Eko Wahyu Tawantoro
The Kite Runner karya Khaled Hosseini. Penerbit Qanita, Bandung, 2006, xiv + 616 halaman.
The Kite Runner, karya pertama novelis eksil kelahiran Afghanistan, Khaled Hosseini, sulit dipungkiri adalah fenomena. Sebuah cerita rekaan bisa bertahan selama 50 minggu sebagai best seller, dan telah diterjemahkan dalam 42 bahasa, tentu di dalamnya tersimpan alasan kuat. Muskil rasanya, karya yang diklaim sukses secara komersial ini, menawarkan kisah biasa-biasa saja.
Secara intrinsik, sesungguhnya tidak ada kejutan yang istimewa. Plot dibangun dalam tatanan konvensional dan linier. Tidak ditemukan suspen yang menghentak. Lalu elemen apa yang menjadikan novel ini dibanjiri pujian dan digandrungi jutaan pembaca?
Selanjutnya baca di sini.
Moh. Samsul Arifin
Tak ada yang lebih sakit bagi sebuah tim yang telah bangkit, tapi kembali terperosok dalam dan jatuh. Itulah yang dialami tim Gli Azzuri di kancah Euro 2008. Kebangkitan Italia tak lepas dari kepiawaian sang kapten Gianluigi Buffon menjaga gawangnya dari serbuan pemain-pemain Rumania.
Satu momen yang membikin Italia bangkit, tak lain ketika Buffon mematahkan tendangan penalti Adrian Mutu saat Italia-Rumania berbagi angka 1-1. Selepas itu Italia percaya diri, untuk memetik harapan, yakni menyandingkan Piala Dunia dan Piala Eropa. Di pertandingan terakhir grup, Prancis ditekuknya dua gol tanpa balasan.
(more…)
Miko Toro
Saya mengamati percakapan antara seorang bapak dan tukang ojek langganannya, di sebuah warteg di Jakarta. Karena saya anggap menarik, jadi saya ingat percakapan mereka:
Si Bapak, “Jalan inilah, jalan paling benar di dunia dan akhirat. Jalan lain, pasti salah.”
Tukang ojek manggut-manggut.
Si Bapak tampak bersemangat, melanjutkan, “Jalan ini disebut Jalan Langit. Tata aturannya, persis seperti yang ane biasa lakuin. Ente pasti selamat, kalo ngikutin jalan ini.” (more…)
Moh. Samsul Arifin
Sebuah sore jelang Pemilu 2004. Kami menjemput Arief Budiman di rumahnya di Jakarta. Saat itu Abdurrahman Wahid tengah dirawat di RSCM akibat stroke ringan. Mengetahui kawan karibnya terbaring lemah, Arief membawa kami membesuk Gus Dur. Ada keheningan di ruang Gus Dur, namun seperti biasanya ia tetap hangat pada Arief, termasuk berbicara masalah mutakhir di lanskap kebangsaan.
Saya teringat pertemuan itu. Dan terlebih lagi dengan apa yang pernah dilakukan kakak Soe Hok Gie itu tahun 1971 silam serta kini didengungkan Gus Dur selepas gugatan Muhaimin Iskandar dimenangkan PN Jakarta Selatan. Apa itu gerangan? (more…)
Yus Ariyanto
Di sejumlah milis, juga di blog ini, beredar pertanyaan: mengapa polling soal FPI hilang di Liputan6.com? Perkenankan, dengan posting ini dalam kapasitas sebagai Koordinator Liputan6.com, saya menyodorkan sedikit penjelasan.
Pertama, secara internal, kami menganggap tema polling itu sudah selesai aktualitasnya. Perdebatan di ranah publik telah reda. Isu lain mengemuka. Jadi, tema itu kami turunkan. Jika ingin memojokkan FPI, kami bisa saja menghentikan polling saat sebagian besar responden memilih setuju dengan pembubaran FPI.
Kedua, dalam setiap polling, kami memang tak pernah mengumumkan kapan polling akan ditutup. Pun, tak pernah mengumumkan hasil finalnya secara resmi. Jadi, tak ada yang istimewa, tak ada perlakuan berbeda dengan tema-tema polling yang lain.
Lepas dari semua itu, terima kasih atas reaksi dan komentar yang muncul. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.
Leanika Tanjung
Setelah harga minyak dinaikan akhir Mei lalu, pemerintah bilang anggaran belanja atau APBN tahun ini aman. Artinya, meski harga minyak naik terus bahkan sampai 150 dolar per barel, belanja tahun ini tidak akan terganggu. Kita tidak perlu cemas karena jalan rusak akan diperbaiki jalan baru akan dibangun. Gedung sekolah masih akan dibangun dan orang miskin masih dapat bantuan langsung tunai, setidaknya sampai Desember ini.
Masih ada uang untuk menjaga harga beras, minyak goreng, kedelai dan makanan pokok lainnya agar tak naik tinggi. Pemerintah tampaknya memang punya uang lebih sehingga tiba-tiba sangat baik hati, dan mengucurlah duit bagi mahasiswa tak mampu.. Meski, soal ini tak pernah disinggung sebelumnya. (more…)
Moh. Samsul Arifin
Sensasional. Itulah kata yang paling pas melukiskan keberhasilan tim Belanda menggulung Italia, 3-0 di penyisihan grup C di State de Suisse, Bern-Swiss, Selasa (10/6). Datang dengan rekor buruk. Bayangkan. Tim Oranye tak pernah sekalipun bisa mengalahkan Azzuri sejak Piala Dunia 1978 silam! Sudah begitu Gianluigi Buffon Cs datang dengan atribut gemerlap: Juara Dunia 2006.
Tapi, apa lacur. State de Suisse menjadi pembuktian bahwa bola itu bundar. Siapa pun bisa menang dan kalah dalam pertandingan berdurasi 90 menit tersebut. Dan Belanda di bawah nakhoda Marco van Basten dini hari tadi tidak gentar dengan nama besar Italia yang telah mengoleksi tiga kali juara dunia. (more…)
Iskandar Siahaan
Di tengah euforia masyarakat menggunakan multimedia sebagai alat baru buat mengekspresikan diri, mencari, dan berbagi informasi, sontak sebuah Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) disetujui oleh pemerintah dan DPR. Salah satu pasal dalam undang-undang ini mengancam pengguna multimedia dengan hukuman penjara jika isi informasi yang ia produksi mencemarkan atau mencederai kehormatan orang lain.
Masih dekat dengan masa itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh mengeluarkan kebijakan menutup akses publik terhadap situs Youtube. Menteri yang konon doktor di bidang teknologi informasi itu ingin menghalangi publik menonton video yang diproduksi oleh seorang anggota parlemen Belanda yang isinya menghina nabi junjungan umat Islam. (more…)
Vincent Hakim R.
Suatu ketika Pak Rajimin, seorang mantan pejuang kemerdekaan, yang kemudian menjadi guru sejarah di sebuah SD negeri cerita bermimpi hadir dalam undangan warga penghuni surga. Dalam suatu sesi, dibentangkanlah layar lebar putih bersih yang sedang menyajikan suatu kehidupan yang begitu nyata.
“Duh Gusti yang Maha-Agung… ini negeri apa?”
“Saya melihat Ibu Pertiwi” katanya. (more…)
Ariyo Ardi
Judul di atas terjemahan bebasnya adalah kekuatan tim panser meragukan. Itulah pendapat saya, melihat penampilan kesebelasan Jerman. Laga terakhir saat melawan Serbia di Gelsenkirchen, Jerman, Sabtu tengah malam, waktu Indonesia, sama sekali tidak menunjukan kualitas der panser sesungguhnya sebagai tim papan atas Eropa yang akan berlaga di Piala Eropa Austria-Swiss, meski akhirnya Jerman menang 2-1.
Pertahanan Jerman kurang mendapat ujian karena Serbia mengandalkan serangan balik, namun beberapa serangan Serbia nyaris berbuah gol. Sama seperti ketika melawan Belarusia, gol lawan tercipta akibat lemahnya koordinasi lini belakang. Bosko Jancovic di menit 19 dengan cerdik berlari di antara Per Mertesacker dan Cristoph Metzelder untuk lepas dari jebakan off side,sebelum akhirnya memperdaya Jens Lehmann. Untuk pemain bertahan penampilan Marcell Jansen cukup baik, karena ia juga sering membantu serangan, bahkan salah satu umpan silangnya nyaris berbuah gol. (more…)