May 5, 2008

Berbagi Kecemasan

Filed under: Ekonomi dan Bisnis — leanika @ 11:13 am
berbagi-kecemasan

Leanika Tanjung

Setelah sekian lama tak curhat melalui tulisan, saya sangat tergerak kali ini. Pidato SBY bagi saya seperti sebuah jawaban atas kecemasan yang saya rasakan sejak pertengahan tahun lalu, yang memuncak di akhir tahun. Meski tak yakin, ada tindakan nyata setelah pidato di luar kebiasaan itu.

Akhir tahun 2007, kekhawatiran saya dengan kondisi ekonomi dunia, juga Indonesia, kian memuncak. Sebagai jurnalis yang berkutat dengan soal makro dan mikro ekonomi, saya merasakan tekanan ekonomi kian berat. Harga minyak dunia masih di bawah 100 dolar per barel ketika itu, tapi saya merasa, ke depan keadaan akan makin berat.

Ada tiga hal yang membuat saya tertekan :

Pertama, saya pikir harga minyak akan terus naik karena berbagai faktor. Ketegangan di negara produsen minyak dan produksi minyak Indonesia yang terus turun. Yang pasti, produksi minyak dunia pasti akan habis setelah ribuan tahun ditarik dari dasar bumi. Dan, menurut saya, ini awal abad dimana akan menjadi titik balik kejayaan emas hitam itu.

Amerika dan Eropa kelihatannya menyadari hal itu dan dan mulai bergerak memproduksi minyak alternatif termasuk minyak nabati, dimana sebagaian besar sumbernya adalah bahan pangan. Ini menjadi salah satu pemicu naiknya harga pangan belakangan ini.

Apa yang saya khawatirkan terjawab ketika membawa laporan Goldman Sach, Bank Investasi dan Hedge Fund besar dunia, yang paling aktif di pasar energi. Mereka merevisi perkiraan harga minyak tahun 2008 dari US $ 95 menjadi US$ 105 dolar. Tak hanya Goldman Sach, beberapa pusat studi minyak di London juga merevisi prediksi harga minyak menjadi di atas US$ 100. Ketika mereka yang punya akses ke pasar energi dunia merevisi prediksinya, harga minyak dunia masih di bawah 100 dolar.

Dalam konperensi pers akhir tahun di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Christina Odorus (reporter SCTV waktu itu) bertanya ke Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro. Saya ingin tahu apakah pemerintah juga akan merevisi asumsi minyak dalam APBN 2008. Jawabnya: Purnomo sangat yakin harga minyak tak akan menyentuh US$ 100 dengan alasan tekanan harga sekarang ini bukan karena faktor fundamental sehingga masih akan turun.

Purnomo juga yakin betul Maret 2008, harga minyak akan turun lagi dengan berbagai alasan yang tak perlu saya tulis karena toh prediksinya salah. Justru pada Maret 2008, harga minyak terus naik menjauhi 100 dolar.

Hal kedua yang membuat saya tertekan adalah harga pangan yang juga terus melonjak naik. Mulai dari minyak goreng, kedelai, terigu, dan lain-lain, yang berimbas pada produk turunannya. Mei 2007, saya ingat betul, awal minyak goreng mulai naik. Pemerintah memang berusaha mengatasinya dengan operasi pasar tapi tak berhasil. Lalu, pemerintah memberlakukan pajak ekspor dan menanggung pajak pertambahan nilai. Toh, harga minyak goreng tak bisa kembali ke harga semula, Rp 6000 per kilogram. Sekarang harga minyak goreng sudah mencapai Rp 11000-Rp 12000 per kilogram.

Pemerintah akhirnya menyerah dan mengakui tidak bisa menurunkan harga karena harga CP0, bahan utama minyak, di pasar dunia juga melonjak naik. Penyebabnya, itu tadi, rebutan CPO antara produsen minyak goreng dan minyak nabati. Pemerintah kemudian bilang hanya bisa mengendalikan supaya kenaikannya tidak terlalu cepat.

Kecemasan ketiga adalah karena saya tidak melihat pemerintah cemas menghadapi situasi ini. Bahkan ketika FAO merilis harga pangan akan terus naik sampai tiga ahun ke depan. Saya tak merasakan adanya sense of crisis. Tidak ada kebijakan yang drastis atau terobosan untuk mengatasi mengatasi persoalan yang saya pikir ke depan: AKAN MAKIN BERAT.

Beberapa kali bertemu dan mendengar para pengambil keputusan di negeri ini, saya merasa mereka sama sekali tak tertekan… Yeah, mereka sedikit khawatir tapi No Action.

Entah karena menjelang Pemilu 2009, pemerintah selalu bilang gejolak harga minyak memang membuat subsidi minyak melonjak tapi APBN 2008 masih aman sehingga harga minyak tak perlu dinaikkan.

Cadangan pangan juga aman sambil mengakui daya beli rendah. Kondisi Indonesia masih lebih baik di banding beberapa negara di Afrika dimana mereka tak punya uang dan juga tak punya barang. Di sini, barang masih ada, meski uang agak kurang.

Stok beras memang cukup tahun ini sehingga harga beras stabil karena. Ada cadangan sekitar 1,6 juta ton sekarang ini. Tapi, sadarkah pemerintah kalau dari stok itu, 1,6 juta ton, sebesar 1,2 juta ton berasal dari impor tahun lalu. Artinya, sebagian besar cadangan itu bukan dari produksi dalam negeri. Dan, itu artinya, kita masih harus khawatir soal beras.

Sejak dulu, kita dimanjakan sumber daya alam yang kaya. Tanpa kerja keras, kita masih bisa makan. Koes Plus bilang tanah kita tanah surga, tongkat dan kayu jadi tanaman. Tapi itu dulu, sekarang produksi minyak sudah turun terus. Memang, yang tersimpan di perut bumi masih banyak tapi kalau tidak dikelola dengan baik, akan habis tanpa memberi kemakmuran pada rakyat. Sekarang saja kita sudah jadi pengimpor minyak.

Contoh kemanjaan kita adalah kekurangan uang untuk belanja negara kita selesaikan dengan cara gampang: berutang dan berutang. Tidak dengan menciptakan kekuatan ekonomi yang bisa menghasilkan uang. Ketika krisis keuangan tahun 1997 kita juga menyelesaikan dengan gampang: mengobral aset. Kebetulan, ketika itu masih banyak aset yang bisa diobral.

Pidato SBY yang di luar kebiasaan itu, sedikit mengobati kecemasan saya meski tak yakin ada tindakan nyata setelah itu. Setidaknya, saya merasa pemerintah mulai waspada.

Dunia sedang berubah, tak hanya iklimnya. Menurut saya, ini awal abad di mana sedang terjadi perpindahan atau shifting kejayaan minyak bumi. Kita tak bisa lagi bergantung pada emas hitam itu dan harus mencari energi alternatif. Bagi umat manusia, konsekuensinya sangat besar. Gejolak, baik kecil maupun besar, akan terjadi sampai terjadi keseimbangan baru. Tentu saja, ini tak akan terjadi tahun depan atau bahkan lima tahun ke depan.

Mungkin, saya pikir, karena itu pemerintah tak terlalu cemas. Mereka mungkin bilang, “Sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, bukan urusan saya”.

12 Comments »

  1. negeri ini emang penuh anomali. harga cpo naik, tapi harga minyak goreng jadi mahal. harga beras dunia naik, tapi banyak yang kelaparan.
    kayaknya sby + kalla berusaha keras agar bbm tidak naik, tapi keadaan itu juga tak terhindarkan, sementara pemilu kian dekat saja. dpr mendorong agar pemerintah segera manaikkan harga bbm, tapi jika itu terjadi pasti partai - partai akan berteriak klo sby + kalla tak menepati janji untuk tidak menaikkan harga komoditas itu.

    Comment by ary — May 5, 2008 @ 1:13 pm

  2. yach ini mah gocap tambah gocap jadinya…hikss.

    Comment by darus firman — May 7, 2008 @ 3:29 pm

  3. Orang-orang di negeri ini memang harus prihatin. Tapi, begitu ngelihat tetangganya tidak seprihatin dia, bubar juga niat prihatinnya, yng ada malah jadi sentimen. Jadi… harus solider (tepa salira) juga. Seandainya saja… (yah ginilah gaya seorang jangkrik, cuma bisa berandai-andai) masing-masing pinter bersyukur. Mungkin tidak akan begitu terasa parah, atau mengenaskan. Sukur-sukur disertai dengan mental kreatif, wah… pasti ada hal-hal kecil yang mampu jadi solusi. Masalahnya… untuk bisa bersyukur, apa bangsa ini masih percaya sama Tuhan?

    Comment by nugroho — May 7, 2008 @ 7:43 pm

  4. kalo masalah energi, kita harus akui sekarang produksi kita dibawah kebutuhan nasional. artinya kita bergantung pada pergerakan pasar internasional. jadi dalam kasus ini, mau tak mau ya harus naik harga BBM, supaya tidak jebol APBN kita. (berat memang, tapi mau apa lagi)

    masalah komoditas, saya jadi bertanya-tanya, seharusnya pemerintah kan bisa lebih banyak berperan. intervensi pasar mungkin? berikan regulasi yang lebih berpihak pada kepentingan rakyat (baca : rakyat kebanyakan). tapi ya tetap lah mereka diberi insentif, bagaimanapun melakukan bisnis mereka bertujuan profit.

    trus, mbak lea, beberapa orang menganggap kenaikan harga minyak didorong oleh faktor spekulan yang aktif memperdagangkan produk derivatif energi. bagaimana dengan anda?

    Comment by rizal — May 8, 2008 @ 1:26 am

  5. Nice entry :) Ternyata kita memang patut khawatir ya dengan kondisi dunia sekarang ini. Tapi mungkin pemerintah sebenarnya panik tapi tidak mau menunjukkannya pada rakyat? Karena kalau pemerintah terlihat panik, bisa terjadi kekacauan.

    Tapi memang sih, di saat yang sama enggak terlihat ada kebijakan-kebijakan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut di atas.

    Comment by arya nasoetion — May 8, 2008 @ 12:52 pm

  6. Hhh… Apa yg perlu kita lakukan selain menghela nafas panjang ya? Mungkin sebatas menunggu ketuk palu penentu kebijakan? Kira-kira 2015 negara kita jadi apa ya? Hhh… (kembali menghela nafas panjang…)

    Comment by Moh. Hadi Dinina — May 16, 2008 @ 9:46 am

  7. Agar kehawatiran mba lea tidak sampai harus terjadi? Jalan satu2nya yg bisa menopang kehawatiran mba lea yaitu Korupsi Harus dBerantas Habis Mpe Ke Akar2nya.. Sanggup kah Indonesiaku memberantas Korupsi yang ada? God Knows!

    Comment by Dayat Aulia — May 17, 2008 @ 11:52 am

  8. ….tapi kalo mba lea mang mau nya bercemas cemas? Sesuai Utang Negara yg ada dan yg akan ada? Sampai cucu nya mba lea(kalo nanti punya cucu)punya anak? Utang Negara masih belum bisa akan terbayarkan…yang artinya Indonesiaku sampai cucunya mba lea punya anak masih akan tetap sama saja Dlm Segi Ekonomi nya.. Cultural nya..Foreign Affair nya..Politik nya..Sgalanya deh..Masih akan TETAP SAMA(jga Korupsi nya..)Yg artinya Yang Kaya akan tetap Kaya(mungkin tambah kaya?) dan Yang Miskin akan bertambah MISKIN disaat cucu mba lea sudah punya anak! Jgn lupa nanti2nya kalo mba lea buktikan sendiri kcemasan mba lea terjadi? kirim2 kabar ke ane okeh…………….

    Comment by Dayat Aulia — May 19, 2008 @ 4:54 am

  9. memang perlu banyak nasionalis sejati untuk membenahi negeri ini. saya yakin nasionalis tidak pernah pandang agama dan kekuasaan seseorang sebagai ukuran blokade.

    sejauh ini, setelah 1998, agama selalu dijadikan alat pemecah belah bangsa.

    padahal, negara maju juga masyarakatnya banyak yang taat beragama, tapi tidak menjadikan itu sebagai alat pembenaran utk merusak tanah air mereka.

    justru mereka sangat nasionalis, sehingga bisa mengritik pemerintah juga sebaliknya, yang dikritik tidak pernah sakit hati karena lebih mementingkan keutuhan bangsa nya.

    kapan dong bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang nasionalis?

    Comment by Mas Hengky — May 22, 2008 @ 9:47 am

  10. NASIONALIS nya masih pda “mabok” X..? taukah anda 70% dari Anggota Yg Duduk di Bangku DPR adalah mereka2 yg dulunya jejeritan Reformasi? Knyataan nya sekarang pada Korupsi cita2 reformasi guna kpentingan Rakyat terlupakan.. Begitu jga Para Demo skarang menginginkan reformasi? apa iya bung? bukan nya kalian cuman jerit2 sesuai Perintah yg ada? apa kalian tau yg kalian jeritin tersebut? ntar kalo para Pentolan nya sdah dpat bangku di DPR? apa kalian yg jerit2 bakal merasakan hasil jeritan kalian? Demo Anarkis kalian seharusnya tdk perlu ada..

    Terbukti (mba lea..) Politik Dlm Negri Kita tidak berubah dan tidak akan pernah berubah sampai cucu mba lea punya anak..
    Dari Jaman KAMI- KAPPI/KAPI Sampai hari ini DEMO ANARKIS Sami Mawon…Mahasiswa nya cuman tau ngejerit and bikin onar doang…Pastinya di atas Pentolan2 Mahasiswa masih ada Pentolan nya lagi kan?Intinya Bangsa Indonesia Tidak akan pernah jadi Bangsa yg Nasionalis sampai 4 Generasi Mendatang (selama Korupsi tdk bsa dibasmi………….).

    Comment by Dayat Aulia. — May 30, 2008 @ 9:30 am

  11. Nasionalisme?? sebetulnya apa sih nasionalisme itu? yang sampai ditandai dengan perayaan di Gelora Bung Karno???
    Btw apakah pendukung acara itu dibayar? lalu baju2 nuansa merah putih yang dipake para pejabat itu dibeli dengan uang? jika ya, mendingan buat bantu2 orang2 miskin di Indoensia, apa ga bayi yang kemaren di sandera RS gara2 ga mampu bayar.
    Ga nyambung?? mungkin, tapi ya bukankah nasionalisme ga bisa cuma diteriak2in tiap MEI sementara SEBELAS BULAN SISANYA para pejabat yang harusnya jadi contoh sibuk mikirin urusannya sendiri.

    Comment by Nita — May 30, 2008 @ 10:33 am

  12. Dari pendapat anda, saya bisa katakan bahwa kenaikan harga BBM tidak bisa tidak. Malah sekalipun punyai resiko, sudah seharusnya begitu. Karena ketergantungan harapan pada minyak bumi tanpa didunkungi oleh kebijaksanaan politik ekonomi yang bermasa depan, cepat atau lambat akan membawa kepada krisis. Dengan adanya krisis sekarang pemerintah saat ini dan yang akan datang harus berpikir lebih serius dalam arti yang seluas-luasnya untuk mencari jalan keluar yang baik dan pas demi menghindari atau paling tidak mengurangi beban-beban krisis. Caranya mulai bertindak secara tegas dalam memberdayakan sumber-sumber daya lain yang bisa membantu masyarakat dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan seperti yang terjadi saat ini.

    Cara mengobral aset dan atau berutang demi keluar dari krisis bukanlah jalan terbaik, melainkan adalah cara lain untuk menciptakan dasar valid bagi krisis-krisis baru. Dengan itu juga ingin saya katakan bahwa jika argumentasi yang dipakai untuk membenarkan kenaikan harga BBM adalah hutang luar negeri yang sedang dihadapi negara begitu tinggi, sesungguhnya adalah argumentasi yang bisa dimengerti tapi amat disayangkan. Karena kelihtannya selama ini, praktek yang diterapkan adalah obral aset dan berutang, sementara melupakan tanggungjawab untuk mengembangkan sistem produksi yang baik dalam arti ekonomis yang bermasa depan.

    Akhirnya terima kasih buat saudari sebangsa yang sudah mengemukakan kecemasannya yang benar dan beralasan.Anda sungguh punyai komitmen dalam karier dan cinta akan Nusantara. Bravo, buatmu, kata kami orang di México. Gracias…

    Comment by Anis — May 30, 2008 @ 2:03 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment