Anton Bahtiar Rifa’i
Hari Minggu (28/9) lalu, program Liputan 6 Pagi SCTV menayangkan perbincangan tentang film Kantata Takwa, dengan menghadirkan sutradara Eros Djarot dan personel Kantata Takwa, Yockie Suryoprayogo. Sayang sekali, personel Kantata Takwa lainnya, Iwan Fals, Sawung Jabo, WS Rendra, dan Setiawan Djody, tidak bisa hadir di studio. Djody sedang berada di Singapura, sementara Jabo sedang di Australia. Film Kantata Takwa merupakan film semi dokumenter yang merekam perjalanan konser Kantata Takwa di tahun 1990-an. Film yang disutradarai Eros Djarot dan Gotot Prakosa ini baru dirilis pekan lalu, setelah penggarapannya sempat terhenti selama 18 tahun.
Ketika menyiapkan materi untuk tayangan dialog tersebut, ingatan saya melayang ke masa 18 tahun silam. Ketika itu, saya masih remaja belasan tahun. Saya dan teman-teman pada masa itu merasakan luapan gegap gempita ketika sekelompok seniman yang tergabung dalam Swami, kemudian bermetamorfosa menjadi Kantata Takwa, hadir mengobarkan suatu semangat baru. Dengan Kantata Takwa, kami tak sekadar menikmati musik dan nyanyian. Kami juga merasa mendapat suntikan semangat dan keyakinan. Generasi kami kala itu memang hidup dalam suatu zaman, ketika arti demokrasi dan kebebasan terasa hambar.
Kemunculan Kantata Takwa di tahun 1990-an, yang dikukuhkan dengan konser akbar di Stadion Utama Senayan tahun 1991, merupakan peristiwa kebudayaan yang sangat fenomenal. Ia menjadi gerakan kultural yang berwibawa karena berani berhadapan dengan angkuhnya kekuasaan. Ia menjadi kekuatan pencerah bagi demokrasi yang berkabut. Ia menjadi pelipur lara ketika institusi-institusi politik kehilangan fungsi kontrol. Ia menyuntikan keberanian ketika kekuasaan menebarkan ketakutan.
Spirit Kantata Takwa memang didominasi oleh pikiran-pikiran penyair WS Rendra. Pikiran itu kemudian menjelma dalam artikulasi yang sempurna, setelah Rendra bersenyawa dengan pemusik dan penyanyi idealis seperti Iwan Fals dan kawan-kawan. Lagu-lagu Kantata Takwa rata-rata mengekspresikan perlawanan atau kesaksian atas zaman represif di masa Orde Baru. Lagu berjudul Paman Doblang, misalnya, merupakan kesaksian tentang ketidakpastian hukum, serta merupakan ekspresi kegundahan para kelompok kritis yang setiap saat bisa dibungkam penguasa. Itu antara lain tergambar dalam penggalan lirik: ”Di setiap jalan menghadang mastodon dan srigala. Kamu terkurung dalam lingkaran. Para pangeran meludahi kamu dari kereta kencana. Kaki kamu dirantai ke batang karang. Kamu dikutuk dan disalahkan, tanpa pengadilan.
Semangat untuk berani juga ditebarkan, antara lain dalam lagu Rajawali: “Satu sangkar dari besi. Rantai kasar pada hati. Tidak merubah rajawali, menjadi burung nuri…Burung sakti di angkasa, lambang jiwa yang merdeka.” Kantata Takwa juga menularkan suatu sikap atas segala kebohongan dan ketidakadilan, seperti saat Sawung Jabo berteriak dalam lagu Hio (dari album Swami): “Aku tak mau terlibat pengingkaran keadilan. Aku mau jujur-jujur saja. Bicara apa adanya. Aku tak mau mengingkari hati nurani. Hio, hio, hio.”
Perlu dicatat, Saudara, syair-syair lagu yang saya uraikan tadi, ruhnya terasa kuat saat diperdengarkan di zaman represif. Mungkin jika diperdengarkan sekarang, apalagi oleh orang yang tidak punya ikatan dengan sejarah masa lalu, ruhnya tidak akan sekuat dulu. Nah, mengingat film Kantata Takwa baru hadir setelah 18 tahun berlalu, saya sempat berpikiran, “kehadiran kembali” Kantata Takwa tidak akan semeriah dulu, seperti saat mereka tampil di panggung konser yang megah. Panggung mereka kini mungkin sudah redup, karena situasi kekuasaan dan masyarakat sudah berubah. Apalagi, gedung bioskop kini kurang bersahabat dengan intelektualisme, kritisisme, dan idealisme.
Namun, saat tampil dalam dialog di Liputan 6 Pagi, Eros Djarot meyakini bahwa Kantata Takwa tetap kontekstual dengan zaman sekarang. Karena, banyak nilai-nilai universal yang disuarakan. Eros antara lain merujuk pada isi lagu Kesaksian: “Orang-orang harus dibangunkan. Aku bernyanyi menjadi saksi.” Untuk hal ini, ada juga benarnya. Era keterbukaan dan kebebasan terkadang juga meninabobokan. Kesadaran elite politik akan nasib bangsa, juga kepedulian terhadap sesama, kadang seperti terlelap. Ya, mereka harus dibangunkan.
Yang pasti, sampai sekarang, saya masih terpesona, bahkan hingga merinding, setiap kali mendengarkan koor Kantata Takwa melagukan Paman Doblang, terutama pada bagian lirik:
Kesadaran adalah matahari.
Kesabaran adalah bumi.
Keberanian menjadi cakrawala.
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.




















Duh kami tertarik banget dengan film kantata takwa. Kalo kita mau memfasilitasi roadshow film tersebut di kampus kami, bisa nggak? trus gimana caranya? kami sangat mengharapkan akan terlaksananya roadshow film ini di kampus kami ( Universitas Muhammadiyah Prod DR Hamka ) atau yang lebih dikenal dengan UHAMKA, Jl. Limau II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan..Apalagi film ini bisa memacu khususnya mahasiswa untuk memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia sesuai dengan amanah Pancasila, karena mempunyai nilai-nilai teriakan orang-orang yang tidak mendapatkan hak-nya..kami tunggu beritanya…thanks..
regards,
kiki kumaita wisaka (085695076988 / 02199860502)
Sebenarnya kekuatan kantata takwa ada di Iwan fals. Dia juga udah lama buat lagu-lagu kritik. Setelah bergabung dengan kantata takwa, kritik sosialnya emang jadi lebih bagus.
Halo, maaf kalo comments nya gak begitu enak.
Jujur, saya bingung, si penulis ini bicara seolah2 iklannya Kantata ya dan gitu kok dibawa2 ke negara? Halo Mas Penulis, jaman sekarang anda akan tertinggal beberapa dekade kalo mau kritik negara lewat analisa lagu apalagi grup Band, to the point aja, atau yang lebih bagus lewat para Jagoan tempo dulu, sperti Napoleon, Hitler (mungkin) atau Jenderal Sudirman. Selain anda gak jelas bicara apa, saya lebih suka anda promo Kantata aja, toh grup itu memang bagus, jadi gak usah nyerempet2 ke negara. Itu kuno dan gak akan mempan, PERCAYALAH ! (iklan juga nih!)
memang zaman sudah berubah, tapi kita yakin bahwa ornag2 baik yang memperjuangkan kemanusiaan masih banyak, berarti yang akan menonton film ini juga insyaallah banyak mejua terus kantata, kemanusiaan memang harus disuarakan..!!!
Wah, kabar yang bagus nih. Gak sabar nonton filmnya, sayang baru bisa pulang ke tanah air akhir taon nanti. Kantata Takwa, Swami dan Iwan Fals memang besar karena ‘mendengar’ dan ‘menyuarakan’ hati nurani bangsa Indonesia yang tertindas. Sayang di Jaman reformasi ini blom ada seniman yang bisa menyuarakan kegundahan masyarakat terhadap tingkah politikus yang masih saja rakus berebut jabatan dan terus mengabaikan rakyat.
salam
http://www.ossgis.co.cc
hahahaa… setahu saya, Anton memang paling suka dengan puisi-puisi Rendra. Terutama yang dia kutip bagian akhir:
Kesadaran adalah matahari.
Kesabaran adalah bumi.
Keberanian menjadi cakrawala.
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.
Anton ngapa sih nggak sekalian aja jadi penyair? Masih ingat dengan Daun-Daun Jatuh Tunah Tunas Tumbuh (1995) kan?
Ah, omong-omong saya pun pengen nonton Kantata Takwa. Saya pengen mendengar suara serak-serak berat Rendra membacakan syair-syair yang sebenarnya asyik punya. Bicara kehidupan yang sebenarnya sangat filosofis tetapi dengan bahasa yang terang (Rendra sendiri menyebutnya puisi pamplet).
Dan, saya rasanya kok sepakat dengan Rendra dalam banyak hal.
Teruskan Mas Eros Jarot, Kantata Takwa adalah spirit, salam untuk Bang Iwan Fals.
Mengurai Kantata Takwa, tak mudah, menggugah kembali sebuah realita akan perjuangan hidup dan kemanusiaan bak mengurai benang kusut. Spirit Kantata takwa memang nyaris dimakan waktu. Tinggal sisa kenangan yang kini coba dikais lagi. Namun seyogyanya perjuangan itu tak pernah usang dimakan waktu. Sampai kapanpun..tak peduli waktu. Namun tetaplah mencoba untuk terus berkreasi karena seni tak akan mati.
Kantata Takwa seharusnya jadi inspirasi buat seniman yg lebih muda. bahwa seniman juga harus peduli ama urusan sosial. Jangan kayak artis jaman sekarang, belum apa-apa udah pengen jadi caleg, padahal nggak pernah peduli dan nggak pernah dekat ama rakyat.
sy teringat waktu itu memang konser Kantata Takwa menjadi konser pertama yg digelar sangat meriah dan pertama dilakukan di Stadion Utama Senayan karena memang akan menarik banyak sekali penggemar musik terutama Iwan Fals dan seniman lainnya…
Untuk saat ini memang masih relevan untuk dikumandangkan kembali “Ruh” Kantata Takwa… untuk kembali mengingatkan bahwa ketidakadilan, kesewenang-wenangan memang harus diberantas….
Dan yang lebih penting lagi….bagaimana kondisi bangsa saat ini dapat menjadi lebih baik..untuk itu perlu ada ide-ide baru dari orang-orang spt Iwan Fals dkk agar bangsa ini dapat menjadi Bangsa yang makmur sesuai keinginan seluruh rakyat…
iklan ato bukan…saya suka artikel ini.saya sendiri pengagum berat kantata khususnya iwan fals.
dan saya juga masih merinding mendengar lagu-lagunya. apalagi kalo sambil mengingat suasana konser di taon 91 itu.
ada moment ketika penonton membakar kursi stadion. lalu kemudian iwan fals menghentikan lagunya dan meminta api dimatikan. sontak seluruh penonton ikut berteriak…matiin..matiin..matiin..
maka api pun langsung dimatikan.
gila itu iwan….segitu kharismatiknya buat para fansnya…
top markotop…
film kantata takwa kok diputernya cuma di blitz. kalau orang-orang yang di luar jakarta seperti saya pengen nonton, gimana caranya?
Kapan ya diputar di Televisi???
di tunggu….
Bangetttt………..!!!!
Hidup Kantata takwa…
hidup iwan fals…..
Emang berat kalo Kantata Takwa harus muncul lagi sekarang, dan bersaing ama band anak-anak muda. Tetapi seharusnya semangat perjuangan mereka jangaan padam, bagaimanapun mereka sangat penting dlm perjalanan musik indonesia. Salut buat kantata takwa, juga salut buat mas Anton Bahtiar.
Menumbuhkan kembali batang yang telah layu, ribet.. bo!! Sebaiknya produktif dan kreatif kembali dalam karya mutakhir yang lebih hebat dari Kantata Takwa.
Bernostalgia setelah 18 tahun film Kantata Takwa pada saat ini, wuiih… otak udang. kenapa yang jadul-jadul gitu selalu mengelilingi pikiran-pikiran orang-orang jaman sekarang kontra produktif, sisa-sisa sampah berserakan. Buat lagi dong yang anyar atau sekuel terkini dari Kantata Takwa menjadi lebih halal toh seniman sekaliber orang-orang jadul itu. Buktikan bos!! jangan terkungkung dalam orientasi jaman dulu lah. kembali ke belakang pada akhirnya…
laskar pelangi…..
penasaran bangetd dengan tokoh2 aslinya…
klu cma di liput sekilas kuarang bangetz…
biz gag bsa nonton pz liputan 6 siang…
sore ajah di liputnya
kn klu siang pada skul
slm…
kalau Jabo, Eros, Rendra dan Iwan bicara lewat seni ya itu memang proporsional. Masa’ sih mereka disuruh pimpin demo, bakar-bakaran, tumbangkan rezim, itu urusan korlap-korlap. resonansi perubahan, anti penindasan yan dikirimkan mereka lantas merubah mind set generasi cuek sekarang ini. Itu harapannya….semua ada porsinya bung, meski untuk itu mereka juga ambil resiko.
@Joey Setiawan
@ugikz81_bonek
Tanpa masa lalu tidaklah mungkin ada masa kini. Generasi DOT NET terlalu mengagungkan kecepatan, kepraktisan atas nama modernisasi, namun seringkali tanpa pendalaman dalam setiap buah pemikirannya.
Kearifan sudah mulai menghilang pada generasi ini. Apakah artinya maju?? hanya mengikuti trend tanpa diberengi identitas diri? pegang ponsel dan gadget jutaan rupiah? hip-hop, RNB, anting dan gelang monel? ban bekas dan api, bom molotov, dan megaphone?? Itukah arti maju bagi generasi saat ini? atau nampang di televisi debat keroyokan, asal melawan penguasa asal berteriak lantang?
Jika anak-anak generasi dotNet, yang lahir setelah tahun 1980, menganggap bahwa apa yang dilakukan kaum tua (Kantata) ini sudah ketinggalan jaman, pertanyaanya apakah YANG SUDAH ANDA PERBUAT untuk negeri ini??
Tunjukkan apa prestasimu? Prestasi pribadi untuk mengkritik penguasa? Apaaa?
*kalau cuma berteriak, meledek dan berkelompok… anak SD juda bisa*
utk sodara joey setiawan..
anda mungkin waktu thn 1991 masih kecil dan belum tau tentang arti lagu-lagunya kantata takwa. semua orang yang hidup di tahun tsb, akan merasa merindukan jaman kebebasan yang bertanggung jawab..
saya yakin waktu itu anda masih maen2..lagu-lagu kantata takwa belum ada tandingannya mas sampai saat ini. waktu itu di tahun 1991, yang hadir di konser kantata takwa yang diadakan di stadion utama senayan -+ 200 ribu orang. sampai saat ini belum ada yang menyamai rekor tsb di indonesia. gunanya seniman semacam alm.w.s. rendra, setiawan jody, iwan fals, sawung jabo, jocky suryoprayogo, inisisri adalah untuk menggugah semangat untuk bangkit, bukan untuk melawan pemerintah. tapi menyadarkan masyarakat kita yang sudah tertidur. jadi wajar kalo mereka menyuarakan dengan seni, bukan demo dan bakar-bakaran..kl bakar-bakaran mending di warung aja, bakar ayam, ikan, bebek dsbgnya..
makasih…
Alhamdulillah, aku termasuk bagian dari sejarah itu, 1991, genap setahun jadi anak kuliahan. Konser yang mengubah banyak hal dalam diriku, di antara 150 ribu nyala korek indah yang menyala darurat. WS rendra luar biasa, thank iwan fals the icon, thank sawung jago dengan teriakan menggeloranya, trima kasih kantata takwa
to: ugikz81 bonek
tau apa kau ttg arti perubahan !!! Anak kemarin sore pecak melawan, apo dio jasa kau dibandingkan kantata swami yg sdh rela keluar msk penjara krn kritik trhadap pemerintah Orba, tidak ada !!!