Primus dan Politik
Yus Ariyanto
Primus Yustisio mendaftarkan diri sebagai calon bupati Subang, Jawa Barat. Tak ada yang keliru. Demokrasi menggaransi hak bintang sinetron ini untuk mencalonkan diri.
Tapi, kenyataan ini kian menguatkan asumsi yang secara diam-diam mekar belakangan: ah, gampang kok menjadi birokrat. Tak dibutuhkan bekal dan kemampuan khusus. Jabatan politik menjadi terkesan murahan.
Sejauh ini, kita tak pernah mendengar jejak rekam pria kelahiran 17 Agustus 1977 itu terkait hal-ihwal sosial dan kebijakan publik. Jika sekadar menggelontorkan bantuan untuk korban bencana alam atau panti asuhan, tentu tak masuk hitungan.
Dede Yusuf sejatinya masih lumayan. Sebelum terpilih menjadi orang nomor dua di Jawa Barat, dia berkantor di Senayan. Selama di DPR, Dede mestinya telah mengasah kemampuan untuk urusan kebijakan publik. Jika tak otodidak, pendidikan formal menjadi sarana pembelajaran. Tapi, pernahkah kita mendengar Primus nyantri di jurusan ilmu pemerintahan atau ilmu politik?
Ini menyedihkan. Saudara-saudara, politik berhubungan dengan pemenuhan aspirasi dan kepentingan warga. Andai salah langkah, efeknya bisa panjang dan serius. Dan, kita tahu, kesalahan kerap terjadi karena kurangnya wawasan dan pengalaman.
O, iya, Primus tak menempuh jalan biasa. Ia menjadi calon perseorangan. Saya menduga, ia menyimpan dua hal yang diyakini ampuh sebagai modal: popularitas dan kepenatan rakyat melihat perilaku buruk para politisi partai.
Mungkin saja Primus terpilih. Sebaliknya, barangkali juga keinginannya kandas. Tapi, asumsi di atas terlanjur mekar: politik itu mudah, meski tak murah.

Indonesia memang sudah semakin aneh… Artis pengen jadi Kepala Daerah. Asal Jadi, Asal Daftar….
Tanpa pengetahuan yang MUMPUNI yang penting ada massa dan uang…
PAYAH….!!!!!!!!
Comment by Leonard — July 10, 2008 @ 9:31 am
mestinya kpu kudu bikin yang namanya KC2P yaitu komisi casting calon pejabat he..he..he..
Comment by busye — July 10, 2008 @ 11:23 am
Kalo primus bisa jadi kepala daerah, pasti massa yang terbanyak.. ibu-ibu..
Comment by diyAH — July 10, 2008 @ 2:20 pm
aduh, betapa carut-marutnya negeri ini. dengan tak mengurangi rasa hormat saya sama publik figur keiginan menjadi pejabat publik harus dibarengi dengan kemampuan untuk bisa memanaged daerah, bukan sekedar menjadi publik figur yang dikenal lantas ingin menjadi pejabat, dan konyolnya lagi pemilih awam hanya melihat yang sering dilihat di tv tanpa tahu kemampuan calon. bisa2 negeri ini bukan semakin sejahtera melainkan tambah kacau karena negeri ini dipimpin oleh pejabat2 yang tidak mumpuni. oleh karenanya kita hrs semakin bijak untuk urusan pemilu. karena akan menentukan arah perjalanan bangsa ini.
Comment by andre — July 10, 2008 @ 4:49 pm
kesempatan adalah waktu yang mulia untuk mempelajari apapun yang memang sudah ada di genggaman tangan kita but aku masih mencoba mempelajari dari bayangan ilmu politik yg (mungkin) blm terbaca oleh akal dan angan kita terhadap pencalonan primus itu. karena ini is warna dari pelangi akal berjuta juta penduduk dinegeri kita.
Comment by dobleh yang malang — July 10, 2008 @ 8:33 pm
sebenernya siapa yang dibodohi??? rakyat yang disodori “artis” untuk dijadikan wakil politik mereka, atau artis yang dibodohi karena mau diiming - imingi jabatan???
truz, siapa yang pinter??? artis yang pinter nyari celah karir di luar dunia keartisan, atau calon kepala daerah yang pinter nyari celah untuk mendongkarak popularitas n dukungan suara???
Comment by tian — July 11, 2008 @ 10:03 am
Kita semua boleh jadi termasuk orang yang sudah jengah dgn perilaku buruk (bajingan) para politisi. Masuknya orang2 baru dengan beragam latar belakang ke ranah politik setidaknya bisa memperkaya pilihan publik. Biarkan mereka “bertarung” utk merebut kepercayaan masyarakat. Secara pribadi, saya lebih suka memilih orang yang tidak begitu ahli tapi “lurus”, dibanding orang yang ahli tapi “bengkok”.
Comment by salamov rijadic — July 13, 2008 @ 7:45 am
PAYAH neh!!! Jadi pemimpin emang hak siapa saja. Tapi jangan mentang2 sudah tenar lantas dengan mudahnya dan tanpa pikir panjang (untuk memajukan daerah yg dipimpin)mencalonkan diri. Ingat bung! kita tidak memilih figur orangnya secara subjective, emangnya pemilihan model apa…?! UNTUK kita semua, jangan pilih calon pemimpin yang punya ambisi untuk menjadi pemimpin, tapi pilih pemimpin yang punya ambisi untuk merubah situasi dan kondisi saat ini jad lebih baik.
Comment by widino — July 13, 2008 @ 3:01 pm
setuju-2 aja deh…
Comment by hasta — July 14, 2008 @ 10:36 am
Jadi pengen tau.. Arnold Swakelenger itu dulu pendidikan politiknya apaan yah?
Juga si Ronald Reagen
Comment by Bi[G] — July 14, 2008 @ 3:31 pm
Sudah waktunya revolusi islam!! salah kalo artis, birokrat, atau politisi yg anda pilih..
Comment by Teguh_@w — July 18, 2008 @ 1:18 am
bangsa sudah terpuruk, janganlah berbuat yg aneh2. sudah cukup lama bangsa ini miskin : miskin jasmani dan rohani….
Comment by riyo — July 18, 2008 @ 11:36 am
Dari dulu memang Politik itukan Panggung Sandiwara..jadi ya wajar aja dong kalo ada Artis yang mau masuk kesitu…!!!!
Comment by ono — July 23, 2008 @ 9:49 am
Artis jadi Kepala Daerah? Udah sudah lama diperhitungkan semenjak para artis masuk ke dunia dpr, namun apa yang mereka lakukan disana? Toh juga tidak ada apa-apa, dan sekarang banyak juga ingin menjadi Kepala Daerah, apakah mampu? Gejala ini timbul karena politisi yang ada selain sudah tercemar apalagi kasus di KPK, sudah gaek dan faktor yang lain, partai ingin mencari untung bagaimana dengan modal artis saja, rakyat dapat memilih partainya. Ini sudah salah, lama2 Presiden juga dari artis yang nota bene tidak menguasai Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, lihat kasus Joseph Estrada, seorang artis yang akhirnya jadi presiden, apa jadinya? Akan dibawa kemana bangsa ini?
Capek deh…..
Comment by Jimmy — July 23, 2008 @ 8:48 pm
kok kayak sinetron sih
Comment by sigit — July 30, 2008 @ 11:47 am
semua artis pingin jadi pemimpin jadi orang gede,tp pernah nggak dipikir?hukum diindonesia tidak bagus,semua pada koropsi,banyak orang ato anak2 tidak sekolah,bensin tidak ada,padahal indonesia penghasil bbm terbesar didunia,rumah sakit tidak gratis,jd pns mesti main sogok2 segala.kapan indonesia mau maju kyk swedia
Comment by fia — August 1, 2008 @ 3:07 am
Menuju masa depan Indonesia yang Demokrasi dan JUJUR
http://www.calegindonesia.com
Comment by watz — August 1, 2008 @ 4:17 pm
artis jadi wakil rakyat capeeeeee deeeeh, kalau saya jadi primus saya akan tetap jadi artis habis jadi pejabat punya tanggung jawab yang besar mending jadi artis gak perlu repot rapat ini, rapat itu.
Comment by dani — August 6, 2008 @ 1:44 pm
setuju aza seh, kalo artis jadi pejabat…ga masalah untuk ngasih kesempatan. kapan lagi punya bupati ganteng kaya primus sekali-kali muda’an dikit mata kan agak cerah he..he..dari pada yang tua mulu,dah ga da pemandangan,liat negeri tambah brekele, mata tambah sakit liatnya.
Comment by Shinta — August 11, 2008 @ 2:14 pm
gapalah klo artis jd pejabat bsk gantian pejabat jd artis semua he..he.
Comment by retno — August 16, 2008 @ 2:06 pm
saya sebagai warga subang asli pun merasa kurang resfek dikarenakan dia mencalonkannya sebagai subang 1 (Bupati), hal itu dikarenakan latar belakang dia dalam dunia politik patut dipertanyakan, hal itu tentu berbeda kasusnya dengan dede yuduf yang kita tahu dia anggota DRP RI kemudian dia lebih memilih menjadi wakil. Mungkin saya akan resfek seandainya primus hanya menjadi subang 2 (wakil).
Comment by Ayay — August 19, 2008 @ 9:14 am
Karena dunia sinetron, dunia musik sepi, maka cari atau melirik lahan lain yang bisa bikin dapur ngebul. ntu kali alasannya . . . ekonomi gitu lho!
Emang kesannya jadi murahan kayak barang dari china 10.000 tiga buah . . . obral obral obral
Comment by dhee — September 29, 2008 @ 10:27 am
Bagus juga sih yang muda berani tampil, walaupun belum berpengalaman setidaknya ada perubahan didunia politik ini, ga yang itu itu melulu…
Comment by i2m — September 29, 2008 @ 4:10 pm
orang bilang dunia adalah panggung sandiwara,mungkin demikian juga politik dalam pemerintahan kita,dan kini para artis beramai ramai ikut casting tuk jadi pemeran utama,ahh dunia banyak sekali cerita
Comment by atika — September 30, 2008 @ 11:34 am
boleh2 aja sih primus mencalonkan jadi orang nomor 1 di subang, cuman saat ini semuanya itu kan tergantung masyarakat subang sendiri, apakah mereka bersedia memberikan kesempatan kepada primus yg selama ini hanya lah seorang artis sinetron doang, yg mana tidak ada latar belakang ilmu pemerintahan ato pun pendidikan apapun yg mengenai pemerintahan/hukum. namun mungkin aja primus terpilih akibat dia anak muda yg punya visi & misi yang lebih segar daripada lawan2 nya di kancah pilkda subang yg mungkin orang2 birokarat yang sudah dikenal banyak orang tentang kebaikan dan keburukan.
jadi maju terus dah orang2 yang mau melakukan perubahan yang lebih baik bagi dunia politik Indonesia, berikan angin segar yang baik bagi perkembangan Indonesia.
Maju Indonesiaku… mari berikan yang terbaik bagi Negeri kita, kalo bukan kita siapa lagi yang akan memperjuangkan Indonesia.
MERDEKA !!!
Comment by eri — October 13, 2008 @ 12:02 pm
Kapan masyarakat indonesia bisa maju? jika yang memimpin adalah orang2 yang hanya bisa dibayangkan melalui angan2 karena ketenarannya di sinetron. Tidak salah sih…..cuma ya’o setidaknya dipilih karena punya integritas yang mumpuni, setidaknya secara akademis, lebih baik lagi jika punya pengalaman ber-sosial politik
Comment by Yohanes Multrianto — October 16, 2008 @ 1:50 pm
Saya Informasikan: primus Sudah kalah…. Mudah mudahan Primus mau Baca artikel Bung Yus!
Comment by Ridwan Hartiwan Raharusun — November 15, 2008 @ 7:50 pm