Kebaikan tak selamanya menghasilkan buah yang manis.
Keluarga Haji Syaikon, sang saudagar kaya di Pasuruan, Jawa Timur, yang akan membagi-bagikan zakat, tentu tidak pernah membayangkan bahwa tujuan mulianya membagikan zakat kepada fakir miskin, berbuntut petaka kematian. Tidak tanggung-tanggung 21 nyawa melayang sekaligus akibat kehabisan oksigen dan terinjak-injak karena berdesak-desakan di antara ribuan orang yang juga ingin mendapatkan zakat.
Tewasnya 21 orang yang mengantri demi mendapatkan zakat Rp 20 ribu amat menyentak dan menusuk nurani saya. Kenyataan, orang miskin masih amat banyak di (negeri ini) sekitar kita.
Ketika orang-orang pintar, para pejabat publik dan politik, pakar statistik, dll, berdebat soal apa itu kemiskinan, tentang jumlah orang miskin, dan masalah kriteria orang miskin-kemiskinan, sejatinya kaum miskin tidak peduli! Orang miskin lebih peduli memikirkan, hari ini ada yang bisa dimakan atau tidak.
Juga ketika para calon presiden yang gencar berkampanye menghabiskan uang puluhan miliar rupiah dan presiden yang sedang berkuasa “ribut” soal jumlah orang miskin dan kriteria orang miskin. Orang-orang miskin tetap saja nggak mau tahu! Orang miskin lebih peduli memikirkan bagaimana hari ini bisa membeli sembako murah, beli minyak tanah murah, dan bisa membayar sekolah anak-anak (syukur-syukur sekolah gratis). Biaya pendidikan sekarang sudah nggak masuk akal! Nggak usah yang sekolah unggulan, sekolah standar saja mahal. Duit lagi, duit lagi.
Jangan dikira wong cilik bisa terus menerus dibodohi! Meski masih banyak juga yang bodoh dan mudah dibodohi (kebanyakan karena tuntutan kondisi). Orang miskin yang “normal” akan malu jika harus mengemis, meminta, mengantri bantuan pada orang lain. Bahkan untuk sekadar meminjam uang pun, rasanya malu. Tapi kondisi yang benar-benar miskin sering memaksa orang harus melakukan sesuatu (agak mengabaikan perasaan malu). Misalnya minta surat miskin, antri BLT, antri sembako dan raskin, atau antri zakat.
Kini sebagian kaum miskin sudah mulai sadar politik, dan sadar informasi. Maka mereka tahu, bahwa golongan “wong kere” – wong cilik hanya dijadikan objek massa politik atau sasaran untuk mendongkrak popularitas diri orang berkuasa dan berduit agar dipandang orang lain.
Memberi dan menerima. Apa itu?
Saya teringat kata-kata bijak yang telah berumur ribuan tahun, tapi masih sangat relevan untuk masa kini (terlebih di masa Ramadhan ini): “Jika engkau memberikan sesuatu kepada orang lain (dengan tangan kananmu), jangan sampai tangan kirimu tahu. Biarkan Yang MahaKuasa saja yang layak mengetahuinya”
Memberi memiliki dimensi personal, sosial, dan spiritual (vertikal-horisontal). Seorang pemberi sejati memberikan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa welas asih dan penuh keikhlasan. Seorang pemberi sejati memberikan sesuatu kepada orang lain karena tuntutan dari dalam diri, bahwa ia memang harus memberi. Tindakan memberi bagi manusia pemberi sejati, adalah refleksi keimanan pada SANG PENCIPTA yang juga adalah SANG PEMBERI SEJATI tanpa pamrih. Jadi tak ada motivasi secuil pun bagi seorang pemberi sejati, bahwa tindakannya itu agar mendapatkan balasan, imbalan, dilihat orang, atau pujian orang.
Maka janganlah heran, jika ada seorang pemberi sejati harus bersusah payah agar bisa memberikan dirinya kepada orang lain tanpa pamrih. Bahkan kadang harus melawan arus, dibenci orang, dan kadang berhadapan dengan maut. Ada kepuasan batin yang mendalam bagi seorang pemberi sejati, ketika ia bisa memberikan sesuatu bagi orang lain yang membutuhkan. Inilah perwujudan aktualisasi diri seorang pemberi sejati.
Bagi seorang pemberi sejati, ketika ia memberikan sesuatu sebenarnya ia pun telah menerima sesuatu, kebahagiaan. Manusia pemberi sejati memiliki tingkat spiritual lebih tinggi dari pada manusia penerima.
Bagaimana dengan manusia penerima?
Seorang penerima memiliki tanggung jawab untuk berterima kasih dan bersyukur. Berterima kasih dan bersyukur itu tidak mudah. Tak banyak orang yang bisa berterima kasih dan bersyukur dengan tulus dan bertanggung jawab. Kita tahu, banyak orang terlibat korupsi. Kita tahu, banyak orang penting yang dulu bukan siapa-siapa tapi sekarang berlagak jadi penguasa tanpa tanding. Kita tahu banyak orang suka mengeluh hidupnya susah, padahal banyak orang lain yang hidupnya jauh lebih susah.
Seorang penerima pada saatnya nanti harus pula menjadi manusia pemberi sejati. Salah satu contoh manusia penerima yang kemudian menjadi sang pemberi sejati adalah tokoh spiritual dunia Sidharta Gautama. Setelah menerima pencerahan dari Yang MahaKuasa, Sidharta Gautama pun menjadi manusia Buddha (Yang Tercerahkan) dan memberikan diri sepenuhnya bagi orang lain.
Eyangnya musik jazz yang baru saja manggung duet dengan George Benson di Jakarta (14/9/08) Al Jerreau berujar; “Jika kamu memberikan apa pun yang kamu miliki (sesuai dengan profesi dan keahlian masing-masing) secara tulus dan total, maka kamu akan menerima kebahagiaan”. Al Jerreau dan George Benson telah puluhan kali menerima berbagai penghargaan bergengsi di bidang musik jazz, pop-soul R&B dan kemarin mereka memberikan hiburan dan kebahagiaan bagi para penggemar jazz.
Jadi sudahkah kita menjadi seorang pemberi sejati hari ini?




















Yah, saya setuju pemberi sejati adalah yang tanpa memkirkan nama besar dan sebagainya….hanya menerima sebuah kebahagiaan itulah yang sejatinya dia inginkan.
Dan memang benar rakyat kecil sebenarnya tak pernah memikirkan pembicaraan tentang teori kemiskinan dan sebaganya itu, yang mereka pikirkan adalah bagaimana mereka hari ini dan besok bisa makan lagi, itu saja…
Salam
mau dibilang apa lagi.. hati nurani para pemimpin blum juga terketuk untuk memberi.. sungguh memprihatinkan.. diluar itu, saya memiliki tawaran untuk medapakan pekerjaan yang lebih baik.. kunjungi website: http://www.jac-recruitment.co.id/ Silahkan mencoba dan semoga bermanfaat..
Setiap amal tergantung dari niatnya,memberi dengan tangan kanan sementara tangan kiri tidak tahu itu merupakan hal yang istimewa hanya dirinya dan Allah sajalah yang tahu.Tapi, memberi dengan sengaja orang lain harus tahu dengan niat memberikan motivasi pada orang lain untuk melakukan ibadah yang sama,menggugah kesadaransosial untuk peduli pada sesama merupakan tindakan mulia,asal, didalam pelaksanaannya tidak terselip perasaan riya yang dapat menghancurkan nilai ibadahnya. pembagian zakat di Pasuruan tidak sepenuhnya benar tidak juga sepenuhnya salah, mereka melaksanakan hal tersebut sudah berlangsung lama dan baru kali ini terjadi insiden yang mengetuk nurani kita semua ternyata angka kemiskinan di negeri ini makin bertambah, kemanakah nurani para pemimpin di negeri ini,wakil rakyat,yang berjanji bisa membuat hidup rakyat lebih baik,tolong rakyat miskin jangan terus menerus dijadikan komoditas politik belaka,lihatlah inilah bukti kinerja para petinggi negeri dalam mengayomi rakyatnya, dan ingat, tewasnya ke 21 orang diPasuruan demi rupiah yang tidak seberapa untuk petinggi negeri tapi sangat berarti bagi simiskin akan menjadi tanggung jawab anda anda para pemimpin dihadapan pengadilan Allah kelak sadarlah dan bukalah matahati untuk mengabdisepenuh hati pada negeri ini agar rakyat nggak usah ngantri ngantri apapun yang sipatnya di beri tapi jadikan rakyat rakyat indonesia menjadi pemberi sejati seperti kata tulisan tadi
Memang ironis keadaan bangsa ini…disatu sisi Rp 20.000 hanya untuk sepotong roti di cafe….disisi lain Rp 20.000 harus ditukar dengan nyawa…
Kalau tidak salah 30 ribu pembagian zakatnya? salam,
Setiap amal tergantung niatnya. Sembunyi atau tidak, ihlas atau riya’, itu urusan ybs dgn Allah. Yg jelas, bangsa ini sgt butuh orang-orang baik spt Haji Syaikon. Tp manajemen amal sholehnya harus diperbaiki. Yg lain, byk ngomong tp tdk banyak membantu. Aneh negeri ini.
Ada prinsip yang mengatakan, bahwa “tangan diatas lebih baik dibandingkan tangan dibawah”… Namun sayangnya, saat ini tidak sedikit dari kita, yang menerapkan prinsip ini dengan tujuan yang berbeda… Yakni, tujuan tangan diatas, bukanlah untuk “memberi” melainkan agar dengan mudah untuk “men comot” atau tepatnya mengambil “paksa”…. Mana yang kita pilih ???
Semoga Alloh SWT memberikan rahmat dan hidayahNya pada bangsa Indonesia dan pada akhirnya kita bisa keluar dari jurang kemiskinan dan kebodohan, Amin. Semua pihak termasuk polisi diharap dapat bersikap proporsional dalam menghadapi kasus di pasuruan ini. Karena hanya Alloh SWT yang maha tahu dan berkendak atas semua ini.
Lagi2 kesadaran diri harus menjadi titik balik dari setiap perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh setiap insan. termasuk tindakan untuk memberi. Siapapun yang berniat memberi, mau masyarakat kelas atas, menengah, atupun masyarakat kelas bawah sekalipun tetap harus memiliki kesadaran diri dan niat yang tulus. Toh seperti yang udah disebutkan diatas bahwa ‘Saat tangan kanan memberi maka alangkah baiknya jika tangan kira tidak tahu’. Bahkan Al-Qur’an juga sudah memaparkan bagaimana cara2 yg baik dalam memberi. Bukankah memberi bukan berarti kita harus merendahkan atau dalam artian membuat rendah orang tsb. Jadi apa susahnya sih kita sedikit saja menghormati orang2 yang kita beri. Setidaknya dengan cara memuliakan mereka saat kita memberi sesuatu kepada mereka, maka hanya kebahagiaanlah yang mereka rasakan bukan penderitaan.
Para dermawan sepertinya sudah tak bisa percaya pada cara2 pemerintah dalam memperlakukan orang miskin, sehingga mereka merasa harus turun tangan sendiri. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
yang terpenting adalah berbuat untuk memberi dengan keikhlasan, masalah terjadinya kerugian pada orang lain saya kira diluar perkiraan kita. Semua merupakan ketentuan Allah SWT.
Ya adalah lebih berbahagia memberi daripada selalu menerima, Laut Mati (di timur tengah) yang selalu menerima air segar tanpa batas tetapi disitu tidak ada kehidupan. Jadi buatlah hidup lebih bergairah dengan menolong orang yang kesusahan tanpa ada batas Agama, ras dan golongan. Karena Tuhan akan membalas sesuai dengan hati dan perbuatan kita. Memberi juga tdak tergantung dengan sesion/atau masa, karena tiap hari Tuhan memberi kita nafas dan makanan. Jadi berilah maka kamu akan diberi menurut ukuran yang kamu ukurkan pada saudaramu.
itulah teorinya,tapi kenyatan di lapangan jauh lebih tragis,orang memberikan sesuatu harus ada imbalan yang lebih besar dari yang ia berikan,perilaku tersebut justru dilakukan oleh para elit politik yang katanya terhormat,pinter dan beradab,
pemberi sejati pastinya berpikir bagaimana dia memberi yg baik yang sekirany justru memberikan manfaat yg besar bagi si penerima. Bukannya malah asal memberi tapi tidak berpikir apa nantinya yg akan diperoleh oleh si penerima…
dengan kerendahan hati dan ketidakmampuan diri menahan air mata saat melihat kejadian ini,,,
” dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (dilehernya) pada hari kiamat. milik Allah-lah (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Al- Imran: 180)
kalau pemimpin kita saat ini belum terbangun dan tergugah hatinya,,,kita tidak usah megharapkan hal yang belum tentu kapan terjasinya, lebih baik kita mulai dari diri sendiri, dengan selalu ingat bahwa sesungguhnya kita hanya sementara di dunia ini, dan apa yang telah kita dapat akan diminta pertanggungjawaban kelak di pengadilan yang tidak ada kerugian, karena setiap orang akan memikul dosanya masing2…
jadi,,,selamatkan diri kita baru kita bisa menyelamatkan orang lain,,,(66:6)
Kepada Keluarga Haji Syaikon yang menurut saya sudah begitu baik, yang tetap peduli terhadap sesama.
Memang kadang kita tidak mengerti akan rencana Tuhan,
Kita sebagai manusia selalu mau berbuat baik,tapi percayalah bahwa semua kehendak atau Rencana Tuhan itu begitu bagus begitu Indah.
Saya harap Keluarga Haji Syakon kuat dan tabah serta sabar & tawakal dalam menjalani hidup ini, saya harap anda tidak usah peduli dengan opini orang2, Doa saya menyertai anda sekeluarga. God Bless You All.
seharusnya zakat dalam jumlah besar yang di laksanakan oleh haji syaikon harusnya dengan koordinasi yang baik supaya tidak menimbulkan korban jiwa.harus lapor pada aparat yang berwenang bukanya seenaknya kaya gitu kalo sudah kejadian kaya gini sapa yang akan di rugikan toh rakyat miskin.bukan mendapat pahala tai dosa
yang harus disalahkan yaitu kebiasaan orang Indonesia yang gak pernah mau tertib…kalo tertib gak bakalan ada yang mati karena kehabisan oksigen.
Itulah tandanya bahwa negara kita rakyat kita masih jauh dari kehidupan layak, jadi kalu di bilang penduduk miskin indonesia berkurang menurut sensus pendudk itu sensus ABS namaya jadi yang benar adalah 75 % masyarakat kita itu MISKIN.
Mudah-mudahan saya menjadi orang pemberi sejati
Aaamiiin