Nasionalisme di Akhir Mei
Yus Ariyanto
Mei 2008. Bulan yang bertabur mantra-mantra nasionalisme ini sebentar lagi lenyap dari halaman depan almanak. Reda sudah gemuruh perayaan. Spanduk diturunkan, baliho dilipat, pengeras suara disimpan. Kehidupan kembali berjalan seperti sediakala.
Dan, malam ini, saya bekerja. Komputer butut saya bermerek IBM—belakangan Lenovo (berbasis di
Udara kemarau menyengat, suhu di kamar menusuk jangat. Saya menuju lemari es, mencomot sepotong semangka demi menyusutkan gerah yang mulai merambah. Ah, semangka ini pasti produksi
Sebagai konsumen, apa sejatinya kepedulian kita soal asal produk?! Yang penting murah dan berkualitas. Mohon maaf, saya belum bisa menerima logika pensiunan jenderal yang akhir-akhir ini gencar mengkampanyekan pemakaian produk domestik. Jenderal, kocek saya jauh dari tebal untuk selalu membeli produk dalam negeri. Tapi, jika ada barang lokal yang lebih murah dan bermutu prima, pasti saya buru. Ini melulu persoalan common sense, bung.
Bagus-bagus saja bersikap nasionalistis. Cuma, saya mau bilang, sikap ini potensial mengajarkan irasionalitas ekonomi. Plus, pada saat bersamaan, memekarkan mentalitas “seenaknya sendiri” di kalangan produsen/penjual. Dulu, saat hanya Pertamina (dan mitra-mitra bisnisnya) yang berjualan BBM, betapa buruk mutu pelayanan dan…aduh…curangnya meteran dispenser di banyak SPBU mereka.
Sekarang? Pertamina berbenah diri dengan serius. Salut. Namun, harus diakui, kehadiran pemain-pemain asing di sektor hilir menjadi cambuk yang membuat BUMN itu mesti berubah atau “menjemput maut.”
Kompetisi memang kerap bikin jengkel. Terutama, buat si pecundang. Tapi, ada yang diuntungkan: konsumen. Mereka memiliki sejumlah pilihan. Sampai pada titik ini, isu nasionalisme menjadi begitu samar. Yang ada hanya supremasi pasar. Apakah itu sepenuhnya salah?
Mei 2008. Bulan yang bertabur mantra-mantra nasionalisme ini sebentar lagi lenyap dari halaman depan almanak. Semoga

Akibat globalizasi, banyak orang berpikir bahwa nasionalisme tidak terlalu penting, atau bahkan dilihat sebagai kadaluwarsa. Akan tetapi bila nasionalisme dilihat dan dimengerti sebagai hal fundamental yang berkaitan langsung dengan identitas, maka sekalipun semakin gencarnya globalizasi menerjang orang apapun atau warga masyarakat manapun mestinya berani berpikir kritis dan matang untuk tetap mempertahankan kepribadiannya sembari siap menerima nilai- nilai baru dan baik dari yang lain (orang lain dan daerah serta kebudayaan lain) dengan skala nilai yang mantap tanpa membiarkan diri dikonsumsi oleh pihak lain dengan segala kepentingan pribadinya.
Di dunia kita ini yang semakin terglobalizasi, seharusnya tidak boleh terkurung dalam skema berpikir dan berperilaku tertutup, melainkan mengembangkan sikap terbuka yang matang dan bertanggungjawab dalam artinya yang paling dalam (etis-moral-sosial-ekonomis). Karena hal ini akan membawa manusia untuk mencapai hidup yang baik. MAksud saya, kiranya globalizasi tidak jadi penguasa dan penentu kepribadian orang baik itu individu maupun sebagai masyarakat. Juga nasionalisme tidak jadi klaim untuk mengkandangkan orang atau masyarakat. Nasinalisme dan globalisme bisa dikawinkan. Untuk itu orang atau masyarakat harus punyai pendidikan yang memadai, dalam arti memperoleh pendidikan yang bermuatan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Bila tidak maka orang atau masyarakat akan jadi konsumen jalanan.
Comment by Johanes Be — May 30, 2008 @ 12:59 am
Omong kosong dgn slogan nasionalisme. Di era pasar global yg penting adalah mutu, harga, dan pelayanan. Untuk apa bela2in beli produk domestik dgn harga yg tidak sebanding dgn mutunya? Dasar bangsa pecundang. Membakar rasa nasionalisme dgn retorika.
Comment by Dian — May 30, 2008 @ 8:41 am
Nasionalisme diibaratkan seperti Buah..ada yg manis, asem, pahit, dan getir..Nasionalis yg diwujudkan Pemerintah gak jauh dari UUD..Ujung-Ujungnya Duit! Seharusnya ga perlu pake Nasionalis2 segala deh.. UUDnya bisa dipake bwt membangun Rakyat dari kemiskinan, jauh dari kebodohan.. Uang Negara Habis hanya untuk kampanye? Korupsi? pastinya untuk para Nasionalis yg duduk di DPR sbagai Wakil Rakyat? Dari Generasi 45′ 66′70′ 90′dan Melenium? semuanya sami mawon menggunakan Nasionalisme Bangsa hanya untuk Kantong sendiri.
Apa pada ga punya rasa malu dengan Sejarah Bangsa yg tidak pernah berubah fungsi nya? Apa pada ga mikir Rakyat yg Miskin akan Bertambah miskin dlm Lima Tahun kedepan? Aburizal Bakri yg sudah mendadak tambah kaya dari Gas Lapindo nya tapi masih juga tidak mau mengganti rugi Rakyat miskin yg terkena musibah dari Lumpur usahanya lewat Lapindo. So please jangan lagi buang2 uang Negara untuk yg namanya Nasionalis, dan semua yg berbau Korupsi.. Saya jamin Rakyat Indonesia tdk akan lagi bertambah miskin kalau Uang Negara dgunakan sesuai dgn kepentingan dan kebutuhan rakyat…………………..
Comment by Dayat Aulia. — May 30, 2008 @ 11:19 am
1 minggu = 7 hari, 1 bulan = 30 hari, 1 tahun = 12 bulan, 12 bulan biasa = 1 bulan nasionalis, 1 bulan nasionalis = 1 hari perayaan, “di mana… di mana semangat 45 bangsaku, di mana… di mana semangat diponegoro sampai soekarno…di mana semangat gie sampai trisakti, kawanku……”
Comment by busye budi — May 30, 2008 @ 2:41 pm
Nasionalisme, jelas perlu.. saya merasakan sendiri ketika 10 tahun lalu berlabuh di negeri Yunani atas undangan sebuah keluarga biasa.
Waktu makan malam bersama beberapa tetangga satu apartment, mereka bertanya tentang Indonesia, dan ternyata mereka tidak tahu dimana letak negara kita (dekat polynesia ya? katanya). Saya dengan bangga mengatakan kepada mereka, bahwa negeri saya, Indonesia adalah negeri yang sangat luas, bahkan penduduk ibokota di siang hari saja mencapai lebih dari 15 juta jiwa.
Waah… mereka terkejut, karena penduduk se-Yunani pada waktu itu juga berjumlah 15 juta orang.
Jadi joke saya kepada mereka: bayangkan jika penduduk Jakarta menyerbu Yunani, tidak perlu orang satu Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 juta jiwa.. yang bisa menduduki satu negara Yunani.. hehehe…
Tentu saya bangga jadi orang Indonesia. Tentu saya bangga jadi nasionalis. Tidak ada yang salah dengan hal itu.
Yang salah adalah pembengkokan informasi oleh elite bangsa sehingga rakyat tidak lagi suka disebut nasionalis, karena mereka sudah menjadi fasfoodonalis (tidak makan nasi, tapi fast food)…
rakyat diadu secara horisontal, hanya karena bendera mereka berbeda warna, bukan oranye, tapi kuning, hijau, biru dan merah…
Jadi jangan bilang globalisasi lebih baik, jika anda masih hidup dan cari makan di Indonesia. Globaliasasi bukan cuma beli beli beli dan beli.. justru kita harus jual jual jual dan jual supaya profit masuk ke Indonesia..
Comment by Mas Hengky — May 31, 2008 @ 7:22 am
Indonesia masih disini bung, didalam hati ini dan selalu dihati ini. Nasionalisme tidak sepantasnya ada, “itu kata hati kecil saya, bung!” kalau nasionalisme hanya diucapkan dan di jadikan senjata oleh trik-trik dari seorang berhati monkey.
….
Sekarang marilah kita sadar diri. Yah…seharusnya dari uangkapan nasionalisme kita belajar berbagi.
….
Berbagi hati, mimpi dan kesempatan.
Comment by ureh — June 5, 2008 @ 9:23 pm
nasionalisme memang harus terus ditumbuhkan dan peran pemerintah sangat besar untuk memajukan produk lokal agar mau dan bisa di nikmati oleh masyarakat. sebagai contoh kecil, ketika saya mau membeli penyejuk ruangan, saya ingat ada merek lokal UCIDA (produksi Maspion), saya cari diberapa toko elektronik sangat susah sekali, akhirnya, produk lokal tidak terbeli. Kenapa? karena kurang campur tangan pemerintah dalam memajukan industri lokalnya, semestinya semua gedung pemerintah harus menggunakan produksi lokal, semahal atau seburuk apapun. itu kalau negara mau maju dan tidak dijajah secara ekonomi oleh asing
Comment by anen — July 8, 2008 @ 4:08 pm