Tuesday, May 21, 2013
milan-kundera-adam-malik-dan-proyek-lupa

Yus Ariyanto

Oktober silam, kabar tak sedap menerpa Milan Kundera. Czech Institute for Studies of Totalitarian Regimes menyitir laporan kepolisan bahwa penulis terkenal itu menjadi informan bagi penangkapan Miroslav Dvoracek, bekas pilot yang dituduh bekerja untuk kepentingan Amerika Serikat. Dvoracek akhirnya dihukum 21 tahun penjara.

Kejadian itu berlangsung pada 1950 dan Kundera baru berusia 21. Saat itu, ia belum lagi menghasilkan monumen-monumen sastra seperti The Unbearable Lightness of Being, The Book of Laughter and Forgetting, atau Immortality. Delapan belas tahun kemudian, tank-tank Uni Soviet masuk ke kampung halamannya dan mengoyak demokrasi di sana. Selengkapnya »

pilih-orang-jangan-pilih-partai-kau-akan-kecewa

M. Nurul Amin

Akrobat partai politik jelang pemilu semakin menjadi-jadi. PKS mendapat sorotan, Demokrat fokus dalam tatapan, Golkar tak kehabisan jalan, dan PDI-P tak lekang oleh harapan. Sisanya, berupaya bangkit dan berjalan.

Iklan politik PKS menuai kecaman, hasil survey LSI, Demokrat terdepan, Golkar revisi anggaran, kader utama pengisi tabungan, kesulitan keuangan, dan PDI-P beriklan, Megawati berjanji 100 hari kerja kedepan. Sisanya, konsolidasi (atau ribut sendiri ) tak berkesudahan. Selengkapnya »

Ayu dan Nova

November - 21 - 2008 36 KOMENTAR
ayu-dan-nova

Syaiful Halim

Ayu melenggokkan pinggulnya ke kiri dan kanan. Matanya menyapu pemandangan di kiri-kanannya; semua penari itu juga mencoba mengikuti hentakan kendang. Para tetamu di depan masing-masing penari tak kalah gesitnya. Dengan mulut masih menghisap rokok, mereka kerap memandang genit sang penari.

Tiba-tiba seorang tamu meraih tubuh Ayu dan pasangannya hingga berpelukan. Ia tertawa terbahak-bahak. Juga pasangan Ayu. Entah karena lucu atau karena merasa asyik tubuhnya bisa berhimpitan dengan penari yang di”booking”nya itu. Seketika rona merah membedaki wajah Ayu. Ia berusaha meronta. Tapi, sia-sia. Dekapan itu begitu kuat dan membuatnya sulit bernafas. Selengkapnya »

Bond dan John Perkins

November - 20 - 2008 26 KOMENTAR

Alexander Wibisono

Menonton film terbaru James Bond, Quantum of Solace, membuat saya terkesan. Meski beberapa aksinya memang sedikit tidak masuk akal, tapi agen rahasia Inggris itu tampil lebih manusia.

Bond tampil sebagai pria yang berpenampilan dingin, kekar dan kasar. Bukan juga manusia yang sempurna atau selalu benar dalam bertindak. Terbukti, ia malah kena masalah karena membunuh pengawal Guy Haines, penasihat perdana menteri Inggris, yang sedang menyamar. Selain itu Bond juga dipenuhi perasaan dendam untuk membalas kematian kekasihnya, Vesper.

Selengkapnya »

setting-email-di-telepon-genggam-anda

Haryo Dewanto

Andai berlangganan blackberry terlalu mahal bagi teman-teman, ini ada yang murah dan tentunya jika telepon genggam Anda mendukungnya. Email yang kita miliki bisa diakses lewat telepon genggam dengan mudah, semudah menerima dan mengirim SMS. Untuk mendapatkan fasilitas ini, perlu setting dulu di telepon genggam. Dan jangan takut semua operator kini telah mendukung. Mau tahu caranya?

Walau belum bisa bersaing dengan SMS, Email di telepon genggam semakin populer saja. Padahal jika dihitung-hitung fasilitas yang mengandalkan internet ini bisa lebih murah. Namanya “Push Mail”. Jika ada pesan baru akan langsung masuk ke ponsel layaknya SMS. Bagi teman-teman yang menggunakan email di Gmail.com, Yahoo.co.id dan email perusahaan/pribadi bisa menggunakan fasilitas ini dengan gratis, asal email Anda mendukung layanan POP3/SMTP. Selengkapnya »

Lampu Kuning untuk PKS

November - 19 - 2008 168 KOMENTAR
lampu-kuning-untuk-pks

Moh. Samsul Arifin

Ini bukan kisah soal iklan politik Partai Keadilan Sejahtera. Atau sepak terjang PKS dalam pilkada sepanjang 2005-2008, yang sebagian besar berbuah manis. Melainkan sodokan yang mengejutkan dari partai yang baru nongol 9 September 2001 lalu. Sedikitnya dua hal istimewa diukir Partai Demokrat. Popularitasnya terdongkrak, melewati Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Popularitas Demokrat sudah mencapai 16,8 persen—sedikit lebih tinggi dari target pada Pemilu tahun depan. Ini berarti lebih dua kali lipat dari angka elektoral yang diraup mereka pada Pemilu 2004, yang hanya 7,45 persen. Sedangkan Golkar 15,9 persen dan PDIP 14,2 persen.

PKS? Partai dakwah ini adalah meteor dalam Pemilu 2004. Mereka menangguk 7,34 persen suara yang setara 45 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. Alhasil, PKS berubah menjadi partai Islam yang paling serius mengincar partai-partai nasionalis yang selama ini selalu memenangkan pemilu, sejak 1955 hingga 2004. Namun, jajak pendapat terbaru Lembaga Survei Indonesia (LSI), PKS jeblok. Apabila pemilihan anggota DPR diadakan saat survei LSI digelar, hanya 4,9 persen responden yang memilihnya. Jelas, ini lampu kuning bagi PKS yang kini bergerak ke tengah—atau lebih tepatnya lagi mengincar massa nasionalis dan Islam mainstream Indonesia (baca: NU, Muhammadiyah dan Masyumi)—seperti yang ditunjukkan pada iklan menyambut Sumpah Pemuda dan hari Pahlawan. Selengkapnya »

aku-hamil-maka-aku-istimewa

Iskandar Siahaan

Seorang wanita hamil menulis surat pembaca di sebuah harian Ibu Kota. Isinya berisi keluhan tentang sikap seorang sopir taksi yang ia nilai tidak punya empati pada seorang wanita hamil. Peristiwanya demikian: bersama dua kawannya, sang wanita yang duduk di sebelah sopir muntah. Spontan si sopir panik dan berucap, ”Aduh muntah, awas jangan kena jok”.

Pastilah dalam benak si wanita hamil ini, si sopir tidak semestinya bicara seperti itu. Ia adalah wanita, sedang hamil pula. Muntah bukanlah keinginannya, tapi bawaan orok. Atau, lebih jauh, mungkin si wanita hamil itu beranggapan bahwa bayi yang sedang ia kandung itu adalah penerus bangsa. Boleh jadi kelak anak itu menjadi presiden. Atau, macam-macam lainnyalah. Tak terpikir olehnya, anak itu juga kelak bisa jadi teroris. Selengkapnya »

Manusia, Bukan Matematika

November - 18 - 2008 19 KOMENTAR
manusia-bukan-matematika

Yus Ariyanto

Apakah berita begitu berkuasa atas pikiran khalayak? Sri Rumiyati alias Yati bercerita kepada wartawan, ”Saya memutilasi Pak Hendra karena meniru Ryan, terutama dari tayangan televisi selain dari koran yang saya beli di angkot (angkutan kota). Daripada repot, untuk menghilangkan jejak jenazahnya, saya potong-potong saja Pak Hendra seperti dilakukan Ryan.”

Ingatan saya menjulur jauh ke belakang, saat “berkarier” sebagai santri ilmu komunikasi. Dalam sebuah buku teks kuliah, dikisahkan bahwa kepanikan melanda kawasan New Jersey, Amerika Serikat, pada 30 Oktober 1938. Sekitar satu juta warga meninggalkan rumah secara hampir bersamaan, membuat macet jalanan. Selengkapnya »

Surat Untuk Tuan Obama

November - 17 - 2008 56 KOMENTAR
surat-untuk-tuan-obama

M. Nurul Amin

Salam,

Sebelumnya saya ucapkan selamat atas terpilihnya Tuan sebagai Presiden Amerika Serikat. Saya senang Tuan terpilih, karena Tuan membawa harapan baru bagi dunia.

Maafkan saya karena menggunakan Bahasa Indonesia dalam surat ini. Saya malu untuk menggunakan Bahasa Inggris, karena selain Bahasa Inggris saya tidak bagus, juga karena saya tak mungkin memiliki kata-kata seindah dan sehebat kalimat yang  Tuan ucapkan dalam pidato-pidato yang Tuan sampaikan, hingga membuat orang terlena dan takjub atas Bahasa yang  Tuan tuturkan. Lagipula, bukankah Tuan pernah sekolah di negeri kami, jadi mungkin Tuan bisa juga berbahasa Indonesia, ya setidaknya ada staf Tuan yang bisa menerjemahkan surat ini ke Bahasa Inggris. Maaf. Selengkapnya »

pemilihan-gubernur-teralot

Boy Bakamaro

Sekian banyak Pilgub yang telah digelar, bisa jadi Pilgub Jawa Timur adalah yang teralot. Alotnya persaingan mulai terasa saat sejumlah media menggelar debat cagub-cawagub. Debat-debat yang digelar menggambarkan, paling tidak kelima pasangan kandidat pada putaran pertama, menguasai benar janji-janji yang mereka anggap paling manis.

Persaingan menjadi gubernur Jatim pertama yang pilih langsung warganya pun semakin panas, saat putaran kedua harus digelar karena dari kelima calon tak ada satupun yang meraih suara minimal 30% sebagai syarat pemenang. Selengkapnya »

polisi-tebang-pilih-berantas-preman

Haryo Dewanto

Aksi polisi dalam memberantas preman sudah menjadi suguhan bagi warga di berbagai media di Indonesia saat ini. Aksi pemberantasan preman oleh polisi memang sangat dipublikasikan secara besar-besaran di media massa terutama televisi. Aksi kejar-kejaran pun tergambar sebagai kekuatan yang ditonjolkan polisi. Namun sayang masih ada publikasi polisi yang kurang, yaitu, untuk masyarakat bila terjadi tindakan kejahatan, ke mana masyarakat harus melapor dengan mudah dan cepat. Publikasi seperti ini masih terasa kurang di berbagai media.

Masih menyangkut publikasi polisi, aksi pemberantasan preman hanya mempublikasikan preman yang membutuhkan sesuap nasi ketimbang preman berdasi atau preman oknum polisi hanya disebar dari mulut ke mulut. Padahal preman-preman seperti itu lebih membahayakan karena mempunyai uang yang banyak dan jaringan yang lengkap. Mungkin adanya publikasi saat ini, sebagian masyarakat hanya menilai polisi beraninya hanya dengan “wong cilik”, sementara dengan preman berdasi atau pun oknum polisi nanti-nanti dulu. Selengkapnya »

adakah-yang-abu-abu-untuk-teroris

Moh Samsul Arifin

11 September 2001 adalah sejarah yang paling hitam dalam sejarah relasi Islam dan Barat. Di layar televisi, tampak terlihat sejumlah pesawat menghantam Gedung WTC di New York. Dari utara dan selatan. Dan buum…gedung itu roboh dan hancur. Ribuan jiwa (ada yang menyebut 3.000 orang) tewas. Pada saat sama, pesawat teroris juga menabrak Pentagon. Ada yang mencatat, ini serangan terbesar oleh orang non-Amerika pada AS sejak 1814.

Bulu kuduk berdiri…ada semacam luka yang terbuka. Saya tak percaya serangan semacam ini ada di sebuah dunia beradab ini. Tapi, serangan terhadap AS bukankah sesuatu yang wajar, begitu suara yang menyetujui tindakan teroris. Pasalnya, AS juga melakukan hal serupa di dunia Islam. Palestina adalah cacat yang tak pernah terselesaikan. Dan AS dituding punya saham atas nasib warga Palestina yang terbuang dari negerinya sendiri. Sekian contoh lain dibeberkan. Selengkapnya »

Klub Buku dan Film SCTV bekerja sama dengan Penerbit Kompas
menggelar diskusi buku:

“Bencana Finansial”
karya A. Prasetyantoko

Dunia tak pernah sepi dari sejumlah krisis. Apalagi pada periode pasca liberisasi sektor finansial yang terjadi pada 1980-an yang memunculkan hegemoni finansial. Tiga arus besar, yaitu liberisasi finansial di tingkat global, deregulasi pada level nasional, serta inovasi produk-produk finansial pada level korporasi, berujung pada tingginya instabilitas finansial. Karena itu, stabilitas finansial menjadi hal teramat penting.

Buku ini mengulas berbagai fenomena krisis di dunia. Mulai dari krisis “Tulip Mania” (1636-1637), Depresi Besar (1930), Krisis di Asia (1997-1998), hingga Krisis Subprime Mortgage di AS (2007-2008). Dampak dan nilai pembelajarannya bagi Indonesia diuraikan di sana.

Pembicara:
A. Prasetyantoko (penulis dan staf pengajar Universitas Atma Jaya Jakarta)
M. Ikhsan Modjo (INDEF)
Arianto Patunru (LPEM Universitas Indonesia)

Fab Cafe, Grand Indonesia, Lantai 3
Jl MH Thamrin Jakarta Pusat
Jumat, 14 November 2008
Pukul 16.00 WIB – Selesai

Memaafkan dan Mengampuni

November - 13 - 2008 16 KOMENTAR
memaafkan-dan-mengampuni

Vincent Hakim R.

Beban hidup apakah yang paling berat, ketika manusia menjalani hidup bersama dengan sesamanya?

Konon beban hidup terberat yang harus dipikul manusia adalah ketika harus memberikan “maaf” dan “ampun”. Terutama memaafkan dan mengampuni musuh atau orang yang telah membohongi, merugikan, menyakiti, menganiaya, melukai, membunuh, dan menyengsarakan kita lahir batin.

Seorang psikolog yang juga rohaniwan pertapa (almarhum) pernah mengatakan pada saya, bahwa beban hidup yang amat berat (nyaris tak tertanggungkan) akan dialami oleh orang yang tidak mampu memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain. Seorang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, biasanya ia juga akan mudah untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan sekecil apa pun. Beban berat orang yang tidak mampu memberikan maaf dan pengampunan akan menjadi beban jiwa. Beban jiwa yang berat akan mempengaruhi kehidupan personal dan sosial sehari-hari. Secara personal, gangguan kesehatan itu akan merenggut raga, mental, dan pikiran sedikit demi sedikit. Dan konon setelah meninggal, jiwa orang yang tidak mampu memaafkan orang lain akan mengalami hambatan menuju nirwana bertemu Sang Pencipta. Selengkapnya »

generasi-muda-penerus-bangsa

Iskandar Siahaan

Sering kita mendengar atau membaca pernyataan begini: generasi muda adalah penerus bangsa. Pernyataan seperti ini sering keluar dari mulut seorang tokoh publik. Biasanya itu diucapkan ketika memperingati peristiwa sejarah berkaitan dengan peran generasi muda. Pertanyaannya: apa benar generasi muda penerus bangsa?

Kalau asumsinya bahwa generasi muda sekarang pastilah kelak berperilaku baik dan berkeinginan mempertahankan kelangsungan hidup berbangsa, pernyataan itu bisa jadi benar. Tapi, kenyataannya, yang disebut generasi muda itu tidaklah tunggal dan statis. Aspirasi dan keinginan mereka bisa saja berkembang seiring perjalanannya. Sikapnya terhadap bangsa pun bisa saja berubah. Misalnya, sebagai individu atau kelompok, ada bagian dari generasi muda sekarang yang merasa bangsa yang sekarang tak perlu diteruskan. Selengkapnya »