Sunday, May 19, 2013

Hampiri Aku Kembali, Ramadhan

October - 5 - 2008
hampiri-aku-kembali-ramadhan

Syaiful Halim

Tanpa terasa, hari-hari menakjubkan di atas sajadah Ramadhan telah berlalu. Kaum muslim dimana-mana melantunkan takbir dan tahmid seraya menyambut kemenangan Idul Fitri. Adakah alasan untuk tidak merayakannya secara suka cita?

Ramadhan adalah kesempatan mendulang barokah, ampunan, dan percikan kesucian untuk dijauhkan dari api neraka namun didekatkan pada taman surga. Secara syariat, puasa diartikan menahan makan, minum, dan “ibadah khusus” dengan suami atau istri, sesuai firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah. Pengertian itu membidik kendali fisik.

Perut yang kerap mengatur ritme pikiran dan hati diminta beristirahat mengumbar keinginannya. Karena, manusia kerap memburu untuk kebutuhan bagian itu dengan cara apa saja. Dalam artian, tidak lagi menimbang logika apalagi nurani. Apapun yang diinginkan harus didapat. Apapun yang terlihat didepan mata disikat. Sehingga, ketentuan Allah SWT yang disampaikan dalam Al Qur’an dan praktek-prakteknya nyata yang dicontohkan Rasulallah SAW bisa diabaikan.

Pada bagian itu, manusia telah mereinkarnasi perwujudan jiwanya seperti manusia purba. Yakni, manusia yang belum diperkaya akal dan budi, serta belum dilabeli fitrah khalifah. Dengan kata lain, tentu tidak ubahnya dengan hewan. Kebutuhan perut di atas segala-galanya. Dan, ia halal saja memperoleh kebutuhan lahiriah itu dengan cara semau-maunya. Tak peduli itu hak orang lain.

Saya teringat nasihat kuno yang disampaikan Cak Nun dalam “Jejak Tinju Pak Kiai”, Setiap butir nasi dan tetes air yang memasuki tenggorokanmu, perhatikan asal-usul kebenaran dan kebatilannya, posisi halal haramnya. Sebab engkau sedang mengawali dan memproses takdir bagi anak-anak dan cucu-cucumu”.

Bagian berbahaya lain yang menjadi fokus pelatihan, utamanya adalah “saudara” seiman yang kerap tidak seamin di bawah perut. Untuk memenuhi hajat yang satu itu, betapa manusia juga kerap mengabaikan norma dan ketentuan agama. Bila ada kesempatan, maka untuk memenuhi hasrat hewani itu pun kudu dituntaskan selekas-lekasnya. Bagian ini, lagi-lagi, mengingatkan kita akan sifat dasar hewan yang tidak memiliki aturan.

Kedua hal itu merupakan simbol pemenuhan hawa nafsu manusia. Untuk memperoleh keduanya, semua sifat dan karakter manusia bisa bermunculan tanpa batas. Manusia bisa tidak mengenal lagi temannya, saudaranya, bahkan orangtuanya. Maka, puasa menjadi latihan pengendaliannya. Puasa menjadi kesempatan menempa perut dan “saudara” kita untuk bersabar dan bersyukur. Bersabar untuk menunggu kesempatan memenuhi hak sesuai waktunya. Tidak perlu tergesa-gesa, tetap di antrean, dan membiarkan manusia lain yang lebih berhak untuk mendapatkannya. Karena, Yang Mahasabar telah mengatur semuanya dengan sempurna.

Sedangkan, bersyukur atas kesempatan menikmati hakekat kehidupan dari Yang Mahasyukur. Bersyukur masih mendapatkan apa-apa yang menjadi hak kita. Bersyukur masih bisa menikmatinya dengan penuh keberkahan. Dan, bersyukur seantiasa mendapat kebaikan dan kenikmatanNya.

Bila persoalannya sekedar menahan makan, minum, dan “ibadah khusus” dengan lawan jenis, maka tuntas sudah ujian-ujian itu dilewati. Tapi, apakah sesederhana itu pemahamannya?

Memang iya, bila kenikmatan Ramadhan belum juga diraih.

Cobalah rasakan kedasyatan puasa, dengan lapar, haus, dan kendali gairahnya itu. Cobalah merancang Ramadhan sebagai momen dasyat, dengan senantiasa berkeinginan menyambutnya, menjalankan seluruh amaliyahnya, dan bertekad menjadikan bulan-bulan lain laksana Ramadhan. Puasa bukan hanya dijadikan ujian kendali fisik, tapi juga praktik mengendalikan hati dan pikiran.

Cobalah melihat lebih jelas keadaan di sekitar kita. Biarkan Ramadhan membimbing mata, pikiran, dan hati, untuk melihat keadaan di sekeliling kita dengan jujur. Adakah sesuatu yang belum kita perbuat terhadapnya? Bila tidak, maka Ramadhan harus membimbing tangan kita untuk menyentuhnya dan berbuat banyak. Kebajikan, maksudnya.

Cobalah merenung barang sebentar, untuk meneliti kembali adakah kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang masih diperbuat dengan perjalanan ibadah kita. Baik menyangkut amaliyah terhadap Yang Mahasuci, atau perbuatan-perbuatan nyata terhadap makhluk-makhluk ciptaanNya. Introspeksi ini mesti membuahkan catatan tentang kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki. Masih adakah manusia lain yang terzhalimi ulah kita? Masih adakah hak manusia lain yang terengut keserakahan kita? Masih adakah kebahagiaan yang belum disalurkan kepada manusia lain?

Cobalah tidak melulu memikirkan pahala atau ganjaran atas ibadah-ibadah nyata, seperti puasa, shalat fardhu, shalat tarawih, tadarus, dan amaliyah lain. Tapi, berpikir juga melakukan semua itu bukan atas dasar imbalan atau pamrih. Tapi, semata-mata kecintaan kepada Allah SWT. Termasuk juga dalam berbuat kebajikan kepada orang lain, yang tidak lagi berpikir tentang pujian dari sesama dan pahala dari Yang Mahamemberi. Lagi-lagi, semata-mata kecintaan kepada Allah SWT.

Buah dari nilai kesejatian Rukun Islam ke-4 itu, tidak lain ridha Allah. Hanya atas ridhaNyalah, kita benar-benar berharap untuk senantiasa dihampiri Ramadhan dan menjalani keindahan hari-harinya. Sekaligus menjadikan kita sebagai manusia yang wajib hadir di muka Bumi (sebagai khalifah), bukan manusia yang sunnah, makruh, apalagi haram.

Mohon maaf lahir batin. Selamat Idul Fitri 1429 Hijriah.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

25 Komentar pada “Hampiri Aku Kembali, Ramadhan”

  1. Sheila says:

    Subhanallah, selamat idul fitri. Semoga kita semua meraih kemenangan.

  2. Triyono says:

    Sejatinya memang puasa akan menjadikan manusia menjadi bertakwa…seperti janji Allah dalam firman-Nya “Hai Orang-orang yang Beriman puasalah kamu sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

    Puasa membekali diri setiap manusia untuk menjadi lebih baik….agar dapat membentuk keluarga yang lebih baik yang dapat membangun masyarakat yang lebih baik dan akhirnya menjadikan negara ini bangsa yang lebih baik bahkan menjadikan Umat manusia dibumi ini menjadi lebih baik….

    Akhirnya semua kembali ke fitrah….
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H
    Mohon Maaf Lahir dan Batin..
    Minal Aidin Wal faizin…

  3. Dudung says:

    Tiada kebahagian paling sempurna selain menikmati Ramadhan seperti yang diuraikan si Akang. Saya ingat karya-karya Akang di Potret yang banyak ditaburi pemahaman tauhid. Kapan main-main lagi ke Gorontalo? Cerita Suku Bajo masih banyak yang belum diungkap.

    Selamat Lebaran, mohon maaf lahir dan batin. Salam buat mas Teguh.

  4. S Winarto says:

    Sejatinya, ramadhan dengan ibadah puasa dan lainnya adalah mengingatkan kita akan “diri sejati”(ar ruh nan fitrah).
    Bahwa manusia terdiri dari jasmani, ar ruh dan jiwa (an nafs) yang punya kecenderungan masing-masing.jasmani yang senang dunia, ar ruh yang fitrah dan an nafs yang selalu berubah. Inya allah dengan ramadhan, dimana ada pengaturan pemenuhan kebutuhan perut, an nafs kita kembali memiliki sifat “ar ruh” yang fitrah dan selalu tunduk/patuh kepada Rabbnya.

  5. roevly says:

    Hampir setiap tahun kita menjalankan ibadah puasa, insya allah ditahu depan kita akan menjalankan kembali
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H – Mohon maaf lahir dan batin

  6. yoko says:

    aku rindu ramadhanku…..

  7. JHONY SAMAWA says:

    Memang bulan Ramadon adalah bulan yang sangat istimewa bulan yang penuh berkah bulan yang sangat efektif untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta semoga kita dapat bertemu kembali dengan Ramadon yang akan datang amiin, Selamat hari Raya Idul Fitri Minal aidin walfaidzi mohon maaf lahir dan batin.

  8. man says:

    artikel bagus nih…..

  9. RISMA says:

    SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H,semoga kita bisa kembali fitri,dan mantapkan hati untuk berbuat kebaikan-kebaikan selain di bulan RAMADHAN,AMIN….

  10. desi pane says:

    artikelnya keren buanggetttt
    met idul fitri 1429H

    by desi in Madinah Al-Munawarah, KSA

  11. luluk herminah says:

    allah akbar, allah akbar, allah akbar, semoga allah mengampuni dan menghapus dosa-dosa kita, semoga amal, ibadah dan puasa kita dibulan ramadhan diterima dan kita selalu mendapatkan ridho dari-NYA, semoga kita selalu dipertemukan lagi dengan bulan ramadhan yang penuh barokah, hidayah dan ampunan-NYA, amin, wassalam.

  12. yanticha says:

    Allahu Akbar, artikel yang penuh makna dalam pencerahan hati dan diri….

  13. ardani says:

    alhamdulillah,kita sudah melaksanakan salah satu rukun islam,puasa memang bisa membikin badan kita sehat,dan itu merupakan janji nabi muhammad saw.
    mudah-mudahan kita mendapatkan ridho allah swt.insya allah tahun depan kita bisa melaksanakanpuasa kembali.

  14. Ririn di Kuala Lumpur says:

    Akhirnya, ketemu lagi. Kapan ke Kuala Lumpur lagi and nonton F-1 di Sepang? Ah, jadi rindu tanh air. Lolo udah balik ke Jakarta, kan? Mohon maaf lahir batin.

  15. astrid says:

    Subhanallah… ternyata 30 hari tak terasa. Bulan penuh berkah, penuh ampunan. Semoga kita bisa bertemu kembali ya ramadhanku…. Semoga diberi kekuatan dan kesehatan untuk menyambutmu.
    Minal aizhin wal faizhin
    Mohon maaf lahir bathin
    1 Syawal 1429 H
    Semoga kita bisa menyambutu dan menyongsongmu di tahun mendatang. Amiin….

  16. oddie says:

    Barang siapa diuji lalu bersabar,diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar, maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh HIDAYAH. (HR. Al-Baihaqi) Insya Allah kita semua termasuk di dalamnya…Amin.

  17. oddie says:

    Barang siapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memafkan dan menzalimi lalu beristighfar, maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh HIDAYAH (HR. Al-Baihaqi). Insya Allah, kita semua termasuk di dalamnya… Amin.

  18. usep soleh safaat says:

    Subhanallah,Ramadhan telah berlalu pergi tanpa menoleh lagi padahal,aku masih betah berlama lama merasakan belaian kasih sayangnya,Ramadhan pergi dikala aku telah benar benar jatuh cinta,aku rasakan kenikmatan dan kebahagiaan ketika bersamanya,ya Allah,akankah aku dipertemukan kembali dengan Ramadhanmu yang agung di tahun depan,lindungilah aku dan keluargaku juga saudara saudaraku sekandung, seiman sekeyakinan, sebangsa senegara,juga saudaraku dibelahan dunia manapun dari propaganda iblis dan balatentaranya untuk menghancurkan hambamu ini setelah satu bulan kau manjakan dengan ampunanmu,berlipat lipatnya pahalamu juga dibebaskannya hambamu ini dari siksa neraka…tentu iblis dan komplotannya tidak senang dengan semua itu,mereka akan terus berusaha membujuk hamba hambamu ini untuk menemaninya nanti di neraka,karena itu tetapkanlah hati hamba hambamu ini untuk tetap berada dijalanmu,ketenangan ketentraman dan kenyamanan aku rasakan di bulan ramadhan,pertemukan kembali aku pada bulanmu yang agung bulan yang didalamnya terdapat malam seribu bulan, malam yang penuh kebahagiaan,dan segalamacam rasa sukacita yang tidak bisa digambarkan dengan kata kata.Idulfitri memang hari kemenangan,sukacita tergambar dimana mana,tapi kesedihan membayangiku harus berpisah dengan Ramadhan untuk bertemu kembali sebelas bulan kedepan.InsyaAlloh Amin yarobalalamin

  19. moniec says:

    say thanks to GOD..ilove u ALLAH.i love u than everythink i had..

  20. ardani says:

    bagus,keren abis dah artikelnya,Ramadjan memang membawa berkah bagi kita semua,bagi saya bulan ramadhan adalah bulan yang sangat menyehatkan badan, kalau dibulan bulan yang lain selain ramadhan, saya selalu merasakan,tubuh saya ini selalu dalam keadaan sakit tetapi di bulan ramadhan badan saya selalu sehat,saya ajak puasa tubuh saya segala penyakit semua bisa hilang.saya setiap tahun selalu bullan ramadhan terus.insya allah tahun yang akan datang kita ketemu lagi.

  21. Alhamdulillah, banyak tambahan gizi yang disodorkan teman-teman yang justru bikin saja “bangun” dari tidur panjang. Salam kangen buat Ririn di Kualalumpur dan Dudung di Gorontalo. Kalau Allah mengizinkan kita pasti ketemu lagi.

    Terima kasih banyak. Allah SWT senantiasa bersama kita. Amien.

  22. pijey says:

    waah, baguuussss banget artikelnya Pak..Betul2 ini bisa menjadi renungan sekaligus sindiran bagi kita semua.Setuju bgt, kalo sekarang ini jangankan g puasa, g solat apalagi.Lucunya lagi, sekarang yang dilihat aneh bukan orang yang ga solat, tapi orang yang solat.Suka sedih si kalo di mushola kampus, yang solat sepi bgt.Ya smoga aja ya lebaran tahun depan, teman2 dan yang lainnya menjadi lebih rajin solatnya, dan rajin puasanya.Karena makin banyak aja bulan ramadhan kemarin, org2 yg tidak berpuasa.Mungkin, mereka belum tersadar betapa berlimpahnya nikmat Allah swt kepada kita semua.Semoga artikel Pak Syaiful bisa dibaca semua orang yang membutuhkan penyadaran dan petunjuk.amien…Ditunggu artikel selanjutnya hehehehe:)

  23. Nuraini says:

    Pada dasarnya puasa memang menjadikan seseorang menjadi lebih beriman dan bertaqwa, seperti firaman Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 184-185 yang mewajibkan setiap umatnya untuk berpuasa sebagaimana orang-orang yang terdahulu agar kamu bertaqwa.Puasa juga salah satu rukun islam.
    Ramadhan juga membawa berkah bagi kita semua orang karena bulan ramadhan adalah bulan yang suci.
    Puasa dapat menjadikan diri seseorang lebih baik lagi dan dengan puasa pula kita dapat menahan diri dari segala perbuatan yang dilarang Allah SWT.

    Aku rindu Ramadhan Ku…

  24. megha says:

    tak terasa bulan penuh berkah ramdhan telah tiba lagi….

    marhaban ya ramadhan semuanya….

    semoga kta bisa melaksanakan ibadah puasa dengan baik…

  25. kang dul says:

    maaf kang kalau saya tidak baca isinya tapi judulnya saja. saya hanya ingin bertanya, siapkah kita dihampiri oleh ramdhan?. padahal kalau kita tahu, ramadhan tidak pernah datang sendiri kecuali dia diantar oleh sang pemiliknya untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.

Tinggalkan Komentar