Wednesday, May 22, 2013
parpol-sesal-kemudian-tak-berguna

Moh. Samsul Arifin

Sesal kemudian tak berguna. Begitu ungkapan yang pas untuk menggambarkan kegamangan kalangan partai politik dalam menetapkan anggota legislatif terpilih pada Pemilu 2009 nanti. Belakangan, sejumlah parpol seperti Partai Amanat Nasional, Partai Demokrat, Partai Golkar dan Partai Bintang Reformasi menyatakan anggota legislatifnya akan ditentukan berdasarkan siapa pemilik suara terbanyak. Ini bertolak belakang dengan ketentuan UU 10/2008 tentang Pemilu di mana sistem nomor urut masih menjadi acuan utama dalam menentukan anggota legislatif. Saya sebut acuan utama, sebab nomor urut masih menjadi faktor dominan bagi setiap caleg untuk tiba di Senayan atau parlemen daerah.

Memang ada upaya untuk mengoreksi ketidakefisienan bilangan pembagi pemilihan (BPP) atau kuota, yakni dengan menurunkan BPP dari 100 persen (Pemilu 2004) menjadi 30 persen (Pemilu 2009). Namun penurunan angka kuota ini tidak secara otomatis menutup potensi ketidakadilan. Apa pasal? Selengkapnya »

Les Miserables

August - 26 - 2008 1 KOMENTAR
les-miserables

Victor Hugo, Bentang Pustaka, 2007, 616 halaman

Miko Toro

Sudah lama saya dengar nama besar Les Miserables karya Victor Hugo. Tapi tak pernah saya tergerak menyentuh karya ini. Pikir saya, apa sih menariknya? Peninggalan abad 19, pasti ketinggalan zaman, dan tidak lagi relevan.

Tapi saya salah besar. Saya temukan, Les Miserables relevan untuk zaman ini, dan mungkin untuk semua zaman. Saya temukan, Victor Hugo memang bukan nama kosong. Membaca Les Miserables (Yang Menderita) membuat saya betul-betul menderita. Membuat saya ingin berhenti membaca, sekaligus meneruskan membaca. Membingungkan, menghanyutkan, dan menggetarkan.

Tapi sekali lagi, kenapa kita tiba-tiba perlu membaca karya ini? Kenapa sekarang? Harus saya akui, memang tak ada alasan khusus untuk itu, selain bahwa karya ini sekarang tersedia dalam bahasa Indonesia, dari penerbit Bentang. Hanya saya percaya, karya-karya tertentu, seperti Les ini, layak dinikmati kapan saja.

Baca selengkapnya di sini.

Billy Soemawisastra

Tampaknya sudah mulai terjadi pergeseran cita-cita di kalangan anak-anak Indonesia dan para orangtuanya, sekarang ini. Jika dulu, umumnya orangtua mencita-citakan anak-anaknya menjadi dokter atau insinyur, kini tak sedikit di antara mereka yang kepingin anaknya menjadi presenter televisi. Tak peduli apakah presenter berita atau presenter hiburan. Yang penting, tampil terkenal menjadi selebritis televisi.

Gejala ini terlihat sewaktu Liputan 6 SCTV menggelar acara Presenter Cilik selama sebulan penuh, sebagai bagian dari acara Dino’s Live atau Summer Holiday with SCTV and Dinosaurus, di Plaza Tenggara Senayan, Jakarta, 21 Juni hingga 20 Juli 2008. Acara ini terbuka untuk umum, terutama anak-anak, pengunjung Dino’s Live. Dengan hanya membayar Rp30 ribu per orang, anak-anak itu bisa tampil seperti presenter beneran. Membaca berita melalui teleprompter di depan kamera.

Selengkapnya »

Merdi Sofansyah

“Saya baru pertama kali melakukan ini, this is good!”. Inilah teriakan Bayu Sutiyono yang melayang dari ketinggian sekitar 350 kaki di atas permukaan laut , saat ia berhasil melakukan siaran langsung dari udara.

Siaran ini jelas menjadi kado terindah bagi Liputan 6 yang baru saja meluncurkan logo dan studio baru, sebab dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai siaran langsung yang pertama di Indonesia. Rencananya, siaran langsung ini terlaksana berbarengan dengan peluncuran logo dan studio baru, tanggal 18 Agustus, namun ternyata faktor angin menjadi kendala, sehingga harus tertunda satu hari.

Selengkapnya »

studio-dan-logo-baru-semangat-baru

Merdi Sofansyah

Ada yang menambah gairah saat mulai ke kantor hari ini. 17 Agustus 2008. Saat kemerdekaan Indonesia diperingati di mana-mana, beberapa awak Liputan 6 dan broadcasting support juga tengah berkumpul di newsroom lantai 9 Senayan City. Hari ini, adalah hari terakhir simulasi penggunaan studio baru. Besok, tak ada lagi simulasi, sebab studio tersebut sudah harus kami gunakan.

Selengkapnya »

masih-ada-dunia-yang-lebih-baik

Leanika Tanjung

Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita, Muhammad Yunus, Gramedia Pustaka Utama, 280 halaman, Juni 2008

Berbeda dengan buku pertama, Banker to the Poor, yang merupakan dokumentasi perjalanan hidup Muhammad Yunus hingga membangun Grameen Bank, dalam “Creating a World Without Poverty,” pemenang Nobel Perdamaian 2006 ini melangkah lebih jauh. Ia bicara tentang bisnis sosial.

Di buka dengan cerita undangan Franck Riboud, CEO Group Danone, perusahaan makanan multinasional asal Perancis. Penjual susu dan produk susu terbesar ketiga di dunia. Undangan yang datang sebelum Yunus mendapat Nobel Perdamaian, merupakan cikal-bakal bagi Yunus mewujudkan sebuah bisnis sosial.

Baca selengkapnya di sini.

hersey-hiroshima-kegilaan-manusia

Yus Ariyanto

Nyonya Hatsuyo Nakamura tanpa sengaja berjumpa adik perempuannya di trem. Suasana hatinya sangat rusuh, seperti juga situasi di sekitar.

“Kamu sudah dengar berita?” kata sang adik.

“Berita apa?”

“Perang selesai.”

“Jangan mengatakan hal bodoh seperti itu.”

“Tapi aku mendengarnya sendiri di radio.” Kemudian dengan berbisik, ia berujar, “Itu suara Kaisar…”

****

John Hersey mengungkap kembali dialog itu di Hiroshima, karya yang membuatnya termasyhur di jagat jurnalisme Amerika (boleh jadi pula dunia). Seperti tecermin dari judulnya, tulisan ini berkisah tentang Hiroshima, kota di Jepang, yang luluh-lantak dihajar bom atom Amerika Serikat, 6 Agustus 1945. Selengkapnya »