September 12, 2008

Mira, Ada Surga di Senyummu

Filed under: Lain-lain — syamsul @ 2:41 pm
mira-ada-surga-di-senyummu

Moh. Samsul Arifin

Tiga anak manusia bermain dengan keceriaan seorang bocah. Di belakangnya duduk perempuan yang tengah hamil, menampi beras. Datanglah gadis berjilbab memecah hening. Dialog pun meluncur. “Kak Mira lagi apa?,” tanya gadis itu. “Sedang menampi beras. Banyak batunya nih,” jawab perempuan hamil tadi. Kamera menyorot beras yang tengah dipisahkan dari batu oleh perempuan itu. Terang sekali, beras dan batunya sama banyak, 50:50. Tapi, tak ada gerutu dari perempuan itu. “Beruntung masih ada berasnya,” imbuh perempuan tadi.

Sang gadis menimpali. “Beruntung Bang Azrul memiliki istri seperti Kakak.” Tapi, pujian itu tak membuat perempuan hamil itu tinggi hati seraya membanggakan diri. “Saya juga beruntung punya suami seperti Bang Azrul. Dia tak pernah berhenti berusaha, meski tidak selalu berhasil,” ujarnya.

Semakin terpesonalah sang gadis berjilbab. Dan pembicaraan pun beralih ke pendidikan tiga bocah. “Adik-adik belum sekolah, kan banyak sekolah gratis di sini,” kata sang gadis. “Ya, ada sejumlah sekolah gratis di sini. Tapi, buku-buku dan ongkos berangkat kan perlu duit,” tukas perempuan hamil meringkas hidupnya yang papa. Sang gadis merogoh tas, lalu dipungutlah sebuah amplop putih. “Saya baru dapat honor dari penerbit yang memuat cerpen saya. Kita bagi dua ya Kak,” ujarnya sembari mengulurkan tangan pada perempuan hamil.

Begitulah cuplikan “Para Pencari Tuhan” jilid dua, edisi Jumat pekan lalu (5/9). Bagi Anda penggemar setia sinetron besutan Deddy Mizwar, sudah tak asing lagi dengan Aya, sang gadis yang mendermakan rezekinya pada adegan di atas. Sedangkan Mira? Adakah yang mencermati sosok ini?

Ya…Mira dalam sinetron yang diputar dua kali oleh SCTV di bulan Ramadhan ini, memang bukan siapa-siapa. Dia bukan tokoh utama, seperti Aya dan Azam atau Juki, Barong, Chelsea dan Bang Jack yang merebut perhatian lantaran di situlah rangkaian cerita berawal. Tapi, dari mulut dan sikap Mira, penonton bisa memetik pelajaran. Setidaknya, itu yang saya peroleh dari cuplikan dialog di atas. Apa itu?

Sebuah pelajaran tentang cara dan bagaimana mensyukuri hidup. Mira begitu sadar dengan kondisi ekonomi keluarganya yang serba kekurangan. Sang suami terus-menerus mencari kerja (tetap), tapi tak juga mendapatkannya. Dalam pada itu ketiga anaknya sudah masuk usia sekolah. Tapi…ya ampun, untuk makan saja sulitnya minta ampun. Apalagi untuk menyekolahkan ketiga buah hati tersebut!

Namun yang memikat dari Mira, ia bisa berdamai dengan kemiskinan. Dan akhirnya, ia memilih mencukupkan atas setiap pemberian Tuhan kepadanya. Ini sejenis zuhud (mencukupkan diri atas dunia), seperti yang dilakoni para salik (pencari) dalam dunia sufi. Sikap hidup yang ditempa keadaan, tapi juga lahir dari rasa syukur yang jurah.

Masih adakah di antara kita, yang bisa bersyukur saat keadaan ekonomi menghimpit sehingga nyaris menyesakkan dada? Masih adakah di antara kita, yang mampu bersyukur dengan beras yang harus dipisahkan dari bebatuan yang sama banyaknya? Masih adakah di antara kita perangai lemah lembut seperti senyum Mira?

Nun jauh di Basrah, Irak tahun 713 masehi. Pernah ada perempuan suci bernama Rabiah Al Adawiyah. Ia dikenal sebagai pendiri ‘agama cinta’ (mahabbah). Kecintaannya pada Sang Khalik begitu besar sehingga mengatasi kecintaannya pada manusia, bahkan lawan jenis. Seluruh hidupnya diperuntukkan bagi Tuhan. Ia memilih zuhud, dan menolak kemewahan seperti yang dijulurkan sejumlah tokoh kaya yang memintanya untuk jadi istri.

Rabiah, ‘Ibu Para Sufi Besar’ adalah contoh ekstrim dalam dunia sufi. Seperti masa hidupnya, Rabiah begitu jauh dari kita. Tapi Mira, yang diceritakan Deddy Mizwar di PPT, begitu dekat dengan kita. Mira ada di sekitar kita dengan keluhuran budi yang tak tertanggungkan. Kita boleh menoleh ke arah mereka untuk menopang hidup manusia modern yang kian disetir dengan materialisme yang demikian akut. Mira, aku melihat surga dalam senyummu.

19 Comments »

  1. Yes, Dedy Miswar emang the best kl bikin sinetron kagak kyk sinetron yg laen yg cuma nampilin kemewahan, terus berkarya Bang Dedy.

    Comment by Thomas — September 12, 2008 @ 3:31 pm

  2. emang bener tuh…bang dedy keren kalo bikin karya, nggak cuma menarik tapi ada maknanya. kata-kata berdamai dengan kemiskinan jangan disalahartikan menjadi ‘pasrah’ dengan kemiskinan, tapi harus diartikan sebagai tawakkal setelah ikhtiar…semoga kita semua bisa memetik pelajaran dari film-film bermutu seperti ini..

    Salam kenal..

    maula
    http://www.maulaa.co.cc

    Comment by maula — September 13, 2008 @ 6:21 am

  3. Saya juga setuju dengan bang Dedy Mizwar…keren banget makna yang terkandung di dalamnya, dan saya suka istilah “berdamai dengan kemiskinan” yang berarti memang kita seharusnya tawakal, lebih mendekatkan diri di hadapan Alloh S.W.T…..

    Saya sangat prihatin, meskipun saya seorang buruh migran di Hongkong, tetapi saya selalu melihat perkembangan seinetron-sinetron Indonesia yang hanya mengikuti pasar saja, yang penting untung tidak peduli apakah itu mendidik atau tidak.

    Bang Deddy, salam dari Hongkong…sukses selalu ya?

    Comment by Tanti — September 13, 2008 @ 9:35 am

  4. yes,PPT memang konsumsi jiwa,adegan Mira yang begitu tawakal adalah sebuah contoh yang patut di ambil hikmah oleh setiap jiwa muslim bahwa seorang muslim harus begitu tabah begitu kuat dan harus senantiasa bersyukur atas segala apa yang di berikan oleh allah. Bang Dedi Mizwar seorang seniman sekaligus menjadi seorang penda’wah yang begitu menarik dengan memberikan gambaran yang terlihat nyata. semoga dengan karya karyanya banyak orang akan menjadi lebih baik,juga Bang Dedi Mizwar mendapatkan Balasan Pahala dari Allah Beratus ratus kali lipat Amin

    Comment by usep soleh safaat — September 13, 2008 @ 5:24 pm

  5. mudah2 yg lain mengikuti contoh dari PTT, tidak hanya menceritakan perseteruan anak sma, anak kaya dan cinta segitiga dll. yg sebetulnya inti dari cerita itu hanya menojolkan kemewahan saja.
    beruntung anak2 saya tidak ada yg suka sinetron…

    Comment by erick — September 14, 2008 @ 4:27 am

  6. subhanallah… kalo ngeliat sinetron ppt.beda ama sinetron laen. penuh makna n mendidik ummat bagaimana menjalani hidup. jalan cerita simple apalagi di tambah guyonan2 udin n pa jalal. bravo kang deddy…

    Comment by aan-kuningan — September 14, 2008 @ 7:59 am

  7. salam kenal Bang Sam.
    he3x ,dunia emang dah banyak brubah…materialism mnjd baju setiap sisi kehdupan. salut buat bang Sam (juga bang Deddy)yang mengingatkan kita tuk kembali mengenal sejatinya manusia. tapi gmn caranya ya, biar jujur,tnpa pamrih, simpati, empati bisa hadir dalam negeri yg kita cintai ini???

    Comment by johan — September 14, 2008 @ 9:42 am

  8. q berharap nantinya kan lahir Dey Mizwar baru yang akan mewarnai dnia perfleman indonesia, sehingga otak kita tak tercuci oleh2 film2 jahiliyah yg hanya mengumbnar kemwewahan,kecengengan,yg to semua hanya akan merusak moral, smoga iman n taqwa sellu tertanam kokoh dlm diri kita, amiiiiiiiiiiiin

    Comment by Wasim Al Kabumeni — September 14, 2008 @ 4:52 pm

  9. saya spendapt dg tmn2 diatas bang Dedy mang jago bikin film,saya sbg wni ikut merasa bangga dg karya2nya.spt kiamat sudah dekat yg prnh sukses di negri kt kemudian diputar kembali oleh mediacorp di singapura yg dapat sambutan begitu meriah oleh masyarakat stempat,makasih buat SCTV yg slalu menyajikan tayangan yg bermutu dan berkualitas,moga tetep ngetop slalu di hati para penggemarnya…

    Comment by jumari — September 14, 2008 @ 8:37 pm

  10. saya adalah salah seorang yang kurang begitu suka sama sinetron,tp cerita ini lain daripada yang lain…sinetron bang dedy memang selalu menghadirkan sesuatu yang bernilai positif,memberikan contoh dan pelajaran yang secara tidak langsung memang menggambarkan kehidapan nyata disekitar kita,terima kasih bang dedy karena telah menghadirkan karya-karya yang begitu bermutu…

    Comment by An-an — September 15, 2008 @ 8:04 am

  11. Salam…klo dulu bang Dedy tu suka bikin film yg lucu2 jg kocak, tp beberapa tahun belakangan ini bang Dedy banyak memerankan film yg berbau islami,terus terang aq tu salut dgn film2 bang Dedy yg banyak mengkritik para generasi penerus kita yg seakan hanyut dalam kemoderenan jg kemewahan namun tidak ada artinya sama sekali. aq harap semua generasi penerus perfilman indonesia bisa meniru dan mengambil hikmah dari semua itu. semoga tetap jaya dan maju terus bang Dedy. amiiiiiiiin…..

    Comment by badar al-sholeh — September 15, 2008 @ 5:09 pm

  12. down to earth, itu yang saya lihat dari PPT. sangat layak ditonton. penuh makna. Salut buat Bang Deddy Mizwar dan SCTV tentunya.

    Comment by nina — September 15, 2008 @ 6:00 pm

  13. memang PPT sinetron yang sangat down to earth dan kena bgt dihati.. huhuhu.. oiya, mampir” ke blog saya yaa.. tinggal klik nama saya saja koq.. trima kasih..^^

    Comment by Suci Utami — September 16, 2008 @ 8:26 am

  14. sungguh, PPT menjadi pengiring kami sekeluarga untuk makan sahur dan saat berbuka. tontonan yang tidak hanya menawarkan tawa, tapi menyuguhkan tuntunan. bravo buat SCTV………

    Comment by asep iwan — September 16, 2008 @ 3:48 pm

  15. YES, saya salut pada pak Mizwar…itulah hidup yang sebenarnya, yang bisa menampilakn makna. bukan kaya’ sinetron sekarang yg hanya menampilakn fatamorgananya saja…

    Comment by jes — September 16, 2008 @ 4:36 pm

  16. Subhanallah..diantara banyak tontonan televisi yang tidak mendidik ternyata ada satu tontonan yang banyak hikmah dan pelajaran didalamnya. Saya jadi lebih bersyukur dan optimis menjalani hidup. PPT emang T.O.P (te-o-pe). Teruslah berkarya bang Dedy, kutunggu cerita2 terbarunya..!! SCTV terus tampilkan tayangan2 yg bermutu..Hidup Satu untuk semua..!!

    Comment by ririn — September 17, 2008 @ 9:10 am

  17. sy sangat senang sekali melihat sinetron ppt ini, ceritanya yang menyentuh hati dan bercampur dengan rasa humor yang tinggi,saya dapat belajr banyak dengan semua cerita ini. semoga PPT jaya selalu dan buat SCTV semakin ngetop Amin.

    Comment by hesti — September 17, 2008 @ 12:30 pm

  18. yess mira memang merupakan sosok yang sangat sedrhana dan jadi penyejuk hati bagi suami yang ber iman harta bukan segala-galanya untuk dinkmati di dunia ini masih banyak hal lain yang perlu kita syukuri semoga PPT menjadi menyejuk hati umat didunia yang masih punya hatinurani

    Comment by agam — September 17, 2008 @ 1:53 pm

  19. jangan tertipu pada yang nampak karena yang nampak banyak yang menipu…begitu kata si Mbah

    Comment by setia1heri — October 25, 2008 @ 7:20 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment