Ketika Islam Berjumpa Demokrasi
Muslim Demokrat: Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca-Orde Baru, Saiful Mujani, Gramedia Pustaka Utama, 2007
Andy Budiman
Bagi ilmuwan politik seperti Samual P. Huntington atau ahli sejarah Islam seperti Bernard Lewis, judul buku ini pasti terasa aneh. Muslim Demokrat, bagi mereka adalah sebuah contradictio in terminis. Huntington dan Lewis pasti heran bagaimana mungkin dua kategori yang saling bertentangan disebut dalam satu tarikan nafas. Bagi mereka, semakin Islami seseorang, maka akan semakin jauh ia dari nilai-nilai demokrasi.
Selama ini, ada sejumlah pandangan umum yang menunjukkan kontradiksi diantara dua kategori tadi (Saiful Mujani, hal 32 s/d 34):
Baca selengkapnya di sini.

wah, berarti Huntington dan Bernard Lewis perlu belajar lagi dari sejarah Islam……
Karena Islam lah yang pertama kali mengenalkan demokrasi kepada dunia….
Tengok sang Icon Islam, mendirikan pemerintahan dengan cara Bai’at….
Tengok Khulafur Al-Rasyidin, menggantikan sang Amir dengan jalan suksesi demokrasi tanpa memandang kebangsawanan…
Tengok saja episode Khalifah Abbasiyah…terhadap ke-kalifah-an Mamluk….yang berarti “budak”
Ada kah budak berhasil menjadi Amir/Presiden selain di negara Islam..?
Comment by torasham — July 14, 2008 @ 4:46 pm
Islam bertentang dengan demokrasi?
Itu sih namanya belenggu persepsi saja
Comment by Hani — July 21, 2008 @ 2:50 pm
July 22, 2008 at 11:54 pm
Ass. Mas. Komentar terakhir itu loo …
Konservatisme Islam, seharusnya gak dipahami berkorelasi dengan kekerasan … apa lagi terorisme … seperti yang dipahami … banyak kalangan Islomophobia …
Al Qur’an jg mentoleransi kekerasan -ato terorisme dalam pengertian Barat- coba baca Al Qur’an surah al fath. Jelas di situ, seorang muslim keras terhadap orang kafir, tapi berkasih sayang pada sesama mukmin (orang beriman) bukan muslim lo. Beda antara muslim dan mukmin.
Menguatnya konservatisme, merupakan konsekwensi asumsi rivalitas Barat atas Islam. Jd konservatisme itu reaksi dr aksi Barat yang vulgar.
Gitu lo mas…
Comment by a. khalik — July 23, 2008 @ 6:56 am
Rokok Harus Berlabel Haram
Pendapat keharaman rokok sudah lama didebatkan oleh para ulama tetapi sampai saat ini belum pernah dilakukan penelusuran apa saja kandungan bahan pembuatan rokok dan bagaimana cara membuatnya. Pasti semua setuju bagi orang Islam bahwa alkohol adalah haram. Walaupun sedikit kandungan barang haramnya maka haramlah barang konsumsi tersebut.
Nah, tahukah bila dalam proses pembuatan rokok juga mencampurkan etil alkohol ke dalam tembakau? Proses pembuatan rokok di Indonesia yang berbahan baku utama tembakau dan cengkeh diberi bumbu flavour essence (sauce) yang membuat rokok kretek Indonesia berasa khas. Sauce dicampurkan ke tembakau dengan cara dilarutkan dan diencerkan terlebih dahulu dalam etil lkohol. Tak pelak lagi etil alkohol yang melarutkan sauce inilah yang kemudian diserap oleh tembakau sehingga menimbulkan rasa yang khas rokok kretek. Demikian juga dengan pembuatan rasa rokok menthol, rokok capuccinno, dll. Apabila dalam proses pembuatan rokok menggunakan alkohol yang sudah disepakati haram bukankah berarti rokok juga haram?
Penjelasan bahwa proses pembuatan rokok menggunakan etil alkohol saya peroleh kemarin ketika diajak rekan sejawat mengikuti sosialisasi UU No.39/2007 tentang cukai. Penjelasan secara jelas oleh seorang pejabat Bea Cukai dari provinsi Jateng tentang cukai, salah satunya cukai tembakau di pabrik rokok. Proses pembuatan rokok yang ternyata menggunakan etil alkohol itu menggelitik keingintahuan saya yang kebetulan juga sedang hangat berita tentang usulan Kak Seto kepada MUI untuk mengharamkan rokok.
Saya mengajukan pertanyaan pada narasmber sosialisasi tentang kemungkinan pencantuman label haram pada rokok karena secara hukum (Islam) ada yang mengharamkan berdasar kemudharatannya serta penjelasan tentang pencampuran alkohol dalam pembuatan rokok di pabrik. Sudah layak dan saatnya rokok diberi label haram pada kemasannya untuk memberikan perlindungan kepada konsumen muslim.
Apabila saat ini pencantuman peringatan pengaruh kesehatan pada kemasan hanya bersifat hiasan maka label haram yang lebih penting juga seharusnya diberikan pada kemasan rokok. Seperti halnya makanan yang mengandung babi diberi gambar babi untuk memberikan penjelasan pada konsumen. Bila label haram itu menjadi wewenang MUI maka LPOM juga harus bertindak mengharuskan produsen rokok mencantumkan bahan pembuat rokok dan kandungannya.
Obat-obatan yang notabene membuat sehat diharuskan mencantumkan bahan pembuatnya maka rokok yang membuat sakit dan haram juga seharusnya mencantumkan bahan pembuatannya dan kandungan di dalamnya. Terserah nanti apabila sudah diberi label haram konsumen tetap nekad berarti resiko dunia akherat ditanggung sendiri.
Jawaban pemerintah berkaitan dengan haramnya rokok selalu sama dan klise yaitu efek domino dari sudut pandang ekonomi saja tanpa memikirkan sudut pandang aqidah umat Islam yang mayoritas di Indonesia. Apakah karena cukai rokok pada tahun 2007 menyumbang kas negara sebesar Rp 44,663 trilyun?
Saya posting di blog saya:
http://www.sanggarmewah.co.cc
http://elfarid.multiply.com/journal/item/735
Comment by Elfarid — August 19, 2008 @ 7:46 am
DEMOKRASI BERASAL DARI KATA DEMOS DAN KRATOS.., yg bERASAL DR bhaSA YUNANI.. Jd DEMOKRASI BUKAN DR ISLAM,ISLAM TIDAK ADA DEMOKRASI… DEMOKRASI BERDASARKAN SUARA TERBANYAK, SUARA haWA NAFSU MANUSIA BKAN BDASARKAN AL-QUR”AN DAN HADIST.. IsLAM TIDAK BUTUH DEMOKRASI..KRN DEM0KRASI, RAKYAT DI IRAK MENDERITA,INDONESIA MISKIN,DIJAJAH ASING,KRN DEMOKRASI.. Bila Ada Yg mengAKU BERAGAMA ISLAM MENYETUJUI DEM0KRASI ADLH ORG MUNAFIK..celakalah mereka org2 yg munafik
Comment by Ambo — August 20, 2008 @ 1:48 pm
Perlu diketahui Islam itu lebih Free,Lebih menghargai HAM,Dan Lebih Menghargai kehormatan Kaum Hawa dan banyak keutamaan - keutamaan lainnya yang terungkap dalam Islam tetapi kebanyakan kita tidak mengetahui dan membodohi diri dengan ikut - ikutan demokrasi yang notabene banyak lemahnya diantaranya ada monopoli,ada rentenir,ada Korupsi,ada premanisme,ada Huru hara,ada Global Warming,ada pornoisme,ada Homosexual,ada Lesbian,dan masih banyak lain-lain akibat Demokrasi yang dikatakan dalih kebebasan yang kebablasan tanpa kendali tidak seperti Islam (Pembawa Damai Bagi Alam Semesta) buktikan sendiri…
Comment by read1 — October 6, 2008 @ 11:01 am
bung Ambo seharusnya banyak belajar lagi tentang sejarah islam deh, jangan hanya karena pendapat pribadi anda menjudge seburuk itu.
kata demokrasi mungkin bukan dari bahasa arab atau yang berbau-bau islami.
Tapi sistem demokrasi sudah diterapkan sendiri dalam sistem islam.
Islam lebih menghargai kaum perempuan, memang.
Para khalifah pada jaman dulu dengan sistem baiat ketika memilihnya,dengan suara terbanyak karena yakin dengan pilihannya. apa itu bukan bagian dr demokrasi, berkeadilan, siapapun bisa menjadi pemimpin tanpa memandang kastanya.
mungkin demokrasi yang diterapkan dijaman modern sudah jauh dari nilai dan sistem-sistem islami.
-mungkin tentang islam dalam alqur’an mentoleransi kekerasan pada kaum kafir-memang benar, tapi apa ‘atas nama kekerasan’ harus dibenarkan juga.
islam agama yang mencintai perdamaian, jika memang kaum kafir menyerang orang islam, kita bisa bertindak tegas, tapi jika karena dia beda keyakinan saja dengan kita dan selama ini dia berprilaku baik atas dasar kemanusian, apa darahnya dihalalkan begitu saja karena dia berbeda keyakinan?
Comment by inot — November 5, 2008 @ 10:40 am
kata ustadz jafar umar thalib demokrasi adalah barang yang terkena najis celakanya najisnya banyak di KPU.
Comment by scorpion — November 16, 2008 @ 6:31 pm