June 18, 2008

Gus Dur…Sudahlah

Filed under: Politik, Tokoh — syamsul @ 6:13 pm
gus-dursudahlah

Moh. Samsul Arifin

Sebuah sore jelang Pemilu 2004. Kami menjemput Arief Budiman di rumahnya di Jakarta. Saat itu Abdurrahman Wahid tengah dirawat di RSCM akibat stroke ringan. Mengetahui kawan karibnya terbaring lemah, Arief membawa kami membesuk Gus Dur. Ada keheningan di ruang Gus Dur, namun seperti biasanya ia tetap hangat pada Arief, termasuk berbicara masalah mutakhir di lanskap kebangsaan.

Saya teringat pertemuan itu. Dan terlebih lagi dengan apa yang pernah dilakukan kakak Soe Hok Gie itu tahun 1971 silam serta kini didengungkan Gus Dur selepas gugatan Muhaimin Iskandar dimenangkan PN Jakarta Selatan. Apa itu gerangan?

Persahabatan Gus Dur dan Arief adalah pertemuan ide yang melampaui etnisitas. Di masa Orde Baru, cucu pendiri NU itu adalah salah satu eksponen utama gerakan oposisi dibawah label “Forum Demokrasi”. Adapun Arief, siapa pun tahu adalah orang pertama yang menyangsikan pemilihan umum dibawah kekuasaan Soeharto. Pada 1971 secara demonstratif Arief memproklamasikan Golongan Putih atau Golput. Ini adalah gerakan moral yang tak memercayai pemilu lantaran “pesta demokrasi” dipandang hanya akal-akalan Orde Baru untuk melanggengkan kekuasaan. Kaum Golput memilih mangkir di masa pencoblosan. Mereka “memilih untuk tidak memilih”.

Hasilnya? Berkat sang “Presiden Golput”, suara kelompok itu setara dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Suara Golput pada Pemilu 1971 mencapai 10 persen. Gerakan rintisan cendekiawan yang lebih banyak bermukim di Australia ini terus menghantui pemilu, bahkan hingga di bawah sistem demokratis pasca-Soeharto.

Betapa signifikannya Golput. Pada Pemilu 2004, menurut catatan seorang aktivis, Golput menaklukkan semua parpol pada Pemilu Legislatif. Bayangkan angka Golput melampaui suara Partai Golkar—parpol peringkat pertama Pemilu 2004. Dengan 34,5 juta suara atau 23,32 persen dari pemilih terdaftar, Golput sungguh mencemaskan—kalau bukan menggerogoti legitimasi pemilihan elektoral.

Sekarang? Sepertinya penyelenggara pemilu (KPU) harus waspada. Pasalnya, jauh-jauh hari Gus Dur—seperti Arief dulu—sudah mengkhotbahkan Golput. Ancaman itu ditebar karena ia menilai pemerintah campur tangan dalam konflik internal PKB, khususnya di balik dikabulkannya gugatan atas pemecatan terhadap Muhaimin Iskandar dan Lukman Edy. “Kalau pemerintah masih campur tangan terus, tidak ada jalan lain bagi kita, kecuali membisikkan kepada pemilih untuk Golput sajalah bersama-sama,” ujar Gus Dur di Kantor PBNU, Jakarta (12/6).

Ancaman Gus Dur ini terang mencemaskan. Apalagi trend Golput terus meningkat di perhelatan Pilkada sepanjang 2005-2008. Bahkan kemenangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf di Pilgub Jawa Barat beberapa bulan lalu, tak bisa dilepaskan dari membengkaknya warga yang ogah ke bilik suara saat hari pencoblosan. Trend Golput di Pilkada tembus 35-40 persen.

Anda bisa bayangkan seandainya suara PKB di Pemilu 2004 lalu dapat dikonsolidasikan Gus Dur. Sekitar 12 juta jiwa lagi akan Golput. Berarti sandungan bagi parpol-parpol. Tapi semudah itukah?

Gertakan Gus Dur, buat saya, hanya psywar—yang biasa dilakukan seorang pelatih sepak bola sebelum timnya bertanding. Tujuannya, merontokkan mental lawan—sekaligus membangkitkan moral tim. Dengan cara itu, Gus Dur ingin mengingatkan lawan (baca: pemerintah) bahwa dirinya memiliki massa kuat di tingkat akar rumput. “Kalau pemerintah mengalahkan (PKB kubu Gus Dur) itu sama saja dengan melawan kehendak massa di bawah,” begitu kurang lebih pesan dari Gus Dur itu.

Saya sendiri, tidak yakin dengan ancaman Gus Dur itu. Diperlukan syarat banyak untuk mengonsolidasi massa PKB. Tawaran Gus Dur itu mengandaikan massa PKB—khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah—kurang rasional dalam memilih. Gus Dur salah membaca kecenderungan bahwa massa PKB, majoritas Nahdliyin adalah massa yang sudah tumbuh menjadi rasional—dan bahkan pragmatis.

Ketimbang terus menggertak. Lebih baik bisikkan, “Gus Dur…Sudahlah. Ini zaman yang lain dari 10-20 tahun lalu. Lebih baik Gus Dur dan para awak panjenengan (bahasa Jawa: Anda) segera menjemput ajakan rekonsiliasi yang ditiupkan kubu Muhaimin serta banyak lagi di sekitar panjenengan.” Menang di tingkat kasasi (MA) atau tidak, cara terbaik untuk keluar dari krisis internal ini adalah bersama-sama dalam satu bendera PKB. Gus Dur, tak ada untungnya selalu bersikeras.

25 Comments »

  1. sebenarnya ada apa di balik perhelatan kedua kubu tersebut? kita lihat saja nanti :)

    Comment by Adam Sundana WeBlog — June 18, 2008 @ 10:23 pm

  2. weleh…weleh, gus dur lagi- gus dur lagi, menurut pakar kesehatan apabila seseorang telah terkena stroke sekali aja, maka akan banyak urat syarafnya yg putus dan tak dapat berfungsi lagi sbg mana mestinya, lha,..gus dur sdh berapa kali kumat…? artikan saja sendiri. makanya kalau di blog ini tampil kelakuan dan tingkah laku,ucapan dan komentar ttg beliau……..???!!!!!

    cape’ deeeeeeh.
    gak ngaruh dan gak mutu.

    Comment by a.karim siagian — June 19, 2008 @ 11:01 am

  3. “sebelum gus dur menyerukan golput pada pemilu dekade ini, 3 dekade pemilu sebelumnya saya terlebih dulu golput, semua pimpinan dan pejabat parpol baik yang digauli pemerintah maupun yang tidak, semuanya tidak beres, mereka (pejabat parpol) hanya ingin mencari uang untuk menyambung hidup melalui partai politik yang menjadikan mereka penguasa yg lupa daratan, lihatlah terpecah belahnya parpol seperti: pdi, pkb, pan, demokrat, dan partai-partai lainnya, menunjukkan bahwa diantara mereka saling berambisi dan berebut kekuasaan agar mereka bisa menumpuk uang, uang dan uang. Terlalu banyak dan terlalu lama untuk menceritakan sejarah bangsa yang memilukan akibat ulah para parpol. Rakyat dan bangsa ini sudah muak dan capek untuk di bodohi dan dijadikan kambing hitam oleh pimpinan parpol, yang dibutuhkan rakyat sekarang ini adalah KEJUJURAN dan HATI YANG BERSIH dari pejabat parpol yang menjadikan partai itu SOLID dan KUAT yang akhirnya dapat mengantarkan amanat dan keinginan para pendukungnya.” (…. bukannya massa disuruh gondok-gondokan, hajar sana-hajar situ, dalam satu bendera kalleeeee…..) (dengerin tuh yang mau dapet gaji gede…. he he he…)

    Comment by busye budi — June 19, 2008 @ 3:20 pm

  4. Saya suka Gus Dur, saya juga suka Soeharto. Dan saya juga suka siapapun yang menjadi pemimpin negeri ini. ‘Suka’ artinya cinta, bisa juga disebut “setuju apa-pun yang akan dilakukannya”. Nah!!! saat rakyat seperti saya ini yang hampir sebagian besar tidak tau apa-apa menentukan pilihannya (seperti main judi) pada seorang pemimpin yang hanya dikenal lewat iklan dan sebagainya, menaruh dukungan kepada anda(calon pemimpin) ya semestinya dengarlah isi hati kami, walau hanya sebatas keluhan yang konyol. Agar tidak ada yang namanyo Golput.

    Comment by ureh s — June 19, 2008 @ 7:53 pm

  5. Mengapa kita harus memilih apa yg kita tidak suka…? :-?

    Comment by sofian — June 23, 2008 @ 10:46 pm

  6. Sebagai seorang negarawan hendaknya Gus Dur dapat berbicara mewakili masyarakat banyak dengan cara yang sangat arif. Pertanyaannya apakah Golput’ers ini adalah orang2 yang bisa membawa bangsa ini maju ketika sudah sedemikian terbukanya bangsa ini? saya sangsi

    Comment by jesie — June 24, 2008 @ 6:53 pm

  7. mungkin saja itu psywar, tapi masalahnya ditingkat akar rumput, ucapan Gus Dur ibarat Fatwa-wajib bagi masyarakat pro-Gus Dur. Bisa-bisa, sebelum Gus Dur bicara lagi, komunitas ini betul-betul golput.

    Comment by torasham — June 26, 2008 @ 9:45 pm

  8. Udahlab gus,gak usah bikin konflik,wong pkb itu ya identik sampeyan.gitu aja kok repot

    Comment by andre — June 27, 2008 @ 10:31 am

  9. Gus Dur memang nyleneh, sensational. Tapi kalau Indonesia nggak punya Gus Dur, nggak ada “dinamika”. Padahal Gus dur tuh kalo kita sadari justru merangsang kita untuk berfikir dan beranalisa. Orang kita aja yang kurang ngeh. Saat Gus Dur masih hidup kayak sekarang, orang mengumpatnya. Padahal para koruptor yang jauh lebih berbahaya, orang nganggepnya wajar aja. Dasar Indonesia, negeri nggak jelas. Semua serba membingungkan. Yang benar jadi salah, yang salah dianggap benar.

    Comment by mcdamas — June 27, 2008 @ 7:23 pm

  10. mbok dibiarin aja gus nanti juga bubar sendiri seperti ketua pkb yg dulu2 gitu aja kok repot

    Comment by sigit — June 27, 2008 @ 8:48 pm

  11. setuju bung arif!
    untuk menjadi seorang pemimpin handal harus repot dalam segala hal….Dur,km harus mikir rakyat indonesia sudah banyak yg bs berpikir…

    Comment by husni — July 1, 2008 @ 4:03 am

  12. satu kata saja untuk guru besar bangsa indonesia: GITU AJA KOK GOLPUT !!!

    Comment by cak_luk — July 3, 2008 @ 9:13 am

  13. Gus Dur bagi saya seseorang yang besar, namun kita semua tahu bahwa ia bukan satu-satunya yang besar dan hebat di Indonesia. Gus Dur belum menyamai Jenderal Sudirman, Buya Hamka, Muhammad Roem, Muhammad Nasir, Diponegoro, dll.

    Gus Dur, sekedar tokoh NU yang pernah jadi presiden, Indonesia tampaknya tak butuh Gus Dur, Amien Rais, Megawati, SBY, Wiranto, Prabowo, Sutiyoso apalagi Yusril Ihza Mahendra yang flamboyan itu.

    Indonesia butuh pemimpin yang membebaskan rakyat dari kemiskinan dan kebodohan yang panjang, dan itu belum dilakukan oleh mereka, Termasuk Gus Dur.

    Comment by Mas Joko — July 14, 2008 @ 3:10 pm

  14. gitu aja kok repot gus. bikin partai baru yang anggotanya orang-orang baru dan bebas korupsi beres .

    Comment by happy — July 16, 2008 @ 10:23 am

  15. Kalau tidak begitu kan bukan GUS DUR

    Comment by aviep — July 19, 2008 @ 1:06 pm

  16. setuju sama Gus Dur.
    HIDUP GOLPUT.
    pemilu cuma buang-buang uang rakyat saja.

    Comment by evelyn — July 20, 2008 @ 12:54 pm

  17. Bagaimanapun Gus Dur adalah orang besar. Orang besar secara umum mau menerima kekalahan dan kemenangan. Sudahkah gus Dur, ajak damai muhaimin. berantem nggak banyak manfaatnya untuk PKB. Bersatu dengan muhaimin insya Allah dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam merubah arah pembangunan bangsa. Terus terang 2 kubu PKB yang berantem membuat sesak dada pemilih & membuat mereka menjadi semakin bingung. peace lah ….

    Comment by cr66 — July 20, 2008 @ 1:42 pm

  18. Gus Dur orang besar dengan segala keterbatasan fisiknya tak mengurangi gagasan2 cemerlang walaupun sering2 bernada kontroversial.buktinya beberapa kali pemilu selalu ada ketegangan politik,bahkan pecah menjadi partai2 kecil yang akirnya pupus.tapi pkb Gus Dur tetap aja exist.dan saya yakin kalau gusdur bikin partai baru pasti banyak pendukungnya. Maju terus Gus

    Comment by andre — July 21, 2008 @ 11:10 am

  19. Dulu waktu jaman suharto saya sangat simpati pada gusdur, setiap ada berita dimuat ttg gusdur selalu saya simak, tapi belakangan ko jadi gini ya? matori ditendang, alwi dilempar keponakan sendiri mau dienyahkan. wah..wah..ada kepentingan apa lagi ini?

    Comment by zuhri — July 21, 2008 @ 12:49 pm

  20. Gus, saya orang muslim yang hidup ditengah2 orang yang non muslim. Terus
    terang kami yang muslim merasa.malu atas konflik ditubuh pkb partai yang
    nafaskan islam. Dan lebih memalukan lagi bahwa ternyata Gus Dur yang pemim
    pin ummat adalah sesepuhnya pkb. Apa Gus Dur gak capek sebentar bentar
    main pecat ? waktu jadi presiden Gus pun begitu. Sebentar bentar pecat men
    tri. Setelah lengserpun main pecat.aja terhadap pimpinan partai yang diproduksi
    nya. Istighfar lah Gus. Gus kan orangnya gak sehat masih sakit. Atau hal ini
    merupakan terapi bagi penyakit Gus Dur ??? Kalau begini jadinya Gus Dur itu
    bukan memihak sama rakyat doong, tapi memprovokasi rakyat untuk Golput.
    Sedikit sedikit Golput, sdikit sedikit golput, kalau mau golput koq sedikit sedi
    kit ????? Itu aja koq repot. Repot koq itu aja ………. ?????????

    Comment by sufran — July 23, 2008 @ 12:19 am

  21. Bagi orang2 yg tdak mengerti akan sepak terjang gus dur. Mungkin akan mengumpat. Tapi buat yg tahu, dia akan mendukung! Memang ucapan nya suka menjadi kntroversi. Tp itulah jalannya untuk mendidik anak2 bangsa ini tuk berpikir. Maju trus, Gus, ane mendukung you!

    Comment by A.Yani — July 23, 2008 @ 1:57 am

  22. Bagaimana bisa memimpin bangsa yang besar ini kalo kaya gini,bentar-bentar ribut,dikit-dikit ribit.apa tidak malu kepada rakyat?bentar lagi mau pemilu,sementara konflik belum berkesudahan.Kurasa rakyat tau harus berbuat apa,bukan golput yang menjadi solusi tapi yang sedang konflik itu sendiri yang takkan dipilih.kata orang angka 13 itu angka sial lho.

    Comment by alam syahputra — July 23, 2008 @ 7:06 pm

  23. Gus Dur memang tokoh kontroversial yang sepak terjangnya penuh dengan jurus “pendekar mabuk”.Apa yang dilakukan Gus Dur dengan PKB-nya memang kontra produktif bagi perkembangan demokrasi di negeri kita. Tetapi, kita ambil positifnya saja, yang dilakukan oleh Gus Dur itu lebih menarik, karena lucu dan menyegarkan dinamika politik di tanah air. jauh lebih menarik dari sepak terjang para politisi lain yang hipokrit dan korup.Yang perlu kita lihat apa kiat Gus Dur setelah di-KO mahkamah Agung dan PNJaksel. Akan tamatkah karier politik Sang Pendekar Mabuk ?

    Comment by dickie hendarsah — July 24, 2008 @ 9:57 pm

  24. ah.. sok tau…

    Comment by wedusgembel — July 29, 2008 @ 7:53 pm

  25. Ikut2an sok tahu ah.Klo menurutku sih ini untuk membesarkan PKB dan Muhaimin ala Gus Dur yah paling tidak beritanya diburu terus.Hidup Gus Dur

    Comment by A_wahid tanpa rahman — August 19, 2008 @ 2:46 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment