Saturday, May 18, 2013
kabar-dari-washington-d-c-2-menuju-basis-kaum-kulit-hitam

Sondang Sirait

Setahun tak bepergian jauh, saya lupa betapa melelahkannya perjalanan ke Amerika Serikat. Rute yang kami lewati saat datang dari Jakarta, yaitu melalui Amsterdam, ditambah waktu transit tujuh jam, mungkin menambah keletihan itu. Penyakit lama saya kambuh, yaitu tak pernah bisa tidur dalam perjalanan, jauh atau dekat. Ketika sampai, kami pun disapa suhu udara 7 derajat Celcius yang terasa lebih dingin karena kencangnya angin.

Alhasil, hari ketiga di D.C., sejumlah tamu tak diundang pun datang mengganggu: mulai dari jetlag, sariawan sampai mimisan. Selengkapnya »

pilpres-dalam-kendali-parpol

Anton Bahtiar Rifa’i

Pertarungan segera dimulai. Aturan main pemilihan presiden dan wakil presiden telah disepakati, setelah Rapat Paripurna DPR menyetujui pengesahan RUU Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres). Pesan dari RUU itu sudah jelas: untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden, setiap partai politik (parpol) cenderung harus berkoalisi. Selain itu, dalam Pemilu 2009 nanti, jika mengacu pada syarat minimal suara sah nasional yang harus dimiliki parpol atau gabungan parpol, maksimal hanya akan ada empat pasangan capres-cawapres yang akan bertarung. Syarat minimal 20 persen perolehan kursi di DPR atau 25 persen suara sah nasional untuk mencalonkan presiden, pasti akan sulit dipenuhi parpol. Maka, koalisi pun menjadi keniscayaan.

Aturan main seperti itu sudah pasti akan merubah konfigurasi peta capres-cawapres yang akan bertarung. Ketentuan ini juga membenamkan harapan orang-orang yang ingin maju sebagai capres lewat jalur perseorangan. Jangankan tanpa parpol, melalui kendaraan parpol pun seorang tokoh akan kesulitan untuk maju sebagai capres. Realita ini jelas mengindikasikan kuatnya kendali parpol yang saat ini berkuasa di parlemen, dalam membuat aturan main pemilihan presiden. Selengkapnya »

kabar-dari-washington-d-c-1-keindahan-demokrasi

Sondang Sirait

Di sebuah kios di sudut Independence Avenue, lima blok dari gedung Kongres AS, Sharon Fitzpatrick sibuk berbelanja topi, stiker, dan pin. Tapi ia bukan turis, dan yang dibelinya bukan cinderamata bertuliskan “Washington, D.C.”, melainkan “Obama ‘08”. Tak main-main, 60 dolar ia habiskan, membuat tersenyum para pemilik kios.

“Ini bukan untuk saya, tapi akan saya kirimkan kepada keluarga di negara bagian Ohio,” tuturnya sambil menunjukkan barang-barang yang baru ia beli. “Saya benar-benar berharap Obama akan terpilih menjadi presiden. Tak terbayangkan bila McCain sampai menang. Apalagi orang seperti Sarah Palin, rasanya tak pantas jadi wakil presiden,” lanjut perempuan pemilik jasa konsultan di Virginia itu.

Sharon Fitzpatrick, Warga Virginia, AS
Menunjukkan pernak-pernik cinderamata Obama

Selengkapnya »

ssstsultan-mengincar-ri-1

Moh Samsul Arifin

Tak ada nama Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, Sutiyoso atau Rizal Mallarangeng di Ciganjur, 1998 silam. Cuma empat nama, yakni Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais dan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang ada di sana. Mereka lekat di benak sekian juta rakyat, karena kiprahnya menyuntikkan dan memompakan etos perubahan di negeri ini.

Di Ciganjur—sebuah tempat yang lumayan sulit dilacak peta—empat orang itu berembug, memeras otak untuk merumuskan sikap setelah rezim otoriter tumbang. Reformasi berkibar sejak aula kampus hingga jalanan. Tapi, bagaimana mengisinya, inilah masalah runyam yang kurang dipikirkan—bahkan oleh kalangan mahasiswa, aktor penjebol kekuasaan Soeharto. Selengkapnya »

Cinta Osama

October - 29 - 2008 18 KOMENTAR
cinta-osama

Syaiful Halim

Espendi memainkan kaleng berisi bara sambil berlaga seperti guide. Di belakangan, kamera subyektif terus membuntuti. Lelaki kecil itu memang tengah menjadi “kendaraan” untuk bertutur tentang kekumuhan dan kesemrawutan sudut kota Kabul yang dikuasai Taliban.

Espendi makin bergaya, ketika menjumpai dua wanita yang berjalan tergesa-gesa. Salah satu di antaranya adalah bocah perempuan seusia Espendi. Kamera makin “nakal” mempermainkan kedua wanita itu. Untung saja, tiba-tiba muncul ratusan perempuan yang berunjuk rasa menuntut kesamaan hak; kaum muslimah pun berhak bekerja! Selengkapnya »

Langkah Kuda PKS

October - 28 - 2008 190 KOMENTAR
langkah-kuda-pks

Rahman Andi Mangussara

Ada foto tokoh Islam terkenal Ahmad Dahlan. Lalu disusul dengan foto Bung Karno dengan slogannya: saya budak untuk rakyatku. Itulah iklan tv yang saya lihat beberapa hari terakhir ini. Menurut Anda, kira-kira iklan ini milik siapa? Tepat sekali, Anda sama dengan saya. Ketika pertama kali melihatnya, saya menduga ini adalah iklan LSM atau iklan pemerintah atau iklan partai politik yang berhaluan nasionalis. Nyatanya saya salah. Ini adalah iklan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam menyambut 80 tahun Sumpah Pemuda.

Bung Karno, selama ini, adalah ikon kaum nasionalis, terutama PDI-P. Tidak ada yang berani memakai Bung Karno sebagai simbol perjuangan, selain partai-partai yang berhaluan nasionalis. Tapi ini, partai yang berasaskan Islam, berani mengambil simbol itu. Selengkapnya »

Uncle Sam, Gotcha!

October - 27 - 2008 55 KOMENTAR
uncle-sam-gotcha

M. Nurul Amin

Amrik, Rasain loh. Itu barangkali terjemahan bebas judul diatas. Bagi sebagian orang, mungkin saat ini merupakan situasi dimana mereka merasa puas dengan kondisi Amerika Serikat yang tengah dilanda krisis keuangan dan kepemimpinan. Yah, mereka sudah sejak lama menginginkan Amerika Serikat jatuh karena arogansi sikap yang dilakukan negeri adi daya ini.

Untuk soal arogansi, Amerika Serikat memang nomor satu! Tak perlu ada penjelasan, Irak dan Afghanistan, merupakan contoh nyata. Untuk soal politik standar ganda, juga tidak perlu ada penjelasan, Palestina dan Israel, sudah jelas. Untuk urusan Hak Asasi Manusia, ah, sudahlah, HAM hanya untuk kita, untuk Amerika, jelas beda! Selengkapnya »

Vitalitas

October - 25 - 2008 3 KOMENTAR
vitalitas

Yus Ariyanto

Dia bukan orator yang mumpuni. Intonasinya cenderung datar, nyaris tanpa aksentuasi. Kendati begitu, seratusan hadirin menyimak dengan takzim. Apalagi, materi yang disajikan membutuhkan konsentrasi agak ekstra jika emoh kehilangan jejak. Judul presentasinya: Demokrasi dan Disilusi. Malam itu, Jakarta diguyur gerimis.

Tapi, orang tua itu memang “mengherankan.” Di usia ke-67, dia masih asyik menyatroni khazanah pemikiran mutakhir. Lihat, dia mengutip Jacques Ranciere, Alain Badiou, atau Ernest Laclau. Berdiri di depan untuk memperkenalkan mereka. Selengkapnya »

jurnalis-tak-ingin-menjadi-caleg


M. Nurul Amin

Tawaran itu datang pada saya, dari tokoh utama sebuah partai politik: maukah Anda menjadi calon anggota legislatif pemilu 2009 ? Tawaran ini, sama persis ketika susunan pengurus sebuah partai politik tengah disusun. Maukah anda masuk dalam kepengurusan?

Saya tidak pernah menjawab ya atau tidak. Saya hanya mengatakan saya seorang jurnalis, dan saya sangat suka dengan dunia yang tengah saya geluti ini. Sebagai seorang jurnalis, saya bisa mengenal dan dekat semua kalangan, mulai dari politisi, agamawan, akademisi, artis, hingga presiden, bahkan tukang becak dan penjahat sekalipun. Ada lagi yang lebih nikmat, saya bisa jalan-jalan gratis keliling Indonesia dan keliling Benua, bahkan menunaikan ibadah Haji, tentu saja dengan embel-embel liputan. Selengkapnya »

slamet-gundono-jadi-tuhan

Syaiful Halim

Ki Slamet Gundono adalah dalang ternama dari Tegal, yang mempopulerkan Wayang Suket – wayang yang terbuat dari rumput. Dalam bahasa Jawa, suket berarti “rumput”.

Dengan kreativitasnya, Ki Dalang yang bertubuh tambun itu, memadukan keterampilan mendalang, berteater, dan bermusik, sambil memainkan lakon-lakon pewayangan klasik yang diaktualkan dengan peristiwa nyata. Sehingga, suket yang hakekatnya hanyalah tanaman liar, di tangannya menjelma menjadi wayang-wayang yang memiliki otak dan hati. Selengkapnya »

laskar-pelangi-hilangnya-sebuah-sensasi

Moh. Samsul Arifin

Seandainya “Laskar Pelangi” ditutup dengan adegan Ikal mengejar Lintang, rasanya pesan kuat atas ironi di balik nasib sial bocah jenius asal Tanjung Kelumpang (pesisir Belitong) yang harus putus sekolah karena ayahnya meninggal bakal menerbitkan sejuta tanya pada penonton film ini. Bagaimana Ikal mengejar mimpi sekolah tinggi, seperti selalu dibisikkan Lintang? Apa yang terjadi dengan Lintang, anak sekolah dasar yang harus menafkahi adik-adiknya yang yatim piatu?

Tapi, Riri Riza memilih jalan lain. Sutradara jebolan Institut Kesenian Jakarta ini memutuskan memuaskan selera para pecinta buku Andrea Hirata—Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor. Ada adegan Ikal dan Lintang (sudah dewasa) bertemu di Belitong (Tapi, saya tak pernah mengerti mengapa pertemuan dua sahabat itu dibuat datar oleh Riri Riza. Tak ada kehangatan seperti umumnya sahabat yang terpisah jarak dan waktu mengekspresikan diri kala kembali bertemu). Selengkapnya »

selamanya-laskar-pelangi

Syaiful Halim

Pekan-pekan terakhir, bisa dipastikan, film “Laskar Pelangi” tengah mengharubiru seluruh penonton di tanah air. Ikal, Lintang, Kucai, Bu Mus, dan sejumlah tokoh-tokoh lain dalam buku kreasi Andrea Hirata itu, kini tengah berjuang menawarkan inspirasi menjalani hidup melalui layar perak.

Jauh sebelum membaca novel inspiratif itu, dan tentu saja, jauh sebelum film itu digarap, saya mendapati kehidupan Laskar-laskar Pelangi di daerah lain. Di hamparan Pulau Pasir Padangan – gusung yang dijadikan pemukiman seluas sekitar satu kilometer – di tengah Selat Muna, saya menjumpai anak-anak sekolah seusai Ikal dan kawan-kawan. Mereka anak-anak suku Bajo di daerah Sulawesi Tenggara.

Selengkapnya »

hamka-ulama-mumpuni-penyejuk-hati

M. Nurul Amin

Ayah, itu pikiran di benakku ketika membeli buku Mengenang 100 Tahun Haji Abdul Malik Karim Amrullah, HAMKA, di Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, pertengahan Ramadhan kemarin. HAMKA bukan ayahku, juga bukan guruku, sehingga harus kupanggil guru atau ayah. Tapi HAMKA mengingatkan akan almarhum ayah.

Ya, dari ayah akhirnya aku tahu siapa HAMKA. Betapa tidak, setiap membangunkan aku untuk sholat subuh, di masa kanak-kanak,  ayahku selalu memperkeras suara radio yang saat itu tengah menyampaikan ceramah kuliah subuh. Kudengar suara itu begitu lembut, halus dan santun, membuat damai di hati. Meski kantuk merona dan dingin mengelana di sekujur jiwa, suara itu membangunkanku.  Ya, suara itu membangunkanku, suara HAMKA. Selengkapnya »

hampiri-aku-kembali-ramadhan

Syaiful Halim

Tanpa terasa, hari-hari menakjubkan di atas sajadah Ramadhan telah berlalu. Kaum muslim dimana-mana melantunkan takbir dan tahmid seraya menyambut kemenangan Idul Fitri. Adakah alasan untuk tidak merayakannya secara suka cita?

Ramadhan adalah kesempatan mendulang barokah, ampunan, dan percikan kesucian untuk dijauhkan dari api neraka namun didekatkan pada taman surga. Secara syariat, puasa diartikan menahan makan, minum, dan “ibadah khusus” dengan suami atau istri, sesuai firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah. Pengertian itu membidik kendali fisik.

Selengkapnya »