Yus Ariyanto
Nyonya Hatsuyo Nakamura tanpa sengaja berjumpa adik perempuannya di trem. Suasana hatinya sangat rusuh, seperti juga situasi di sekitar.
“Kamu sudah dengar berita?” kata sang adik.
“Berita apa?”
“Perang selesai.”
“Jangan mengatakan hal bodoh seperti itu.”
“Tapi aku mendengarnya sendiri di radio.” Kemudian dengan berbisik, ia berujar, “Itu suara Kaisar…”
****
John Hersey mengungkap kembali dialog itu di Hiroshima, karya yang membuatnya termasyhur di jagat jurnalisme Amerika (boleh jadi pula dunia). Seperti tecermin dari judulnya, tulisan ini berkisah tentang Hiroshima, kota di Jepang, yang luluh-lantak dihajar bom atom Amerika Serikat, 6 Agustus 1945.
Hersey mengambil angle yang unik—minimal sampai saat itu. Ia tak mendedahkan kasak-kusuk di Gedung Putih sebelum memutuskan tindakan ini, tak pula memotret riwayat perang, pun mengelak merinci profil senjata pemusnah massal itu.
Jurnalis kelahiran 17 Juni 1914 itu lebih memilih mengambil sisi korban yang selamat: sebelum, saat, dan sesudah bom mendarat. Ada cerita enam korban yang tampil, dengan variasi latar belakang. Tapi, semua warga sipil. Nyonya Nakamura, misalnya, adalah seorang janda tiga anak yang menghidupi diri dan keluarganya dengan menjadi penjahit.
Pagi itu, sekitar pukul 08.00 waktu setempat, “…tiba-tiba cahaya putih yang lebih putih dari apa pun yang pernah ia lihat berkelebat. Ia tak sadar apa yang terjadi dengan tetangganya. Refleks sebagai seorang ibu membuatnya bergerak menuju anak-anaknya. Ia baru saja melangkah saat sesuatu mengangkatnya. Ia merasa terbang ke ruangan sebelah, melewati tempat tidur, dan terlempar bersama beberapa bagian rumahnya,” tulis Hersey.
Karya itu pertama kali dimuat di The New Yorker edisi 31 Agustus 1946. Tak seperti lazimnya, sekujur majalah hanya diisi tulisan sepanjang 30-an ribu kata itu. Tak ada artikel lain, bahkan zonder iklan. Hanya terpampang satu ilustrasi.
Yang juga tak biasa, edisi itu ludes terjual dalam sehari. Menurut beberapa bacaan, Albert Einstein, konseptor bom atom, berniat memborong 1.000 eksemplar. Namun, si gondrong jenius ini tak memperoleh satu pun. Untuk menjangkau publik yang lebih luas, Hiroshima lalu diterbitkan dalam format buku.
Dan, inilah satu contoh perwujudan “the fourth estate,” kekuatan kempat (setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif)) yang digenggam pers. Untuk sesaat, polemik soal bom atom mereda. Menyimak rincian nestapa korban di Hiroshima, nyaris semua pihak di AS, terang-terangan atau diam-diam, mengakui bahwa pengeboman itu hanya sebuah ide konyol mengerikan di abad modern.
Lebih dari 140 ribu orang tewas. Ribuan lainnya terpapar radiasi. Akibat terpapar, kemampuan otak merosot, daya tahan tubuh menurun, pria menjadi mandul, dan perempuan berhenti menstruasi. Dari kacamata politik-militer, AS mendulang sukses: Jepang menyerah, 9 hari setelah pengeboman Hiroshima. Kaisar sendiri yang melansir keputusan ini.
****
Jumlah korban mungkin tak penting benar. Itu “hanya” statistik. Tapi, bahwa hampir semua korban adalah warga sipil dan ini diketahui sejak awal, menjadi sasaran utama kritik. Celakanya, kegilaan semacam itu tak stop di sana. Umat manusia masih menyaksikan sejumlah kesintingan lain. Lagi dan lagi. Aksi orang semacam Radovan Karadzic adalah sampelnya.
Telah 63 tahun berlalu. Horor masih menghantui, meski kian samar. Dalam Catatan Pinggir bertahun-tahun silam, Goenawan Mohamad, bercerita tentang J. Robert Oppenheimer, kepala proyek pengembangan bom atom AS. Syahdan, menyaksikan kerusakan yang ditimbulkan hasil kreasinya, Oppenheimer mengutip Bhagawad Gita, “Kini aku jadi Maut, sang penghancur dunia…” Ketika mengucapkannya, mata pria tinggi kurus itu terlihat basah.




















Walaupun banyak yang mengecam, tapi Amerika masih bisa berdalih bom Hiroshima diperlukan untuk menghentikan perang. Yang benar-benar tidak bisa didalihkan adalah pengeboman Nagasaki. Apa perlunya mengebom atom sebuah negara yang sudah akan menyerah?
yup..anda benar……
sebentar lagi bukan cuman Jepang yg di kasih nuklir…tp lebih banyak negara…
semoga saja tidak…….:(
malam ini aku liat di liputan6 12 malam . Dah di tandatangani kesepakatan bersama polandia untuk membangun reaktor nuklir di polandia. Yah dalihnya sih untuk perdamaian bukan untuk menyerang rusia :d
Bukan penghentian perang, tetapi pemusnahan manusia, karena bulan Juli 1945, kaisar Jepang sudah mengirimkan surat penyerahan ke presiden amerika..
Saya kira kita juga tidak bisa hanya melihat dari satu sisi saja. Jika kita melihat kondisi pada saat itu, saya kira AS juga tidak mempunyai pilihan lain selain mengebom atom 2 kota sekaligus untuk membuat kaisar menyerah sebab jika Jepang tidak menyerah, apalagi orang Jepang terkenal pantang menyerah sebelum mendengar sendiri kata menyerah dari kaisarnya, saya kira perang dunia ke-2 juga tidak akan selesai dan dapat menimbulkan korban jiwa jauh lebih banyak terutama dari rakyat sipil. Apapun bentuknya, saya kira perang hanya akan menimbulkan korban jiwa dan kesedihan saja dan saya rasa tidak ada gunanya. Jauh lebih baik jika negara-negara bersaing dalam bidang olahraga, he… 3x
Emang kalian pikir kalau hiroshima dan nagasaki nggak di bom atom, indonesia dah merdeka sekarang? lebih banyak lagi romusha dan nenek moyang kita yg mati kelaparan, dihina, dipekerjapaksakan, diperkosa dan banyak penderitaan lainnya yg tidak akan pernah berakhir, nggak usah diperdebatkan lagi, emang ini udah jalannya, cukup tau aja dah…
Satu jawabanya “Takdir”
Saya kira itu sudah ditakdirkan oleh sang pencipta.
Tinggal kita yang menjalaninya.
Semoga kita bisa menjalankan apa yang terbaik bagi diri kita terlebih bagi orang lain.
Mudah-mudahan indonesia bisa bangkit seperti hirosima
Tragedi Hiroshima dan Nagasaki sudah terjadi 64 tahun yang lalu. Hal itu membuat bangsa Jepang terpuruk dan menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Akan tetapi kejadian ini menjadi pelajaran bagi negara di seluruh dunia untuk lebih menghargai perdamaian dan janganlah membuat rakyat yang tidak tahu apa2 menjadi menderita. Peace man…!
Japan serang Pearl Harbour yang notabene tangsi milier…
USA bom Hiroshima and Nagasaki yang jelas-jelas sebuah kota berpenduduk sipil…
Emang dari awalnya tuh USA pake bom atom bukan untuk menghentikan perang, tetapi untuk melampiaskan amarah dan nafsu dendam mereka… juga demi uji coba bom yang udah mereka danai dengan anggaran yang tidak sedikit, kapan lagi mereka bisa uji coba bom di tengah kota klo bukan pas lagi perang… Emang dasar Amrik, liciknya minta ampun…
[...] http://blog.liputan6.com/2008/08/06/hersey-hiroshima-kegilaan-manusia/ [...]