh-tokoh muda seperti Widji Tukul, Emha Ainun Najib, Sri Bintang Pamungkas, Budiman Sujatmiko dan lain-lain untuk melawan rezim otoriter pada waktu itu. Masih ingat dalam benak saya, di tahun 90an mas Willy bersama seniman lain seperti Iwan Fals, Sawung Jabo, Setiawan Jodi, Inisisri, Totok Tewel mendirikan Kantata Takwa sebagai media mengumandangkan syair-syairnya yang penuh kritikan seperti Paman Doblang, Hio, Badut, Bento, Bongkar. Dalam tiap shownya yang selalu dibanjiri penggemar fanatiknya yang notabene kawula muda, mas Willy membacakan syair-syairnya. Dan menggelorakan semangat perlawanan kaum muda terutama mahasiswa untuk melewan pemerintah yang berujung tumbangnya rezim orde baru. Selamat ulang tahun mas Willy, semoga di sisa usia anda tetap menghasilkan karya-karya yang berjiwa.
selamat ulang tahun Rendra!Smoga anda diberikan umur yang berkah,dan dengan karya-karya anda dapat membawa perubahan pada negeri ini,sehingga IBU PERTIWI dapat tersenyum.
Alhamdulillah kang Willy, anda termasuk orang yang masih dicinta Allah dengan diberi usia panjang dan berkah kesehatan harapan saya semoga kang Willy tetap diberi kekuatan untuk meniti hidup dalam kehidupan, membaca dunia dengan mata hati, mengaca dunia dengan kata-kata sehingga hidup akan semakin membawa arti , panjang umur ya Kang!
sugeng ambal warsa mas willy…semoga selalu menjadi inspirasi kepada yang muda.dari hamlet samapai kantata taqwa rendra memang seorang legend.
selamat ulang tahun mas willy. tidak ada kata terlalu tua untuk berkarya. teruslah berkarya wahai si burung merak.
Waktu belajar sastra di SMA, aku cuma mendapatkan ilmu hafalan. Murid-murid tidak diajarkan mengapresiasi sastra. Tetapi setelah membaca karya-karya mas Rendra aku memahami betapa besar kekuatan sastra. Selamat ulang tahun mas Rendra, semoga selalu diberi kesehatan.
happy ‘b’day mas willy, semoga selalu mememberi warna yg indah bagi perekembangan sastra di indonesia.
indonesia hrs bangga punya aset bangsa kayak mas wily. happy b’day mas wily.
Kebesaran namamu,tetap terpancang dalam jiwa kami-penikmat seni-
MET ULTAH PAK RENDRA,tetaplah kumandangkan gema kebangkitan lewat senandung sajak mu…
Good…Good…
Rendra ga akan mati di makan jaman.
salah satu tokoh kebanggan Indonesia.