Menuju Indonesia
Vincent Hakim R.
Suatu ketika Pak Rajimin, seorang mantan pejuang kemerdekaan, yang kemudian menjadi guru sejarah di sebuah SD negeri cerita bermimpi hadir dalam undangan warga penghuni surga. Dalam suatu sesi, dibentangkanlah layar lebar putih bersih yang sedang menyajikan suatu kehidupan yang begitu nyata.
“Duh Gusti yang Maha-Agung… ini negeri apa?”
“Saya melihat Ibu Pertiwi” katanya.
Umur kian tua, tapi tidak juga sejahtera.
Usia terus bertambah, namun tak juga mendewasa.
Buminya subur makmur, tapi rakyatnya terus miskin dan bodoh.
Pemerintah terus berganti, tapi tak jua tambah berarti.
Mau dibawa ke mana negeri ini?
Tentu ada yang salah dengan semua ini.
Pak Rajimin seperti melihat album besar film dokumenter kolosal peristiwa di Tanah Air dari masa ke masa. Tampak dalam layar, negeri ini dulu dibentuk dengan janji-janji, dengan sumpah, lewat perjuangan, pertumpahan darah, pengorbanan nyawa, dan jutaan harapan.
Negeri ini dibangun dengan berbagai ragam perbedaan di dalamnya. Perbedaan ini menjadi dasar cita-cita maju bersama.
Pengkhianatan, pemberontakan, dan trik-trik tipu daya para pelaku sejarah mewarnai hari-hari sebuah negeri yang bernama Indonesia.
Semua orang putra-putri negeri ini tahu, mula dari negeri ini penuh dengan kekayaan warna warni yang berbeda. Seluruh anak bangsa paham benar, kita semua tidak sama dan berbhineka.
Bukan hanya satu macam warna! Tidak hanya satu model baju! Dan bukan hanya satu gaya!
Kita semua dulu sepakat, dan bersumpah. Biar beda tapi tetap satu: Indonesia!
“Lututku bergetar. Badanku seperti terserang demam tinggi. Aku melihat negeriku seperti negeri antah berantah. Layaknya rimba belantara,” ujar Pak Rajimin melanjutkan ceritanya.
Duh, Gusti yang Maha-Mengetahui segala sesuatu…Apa yang sebenarnya sedang terjadi di negeri ini?
Berbeda dianggap musuh. Kantor dirusak, rumah tinggal dibakar, rumah ibadah dihancurkan, orang-orangnya dianiaya. Hari-hari diselimuti curiga, iri dengki, dan permusuhan.
Ormas berjubah seolah menjadi Tuhan dan sepak terjangnya seolah dibiarkan. Menebarkan ketakutan. Menjadi polisi moral di mana-mana. Hukum tak ada lagi. Kalau pun ada, hukum hanya berlaku untuk orang-orang lemah – orang susah.
Mau jadi apa negeri ini?Apa-apa kok diselesaikan dengan kekerasan. Barbar sekali! Ke mana Indonesia yang dulu pernah disebut: penduduknya ramah tamah?
“Sungguh. Rasanya aku tak percaya. Ini negeri bernama Indonesia yang kubela mati-matian bersama para pahlawan dan pendiri negeri”. Raut wajah Pak Rajimin sangat sendu.
Duh, Gusti yang Maha-Welas Asih…
Apa yang sedang terjadi di negeri ini? Dan apa yang nanti akan terjadi di negeri ini? Pendidikan amat mahal. Pengangguran di mana-mana. Harga-harga bahan pokok untuk pemenuhan kebutuhan hidup tinggi. Orang antri untuk mendapatkan haknya. Orang kaya menyebar uang seribuan dari pesawat. Orang miskin antri minyak. Antri makanan. Orang miskin makin miskin dan tambah banyak. Orang kaya makin kaya. Orang terkaya di Asia Tenggara ada di sini. Tapi orang kelaparan kurang gizi juga hidup bersama si orang kaya di sini. Dan korupsi ada di sana-sini. Perampok uang negara bebas berkeliaran. Para politisi sibuk menjual orang miskin. Anggota DPR sibuk dengan diri mereka sendiri.
Mau jadi apa negeri ini?
Pak Rajimin mengakhiri kisahnya.
Saya lihat air mata menggenangi sudut-sudut matanya yang terlihat makin redup. Pak Rajimin sadar, umurnya tak lama lagi. Usia 82 tahun sudah merupakan penghargaan tak terhingga dari Sang Pencipta. Melihat realitas Indonesia walau hanya lewat mimpi baginya amat menyakitkan.
“Mas, apakah Indonesia kini sudah merdeka?” Katanya lagi membuka obrolan.
“Sudahkah kita menjadi Indonesia? Seperti yang dicita-citakan para pendiri negeri ini?” Jika keberadaan negara tidak membuat rakyat aman tenteram sejahtera. Apa artinya? Buat apa ada negara? Kalau ada pemerintah, tapi tidak bisa mengelola negara dan menjamin rakyatnya. Untuk apa ada pemerintah?
Saya tidak kuasa untuk menjawab. Saya hanya mampu termangu, merenung, dan sesekali menggelengkan kepala perlahan.
Ya. Indonesia Merdeka… baru ada dan hidup di dunia ide. Cita-cita menjadi Indonesia.

Yth Pak Sajimin. Bapak termasuk beruntung karena dulu dijajah oleh bangsa lain. Lihatlah tragisnya nasib kami kini dijajah oleh bangsa sendiri. Kami hendak melawan tapi tak tahu siapa yg harus kami lawan. Karena konon mereka itu adalah pemerintah yg syah. Mereka berbicara ttg pemeratan kemakmuran, tapi kenapa rakyat harus tetap mengais ngais sampah utk dapat terus bertahan hidup. Kami baca koran hari ini. Kekayaan para punggawa pemerintah melejit miliaran rupiah dalam bilangan tahun. Sedang utk rakyat mereka sudah berbangga hati karena telah menghargai kami senilai Rp. 100000/bulan.
Comment by neiya — June 4, 2008 @ 10:23 am
kalau untukku pribadi, jangan menyerah sama keadaan..
Comment by torasham — June 4, 2008 @ 5:31 pm
sperma bangsa ini rusak, kurang gizi, jd otaknya ngaco trs , beginilah keadaan ….now and forever.
Comment by janur — June 4, 2008 @ 10:20 pm
ya…begitulah Indonesia.
tapi tenang saja,setelah kesulitan pasti ada kemudahan.mari kita sama2 berjuang menuju Indonesia damai.
Comment by aiti — June 5, 2008 @ 10:51 am
biarlah sesuatu itu berjalan seiring irama waktu..karena sang waktu adalah hakim yang paling bijak
Comment by Pangestu Mangkulangit — June 5, 2008 @ 5:39 pm
…..
oooalah kok masih ada cerita yang seperti ini. Tapi saya senang sekali masih bisa menikmatinya bahkan dari generasi tua. Lalu bagaimana dengan para generasi muda saat ini? masih mampukah memaknai pesan dari uangkapan hati seorang Rajimin?
…..
Saya tidak keberatan menimpalinya dengan kesombongan.
Kesombongan sebagai generasi muda yg optimis, tidak mudah menyerah, tidak cengeng, selalu berusaha dengan diri sendiri, punya pendirian dan prinsip hidup yang tidak mudah terinfeksi virus masyarakat.
….
Mohon maaf saya sebagai generasi muda tak seharusnya saya bersikap demikian.
“mari ciptakan semangat untuk maju”
Comment by ureh — June 5, 2008 @ 8:39 pm
BANGSA indonesia ADALAH BANGSA YANG MUDAH DIBODOHIN, MUDAH DIJELEKIN, PEMERINTAHAN NURUT DENGAN BUSH.. hancur dah INDONESIA INI.. SAMPAI2 dirikue tidak bisa membanggakan INDONESIA… nah buat januar dirimu aja belum benar gitu sok-sok mengejek INDONESIA,,, yang boleh menghina INDONESIA adalah mereka YANG MEMAKAI LOGIKA BUKAN nafsu.
INDONESI SEKARANG DAN DULU ADALAH SAMA.. SAMA-SAMA DIJAJAH.. TAPI SEKARAH KITA DISERANG PEMIKIRAN LEWAT MEDIA.. MEDIA YANG SISTEM KAPITALIST
Comment by ChIqUE — June 6, 2008 @ 11:06 am
saya hanya berdoa semoga Indonesia bisa maju dan menjadi bangsa yang disegani di dunia
seperti yang saya tulis di blog saya ini
realylife.wordpress.com
terima kasih
Comment by realylife — June 7, 2008 @ 5:32 pm
makanya ganti aja negara ini jadi NII, baru aman
Comment by tandi.siregar — June 16, 2008 @ 7:18 pm
tapi bukan NIInya KW9, tapi NII yang jujur dan adil yang menjamin keamanan nyawa setiap warganya dari kejahatan bangsa2 diluar NII, tanpa beda2kan agama atau suku
Comment by tandi.siregar — June 16, 2008 @ 7:19 pm
buanglah sampah pada tempatnya, berdirilah dibelakang garis putih, hargailah waktu…kelak Indonesia akan bahagia.
selama itu belom ada…yah weis rasakan saja akibatnya.
intinya adalah kesadaran dan disiplin.
Attitude is everything
Comment by budjel — June 17, 2008 @ 8:48 am
assalamualaikum,wr.wb
bener,akan di bawa ke menane ya negri tercinta ini.
tak ada lagi hukum yang tegak lurus berdiri di atas peristiwa insiden
hukum negeri ini hanya berdiri di atas uang dan uang.hukum hanya milik para pemilik uang
menurut saya pribadi alangkah baiknya kalau para penduduk indonesia tercinta ini mau menghargai waktu.
banyak bekerja dan sedikit berbicara….mang maling…hehe….
terapkan disiplin,takut akan peraturan sedikit takut akan dosa…..
karna dosa itu sifatnya nafsi nafsi…
seperti di negara maju lainya…
salam hormat,maju terus indonesiaku
maju bangsaku….
+85297156142
Comment by yustin respati — July 10, 2008 @ 8:53 am
mank bener smua itu.selagi masyarakat indonesia ga bsa menghargai wktu, peraturan dan berdisiplin tinggi ga akan maju negara itu, walau sampai kapan pun…
Comment by andoko — July 10, 2008 @ 1:58 pm
bukalah pikiran kalian tentang negara ini..
buka mata,,,ini nyata!!!!!!
kita HARUS merubah pola pikir yang TERCELA menjadi TERPUJI…
TQ
Comment by eras — July 12, 2008 @ 11:33 am
Pejabat kita yang telah diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk menduduki jabatan lupa diri, jadi untuk mengatasinya harus diberi sanksi hukum yang seberat-beratnya jika melanggar peraturan. yang sangat trend saat ini adalah kasus korupsi, kalau bisa dihukum mati, mungkin dengan demikian baru Indonesia sejahtera.
Comment by laila — July 13, 2008 @ 9:11 am
bersyukur aja kt masih punya negara.mslh mau dibawa kemana,mari kt rembug sama2.kalo dah ada putusan mau dibawa kemana,mari sama2 kt bawa negara ini kesana. memang,butuh waktu hingga beberapa generasi.dan kesabaran untuk selalu menyamakan tujuan ke generasi brktnya.yg terpenting,mari selalu berusaha mencari jalan terdekat atau jalan pintas mennuju sana.sehingga bisa dinikmati secepatnya oleh anak cucu kita.BUKAN KITA…
Comment by jeka — July 20, 2008 @ 1:34 pm