Ali
Yus Ariyanto
Malam belum sepenuhnya matang. Saya sedang berada di Taman Ismail Marzuki (TIM). Dan, cerpenis Kurnia Effendi berdiri di panggung, berbicara lirih, “Satu lagi tokoh kita pergi, Bang Ali Sadikin…”
Pikiran saya melayang-layang ketika bersama ratusan penonton lain memanjatkan doa untuk almarhum. Uh, saya tepat berada di salah satu tempat yang membuat Bang Ali patut dicatat.
TIM mustahil dipisahkan dari sosok Bang Ali. Ia yang meresmikannya pada 10 November 1968. Suasana saat itu masih kental oleh ingatan bahwa kesenian harus di bawah subordinasi politik. Saat peresmian, putera Sumedang itu berujar, “Politik tidak boleh intervensi ke pusat kesenian ini, semacam pra-Gestapu dulu.”
Kreativitas memang mekar. Sebut saja, TIM memberi ruang pada Rendra yang baru saja pulang dari Amerika untuk mementaskan “teater minikata”-nya. Almarhum Arifin C. Noer juga membesarkan Teater Ketjil di pusat kesenian yang berlokasi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, tersebut.
Di luar, kepengapan mengurung. Orde Baru makin kukuh di kursi kekuasaan. Fase konsolidasi telah lewat. Saatnya, berlari kencang atas nama “pembangunan.” Kritik dan oposisi disikapi dengan keras.
Sampai 1977, Bang Ali menjadi bagian dari Orde Baru. Tapi, sebagai orang nomor satu di Jakarta, sejumlah catatan positif ditorehkannya–TIM adalah salah satunya. Saya ingin menambah satu saja, mengutip tulisan Rosihan Anwar untuk Asian News Service pada 23 April 1971, “Pada 1966, belum ada 100 sekolah dasar di Jakarta. Ali Sadikin mulai membangun. Pada tahun 1969, dia telah punya 1.332 sekolah dasar.
Pada akhirnya, Bang Ali menjadi bagian kaum oposan ketika mendirikan Petisi 50. Jagat politik Indonesia lantas mengenal istilah “kematian perdata.” Ia dan para penandatangan Petisi 50, misalnya, sangat dipersulit untuk menjalankan aktivitas bisnis.
Belakangan, ternyata Orde Baru lebih dulu tumbang. Hari ini, sepuluh tahun silam, Soeharto menyatakan mundur. Reformasi bergulir. Kepengapan menyusut drastis. Ali Sadikin jelas punya saham atas semua itu…

selamat jalan Pak Ali……..
Comment by torasham — May 21, 2008 @ 3:06 pm
Bung yus..ga pantes nyebut nama almarhum hanya dgn ALI…Kalo Slogan tulisan anda berjudul ALI? lumrah2 saja@kebebasan Pers… Tapi mohon dgn sangat..Alm lebih suka disapa dengan sebutan Bang Ali….
Comment by Dayat Aulia. — May 22, 2008 @ 3:13 am
Saya lahir di jaman pemerintahan Gubernur Ali Sadikin…
Comment by Mas Hengky — May 22, 2008 @ 9:55 am
bung, terima kasih atas tanggapannya. mungkin saya memang kurang “peka bahasa” dalam soal ini. saya perbaiki.
Comment by yus — May 22, 2008 @ 10:01 am
Bravo…Kritik itu sehat..dan hanya pada orang2 yg bisa menerima kritikan secara sehat gerbang pintu keberhasilan bisa dilalui.. jangan2 dlm 5 tahun ke depan udah jadi part owner SCTV…? bravo..bravo…..
Comment by Dayat Aulia. — May 22, 2008 @ 10:56 am
TIM itu baru sebagian kecil, yang lebih dahsyat tentu saja ide mendirikan puskesmas, halte, dan taman-taman di Jakarta, karena langsung menyentuh hidup orang banyak.
Comment by pegasus — May 26, 2008 @ 10:42 am
seharusnya yang jadi presiden indonesia itu bang ali
saya yakin indonesia bakal lebih maju sekarang ini sebab bang ali orang yang jujur dan tidak munafik
selamat jalan bang ali
Comment by sigit — June 5, 2008 @ 3:59 pm
inalilahi..
bang Ali ..
saya turut berduka cita..semoga…diterima disisinya
saya sedih sekali…walalupun jujur saya nggak kenal dengan bang ali
Comment by mumut — June 10, 2008 @ 12:28 pm