Tiada Hari Tanpa Demonstrasi
Dwi Anggia
Minggu, satu Juni 2008. Matahari sudah semakin tinggi, selepas Dzuhur ratusan masa mulai berdatangan di depan Istana Negara. Di beberapa titik di depan Istana, termasuk di kawasan monas, sejumlah kelompok masa yang berbeda, berkumpul. Tuntutan mereka sama. Batalkan kenaikan harga BBM, turunkan harga kebutuhan pokok, kadang-kadang ada satu dua yang berbeda, liberalisasi aset energi milik negara. Katanya, sih, agar jangan dikuasai dan dinikmati orang asing.
Tak lama unjuk rasa berjalan, dari kawasan timur monas terjadi keributan. Massa dari sejumlah ormas Islam, mengatasnamakan agama dan Tuhan, menyerang sebuah kelompok masa lain yang 80% nya beranggotakan wanita dan anak-anak hanya karena mereka menyuarakan kebebasan beragama. Sepuluh menit aksi penyerangan berlangsung, laporan dari polisi, 9 orang terluka.
Satu minggu yang lalu, bentrok mahasiswa dengan aparat kepolisian. Lagi-lagi korban luka berjatuhan. Tidak hanya itu, kerugian materi juga tidak sedikit. Selang beberapa hari, sesama mahasiswa bentrok. O ya, Anda tentunya tahu, unjuk rasa tidak hanya terjadi di ibu kota saja, hampir disemua daerah.
Saya bukannya ingin melaporkan kejadian di atas dengan lengkap, karena tentunya anda bisa mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai beberapa peristiwa yang ditulis diatas dari media, baik elektronik maupun cetak.
Saya juga bukannya tidak setuju atau tidak mengerti dengan kesusahan saudara kita akibat kenaikkan harga BBM. Yang jelas-jelas menambah beban hidup rakyat miskin, meskipun pemerintah bersikeras membenarkan kebijakan mereka. Atau , dengan umat Islam yang merasa agama Islam ternodai dengan aliran agama lain.
Tapi lihat, apa yang terjadi dengan bangsa ini?? Semua bergerak atas nama rakyat. Mulai dari penolakan kenaikan harga ini itu, ungkapan kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah, hingga penolakan atas kepercayaan dan agama tertentu yang dianggap meresahkan masyarakat. Semua di ungkapkan dengan unjuk rasa, atas nama rakyat dan masyarakat. Tidak peduli, apakah aksi mereka akan mengganggu aktivitas orang banyak, yang penting atas nama rakyat mereka bergerak.
Mengatas namakan demokrasi dan kebebasan berpendapat semuanya bergerak sesuai keinginan masing-masing, kepentingan masing-masing atau keuntungan masing-masing (maklum tak sedikit juga yang dibayar untuk berpanas-panasan dibawah terik matahari berdemonstrasi). Tapi apakah semuanya harus berjalan seperti ini terus-menerus? Ketika semuanya tidak bisa menerima satu hal yang tidak sesuai dengan prinsip masing-masing???
Entahlah, saya juga capek melihat negeri ini, yang tiada hari tanpa demonstrasi….

semoga yang MURNI menyuarakan suara rakyat tidak CAPEK mengingatkan pemerintah.
Comment by torasham — June 1, 2008 @ 9:26 pm
Melihat juga ” capek ” ? Inilah satu2nya negara unik di dunia yg rajin demonstrasi, berita se-hari2.
Manusia yg kurang pendidikan
Manusia yg lebih mementingkan pribadi, golongan, drpada kepentingan rakyat banyak.
Manusia yg gampang ditunggangi.
Semua prihatin, susah, dan mulailah dr keluarga kecil kt, spy tidak melakukan hal2 negatif.
Wajar sp saat ini yg sering kt lihat demo, rusuh, krn ketimpangan sosial dan selama 350 thn kt dijajah untuk diajar adu domba dan pengkhianat.
Jangan ” capek ” lg, kapan lagi lihat binatang berkaki dua. Hanya di Indonesia.
Comment by Jacqueline — June 1, 2008 @ 11:42 pm
Demo yg Resmi adalah Demo yg Mendapatkan izin dari Pemerintah Setempat dgn catatan psti nya bukan Demo Anarkis dlsbnya yg aturan permainan nya disebutkan dlm cara2 ber-Demo. Bukan jdi rahasia umum lagi kalo yg namanya Demo itu selalu di provokasi oleh Dalang2 nya yg menginginkan keuntungan pribadi. Mahasiswa/Rakyat yg berDemo hanyalah sebagai Pelengkap Penderita saja untuk ber-Jerit2 tanpa tau dan mengerti apa yg mereka jeritkan..? Demo di Tanah Airku? Demo Anarkis..Demo yg didalangi oleh Kelompok2 tertentu yg mencari keuntungan Pribadi tanpa pernah mau melihat pada Sejarah yg ada dari hasil kebobrokan2 akibat Demo tersebut.Yang lebih parah lagi Pemerintah setempat ikut berpolitik dan berekayasa guna terjadi nya Demo tersebut..? Ga perlu Demo2 deh..Demo kalian malah menambah beban merugikan Rakyat………………………….
Comment by Dayat Aulia. — June 2, 2008 @ 2:53 am
Saya termasuk yg miris melihat kekerasan yg terus makin marak di negara kita ini. Semua merasa membela kebenaran, padahal..apa yg mrk lakukan justru bukan membela. Kenapa mrk ga pernah berpikiran jernih ? Memangnya apa sih yg mereka dapatkan dr semua yg mrk lakukan itu?? Semestinya mrk bisa memposisikan diri sbg korban dr kekerasan itu, pasti mrk ga akan mau melakukan kekerasan lagi. Benar kata Mas Dayat, mrk semua sudah ditunggangi oleh person2 yg punya kepentingan pribadi.
Comment by Hasmi Susanto — June 2, 2008 @ 9:25 am
DEMO RUSUH YACH??! Mungkin yang demo dulu waktu SD gag dpt pelajaran PPKn Kali ye?? Terus, SMP ngantuk waktu pelajaran PPKn. Pas SMA,tidur die tiap kali pelajaran PPKn. Nah…pas kuliah gag pernah masuk kalo ada kls kewiraan. pantes aja demonya rusuh lagi, rusuh lagi…
Comment by tian — June 2, 2008 @ 1:29 pm
Saya tidak tahu harus menyalahkan siapa. Tapi saya sadar kalo saya telah salah memilih.
Memang lidah tak bertulang, semua berkilah, semua dusta, tapi inilah kenyataannya.
Bahwa kita semua pendusta
Comment by Jayadi — June 2, 2008 @ 3:33 pm
negri ini tak akan pernah aman selama kapitalisme yang menyebabkan kesengsaraan rakyat masih terus bercokol. serta liberalisasi masih terus diagung- agungkan. selamatkan indonesia hanya dengan syariah..
Comment by Ridha — June 2, 2008 @ 4:44 pm
kenapa sinis dgn demonstrasi? Kami terpaksa turun ke jalan krn tdk ada lagi ‘Bapak’ yg mau berdiskusi dan mndengarkan keluhan kami. Buat sdr dwi. Apakah anda pernah bermimpi dapat menulis dgn bebas sprti saat ini jika dulu Soeharto tidak dilengserkan melalui demonstrasi? Kalian termasuk beruntung krn dapat mencibir dari balik meja kerja dan kursi empuk. Sementar kami harus tetap berteriak teriak di jalan menyuarakan aspirasi rakyat banyak. Apakah tidak ada sedikit empati utk kami? Mengapa dgn mudah menuding kami ditunggangi? Kenapa menganggap kami sebodoh itu? Jawablah jika memang kalian mengaku mewakili orang2 bijaksana di negeri ini!
Comment by dlan — June 2, 2008 @ 5:46 pm
Sejak era reformasi hpr setiap hari tayangan TV penuh dgn demo, kerusuhan, sangat kontras sekali dgn negara lain yg penuh pembangunan, bisnis, pengembangan sumber daya yg sifatnya positif. Demo yg tidak disertai dgn keributan,aplg yg bersifat kepentingan rakyat pasti akan didukung & mendapat simpati dr rakyat, tp kalau disertai anarkis siapapun akan capek melihat situasi ini.
Siapapun yg menjadi pemimpin negara ini, tidak akan berhasil dgn situasi sekrg, tanpa dukungan rakyat. Kt udah memilih, hrs mendukung. Menjatuhkan gampang, tp membangun sp sekrg blm berhasil.
Negara makmur dgn sumber daya alam yg berlimpah, tp rakyat byk miskin…ironis…tp nyata.
Aspirasi rakyat harus diwujudkan dr kesadaran diri sendiri, demo trs kapan membangun? Pemerintah jg hrs mendengar, membantu ekonomi rakyat, cth dgn kredit usaha kecil/menengah yg langsung diawasi oleh pem. atau sekolah dasar gratis.
Comment by Janur — June 3, 2008 @ 1:05 am
kalo boleh djwb? saya juga dulunya termasuk “pentolan”kecil yg setiap saat TURUN ke jalan guna JERIT-jerit ga tau apa yg saya jeritkan? apakah untuk Rakyat? ataukah untuk para pentolan yg kasih instruksi? saya dah ga perduli lagi!dian turun ke JALAN nya disuruh atau memang dian jalan sendiri Turun KeJalan?
karna setahu saya ga akan ada yg bakalan turun ke jalan kalau ga ada yg NYURUH! Turun ke jalan memang perlu agar Suara Rakyat didengar…tapi bukan dengan gerakan yg berbau Anarkis yg mengarah UUD ujung2nya duit…dgn hasil ribut sana ribut sini..jarah sana jarah sini..yg merugikan Rakyat banyak..memblokade jalan sehingga Aktivitas Rakyat Banyak tergangu dllsb nya.Intinya; Turun ke Jalan Normal2 saja bila dilakukan sesuai dengan Permainan yg berlaku sesuai Izin yg dikeluarkan oleh Pemerintah setempat! dian turun ke jalan dpet izin ga dari Pemerintah setempat? dian tau ga apa yg dian JERIT2kan tersebut? Batalkan kenaikan harga BBM? MANA MUNGKIN PAK….?
Comment by Dayat Aulia. — June 3, 2008 @ 5:37 am
Kenapa sekarang semua membelokkan inti persoalan? Ada upaya tersembunyi apa dgn opini aksi demonstrasi telah ditunggangi? @dayat, adalah permasalahan anda sendiri prihal motif anda sesungguhnya ikut demonstrasi. Jangan pernah menganggap orang lain sama pintarnya dgn dirimu. Siapa tahu orang lain lebih pintar daripada kamu! Perubahan/perbaikan apa di negeri ini yg telah berhasil diwujudkan hanya dgn tulisan? Lihatlah pers sekarang hanya mengejar tiras dan rating saja. Lihatlah media di daerah2 telah menjelma menjadi tirani minoritas! Lihatlah siapa yg telah merampas repormasi!
Comment by dlan — June 3, 2008 @ 10:15 am
Negara ini sedang susah, masyarakat sedang susah dengan berbagai-bagai persoalan ekonomi, kesehatan dan bencana alam (musibah) - saatnya semua komponen masyarakat Indonesia bertobat. Jangan menambah keruh suasana dengan tindakan-tindakan anarkis yang berbau SARA. Pemerintah harus bisa menenggakkan keamanan di Indonesia dengan lebih baik! Malu kita! Katanya bangsa yang beradab dan beragama, tapi banyak tindakan-tindakan kita yang menunjukkan tindakan-tindakan yang tidak beradab dan tidak beragama! Tobat Indonesia!
Comment by Rusdi — June 3, 2008 @ 10:55 am
Dan, hampir setiap hari tayangan televisi dan berita di media lainnya didominasi oleh berita yang itu-itu saja. Hampir tiap hari juga tayangan berita diisi dengan kekerasan, kejahatan…
Apakah tidak ada kabar baik lagi?
Comment by Thomas Arie — June 3, 2008 @ 12:03 pm
…kalau dian baca yg bener cc; Turun ke Jalan Normal2 saja bila dilakukan sesuai dgn peraturan dan permainan yg ada sesuai izin yg didapat dari Pemerintah setempat dgn catatan yg namanya Normal2 itu Tidak Berbau Anarkis!..Turun keJalan memang perlu dilakukan agar Suara Hati Rakyat Bisa didengar oleh Pemerintah…! Kamu bisa baca yg bener apa ga c..? komentar kamu tidak sehat cari siapa yg pinter? MANA ADA C ORANG YG PINTER? pasti akan adalagi yg lebih Pinter..itu sudah Kodrat Alam..Mohon jgn ber Emosi okeh………
Comment by Dayat Aulia. — June 3, 2008 @ 12:47 pm
@dayat, justru anda yg harus blajar membaca. Membaca nama saya (dlan) saja anda tdk becus (anda membacanya dian). Bagaimana pula anda mampu menelaah perumpamaan yg saya kemukakan sebelumnya? Lol=) Silakan belajar ttg makna denotasi dan makna konotasi terlebih dulu sebelum berkomentar lebih jauh
Comment by dlan — June 3, 2008 @ 1:28 pm
seru ya, jangan emosi….pers cuma sarana, bukan sasaran. Demo yg anarkis jelas merusak reformasi. Makan aja udah susah ribut yg diperbanyak.
Pake otak jangan otot. Jangan cuma bisa melihat kejelekan org lain, trus demo-demo……coba mulai dr lingkup kecil dulu…..contoh : demo bapak kalian masing2 kalau ternyata korupsi.
Negara udah penuh borok, 100 tahun lg gak akan pernah maju, kalau otak kotor semua, KKN.
Perbaiki aja diri masing2.
Comment by Janur — June 3, 2008 @ 1:28 pm
mohon maaaf bila kiranya saya salah mengeja nama dlan jadi dian,,bukan berarti saya tidak bisa menerima makna dari isi tulisan dlan(juga bukan tidak becus lho..)Intinya;saya sudah jenuh dgn demo2 anarkis yg ada dan akan tetap ada di Indonesiaku.. kalo dlan berbicara soal knapa jadi sinis demonstrasi? ya pstinya Demo yg berbaukan Anarkis? saya bukan hanya sinis saja.. Malah jadi kontra gitu.. Walaupun hanya seujung kuku andil saya dlm Reformasi? tapi sudah cukup membuat saya bangga..Apalagi yg akan bisa saya banggakan bila Demo Anarkis berlaku di Tanah Airku…..?
Comment by Dayat Aulia. — June 3, 2008 @ 2:19 pm
Upik, gue 100% setuju sama dikau. gue ngerti rasanya karna kita sama2 kerja di media. dan media cenderung suka ekspos hal2 gini yg menurut kita ga penting. tapi atas nama kebebasan pers (tapi padahal demi profit) akhirnya kita malah menjadi penyebar peristiwa yg sama sekali ga menguntungkan buat rakyat di negara yg sedang menderita. mungkin ga kalo semua media di indonesia kompak ga mau lagi mengarahkan kameranya ke peritiwa2 kayak gini, supaya bikin para aktor2 ga jelas itu malu hati krn ga ada yg perhatiin dan akhirnya kapok, udah mahal2 gerakin massa tapi ga ada yang sudi melihat.
Comment by Delly Chaniago — June 3, 2008 @ 4:31 pm
demontrasi adalah pilihan alternatif kami d dalam menyuarakan aspirasi rakyat dan membangun bangsa ini,dan sy jg yakin kwn2 mahasiswa masih punya nurani dan idealisme tinggi untuk menjaga dan menyelamatkan bangsa ini,kenaikan bbm itu hnya sebagian isu yg kami angkat krn jelas akan menyengsarakan rakyat banyak.apalah mamfaatnya ada negara klu tdk mampu menyejahterakan rakyatnya.sudah banyak yg kami korbankan,dan jgn pernah menuduh kami ditunggangi sblm ada bukti.klu memang nyawa kami yg dibutuhkan untuk merubah negara ini menjadi negara yang makmur dan rakyat sejahtera,kami akan selalu siap dengan jaminan jangan lagi gadaikan negeri kami.
Comment by didi — June 4, 2008 @ 10:23 am
Gara-gara TV, orang-orang pada mau jadi banci kamera…
yang berjenggot
yang berdasi
yang tomboy
yang berbatik
yang pake sendal jepit
yang banci
yang boncel
yang cinta pertama
yang paling kaya se Indonesia
yang wangi
yang bau keringat
yang ngantri bbm
yang ngantri blt
yang bosan hidup pun jadi banci kamera, padahal udah mati bunuh diri.. negara macam apa ini???
Comment by mashengky — June 4, 2008 @ 1:36 pm
Kepada para pekerja media kacangan yg tidak memiliki idealisme, lebih baik alihkan kamera kalian ke tubuh molek dan wajah cantik namun bloon para artis negeri ini. Ya, itulah tempat kerja kalian sesungguhnya. Disinilah harga kalian : jurnalis infotainment!
Comment by neiya — June 4, 2008 @ 1:42 pm
Kita semua juga setuju semua aksi demo tidak boleh anarkis dan harus memberi tahu yg berwajib sebelumnya. Kami hanya sakit hati kpda pihak2 yg men-generalisir semua aksi demo saat ini telah ditunggangi pihak lain.
Comment by dlan — June 4, 2008 @ 3:14 pm
Dlan, km mahasiswa atau FPI ?
Comment by janur — June 4, 2008 @ 7:03 pm
Salam SCTV,
Inilah pernik dari lahirnya demokrasi di Indonesia. Memang benar ketika seorang pakar politik mengatakan bahwa reformasi Indonesia belum siap dalam berbagai aspek. Hal ini di lihat dari buruknya sistem reformasi yang dibuat oleh para aktivis.
Saya heran, ketika aksi unjukrasa yang menggembor di mana-mana sepertinya pmerintahan siapa pun cuma acuh tak acuh. Seperti tak mau tau. HAL INI AKAN beda ketika unjuk rasa tsb dibaluti dngan aksi brutal / anarkis seperti yang dilakukan FPI baru-baru ini.
Aksi damai Unjuk rasa ga membuat yang dikritik jadi resah malah aman- aman saja. Coba bayangkan bahwa manusia punya tingkat kesabaran yang cukup dan tidka mungkin bisa melemah dalam setiap masalah yang diargumentasikan. Jika setiap aksi unjuk rasa dilakukan hanya dengan berorasi dengan damai maka cukup ulit untuk mndapatkan hasil dari tujuan unjuk rasa tsb. Hal ini bukan berarti bahwa saya pendukung kekerasan. tetapi say hanya ingin mengajak Anda untuk melihat realita sesungguhnya bahwa jarang sekali aksi unjuk ras dengan damai tanpa anarkis direspon oleh yang dikritik. Presiden SBY mungkin cukup gerah ketika aktivis mahasiswa berunjuk rasa dengan anarki baru-baru ini juga, mak pemerintah mengajak berdiskusi di istana dan meebri alternatif dari dampak kenaikan harga BBM. Coba pula anda lihat ketika para pengunuk rasa yang tak melakukan anarkisme, bisa jadi yang dikritik malah jadi “kura-kura dalam perahu, pura-puta ga tahu’ atau tau tapi tak mau tau krn ga ada beban dari ap yng diunjukrasakan..
Semoga bisa jadi pelajaran berarti bagi Indonesia ke depan..
Salam buBud`
http://www.bubud-online.co.nr
Comment by buBud` — June 4, 2008 @ 9:04 pm
@janur, saat ini saya sedang mengambil master. Jadi, terserah anda mau menganggap saya sbg mahasiswa atau bukan
Comment by dlan — June 5, 2008 @ 4:53 am
Dan yakinlah 99% rakyat Indonesia di belakang anda. Sy jg mengalami langsung peristiwa Mei 98, sebgn jurnalis/reporter sekrg jg ex mhsw yg ikut berjuang.
Istilah ditunggangi bukan untuk mahasiswa tp FPI. Pemukulan thd anak2, wanita, apa bedanya dgn binatang, kuda ditunggangi, dilecut jalan.
Teruskan perjuangan & jgn lupa membangun Dlan.
Comment by janur — June 5, 2008 @ 7:51 am
Saya suka dengan gaya bahasa mbak Dwi Anggia. Mencerminkan isi hati tanpa mengurangi dan melebihi sedikitpun, ‘menurut saya. Tapi tulisan yang dimuat pasti dibaca orang banyak, sehingga harus disajikan dengan baik dan benar agar pembaca mampu menikmatinya dan menerima pesan yang disampaikan.
…
Hindarkan emosi dan gunakan pikiran
peace no kekerasan
Comment by ureh — June 5, 2008 @ 9:04 pm
YA IYALAH PADA DEMONTRASI… KALAU KEBIJAKANNYA MENYESENGSARAKAN RAKYAT..KALAU NGGAK, NGAPAIN KITA DEMONTRASI… YA PUN,,, PADA MIKIR NGGAK SEH…
FPI ITU DIOLOK2 MEDIA.. MEDIA TERLALU BERLEBIHAN.. BUBARKAN AHMADIYAH… BUAT JANUR..JANGAN ASAL OMONG DOAN.. FAKTA MANA?? CUMAN MEMBELA SATU PIHAK.. JANGAN SOK KOMENTAR GITU.. PAKAI LOGIKA DULU BARU BERKOMENTAR…
JANUR ADALAH KORBAN MEDIA… HAHAHA..
GW MAHASISWA YANG BEROTAK DAN PAKAI LOGIKA DALAM MENILAI SUATU HAL…
HIDUP FPI…
BUBARKAN AHMADIYAH..
HANCURKAN OPINI MEDIA YANG SOK TAHU BUANGAT…
Comment by ChIqUE — June 6, 2008 @ 10:56 am
Rakyat, media, mahasiswa sudah tau kalau di kepala udang ada tai.
Tidak ada mahasiswa yg ngaku professor…
Comment by senat — June 9, 2008 @ 1:04 am
benar buat dwi anggia, saya juga merasakan capek melihat negeri ini, ya begitulah negeri yg masuk dalam dunia kelas 2 bangsa yg bodoh yg kurang pendidikan, semua berasal dari pemimpin negeri ini, pemimpin yg “tong kosong nyaring bunyinya” liat ketika mereka berkampanye mengejar impiannya yg busuk, dari pejabat rw, kelurahan sampai jabatan no.1 negeri ini, janji tinggal janji, mau ini gratis, itu gratis, tidak direalisasikan. satu kata untuk mereka “TUKANG NGIBUL.”
Comment by busye budi — June 9, 2008 @ 8:25 am
Ak sngat stuju gd komenya sdrku.Chique..,sbtulnya kl mau cermati,negri ini bagai tayangan komedi yg lugu alias ra lucu tur wagu..,para dalang telah begitu mahir mengalihkan lakon utama : Pembubaran Ahmadiyah dan Penurunan harga BBM, menjadi Pembubaran FPI dan pencarian Panglimanya..! Saya berharap rekan2 mhsiswa hrs tetap konsisten,optimis dan fokus pd perjuangn !! Pada rekan2 media,jadilah anda sbg bagian dr alat perjuangan yg berpihak pd obyektifisme,bukan kepentingan dan fulus semata..!!
Kepada Sdrku seiman,pejuang kebenaran:FPI..,tetaplah kuatkan keyaqinan,tetplah suarakan kebenaran yg Haq..,insya Allah Tuhan bersama kalian..!!
Kepada sdr2 klmpok Ahmadiyah..,sgralah bertaubat dan bersyahadah,krn sesungguhnya Ahmadiyah itu bukan bagian dr Islam..,krn kitabmu hanya: Tadzqir,bukan AlQur’an,Rasulmu:Mirza Ghulam Ahmad, bukan Rasulullah Muhammad..,kl memang mau beriman kpd Allah, sgrlah Bersyahadah dan taubat..,
Kpd FKKBB dn pendukungnya..,berpikirlah jernih,taatlah hanya pd Allah kl anda Muslim,yg bukan muslim,jngn mencoba memprofokasi dn memech belah umat Islam di negri ini..,
kpd pihak2 yg ada dibelakang FKKBB,jngn mimpi dpt menghancrkan sendi2 syariat Islam di bumi pertiwi,meski kalian dibek ap amerika dn kaum Zionis,tp tentara Allah lah yg pasti akan menang..!!
Hidup FPI..,Ganyang Zionis dn antek2nya..!!
Comment by Roeswanto Moechtar — June 9, 2008 @ 8:55 am
Unjuk rasa biarkan saja, toh dibolehkan dengan aturan yang ada. Anda yang komentarnya mencaci maki juga sedang berunjuk rasa bukan? Jadi biarkan saja, toh unjuk rasa bagi sebagian kecil orang jadi ajang mendapatkan rejeki. Yang berjualan, yang dibayar, mbak Anggi juga termasuk yang mendapat keuntungan, dapat berita!! buka begitu mbak Anggi?
Comment by merlion — June 9, 2008 @ 8:22 pm
“Entahlah, saya juga capek melihat negeri ini, yang tiada hari tanpa demonstrasi…”.
duh… jangan capek dong…
nti kalo cape… kedamaian ngga bisa diliat lagi dari wajah anggie…
jangan capek yaaa… :P~
Comment by sikunyuk — June 10, 2008 @ 1:11 am
Negeri dongeng pemerannya ketoprak humor,
penuh org munafik.
kambing hitam malah cari kambing hitam. Kebanyakan ribut udah susah makan, kurang gizi otak gak beres. Beli BBM gak sanggup, beli Baygon sj. Kerja…kerja…
Selamat datang ibu Dwi Anggia, teruslah menulis dan sbg kaum muda berjuang untuk negeri ini.
Jangan capek trs uni !
Comment by senat — June 10, 2008 @ 8:15 am
WOI KALO MAU HIDUP ENAK2 JAUH DARI DEMO, MINGGAT AJA KE SINGAPURA. JGN BUAT TULISAN YG NYELENEH GITU DONG.
KENAPA TIAP HARI ADA DEMO, BERARTI NEGARA INI SEDANG SAKIT, PERLU PERHATIAN YG SERIUS. COBA KE SINGAPURA DIA LAGI SEHAT GAK SAKIT TAU… ANDA CUMA BERITAKAN AJA YG BENER DAN RIIL APA YG SDG TERJADI, JGN PAKE NGOMPORI SEGALA. COBA KALAU TAK SAKIT TAK PERLU ITU EFPEI, MAJU TERUS SINGKIRKAN YG TAK BERES.
Comment by a.karim siagian — June 10, 2008 @ 10:31 am
Ya semoga saja rakyat bangsa ini otaknya sembuh, nggak pada segle semua, biar di Indonesia aman dan tentram.
Yang beda biarlah beda, nanti kalau dah pada mati tahu yang benar yang mana…
Kalau BBM naik nggak usah repot tinggal hitung bulan aja mungkin BBM akan turun lagi la wong presidennya ya udah mau ganti. Gitu aja kok repot…
Comment by nugroho — June 11, 2008 @ 3:43 pm
Untuk Dayat, Dlan, Janur dan Mbak Dwi Anggia
Saya pikir kita semua di forum ini adalah pejuang dengan caranya masing - masing.
Saya sendiri termasuk pentolan kecil reformasi 1998. Saya turun ke jalan setelah semua alternatif negosiasi, kajian ilmiah, bukti - bukti otentik yang diperjuangan oleh bapak saya (beliau harus kehilangan 2 surat kabarnya karena masalah “integritas” pada zaman orde baru, Salam hangat saya untuk Bpk Sudomo, seminar dan berbagai jalan lain ditempuh untuk membawa perubahan.
Orde baru meninggal warisan masalah yang tidak sedikit. Kebebasan berpendapat yang kebablasan dan demokrasi yang berubah menjadi demo-crazy hanyalah halangan kecil untuk menjadi sebuah bangsa yang lebih maju.
Kita dulu menjadi tempat studi banding negara lain,sekarang menjadi negara yang tertinggal jauh. Sudah saat setiap orang yang bertemu dalam forum ini terus berjuang dengan caranya masing - masing
Saya sendiri (walau udah gak muda lagi) masih mau turun ke jalan jika bertemu situasi yang sama.
Untuk Sdr Chique dan simpatisan FPI, Saya pikir sudah saatnya saya menyuarakan hati nurani saya.
Selama ini saya termasuk simpatisan FPi pada awalnya. Saya sudah lama ingin bergabung dengan FPi karena kegarangan dan keberanianya untuk menyuarakan aprisasi islam yang hakiki (untuk kembali ke jalan yang benar)
Pandangan saya berubah total ketika dengan mata kepala saya sendiri melihat kebuasan FPI melakukan penganiayaan terhadap saudara-saudara kita di aliansi kebangsaan. Tidakkah anda berpikir bahwa perjuangan aliansi kebangsaan bukan pada mendukung ahmadiyah, melainkan agar tidak memerangi ahmadiyah dengan cara kekerasan. Pesannya cukup jelas. Tanpa SKB-pun, Aliansi kebangsaan hendak merangkul penganut ahmadiyah agar tidak mengatasnamakan islam dan membuat solusi yang lebih baik(misalnya menjadi aliran tarekat kepercayaan).
Saya sendiri mendukung agar pembubaran FPi dengan persyaratan : FPI gagal mengubah cara perjuangannya dan telah terbukti melanggar hukum pidana secara jelas. Pemukulan dan penganiayaan apapun dasarnya merupakan tindakan melawan hukum. Oknum FPi tidak lepas dari sangsi hukum sekalipun memperjuangkan Islam.
Saya selalu percaya bahwa perjuangan Islam adalah perjuanagan yang murni membawa kemaslahatan untuk semua orang tanpa harus disertai dengan darah dan senjata
Wassalam
Comment by seal@2000 — June 12, 2008 @ 1:20 pm
Dear mbak anggi.
Saya juga capek melihat demonstrasi tanpa henti dan tidak membawa perubahan,
tapi….,
saya lebih capek menghadapi anak - anak muda yang skeptis untuk mencoba melakukan perubahan.
Saya juga capek melihat harga terus melambung tinggi,
tapi……,
saya jauh lebih capek melihat diri saya hanya berpangku tangan saja tidak melakukan perubahan bagi bangsa ini
Buat saya, demo atau cara lain yang bisa ditempuh untuk membawa perubahan wajah indonesia layak untuk ditempuh
Comment by seal@2000 — June 12, 2008 @ 1:27 pm
bnyak org yang sinis dengan aksi demo, tp bagi saya demo adalah tmpat orang2 yang masih mmpunyai nalar yang baik dan hati nurani yang seantiasa ingin membela hak2 rakyat yang sering d abaikan oleh pemerintah.semoga saja orang2 yang anti demo punya alasan yang logis untuk tidak ikut berdemo, bukan karena mereka bersikap apatis terhadap nasib rakyat kecil d bangsa ini.jangan mengaggap bhwa demo hal “kecil”, bagaimanapun demo yg pernah d lakukan pd era 98 pernah menggulingkan pemerintahan yang sangat otoriter!!!!
Comment by uzz_green — June 12, 2008 @ 3:27 pm
menurut saya, peran media sebagai informator yang objektif nampak nya mulai berkurang.hampir semua media TV tidak lagi secara objektif dalam menyampaikan berita.mereka hanya memberitakan yang kbnyakan orang katakan tanpa kemudian melihat dan menelisik lebih dalam terhadap apa yang sebenarnya terjadi.padahal peran media sangatlah berpengaruh terhadap penilaian masyarakat terhadap berita yang disampaikan.bisa dibayangkan, betapa buruknya citra sebuah organisasi di mata masyarakat karena pemberitaan media yang terkadang tidak akurat.harapan saya semoga lip6 bisa mnjadi media yang benar2 objektif…
Comment by uzz — June 12, 2008 @ 3:38 pm
Terimakasih sdr seal@2000..sedikit banyak anda sudah mewakili kita2 untuk tetap mengingatkan generasi yg ada bahwa Perjuangan Membela Bangsa guna kpentingan Rakyat harus tetap diperjuangkan walau “waktu” kita telah menanti di ufuk senja..Tiga Paman dan Ayah saya saat ini tetap bertanya dari Taman Makam Pahlawan dan entah berapa banyak rekan2 sahabat yg tlah mendahului Kita? Kapan kah Bangsa Kita akan Perduli pada Rakyat nya? sampai hari ini saya pribadi msih tdak/belum bsa menjawab Pertanyaan Beliau2…
Sejauh spengetahuan saya rekan2 yg sdah pada jdi Pejabat dlm Pemerintahan dan Para Pengusaha? Mereka telah melupakan apa yg Kita Jerit2kan saat Kita ber-Demo turun ke Jalan! Lewat cara kita masing2 saya tetap berharap suatu saat Rakyat Indo akan bebas dari Kemiskinan dan Kebodohan.. Semua Rakyat bisa menikmati Pendidikan secara Gratis paling tidak sampai di bangku Sekolah Menengah Atas, Amien.
Wass,
Comment by Dayat Aulia. — June 13, 2008 @ 8:45 am
sebaiknya ganti saja pemerintahan….serukan revolusi damai.bentuk negara ini kembali
Comment by bindi — June 14, 2008 @ 11:24 am
tunduk tertindas atau bangkit melawan sebab diam adalah penghianatan….!!!! HIDUP MAHASISWA???HIDUP RAKYAT???
Comment by UHN_Medan — July 4, 2008 @ 4:13 pm
yah mau bagaimana lagi memang sudah seperti itu kayaknya budaya indonesia, khan katanya menyuarakan kebebasan berexpresi atau mengungkapkan pendapat cumaaaaa caranya aja yang salah trus adanya pihak - pihak yang tidak berkenan atas alasan dan cara serta pikiran mereka sehingga terjadi tindakan - tindakan anarkis yang tidak mencerminkan budaya Indonesia yang sebenarnya yang menganut paham tepo seliro
Comment by Franky alexander — September 6, 2008 @ 1:23 pm