Tuesday, May 21, 2013

Panic Room di Gang Senggol

July - 26 - 2008
panic-room-di-gang-senggol

Henry Sianipar

Seperti namanya, Panic Room ya berarti ruangan yang sah untuk berpanik-panik ria. Boleh lari sana-sini, bergegas ke meja satu ke sana-sini, mencatat data dengan benar di layar komputer dan memastikan sekali lagi angka-angka yang masuk dengan suara yang jelas dan terkadang tinggi. Inilah gambaran yang terjadi di Panic Room, di lantai 5 Gedung Kompas Surabaya.

Hajatan besar digelar Kompas dan SCTV untuk menghitung cepat suara Pilkada Jatim, pemilihan gubernur langsung terbesar di Indonesia. Tetapi Panic Room bukan hanya berlaku di lantai 5, rasa kepanikan juga sering menyergap di gang kecil, di samping panggung live Liputan 6 di lantai 6 Gedung Kompas. Gang Senggol yang sudah dipenuhi dengan peralatan master control menjadi lebih sempit karena pergerakan produser, presenter, PD, audio man, switcher dan kru master kontrol lain. Senggol-senggolan menjadi hal yang biasa selama siaran live all program dilakukan di gang senggol master control ini. Belum lagi harus berkali-kali terjungkal karena tersangkut kabel. Walau sudah bersikap hati-hati, belumlah cukup.

Siaran live all program sudah dimulai sejak pagi, pada Hari H pencoblosan, 23 Juli 2008. Matahari belum terbit, jam tangan masih menunjukkan jam 4 pagi. Saya bersama Bayu Sutiono sudah berada di studio mini SCTV di biro Kompas. Gang Senggol sudah dihuni oleh kawan-kawan master control yang dari matanya masih terlihat jelas: tidak rela untuk bangun jam 3 pagi. Nyawa tampaknya belum terkumpul sepenuhnya. Ketegangan makin bertambah ketika saat I News (software untuk siaran) ngadat karena tiba-tiba terputus dengan server, padahal kamera ke Bayu sudah hampir on. Saya segera melesat mengambil laptop untuk berusaha memperbaiki. Setelah di-shutdown beberapa kali disertai doa dan ancaman kalau tidak bisa terkoneksi laptop akan saya banting, akhirnya I News bisa terhubung dan siaran Bayu pun berjalan lancar.

Di Gang Senggol ini juga lah siaran Petang dikendalikan dengan lebih panik. Strategi menculik Pak De Karwo dan Bu Khofifah tampaknya harus segera dilakukan karena mereka bersaing ketat di Quick Count Kompas SCTV. Untunglah Bu Khofifah bisa memegang janji dengan mendatangi studio mini Kompas. Satu masalah selesai. Tetapi Pak De Karwo tidak jelas keberadaannya. SNG yang sudah dikirim ke rumah Pak De. Susah payah akhirnya didapat deal untuk wawancara jam 17.30 an. Deal menjadi agak buyar karena ternyata program Liputan6 Petang baru masuk jam 18, yang pada jam itu Pak De sudah janji dengan TV tetangga pula. Deal dan negosiasi menjadi lebih berat dengan Kang Awan (Mauluddin Anwar), produser Liputan 6 Petang. Kawan-kawan di rumah Pak De yang sudah melakukan hard deal, istilahnya sudah mempertaruhkan leher mereka, janganlah sampai mereka kehilangan leher…

Di Gang Senggol ini juga menjadi saksi betapa paniknya produser dan PD karena durasi dialog Bayu dengan Pak De dan Gus Ipul menjadi lebih panjang dari yang diduga. Sangat sulit memang menghentikan Bayu saat dialog, sementara Kang Awan sudah berteriak minta tolong karena durasi sudah habis-habisan. Kode dari produser ke Bayu mungkin sudah dilihat tetapi seakan memang sulit menghabiskan dialog, sehingga saya harus ampun-ampunan memperingatkan Bayu.

Gang Senggol kini telah berubah menjadi gang bisa dilalui orang dengan leluasa. Peralatan master control sudah dibungkus rapi untuk dikembalikan ke Jakarta. Dari Gang Senggol ini juga lah, rakyat Jawa Timur dengan cepat mengetahui bahwa mereka harus mencoblos untuk kedua kalinya.

Ibu Khofifah dan Pak De Karwo, selamat bertarung kembali.

Salam dari Gang Senggol,

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

17 Komentar pada “Panic Room di Gang Senggol”

  1. Hari says:

    Gang Senggol memang mooyyy,
    lewat gang sesempit seperti digambarkan Henry Sianipar, SCTV berhasil masuk ke ruang-ruang privat masyarakat di 38 kabupaten dan kota di Jatim. Memberitahu hasil yang baru 3 jam lalu dibacakan di setiap TPS, dan mendaulat pemenangnya. Sebuah kolaborasi perpaduan antara kecermatan dan teknologi antara Kompas dan SCTV membuat warga Jatim well-informed terhadap hajatan demokrasi yang baru dilalui. Hanya dalam tempo sesingkat-singkatnya informasi akhir sebuah hajatan pemilu bisa diketahui,lengkap dengan karakter di belakangnya. Memang moooyyy. Eh, apa Gang Senggol bakal ada lagi tiga bulan mendatang, mengawal Pakde Karwo dan Bu Khofifah?

  2. Adek21 says:

    Ok bgt

  3. awangga says:

    Semoga SCTV tidak memihak salahsatu calon secara corporate agar berita tetap obyektif

  4. Yohan Wahyu says:

    Judul dengan pake nama “Gang Senggol” cukup menarik, karena memang ruangan yang tersedio untuk studio mini SCTV di Gedung Kompas Surabaya memang sempit heheh, tapi saya perlu ralat sedikit, lokasi panic room bukan di Lantai V, tapi lantai IV, yang jelas feature ini menarik, khususnya pesan terakhir kepada pembaca bahwa dari “gang senggol” inilah jutaan mata bisa menyaksikan dengan cepat siapa gubernur peraih suara terbanyak melalui prediksi Kompas-SCTV, bagaimana dengan putaran kedua? Wah kalau pertanyaan yang satu ini yang bisa menjawab hanyalah pertanyaan “apakah ada cukup dana untuk melakukan prediksi Pilkada Jatim jilid Dua? hehe..

    Salam buat semua teman-teman SCTV yang hampir seminggu ngantor di Gedung Kompas Jemursari Surabaya.
    Sukses selalu!

    Yohan Wahyu
    Litbang Kompas

  5. torasham says:

    hidup SCTV……

  6. td sore liat berita di tv, nggak nyangka kalau liputan6 juga punya blog gini. inovatif.

  7. saya bacanya juga begitu panik..Karena terbayang dalam pikiran saya bahwa suasana pada saat itu memang bener2 bikin panik :)

  8. Irwan Syam says:

    salam kenal semua..
    saya orang baru di liputan 6 blog ini..

  9. Pengalaman yang seru…
    Ingin rasanya saya mendapatkan pengalaman seperti itu, supaya dapat melatih kesigapan dan tindakan saya dalam keadaan darurat seperti Bung alami…

    Tetap semangat Lae!!!

  10. franky alexander says:

    wahh memang berat jadi reporter lebih berat lagi yang di balik layar he…he… tapi TOP lah untuk yang dibalik layar karna tanpa mereka reporter maupun pembawa acara boleh di bilang cuma bisa kontri busi yah…..25% lah sisanya ya itu tadi he..he… slamat buat semuanya

  11. ludyana sari says:

    duch…salut banget ma liputan 6 SCTV, apa lagi pembawa acaranya..pokoknya bikin rugi kalau ketinggalan beritanya..kak NOVA RINI suka banget sama kakak, kak BAYU juga. dan yang slalu jadi inspirasiku adalah Mbak ROSIANA SILALAHI. pingin banget jadi kayak kalian semua,maju terus ya LIPUTAN 6 SCTV, tetep ada dan tunggu aku jadi anggota kalian…he..he..

  12. Boy says:

    tERUS maju SCTV, Semoga tambah banyak Manfaatnya dan semakin menarik

  13. poetry pasaribu says:

    he..he.. kirain td bnr2 ada hubx ma film panic room, tp yg ada bnr2 keadaan yg panik dlm suatu sesion, but everything will good at the moment’s iya g?

  14. tofik says:

    semoga hal seperti ini akan membaik

  15. Andri says:

    hehehe pengalama yang berkesan

  16. Namanya juga jurnalis. Hmm…. Sekali-sekali panik bolehlah, asal jangan tiap hari. Kalau enggak pernah panik, bukan kerja jurnalis namanya. Hehehe…

Tinggalkan Komentar