Thursday, May 23, 2013
kantata-takwa-dan-panggung-yang-redup

Anton Bahtiar Rifa’i

Hari Minggu (28/9) lalu, program Liputan 6 Pagi SCTV menayangkan perbincangan tentang film Kantata Takwa, dengan menghadirkan sutradara Eros Djarot dan personel Kantata Takwa, Yockie Suryoprayogo. Sayang sekali, personel Kantata Takwa lainnya, Iwan Fals, Sawung Jabo, WS Rendra, dan Setiawan Djody, tidak bisa hadir di studio. Djody sedang berada di Singapura, sementara Jabo sedang di Australia. Film Kantata Takwa  merupakan film semi dokumenter yang merekam perjalanan konser Kantata Takwa di tahun 1990-an. Film yang disutradarai Eros Djarot dan Gotot Prakosa ini baru dirilis pekan lalu, setelah penggarapannya sempat terhenti selama 18 tahun.

Ketika menyiapkan materi untuk tayangan dialog tersebut, ingatan saya melayang ke masa 18 tahun silam. Ketika itu, saya masih remaja belasan tahun. Saya dan teman-teman pada masa itu merasakan luapan gegap gempita ketika sekelompok seniman yang tergabung dalam Swami, kemudian bermetamorfosa menjadi Kantata Takwa, hadir mengobarkan suatu semangat baru. Dengan Kantata Takwa, kami tak sekadar menikmati musik dan nyanyian. Kami juga merasa mendapat suntikan semangat dan keyakinan. Generasi kami kala itu memang hidup dalam suatu zaman, ketika arti demokrasi dan kebebasan terasa hambar. Selengkapnya »

biarkan-cina-tidur-kalau-bangun-dunia-akan-repot

Rahman Andi Mangussara

‘’Hidup Cina,’’ teriak ribuan orang yang mengikuti perayaan ulang tahun Partai Komunis Cina di lapangan Tiananmen saat rudal balistik dan persenjataan canggih melintas di depan mereka. Berada di antara kerumunan warga Cina, di sore menjelang senja, sepuluh tahun lewat itu, saya tak kuasa menahan kagum melihat semua keperkasaan itu. Saya berada di Beijing  atas undangan Departemen Luar Negeri Cina untuk menghadiri ulang tahun Partai Komunis Cina.

Otot militer Cina yang  berisi itu, pikir saya, akan mengubah peta politik dunia. Tapi ternyata saya salah. Bukan  karena militer semata yang membuat Cina diperhitungkan, melainkan karena ekonomi dan penguasaan teknologi tingginya. Selengkapnya »

puasa-lebaran-di-negeri-orang

M. Nurul Amin

Sekitar hari ke 20 Ramadhan kemarin, seorang kawan saya datang dari Amerika Serikat, usai meraih gelar doktor di Ohio University. Ia sudah sekitar tujuh tahun berada di negeri Paman Sam, dan baru kali ini kembali ke Indonesia, persis di bulan Ramadhan.

Teman saya ini mengaku bahagia, bisa kembali menikmati Ramadhan dan berpuasa di tanah air. Wujud kegembiraan dilakukan dengan berkeliling ke sudut-sudut kota Jakarta, mulai dari berkunjung ke rumah kerabat, ngabuburit di mal hingga menenggelamkan diri dengan kekhusyukan di Masjid Istiqlal di malam hari. Menurutnya, puasa di negeri sendiri sangat indah, bunyi suara bedug begitu ia rindukan, dan dengung azan yang melantun bersahut-sahutan di masjid kampung sangat dinantikan, sesekali. Ia juga rindu mendengar ledakan petasan. Selengkapnya »

ketika-saudagar-saudagar-utang-ambruk

Rahman Andi Mangussara

Tiga belas tahun lalu, saya bersama sejumlah pialang saham mengunjungi New York untuk suatu pelatihan singkat mengenai perdagangan saham. Saya beruntung bisa mengunjungi Bursa New York yang terkenal dengan sebutan Bursa Wall Street, disebut begitu karena gedungnya berada di jalan itu, Wall Street. Saya terkagum-kagum begitu menginjakkan kaki di balkon (disediakan untuk para turis yang ingin melihat perdagangan saham secara langsung) dan melihat bagaimana pialang sibuk menjalankan perintah jual atau beli yang datang dari pemilik uang di seluruh penjuru dunia. Ya, lokasinya memang di lower Manhattan, New York, tapi Wall Street sejatinya adalah bursa dunia. Mungkin hanya sedikit negara di dunia ini yang tidak terhubung dengan Wall Street.

Lebih tercengang lagi saya, dan mungkin seluruh pialang yang ikut rombongan ini, ketika sampai di kantor Lehman Brothers, Merril Lynch dan Golmand Sachs. Kami dijamu layaknya pemilik modal yang sebentar lagi akan menanamkan duit di lantai bursa. Layanan istimewa mereka itu memang pantas jika dihubungkan dengan kinerja bursa Indonesia, dulu bernama Bursa Efek Jakarta, saat itu yang masuk sebagai salah satu bursa yang baru tumbuh tapi memberi keuntungan besar bagi pelaku pasar. Tahun-tahun itu, beberapa tahun sebelum krisis moneter, nyaris tidak ada manajer investasi yang tidak menempatkan uangnya di pasar modal Indonesia.  Selengkapnya »

Memberi dan Menerima

September - 16 - 2008 20 KOMENTAR
memberi-dan-menerima

Kebaikan tak selamanya menghasilkan buah yang manis.

Keluarga Haji Syaikon, sang saudagar kaya di Pasuruan, Jawa Timur, yang akan membagi-bagikan zakat, tentu tidak pernah membayangkan bahwa tujuan mulianya membagikan zakat kepada fakir miskin, berbuntut petaka kematian. Tidak tanggung-tanggung 21 nyawa melayang sekaligus akibat kehabisan oksigen dan terinjak-injak karena berdesak-desakan di antara ribuan orang yang juga ingin mendapatkan zakat.

Tewasnya 21 orang yang mengantri demi mendapatkan zakat Rp 20 ribu amat menyentak dan menusuk nurani saya. Kenyataan, orang miskin masih amat banyak di (negeri ini) sekitar kita. Selengkapnya »

Pemimpin Negeri

September - 16 - 2008 17 KOMENTAR
pemimpin-negeri

M. Nurul Amin

Temanku, seorang wartawan menggelengkan kepala, saat melihat hasil survey mengenai calon pemimpin, menyebut Megawati di atas angin untuk pemilu nanti. Temanku lainnya, seorang pengusaha muda, hanya terpaku mendengar pernyataan seorang politisi bahwa SBY berpeluang besar memimpin negeri lagi.

Sobatku, seorang aktivis Islam, tak tahan memukul jidatnya saat mendengar Gus Dur di radio mencalonkan diri sebagai presiden lagi. Sobatku lainnya, seorang akademisi, membenahi kacamatanya saat melihat Amien Rais di televisi, mulai unjukgigi, untuk menjadi calon presiden, pemimpin reformasi. Selengkapnya »

mira-ada-surga-di-senyummu

Moh. Samsul Arifin

Tiga anak manusia bermain dengan keceriaan seorang bocah. Di belakangnya duduk perempuan yang tengah hamil, menampi beras. Datanglah gadis berjilbab memecah hening. Dialog pun meluncur. “Kak Mira lagi apa?,” tanya gadis itu. “Sedang menampi beras. Banyak batunya nih,” jawab perempuan hamil tadi. Kamera menyorot beras yang tengah dipisahkan dari batu oleh perempuan itu. Terang sekali, beras dan batunya sama banyak, 50:50. Tapi, tak ada gerutu dari perempuan itu. “Beruntung masih ada berasnya,” imbuh perempuan tadi.

Sang gadis menimpali. “Beruntung Bang Azrul memiliki istri seperti Kakak.” Tapi, pujian itu tak membuat perempuan hamil itu tinggi hati seraya membanggakan diri. “Saya juga beruntung punya suami seperti Bang Azrul. Dia tak pernah berhenti berusaha, meski tidak selalu berhasil,” ujarnya. Selengkapnya »

Tanjung Priok, Kini

September - 12 - 2008 11 KOMENTAR
tanjung-priok-kini

M. Nurul Amin

Pagi itu. 13 September 1984, aku terperanjat. Panser, Tank dan aparat kemanan bersenjata lengkap memenuhi sudut-sudut tanah kelahiranku, Tanjung Priok. Gerangan apa yang terjadi? Sebagai murid SMP yang akan segera menjejakkan kaki ke SMA, ada tanya di dada, kenapa ada gedung-gedung terbakar dan bau aroma kematian. Tak ada jawaban, hanya bentakan tentara yang memintaku menyingkir dari areal kerusuhan.

Aku pulang, di jalan aku bertemu sejumlah orang, mereka bercerita tentang kejadian semalam. Aku terkejut, betapa tidak, seharusnya aku berada di tempat itu tadi malam! Selengkapnya »

antara-new-york-dan-kabul-ironi-kemanusiaan

M. Nurul Amin

Tertegun dan ternganga, itu perasaan saya, saat menjejakkan kaki di Ground Zero, World Trade Center, New York, Amerika Serikat. Aneh dan asing, itu perasaan saya saat menjejakkan kaki di Bandara Kabul, Afghanistan.

Betapa tidak, dua tempat berbeda, terbelah dalam dua benua, dalam rentang jarak ribuan kilometer, dipisahkan oleh samudera nan luas, menjadi satu, dalam derita!.

Tak terbayangkan oleh saya, bagaimana mungkin para pembajak pesawat United Airline menabrakkan pesawat dan ratusan jiwa didalamnya ke menara kembar WTC, 11 September, tujuh tahun lalu. Tak terbayangkan pula bagaimana tentara Amerika Serikat membumihanguskan tanah kerontang Afghanistan, sejak tujuh tahun lalu hingga kini. Selengkapnya »

Wajah Baru Liputan6.com

September - 8 - 2008 92 KOMENTAR
wajah-baru-liputan6-com

Yus Ariyanto

Hari ini, genap sepekan Liputan6.com bersalin wajah. Mungkin di antara Anda telah ada yang terbiasa, barangkali ada juga yang belum.

Kami memang terus berbenah. Kata pameo lama, tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Kami coba mengamalkannya. Perubahan, tentu ke arah yang lebih baik, harus terus diupayakan. Dari hari ke hari. Tiada henti. Selengkapnya »