M. Nurul Amin
Temanku, seorang wartawan menggelengkan kepala, saat melihat hasil survey mengenai calon pemimpin, menyebut Megawati di atas angin untuk pemilu nanti. Temanku lainnya, seorang pengusaha muda, hanya terpaku mendengar pernyataan seorang politisi bahwa SBY berpeluang besar memimpin negeri lagi.
Sobatku, seorang aktivis Islam, tak tahan memukul jidatnya saat mendengar Gus Dur di radio mencalonkan diri sebagai presiden lagi. Sobatku lainnya, seorang akademisi, membenahi kacamatanya saat melihat Amien Rais di televisi, mulai unjukgigi, untuk menjadi calon presiden, pemimpin reformasi.
Lho memang kenapa ? Ada yang salah ? Tidak, tidak ada yang salah dari mereka, untuk terus bermimpi dan berharap memimpin negeri.
Yang salah adalah para teman dan sobatku ini. Entah apa alasannya, sobatku sang akademisi berkata, kalau mereka menjadi pemimpin negeri, aku akan mencari beasiswa untuk sekolah di luar negeri, sementara sobatku sang aktivis Islam bertafakur, aku tak melihat mereka, karena aku berharap menjadi mukimin di Mekkah, negeri para Nabi.
Temanku pengusaha berencana membuat business plan, aku mau buka usaha di luar negeri. Terakhir, teman wartawanku, melenguh, aku mau pindah menjadi warganegara/i yang nanti kucari!
Aku hanya terdiam, sesaat aku berpikir, aku akan berbuat apa? Sekolah lagi, cape dech. Menjadi mukimin di Mekkah, jelas tidak mungkin, sholat aja, hati masih kesana-kemari. Buka usaha di luar negeri, mimpi kali ye. Pindah warganegara/i ? Yang ini, kayaknya berat kalee.
Lalu, bagaimana ? Tidak ada jawaban. Pusing, aku setel televisi. Aku lihat tokoh muda di televisi, berjalan beriring, sesama anak bangsa, bahu membahu menunjukkan asa negeri. Rizal Mallarangeng dan Soetrisno Bachir berjanji untuk negeri. Kumatikan televisi. Laptop kubuka, halaman facebook terpampang, terlihat jeli, ada Fajrul Rachman berkreasi, eh, ada juga Ratna Sarumpaet, sang putri.
Sudahlah, aku ingin menyepi, kukendarai mobilku tanpa tujuan berarti. Kudengar radio, Wiranto membuka harapan bagi negeri, Prabowo membesut hati. Tep, Kumatikan radio, ku setel cd, aku bernyanyi untuk diri sendiri.
Lampu merah menyala, aku berhenti, aku menoleh ke sisi, Istana Negara megah kokoh berdiri, dikawal punggawa sejati berdiri menenteng bedil berisi gotri. Merah Putih melambai diterpa angin sore hari, damai jiwa terasa di hampa yang sunyi.
Ah, aku akan sekolah lagi, sambil buka usaha di luar negeri. Sesekali bolehlah menjadi mukimin, umrah di negeri para Nabi. Bolehlah juga aku setel televisi, kudengar radio lagi, berselancar di laptop sampai pagi, dan aku tetap menjadi anak negeri.
Aku tak akan pindah warganegara/i , siapapun memimpin negeri. Kembali aku bernyanyi, Padamu negeri, aku berbakti…bukan sebagai pemimpin negeri.




















Menjadi pemimpin di negeri ini kayaknya sudah menjadi mimpi kebanyakan tokoh di negeri ini,mengapa,mengapa hanya kursi kekuasaan yang mereka cari…padahal mereka-mereka adalah orang-orang mengerti,akademisi,dan seabreg pengalaman yang mematangkan dirinya.Apakah hanya dengan menjadi penguasa saja mereka bisa mengabdi untuk negeri ini,apakah lantas seandainya tidak jadi pemimpin lantas memilih jadi oposisi dan mengutak atik kesalahan dan kekurangan pemimpin terpilih menjadi konsumsi dan hoby setiap hari,apakah tidak lebih baik mencari alternatip yang lebih dewasa,lebih indah dengan bekerjasama bahu membahu mengabdi untuk negeri ini,negeri yang dari hari kehari makin ngeri dan memprihatinkan.Oh Tuhanku, anugrahkan negeri ini seorang pemimpin yang benar benar amanah AMIN
Apakah berbakti kepada negeri harus jadi pemimpin negeri? Tapi mengapa mereka berebut ingin menjadi pemimpin negeri seribu mimpi ini..? Tanya kenapa…?
Indonesia,… ternyata masih laku jualan kursinya.
Rakyat kecil pada bulan ramadhan biasanya ramai membaca AYAT KURSI, namun para politisi sibuk kunjung sana-sini melakukan politik pencitraan sambil membaca “KURSI” mana yang paling mungkin mereka perebutkan, atau menggunakan artis untuk memoles jalan meraih “KURSI” sebanyak mungkin agar posisi tawar partainya menjadi semakin mahal shg dapat dijadikan “kendaraan” untuk memuluskan syahwat kekuasaanya menuju “KURSI” KEPERESIDENAN, (jika tak berhasil) juga tidak mubajir (agar td menjadi teman syaithon) para politisi masih pubya pilihan untuk menyewakan Partanya sbg “KENDARAAN” pd berbagai eventPilkada, he.. he.. he (Salam utk Amin: Kapan mengikuti jejak Amien pengujinya…? )… (Wass. Anthon KATH).
WAHAI SAUDARA-SAUDARAKU CALON PRESIDEN SEBAIKNYA ANDA KALAU TIDAK MEMPUNYAI KONSEP YANG JELAS TERUTAMA UNTUK PEMULIHAN EKONOMI ANDA TIDAK USAH MAJU DALAM MENCALONKAN DIRI SEBAGAI PEMIMPIN NEGARA INI SEBAB HANYA AKAN MENAMBAH DERETAN PANJANG PERJALANAN PENDERITAAN RAKYAT.
KARENA ITU ADALAH SATU DOSA YANG BESAR YANG AKAN ANDA PERTANGGUNGJAWABKAN DIHADAPAN ALLAH SWT.
ALLOH SWT BERFIRMAN JANGAN KAU TINGGALKAN KETURUNAN YANG LEMAH DALAM HAL INI TERUTAMA LEMAH EKONOMINYA.
lho..! kenapa “tanya kenapa”? bukankah pilpres 2004 dan 2009 nanti adalah pemilu yg diidam2kan oleh bangsa Indonesia, setelah 32 tahun hanya memiliki seorang RAJA.
Membaca Ayat Kursi menghasilkan pahala,,menduduki Kursi Presiden mendapatkan kekuasaan…itu mah wajar!!! kalau jadi presiden tapi ga punya kekuasaan sama aja bohong!! jangankan kursi presiden, kursi reot punya nenek lo aja laku dibeli bule. jangankan jd presiden indonesia, jd presiden Ethopia aja org bunuh2an.
dari 220 juta penduduk masa semuanya mengabdi pd negeri dengan menjadi rakyat…cukup 1 org mengabdi pd negeri dgn menjadi presiden,,,dan wajar 100 org mengabdi pd negeri dgn menjadi calon presiden–namanya jg usaha– justru semakin byk capres semakin bagus, terserah gimana caranya, asal sesuai aturan. ada SBY, gus dur, mega, amien, rizal, ratna, fajrul, dll….itu bagus, mudah2an muncul lg yg lain..rakyat sdh tahu siapa, bagaimana dan kenapa mereka..dan rakyat jg nanti yg akan memilih mana pemimpin yg beriman dan tak beriman.
kenapa disaat orang bereksperiman dari inti bumi sampai ke permukaan bulan, kita masih bingung dgn pilpres…kaya mau kiamat aja indonesia!!!
apa perlu soeharto bangkit dari kubur???!!!
apa ada pemimpin yang benar2 pro Rakyat?
apa ada pemimpin yang bisa ber-empati untuk Rakyat?
apa ada pemimpin yang mau mendengar dan berkorban untuk Rakyat?
Sejarahnya Demokrasi itu merupakan alat Orang kaya untuk memegang kekuasaan mengatas namakan rakyat untuk menggeser kewenangan Raja/Ratu…dan itu juga yg dipakai di Amerika, jadi harga demokrasi itu mahal dan hanya yg kaya saja atau yg dibiayai orang kaya (tentu ada imbalannya) yg bisa di pilih….bisa dibayangkan akhirnya bahwa tidak ada satupun yg berpihak kepada rakyat, yg ada hanya berpihak kepada pengusaha dan executive dan kepentingan asing…! Si Miskin hamba Si Kaya….jadi yg utama tugas kita adalah perangi kemiskinan dengan kerajinan,kreatifitas , pendidikan dan taati ajaran agama yg diyakini, supaya jadi manusia yg mandiri, sejahtera dan tidak terpengaruh keadaan ekonomi yg akan menuju ke Politik yg kotor.
Salam Indonesia,
Memang semua yang akan memimpin negeri ini adalah putra – putri terbaik bangsa. Namun konsep yang mereka bawa akan menunjukkan pola fikir mereka untuk membawa negeri ini kearah perubahan yang lebih baik.
Menurut kacamata saya diantara putra-putri bangsa yang mempunyai konsep yang baik Prabowo :
Beliau mengerti bahwa negara yang kuat harus punya 3 landasan ( ketahanan pangan, SDM dan Sumber energi yang murah ) jadi jika dilihat kaum mayoritas bangsa ini adalah nelayan dan petani, dari situ biasanya SDM yang berkualitas lahir dan mampu mengexplorasi dan memanfaatkan SDA yang ada di negeri ini kesejahteraan dan kemakmuran bangsa indonesia.
Pokok sebuah konsep, bila konsep aja tidak pas. saya yakin ketika dia memimpinpun akan binggung “safety”
Bangsa Indonesia butuh tokoh Bung Karno yang disegani bangsa luar, Pak Suharto yang ditakuti Asia, Gusdus yang disuyuti pengikuti, BJ Habiebie yang Genius, Megawati yang penuh kasihsayang, Dan Bapak Susilo yang arif dan wicaksono. smoga bangsa ini punya figur yang memakili sisi positif dari tokoh-tokoh tersebut. Harapanku tertumpu pada PRABOWO
terima kasih
” Mengapa tidak Import pemimpin dari luar aja ? “, sori pembaca mungkin pernyaataan saya ini berlebihan dan tidak Nasionalis, tapi inilah sebuah ungkapan putus asa dari rakyat kecil yang sudah lama mendambakan kemakmuran di negeri ini, bagi kami siapakah itu pemimpinya ( Manusia apa Manusia setenga Dewa )gak peduli yang penting, bagi kami cari kerja mudah, sekolah mudah, berobat mudah,tidak kelaparan, dan bisa makan sesuai dengan kelayakan. Apagunanya dipimpin oleh orang sendiri kalau masih banyak kita lihat pemandangan fakir miskin meninggal dunia hanya karena berebut Zakat sementara di sisi lain terlihat Miliaran uang negara raib dijarah oleh koroptor.Smoga aja timbul anak negeri yang menjadi manusia setengah dewa seperti harapan Iwan fals,he..he…
Yang Pasti jadi Presiden/Wakil Presiden atau Lembaga Tinggi lainnya adalah HIDUP SEJAHTERA (semua serba gratis, income tinggi, dan bisa keliling Indonesia/dunia).
Apalagi lima tahun belakangan ini.
Sebelumnya dengan Rp10,000 saya bisa beli sepiring nasi dengan laukpauk yang layak dan minuman standar.
Tapi sekarang Rp10,000 saya hanya mampu memandangi warung makan tanpa berani mendekat.
OH…. PARA PEMIMPIN YANG HAUS KEKUASAAN… MERENUNGLAH!!!!!!!!!!!!!!!!
menjadi pemimpin itu sulit
Temanku, seorang pengangguran korban PHK, cuma berijazah SMA, pendidikan terakhir DO. fakultas hukum sebuah Universitas Swasta di Surabaya. Sambil mengusap-usap keningnya yg mulai membotak, dia menggumam,”Apa boleh saya mencalonkan jadi Presiden? Nanti kalo terpilih oleh rakyat, saya mau bekerja tanpa digaji sepeserpun. Semua menteri saya ambil orang yg mau bekerja tanpa digaji. Kabinet saya nanti bener2 kabinet Gotong Royong. Akar ekonomi Indonesia akan saya tanamkan kembali dari kekuatan sumber daya agraris dan maritim. Saya akan stop industri yg tidak memberikan pemerataan kesejahteraan rakyat, terutama sektor migas. Saya akan memotong habis akar-akar korupsi di birokrasi dengan memecat semua aparatur negara yg terbukti menyelewengkan jabatan.Saya akan membuat kebijakan tentang ketenagakerjaan dng membuat aturan UPAH MINIMUM NASIONAL, dimana standar hidup diseluruh Indonesia diukur dari biaya hidup di Ibu kota Republik Indonesia Jakarta. Sehingga nantinya pemerataan kesejahteraan bisa terwujud dan migrasi antara daerah miskin dan kaya bisa dikurangi. Dan nanti saya akan memberi tindakan keras buat negara tetangga yg usil dng tapal batas wilayah negara Republik Indonesia! Indonesia Merdeka! Indonesia Sejahtera! Indonesia Jaya! …Tapi hari ini saya makan apa? Kena phk tanpa diberi pesangon, sisa gaji terakhir sudah habis….” (Bagaimana menurut anda?)
Wahai para calon pemimpin bangsa jangan hanya pintar ngonsep saja tapi harus bisa melaksanakan konsp tsb agar negara ini tidak di cap sebagai negara yang hanya bisa ngonsep saja tapi pelaksanaannya NOL besar.
Ya ingin populis memang impian banyak orang tidak hanya segelintir. mengatasnamakan perjuangan untuk rakyat, mereka para tokoh negeri menghabiskan banyak dana (semoga bukan uang rakyat) demi memuluskan mereka naik ke panggung kehormatan yang bernama singgana kepresidenan. seolah mereka paham betul dengan kondisi dan permasalahann yang dihadapi oleh bangsa ini. bangsa ini besar dan luas Bung. semakin melebar suatu wilayah semakin banyak muncul masalah orangnya bervariasi tidak hanya satu versi belum keyakinan yang berbeda-beda. semoga mereka tidak hanya bermimpi di siang bolong untuk menjadi pahlawan yang sejati.
baik buruknya negeri ini, masih ada cinta yang tersisa di hati……..
ga peduli lha siapa yang memimpin negeri
Ga ada negeri yang sempurna….,
lihat saja jepang, negeri maju teknologi tinggi tapi tetep aja banyak yang hoby bunuh diri.
Yang penting buat saya:
tinggal di indonesia-lebarannya paling heboh, ada acara mudik2 segala.
Masih ada kehangatan sapa handai taulan…
gereja-masjid , masih bisa bertetanggaan
masih banyak yang menarik dr negeri ini, ya jangan bongkar yg borok2nya mulu..
siapapun yang mimpin negeri ini..ahh saya ga peduli
kalo bisa menekan angka kemiskinan, rakyatnya sejahtera, penyakit korupsinya sembuh.
–jangan cuma jadi-jadi kampanye doang-
pasti saya hormati beliau, siapapun yang jd nanti.
sekedar mengingatkan kita saja bahwa pemimpin itu dilahirkan bukan diciptakan.