Der Panser Fussbalmanschaft Ist Nicht So Stark
Ariyo Ardi
Judul di atas terjemahan bebasnya adalah kekuatan tim panser meragukan. Itulah pendapat saya, melihat penampilan kesebelasan Jerman. Laga terakhir saat melawan Serbia di Gelsenkirchen, Jerman, Sabtu tengah malam, waktu Indonesia, sama sekali tidak menunjukan kualitas der panser sesungguhnya sebagai tim papan atas Eropa yang akan berlaga di Piala Eropa Austria-Swiss, meski akhirnya Jerman menang 2-1.
Pertahanan Jerman kurang mendapat ujian karena Serbia mengandalkan serangan balik, namun beberapa serangan Serbia nyaris berbuah gol. Sama seperti ketika melawan Belarusia, gol lawan tercipta akibat lemahnya koordinasi lini belakang. Bosko Jancovic di menit 19 dengan cerdik berlari di antara Per Mertesacker dan Cristoph Metzelder untuk lepas dari jebakan off side,sebelum akhirnya memperdaya Jens Lehmann. Untuk pemain bertahan penampilan Marcell Jansen cukup baik, karena ia juga sering membantu serangan, bahkan salah satu umpan silangnya nyaris berbuah gol.
Kuartet lini tengah yang diisi Michael Ballack, Torsten Frings, Bastian Schweinsteiger dan Clements Fritz tidak mampu menciptakan kreasi serangan dan membuka ruang bagi para penyerangnya. Hanya Ballack saja yang penampilannya sedikit lebih bagus dan aksinya beberapa kali sempat mengancam gawang Serbia.
Permainan duet striker Mario Gomez dan Kevin Kuranyi masih jauh dari harapan, keduanya gagal menunjukkan predikatnya sebagai penyerang subur di bundesliga. Tak heran pendukung tuan rumah yang datang ke stadion Veltins Arena mulai bersiul tanda kecewa, setiap kali serangan kesebelasan kesayangannya kandas.
Buruknya kualitas Jerman adalah cermin meredupnya prestasi individu pemainnya. Penjaga gawang utama Jerman Jens Lehman bukan starter di Arsenal, bahkan kontraknya musim panas ini akan berakhir. Di lini belakang Cristoph Metzelder yang diharapkan mampu mengangkat permain timnya, tidak bersinar di Real Madrid karena kalah bersaing dengan Pepe dan Sergio Ramos.
Di lini tengah, hanya Michael Ballack yang menjadi kekuatan Jerman.Pemain lainnya Bastian Schweinsteger, Torsten Frings dll, kualitasnya masih sebatas di bundesliga saja.
Di lini depan, sebenarnya hanya Mario Gomez dan Kevin Kuranyi saja yang torehan golnya mampu menyaingi ketajaman Miroslav Klose.
Buruknya prestasi Jerman, tidak terlepas dari prestasi Bayern Muenchen, klub Jerman terbesar yang selama ini menjadi pemasok utama pemain timnas. Bayern memang menduduki tempat terhormat di hampir semua kompetisi domestik, tapi FC Hollywood ketika turun di kompetisi eropa tak berdaya di tangan Zenit Petersburg (Russia).Pemain kunci Bayern saat ini pun adalah orang Italia dan Perancis, Luca Toni dan Frank Ribery.
Dari catatan Bayern Muenchen, hanya Miroslav Klose yang mampu bersaing dengan Luca Toni dalam urusan menjebol gawang lawan, itupun perbedaannya cukup jauh.Di seluruh kompetisi ToniGol 39 kali mengoyak gawang lawan, sedangkan Klose “hanya” 20 gol, jumlah tersebut tidak dapat disebut fantastis, karena Frank Ribery yang berposisi sebagai gelandang serang mencetak 16 buah di segala turnamen.
Setelah Luca Toni meraih gelar pencetak gol terbanyak, untuk perburuan gelar pemain terbaik di liga tahun inipun lagi-lagi pemain Jerman tidak mampu bersaing dengan pemain asing. Urutan pertama diduduki Frank Ribbery, posisi kedua dan ketiga ditempati Luca Toni dan pengatur serangan Werder Bremen asal Brazil Diego Ribas.
Jerman boleh berbangga karena gelar kiper terbaik semunya diraih pemain pribumi yaitu Rene Adler (Bayer Leverkusen) dan Robert Enke (Hannover 96) kedunya merupakan anggota timnas Jerman di Austria dan Swiss.
Mudah-mudahan catatan saya sekedar catatan. Karena, pelatih Joachim Low tentunya tidak tinggal diam untuk mendapatkan formasi terbaiknya, selain itu Jerman selama ini dikenal sebagai tim spesialis turnamen yang penampilannya memang lambat panas, layaknya mesin diesel.

Mas, sayang ya mencari 11 org dr ratusan juta rakyat Indonesia susah…..bahkan pelatih sekaliber Capello, Mourinho, Ferguson tidak akan sanggup melatih monyet2 yg br dpt mainan ‘bola’.
Comment by pele — June 4, 2008 @ 12:05 am
sejarah membuktikan beberapa kali setelah jerman memperoleh hasil çuma’juara ke 3 piala dunia, maka setelahnya selalu juara 1 euro. so,.. kita lihat akhirnya. JERMAN banget dech…
Comment by ady_chy — June 7, 2008 @ 11:17 am
jerman banget sehh….
ditunggu tim brazil deh di winning eleven
Comment by sikunyuk — June 10, 2008 @ 1:13 am
caRi 11 oranG buaT pemaiN boLa…?
waduchhhh
susah dacH kayaKnya…?
Bayangin aja, pemain Timnas Indonesia tuuu gak sejago pemain bola kelas intrnasional liaT aja!, lawaN Bayern MuncerN aja KALAH!. Mestinya kirim pelatih yg handal tapi mo di bayar MURAH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!.:-)
Comment by Vinna Avianty — June 13, 2008 @ 3:33 pm
Bung Aryo/ kekuatan Jerman memang meragukan// Memalukan/ Jerman kalah meyesakkan 1-2/ dilibas pasukan Balkan/ Kroasia// Keperkasaan Jerman saat Euro 2006 Inggris/ tak tampak lagi///
Comment by Rama Ramadhan — June 16, 2008 @ 3:51 pm
yeh sayang bernd schneider cedera,coba ga,pasti kekuatan sayapnya lebih keren..finnaly menang juga kan lawan portugal…
Der Panser Fussbalmanschaft Ist So Gut
Herr ardi,Viel Gluck!! und Viel Erfolg !!
Comment by u2 — June 21, 2008 @ 1:33 pm
apapun yg trjadi,,
gw ttp dukung Tim Panser
hehehehehehehe
bravo tim panser…
Comment by MeyRa sHaRaPoVa — November 3, 2008 @ 8:46 pm