Spanyol Menjemput Mimpi
Moh. Samsul Arifin
Tak ada yang lebih sakit bagi sebuah tim yang telah bangkit, tapi kembali terperosok dalam dan jatuh. Itulah yang dialami tim Gli Azzuri di kancah Euro 2008. Kebangkitan Italia tak lepas dari kepiawaian sang kapten Gianluigi Buffon menjaga gawangnya dari serbuan pemain-pemain Rumania.
Satu momen yang membikin Italia bangkit, tak lain ketika Buffon mematahkan tendangan penalti Adrian Mutu saat Italia-Rumania berbagi angka 1-1. Selepas itu Italia percaya diri, untuk memetik harapan, yakni menyandingkan Piala Dunia dan Piala Eropa. Di pertandingan terakhir grup, Prancis ditekuknya dua gol tanpa balasan.
Italia bertemu Spanyol di perempatfinal. Di momen inilah, sang juara dunia terjatuh. Dan kali ini, dua kaki Buffon Cs terlempar kembali ke Roma. Warga negeri itu, sejak Milan hingga Sorrento—daerah yang disebut dengan takjub Sutan Takdir Alihsjahbana dalam Grotta Azzura—menangis. Italia kembali tersungkur gara-gara penalti. Buffon hanya mampu menepis satu tendangan pemain Spanyol.
Sedangkan Iker Casillas sanggup menangkis tendangan de Rossi dan di Natale. Kiper kelahiran Mostoles, Madrid itu membuang sial—karena mengeluarkan Spanyol dari kutukan selalu gagal di perempatfinal di perhelatan Piala Dunia dan Piala Eropa.
Spanyol satu-satunya juara grup yang dapat keluar dari mimpi buruk terlempar di delapan besar. Portugal, Kroasia dan Belanda menjadi korban tim yang melambung di penyisihan grup, tapi melempen di babak knock out. Tiga tim juga korban yang kelewat percaya diri dan kurang waspada melawan tim-tim yang dihadapinya.
Belanda memiliki segalanya, tak seperti tulisan saya terdahulu “Sensasi Oranye”, setiap tim selalu memerlukan moral kuat untuk meraih juara. Belanda kehilangan ini saat ditekuk tim Beruang, Rusia yang tahu detail gaya sepakbola total football. Van der Saar Cs menyia-nyiakan kesempatan meraih juara.
Apakah Spanyol, tim paling serius untuk menggondol Piala Eropa tahun ini? Jika pendukung Spanyol yang ditanya, mereka pasti menjawab “ya”. Tapi, benarkah?
Mari tengok kembali kiprah Spanyol. Tim asuhan Luis Aragones ini meraih nilai sempurna, sembilan di penyisihan grup. Calon lawannya, Rusia di semifinal dihempaskan Xavi Hernandez 4-1 di pertandingan awal. Namun, tolong diingat, Rusia saat itu bermain tanpa Andrei Arshavin. Pemain ini plus pelatihnya, Guus Hiddink telah menyulap Rusia sebagai tim yang menakutkan. Swedia dibekuk 2-0, sehingga harus pulang kampung. Dan Rusia diperhitungkan usai merontokkan keperkasaan Belanda di perempatfinal 3-1.
Hasil sempurna Spanyol berlanjut di perempatfinal. Laga dengan Italia, sebenarnya adalah pertandingan mental bagi Spanyol. Mereka masuk lapangan dan harus memecahkan kutukan yang terus menggelayuti Spanyol sejak 1986. Tak pernah sanggup ke semifinal kejuaraan-kejuaraan penting, jelas membuat napas Fernando Torres berdetak kencang.
Menguasai pertandingan. Tapi, tak satu gol pun mampu dilesakkan Spanyo ke gawang Buffon. Hanya saja, kali ini Spanyol lebih tenang, sabar dan tak pernah henti berikhtiar. Akhirnya, Casillas Cs harus beradu nasib dalam adu penalti. Siapa sangka, Spanyol sanggup menaklukkan Italia 4-2. Spanyol lolos dari ujian besar dan menatap semifinal dengan harapan menggumpal. Inikah masa yang tepat untuk mengulang kejayaan 40 tahun silam?
Di atas kertas, Spanyol adalah tim yang paling komplit dibandingkan tiga tim lain yang melaju ke semifinal. Lini per lininya diisi pemain yang teruji di liga-liga akbar, sejak La Liga hingga Premiership. Ketimbang Jerman pun, Spanyol hanya kalah pengalaman. Seperti dimaklum, Jerman adalah langganan Piala Eropa dan Piala Dunia dengan prestasi yang terjaga. Adapun Rusia dan Turki datang sebagai tim underdog yang tiba-tiba bak “samurai” yang haus darah.
Kuncinya, sanggupkah Spanyol tetap sabar saat melawan Rusia nanti. Apabila Casillas mampu melewati Rusia, maka siapa pun yang akan dihadapinya di final akan mudah ditaklukkan. Mimpi Raja Juan Carlos I menekuk Italia sudah terwujud, akankah tim matador menjemput mimpi yang lebih besar di perhelatan “Piala Dunia mini” tersebut?

rasanya, Spanyol juga akan menjadi korban keganasan Russia. Memang Russia secara materi masih kalah jauh dibanding Spanyol, tapi disisi lain, Guus Hidink adalah motivator yang sangat ulung, dan juga ahli strategi yang mumpuni.
Comment by torasham — June 26, 2008 @ 9:10 pm
Jangan remehkan Spanyol,44 tahun lalu sudah membuktikan,dan sekarang ibi waktuya yang tepat ,atau gak akan ada moment lagi.bravo Matador
Comment by andre — June 27, 2008 @ 6:27 pm
hidup matador
Comment by joko — June 28, 2008 @ 1:44 pm
JERMAN PASTI JUARA EROPA 2008 DAN PASTI AKAN MENGALAHKAN SPANYOL 30 JUNI 2008 DINI HARI NANTI.HIDUP JERMAN !!!
Comment by persito lumanauw — June 29, 2008 @ 8:39 am