Sunday, May 19, 2013

Nagabonar dan Nasionalisme

May - 21 - 2008
nagabonar-dan-nasionalisme

Moh. Samsul Arifin

Saya keluar dari keletihan luar biasa yang menghimpit dada Ahad lalu (18/5). Sekonyong-konyong kaki saya melangkah ke bioskop di bilangan Jakarta Selatan. Ada tiga film nasional di sana. Mayoritas film “bergenre” remaja—apalagi kalau bukan mengeksploitasi kehidupannya, tak jauh-jauh dari kisah cinta picisan dengan biduan ayu sebagai daya tarik. Para penonton itu—sebagian besar berpasangan—datang ke gedung bioskop dengan 1001 alasan.

Saya sendiri menggamit niat sederhana: Merayakan kembali tawa ala Nagabonar, tokoh fiktif rekaan Asrul Sani yang mendiami sepotong tanah di Lubuk Pakam, Sumatra Utara sana. Kebetulan Bonaga mengabarkan lewat sepenggal iklan, “Bapakku bukan hanya pandai mencopet, tapi juga Jenderal di medan perang.” Bonaga (dimainkan Tora Sudiro) adalah sentral di “Nagabonar Jadi 2” yang diproduksi tahun 2007 lalu.

Di “Nagabonar Jadi 2”, saya menyaksikan sisa-sisa heroisme Nagabonar ketika ia terus menghormat pada patung Jenderal Sudirman di Jalan Sudirman Jakarta. Sekarang…kapan lagi kita mengingat Sudirman, jenderal rakyat yang memberi landasan bagi organisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI) itu. Di film ini, Bonaga berjibaku dengan nuraninya tatkala berada di persimpangan jalan antara menjual tanah leluhur–antara lain ada makam sang ibu (Kirana) dan pamannya (Bujang)—di Lubuk Pakam atau melanjutkan kapal bisnisnya.

Bonaga adalah potret manusia kini, digerus modernitas dan sambil lalu mulai melupakan akar. Untunglah Bonaga punya Nagabonar, bapaknya yang masih setia dengan identitas dan mengapit masa lalu bak mendekap masa depan. Meskipun tertatih-tatih melihat Indonesia (baca: Jakarta yang diterpa modernitas), Nagabonar masih sanggup “menyelamatkan” Bonaga dari “kacang lupa pada kulitnya”. Pria mana di dunia ini yang sanggup menjual tanah leluhur, apalagi di atasnya ada makam orangtua?

Indonesia pasti terpotong jika generasi muda sekarang hanya menyaksikan Tora Sudiro atau Wulan Guritno di “Nagabonar Jadi 2”. Karena itu, amatlah tepat jika Deddy Mizwar merilis kembali “Nagabonar” sebagai tawaran kepada bangsa Indonesia—yang tengah merayakan seabad Kebangkitan Nasional—untuk melihat Indonesia dari jalan lain; teropong jebolan pencopet yang patriotis di zamannya.

Dari otak sebelah mana kita bisa menebak, pencopet bisa menolak jabatan Marsekal Medan—pangkat tertinggi di medan pertempuran. Ketika ditawarkan jabatan itu, ia justru menawarnya. Ia minta jabatan “Marsekal Medan-Lubuk Pakam” saja, sebuah celotehan yang sungguh-sungguh tak biasa. Akhirnya, jabatan Nagabonar pun diturunkan oleh Lukman (tokoh yang diceritakan paham sejarah militer dunia) menjadi “Jenderal” dan diterimanya. Celotehan yang sesungguhnya menembak orang banyak saat ini yang lebih suka bertengkar memperebutkan jabatan, bahkan untuk status bernama WAKIL RAKYAT.

Nagabonar kocak, tapi ia tak kurang cerdasnya. Ia adalah tipikal pemimpin yang dilahirkan. Karena semangat zaman (zeit geist) memintanya, ia memanggul tugas di pundak sebagai sekelompok sipil yang bermimikri menjadi cikal-bakal satuan militer melawan penjajah Belanda. Lihatlah saat Nagabonar berunding dengan Belanda di sebuah pedalaman Sumatra Utara. Ia diminta menunjukkan posisi pasukannya. Berkali-kali ia diminta Belanda, tapi ia selalu banyak akal untuk mengelak. Beberapa bagian (khususnya cara dia memandang dunia) mengingatkan saya pada tokoh utama film “Life is Beautiful”, yang kendatipun dalam tahanan Nazi, tetap bisa rileks dan optimistis.

Sembari mengomandoi perang lawan tentara Belanda, bibir Nagabonar tak lupa mengumandangkan seruan-seruan patriotis:

Hai Pemuda Indonesia
Bangkitlah kau semua
Negeri kita sudah merdeka
Genderang perang sudah berbunyi
Dengarkan panggilan Ibu Pertiwi

Saya tak ingin menyelesaikan bentuk nasionalisme semacam apa yang sebetulnya dikampanyekan Nagabonar!!! Sebab saya ingin mengajak Anda sekalian untuk menambahkan dua atau tiga paragraf apa sesungguhnya pokok seruan Nagabonar—yang diperankan secara total oleh Deddy Mizwar dalam film terbaik festival film Indonesia tahun 1987 tersebut…

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

16 Komentar pada “Nagabonar dan Nasionalisme”

  1. torasham says:

    yang sungguh mengharukan atau mungkin membanggakan… tokoh “sebesar” Nagabonar betul-betul hormat sama sang “emak”. Nagabonar menurut saya adalah perpaduan komplet antara Jendral besar dengan “orangkampung”. Mampu memimpin pasukan tapi juga hormat pada orang tua.
    Pada contoh nyata sehari-hari, modernitas betul-betul menggerogoti hidup kita. Banyak orang yg “modern” menjadi lupa akan akar-budayanya.

  2. budhe says:

    Hidup Nagabonar!!! Denyut Indonesia itu ada di sana.. Kalau Nagabonar itu sekarang nyata, tak salah aku pilih kau untuk pimpin negeri ini.

  3. mpang99 says:

    Sisi lain dari cerita “Nagabonar Jadi 2” adalah sindiran terhadap persepakbolaan nasional, dimana ketika ketika Pomo memperlihatkan gambar proyeknya Bonaga kepada Nagabonar ternyata yang pertama ditanyakan adalah Lapangan Sepakbola, Nagabonar pun berkata “Kau tidak ingin bangsa kita menang main sepakbola”, ditanyakan seperti itu Pomo pun langsung kebingungan.

    Itulah pesan yang disisipkan kepada persepakbolaan Indonesia, pesan seorang masyarakat Indonesia yang cinta terhadap Sepakbola dalam negri.

  4. Bayu Dardias says:

    Sejak tahun 2005, Film Nagabonar telah menjadi materi kuliah di matakuliah Sejarah Sosial Politik Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM. Film ini, walaupun fiksi, tetap mampu menggambarkan semangat dan patriotisme era itu. Film ini tidak bertutur, seperti buku sejarah, tapi mengajak setiap penonton untuk terlibat dalam kisah heroisme dan emosionalnya.

  5. bagoes ilalang says:

    Hebat!

  6. andre says:

    Seberapa besar lagi nasionalisme kita?setelah beribu ribu deraan menghimpit kehidupan dengan tingkat kesulitan luar biasa krisis multidimensial luar biasa?apa lagi yang diinginkan dengan menonton naga bonar bisa tumbuhkan nasionalisme yg sudah kropos????

  7. Bonaga says:

    bagus,hebat,menakjubkan. film ini sangat hebat dan membangun nasionalisme para Generasi Muda.

  8. Adek21 says:

    Emang film yg penuh dgn nasionalisme.Kita generasi muda harus menirunya

  9. nexsito says:

    wkwkwkwk
    memeng film yg sangat dramatis namun film nya bagus utk anak-anak muda jaman sekarang

  10. ujang says:

    dedi mizwar gitu loh! bagaimanapun saya penggemar beliau… semua karya beliau selalu bermakna dan sarat hikmah, naga bonar, maupun para pencari tuhan dll…

  11. ujang says:

    dedi mizwar gitu loh…..

  12. michan says:

    Film Nagabonar menjadi materi kuliah untuk analisa korelasi dengan nasionalisme pada mata kuliah Pendidikan Nilai Pancasila yang ada di FISIP Hubungan Internasional di UNPAR. Saya senang ketika dosen mengajak saya dan teman-teman untuk mendiskusikan film ini pada saat perkuliahan. Karena semangat nasionalisme saya pun ikut tersulut. Terima kasih, Pak Samsul atas review-nya.

  13. scorpion says:

    adalah kegagalan ordebaru membangun nation caracter.lantaran orang dibius oleh mimpi kapitalisme.

  14. Vincent says:

    Saya adalah seorang peljar SMP.. Saya merasa film Nagabonar bagus dan memang cocok untuk rakyat Indonesia.. Namun dalam sinetron sehari-hari justru malah merusak moral anak bngsa. Sisi negatif dari sinetron itu malah yg sering di tiru oleh para remaja.. Jadi semoga sinetron Indonesia dapt meniru karya-karya pak Ddi Mizwar.. Trims

  15. hebat..bat.. dan saat ini cuma naga bonar yg non jendral beneran yg bisa begini, kalau mau maju harus diasah dulu kepemimpinannya.

  16. moko says:

    klimaks film ini adalah ketika naga bonar a.k.a deddy mizwar hormat ketika mengahdap patung Jend Sudirman di salah satu sudut padat ibukota. Berapa banyak dari kita yang melihat monumen lebih dari sekdar hiasan jalan?

Tinggalkan Komentar