M. Nurul Amin
Tawaran itu datang pada saya, dari tokoh utama sebuah partai politik: maukah Anda menjadi calon anggota legislatif pemilu 2009 ? Tawaran ini, sama persis ketika susunan pengurus sebuah partai politik tengah disusun. Maukah anda masuk dalam kepengurusan?
Saya tidak pernah menjawab ya atau tidak. Saya hanya mengatakan saya seorang jurnalis, dan saya sangat suka dengan dunia yang tengah saya geluti ini. Sebagai seorang jurnalis, saya bisa mengenal dan dekat semua kalangan, mulai dari politisi, agamawan, akademisi, artis, hingga presiden, bahkan tukang becak dan penjahat sekalipun. Ada lagi yang lebih nikmat, saya bisa jalan-jalan gratis keliling Indonesia dan keliling Benua, bahkan menunaikan ibadah Haji, tentu saja dengan embel-embel liputan.
Tapi bukan itu sebenarnya yang membuat saya enggan menjadi Caleg atau pengurus partai politik. Menurut saya, menjadi politisi (di Indonesia) itu sama saja terjun ke dunia antah-berantah, carut marut, tak bertuan.
Kenapa saya berpandangan seperti itu, sederhana saja jawabannya, 10 tahun lebih saya menjadi jurnalis politik, sejak era Soeharto hingga kini, saya mengikuti seluruh proses politik, mulai dari jatuhnya Soeharto, Sidang Umum dan Istimewa MPR, Pemilihan Umum, Pemilihan Presiden, Amandemen UUD 45, penyusunan UU di DPR, pemilihan pejabat publik, hingga Kongres, Rakernas, atau Mukernas dan gonjang-ganjing partai politik.
Sejauh yang saya amati, saya memahami proses politik di negeri ini, termasuk sesuatu di balik proses politik tersebut. Dan saya mengenal banyak tokoh partai politik, dan sebagiannya saya dekat dengan mereka, termasuk perilaku mereka. Uniknya, tahu, kenal dan dekat, membuat saya tidak tertarik terjun ke dunia politik praktis, setidaknya untuk saat ini!
Saya tak usah jelaskan mengapa ? Anda tentu tahu jawabannya ! Anehnya, tawaran menjadi caleg atau politisi justru semakin banyak, mungkin karena semakin banyak partai dan semakin banyak orang yang ingin jadi Presiden. Politik itu lucu, ironis, aneh bin ajaib!
****
Itu saya, mungkin atau bisa saja saya salah. Lain lagi sebagian teman-teman saya. Pertengahan bulan ini, dalam sebuah diskusi National Press Club of Indonesia, sejumlah teman jurnalis berkumpul, membicarakan jurnalis yang maju menjadi caleg. Ya, teman-teman saya dari berbagai media maju menjadi caleg. Dan sebagian besar dari mereka, berusia muda.
Tak tahukah mereka soal politik? Persis seperti saya, tak pelak, saya yakin mereka pasti tahu dan bahkan lebih tahu dari saya untuk urusan politik. Kenapa mereka maju menjadi caleg. Sederhana juga alasannya, karena tahu, mereka harus berupaya mencari tahu sesuatu yang baru untuk mengubah negeri ini. Mulia bukan?!
Tak sedikit jumlah jurnalis yang menjadi caleg, hitungannya bukan lagi satuan, tetapi puluhan, bahkan mungkin mencapai ratusan. Saya malas menghitung.
Saya yakin, sebagian teman-teman saya bakal terpilih untuk duduk di kursi legislatif, karena mereka mendapat nomor urut teratas, daerah pemilihan yang sesuai dan partai pengusung yang jempolan. Soal dana, nggak masalah, ada tawaran, pasti ada jalan!
Saya juga yakin, ketika mereka duduk di kursi DPR kelak, mereka tetap mempunyai idealisme dan melaksanakan cita-cita untuk mengubah negeri ini. Saya tahu itu, karena mereka, benci dengan politisi busuk, politik kekuasaan dan politik dagang sapi.
Saya juga yakin, mereka tidak akan menerima suap ataupun sogokan dari institusi manapun, atau ikut dalam korupsi berjamaah. Itu pasti, saya tahu mereka kok, mereka tidak pernah menerima amplop atau sogokan liputan dari siapapun, mereka juga setuju kalau koruptor di pakaikan baju khusus koruptor di sidang Tipikor.
Haqqulyakin, teman jurnalis yang terpilih kelak, tokoh muda masa depan, pembawa perubahan, pengubah nasib bangsa. Politik itu perubahan, asyik dan mengasyikan!
****
Saya sudah putuskan, saya tidak akan Golput untuk pemilu kali ini, saya tidak akan memilih politisi yang sudah kukenal, malang melintang di negeri ini, saya tidak akan memilih suami, istri, anak, cucu, keponakan politisi yang sudah kukenal selama ini. Saya juga tidak akan memilih tentara atau polisi yang berperang di medan politik. Dan, pasti saya tidak akan memilih artis atau pelawak yang jadi lelucon caleg partai politik.
Saya punya banyak pilihan, aktivis yang terjun ke partai politik, akademisi yang berjuang di partai politik, atau agamawan yang berubah haluan menjadi politisi dan tentunya wartawan atau jurnalis yang berharap mengubah negeri.
Sayangnya, saya hanya punya satu hak suara mencoblos, dan itu artinya satu pilihan. Saya tak ingin berdosa dengan pilihan saya. Tak ingin saya berbuat salah untuk sesuatu yang hanya terjadi lima tahun sekali. Klop, memilih teman sendiri. Tapi, teman jurnalis caleg saya itu banyak, partainya beragam, gonjang-ganjing setiap hari, tokohnya ribut sendiri, capresnya mau menang sendiri, tidak menjanjikan.
Ah, apapun adanya, saya akan tetap memilih, mengambil surat suara, membuka, mencoblos, memasukkan surat suara dan pulang, berdoa, semoga Tuhan mengampuni jika aku salah memilih. Ke peraduan, tidur, bermimpi bercengkerama bersama politisi dan pemimpin negeri, menjadi jurnalis sejati, pengawal perjalanan negeri…




















ya..moga-moga aja pa, kita berdoa, kalo orang2 jurnalis yg berdedikasi itu terjun jd anggota dewan terhormat, dijauhkan dr ‘godaan2′ duniawi, dan bener2 amanah untuk pekerjaannya.
Tapi ngomong2 emang gaji jurnalis ga gede ya, sampai pindah profesi? he..he cuma nanya lho pa
ya… semoga aja pa, bisa menjadi caleg yang jujur, tidak korupsi, selalu mementingkan kepentingan rakyatnya. amiinnn……
tdk masalah selama niatnya baik…yakni niat untuk benar2 mengubah negeri ini jadi lebih baik, bukan malah ikut2an meng’awut2′ negeri ini hanya dengan titel CALEG!!. Namun, saya rasa profesi sebagai jurnalis merupakan sebuah profesi yg lebih baik, jauh lebih baik malah jika dibandingkan dengan yg namanya CALEG. Apalagi jika profesi itu sudah mendarah daging pada seseorang, pastinya orang itu tdk akan pernah ber’pindah’ haluan meski tawaran yg diberikan begitu menggiurkan. Itulah seorang JURNALIS SEJATI. hidup para jurnalis………
Yup! Pak saya pernah berfikir, bagaimana memperbaiki kebrobokan negara ini, saya pun berpikir bahwa bukan politik solusinya… sampai sekarangpun saya belum yakin jawaban saya… saya tak mau lagi berpusing2 dalam politik…..
Saya hanya ingin membangun diri sendiri dulu, saya tidak menuntut orang lain untuk jadi baik, cukup diri saya sendiri saja… “jika para politisi berpikir seperti saya???”
memang harus nya seprti itu, jadi bisa total dan tetap profesional..
tidak ada manusia yang tidak mau duit. cuma sekarang tinggal jumlahnya berapa.
Dulu seorang pengemis dikasih sedekah Rp50 saja sudah sangat bersyukur, tapi sekarang dikasih Rp500 dibilang menghina, nah…..lho……
Idialisme akan bertahan jika kehidupan mulus dan tidak ada himpitan dan godaan. Idialisme akan diuji jika kehidupan mulai ada cobaan.
Yang perlu kita doakan adalah semoga orang memiliki idialisme mampu bertahan dan melewati cobaan hidup dengan baik sehingga jabatan apapun yang dipegang pasti amanah………
Anda LUAR BIASA, Pak M. Nurul Amin. Saya mengagumi komitment anda untuk bertahan di pekerjaan yang anda cintai… saya sungguh kagum (terkadang pekerjaan tidaklah semata – mata soal uang…).
Sependapat dengan Pak Amin, saya juga sungguh tidak paham lagi arah politik saat ini. Bukan mendiskreditkan kalangan tertentu, tapi tren akhir – akhir ini dimana banyak parpol memilih ‘artis’ sebagai calon dari partai mereka.. saya jadi bertanya – tanya, ‘apakah mereka ini memang memiliki kompetensi untuk memimpin? atau cuma sekedar akal – akalan Parpol aja agar yang milih banyak, yang dukung banyak, sehingga mampu menyelamatkan parpol mereka dari penghapusan lantaran gagal memebuhi kuota suara?’
Tidak tau lah, yang jelas… melalui kolom komentar ini juga, sebagai bagian dari Warga Negara Indonesia.. untuk pemilihan CALEG… saya mohon maaf kalau saya lebih memilih ABSTAIN alias GOLPUT. Saya sama sekali tidak puas dengan KINERJA DEWAN.. karena itu saya nggak mau memilih untuk pemilu CALEG…
Lagipula capek mas, tahun 2004 milih Presiden, Tahun 2005 Milih Kepala Desa, tahun 2006 Milih Gubernur, 2007 Milih Bupati, 2008 milih Caleg???… Tiap tahun kerjaan cuma milih aja nih…
Bravo mas Amin. Anda adalah seseorang jurnalis sejati yang akan terus menuliskan tinta pena dan visualisasi jurnalistik yang memihak pada golongan orang-orang terlupakan.
Saya salut dengan pilihan idealisme Anda yang terus mengemakan bahwa jurnalis is jurnalis. Jurnalis tidak akan tertarik dengan godaan kekuasaan dan godaan dari politik yang tak mengenal kemanusiaan.
Inilah pilihan jurnalis yang memegang amanat jurnalisme.
Yup..bener, memang enak jadi jurnalis bisa mengenal semua kalangan, tapi kalo jadi caleg dan sudah terpilih, emang nantinya nggak pusing gitu… gaji selama 5 tahun aja dibagi kesana-sini, trus belum kalo sudah tidak terpilih lagi, bisa jadi sasaran KPK untuk diperiksa tuh…???
menurut saya tidak ada salah masuk atua jadi maqju anggota dewan.
justru antah berantah itu harusnya sepeerti pak amin harus mau masuk untuk merubah menjadi dunia politik yang benar. jangan malah golput itu ngak mendidik, jurnalis harusnya tau mana yang bijaksana dan mana yang kurang bisa di contah
semoga saja para jurnalis akan bisa meng-insaf-kan para “pekerja” politik itu. Serta juga memberikan contoh yang baik bagi mereka. Amin….
pak..
jurnalis yang mau jadi caleg itu untuk mengubah nasibnya sendiri, bukan untuk mengubah nasib orang laen..
bapak tahulah… kadang gaji jurnalis tak mampu mencukupi gaya hidup…
saya salut dengan bapak, tak mudah tergoda
Semoga saja Bapak senantiasa berpikiran dan berpandangan seperti itu, jika semua orang yang ada di negeri yang kita cintai ini menjalankan tugas dan fungsinya selayaknya, maka bangsa ini senantiasa akan menjadi bangsa yang patut diteladani dan dijadikan contoh
Kalau sekarang sebelum caleg mereka bisa alim, setelah jadi anggota pasti jadi ikur kkn. Kenapa orang jadi anggota DPR yah itu karena cepat dapat uang dari ini dan itu (kkn/tidak resmi)
wah kok sama ya,
ada beberapa teman dari partai politik yang menawari untuk jadi caleg di daerah.
Tapi saya rasa, saya lebih bisa membantu masyarakat dengan kamera dan tulisan saya daripada menjadi anggota legislatif.
iyah pak,,,mnjdi seorang jurnalis atau apapun itu bentuknya,bila didasari dng kejujuran dan kemampuan diri akan lebih bisa mngubah negeri ini.Bagaimana bisa mengubah hal yg besar dan memimpikan hal yg besar bila tidak dimulai dari yg terkecil.
Sungguh dunia politik mampu mngubah orang dgn sifat2nya,,,tpi smoga kita semua bisa memajukan dan mngubah negri kita yg tercinta ini,,,yaahh siapapun dia…semoga,,,
pak amin emang benar,trus gmn klu orang yg punya niat baik slalu mendiamkan diri.aku ingin orang yg tau n setia tuk kebenaran bangkit tuk negeri indonesia qt.saya yakin bila para DEWAn dan PEMIMPIN negri punya komitmen seperti ini tk mustahil kesejahteraan ,keadilan benar tuk rakyat n anak cucu negri qt.
tidak sulit bener ya pak,asal prDEWAN n PEMIMPIN negri sayang pada anak cucu generasi bangsa pasti melakukan KEBAIKAN tuk negri tercinta ini.tdk siapa n dr manapun.jng omong janji gombal tapi hatinya busuuuuuuuuuuuuk.TUHAN MAHA TAU.
waduh, enak bgt ya bisa jalan2 gratis plus naik haji juga, jadi pengen jadi jurnalis, hehehe..
tetep semangat pak.
Berjuang dan mengabdi pada negeri tidak harus jadi caleg, yang penuh triks intriks. Banyak jalan yang lebih bersih dan elegant dalam mengabdi pada negara. Caleg yaog saya tahu caleg itu artinya : calon leg-leg (bhs jawa) = calon pemakan uang rakyat.
aku juga mau belajar jurnalis, ada yang bisa bantu aku??
Memang semuanya pengen jadi caleg
ikut nimbrung donk….
saya M. SAID. S.Ag, Caleg DPR RI Dapil Gresik Lamongan dari PARTAI MATAHARI BANGSA ( PMB )
yang pasti sebelum semua proses berlanjut…..kita sama2 introspeksi untuk memperbaiki mental dan pola pikir kita,
karena bagaimanapun juga Indonesia butuh pemimpin yang bermental MENGABDI UNTUK RAKYAT, memperjuangkan kepentingan RAKYAT dan benar2 bekerja
menjalankan amanat RAKYAT, bukan untuk kepentingan sekelompok. Kalau kondisinya seperti ini terus kapan Indonesia akan bisa maju dan disegani oleh Bangsa Lain ???? zaman telah berubah. tantangan dan Issue global harus dapat kita jawab secara ilmiah. Mari kita bangkit !!!!! Rakyat butuh pemimpin yang mau peduli jeritan hati rakyat, bukan pemimpin yang “pinter” tapi minteri.
Percayalah !!! masih ada jalan, jangan pernah menyerah sebelum bertarung dan jangan pernah skeptis banget dengan orang yang masih mau peduli dan punya niatan baik untuk berjuang ditengah2 morat-maritnya mental dan moralitas. Kalau semua ogah dan tidak peduli….justru ini akan menjadi kesempatan empuk bagi mereka yang memanfaatkan kesempatan.
mending mendukung pemerintah yang pandir agar gampang ditunggangi.kalau terlalu pintar nanti malah KKN.
saya salah satu siswa smp yang cukup bingung dengan celeg-caleg sekarang,terlalu banyak, sampa ikapn ya pemilihan kaya gini, ntar waktu saya dpt ijin untuk memilih apa jg mash banyak ya…
aku jadi pengen jadi jurnalis ajah, tp syngnya g tw gimana caranya
jurnalis ya tetep jurnalis OM…smoga bsok PILPRES 2014 ada CAPRES yang MUDA dan BERWIBAWA