Yus Ariyanto
Mei 2008. Bulan yang bertabur mantra-mantra nasionalisme ini sebentar lagi lenyap dari halaman depan almanak. Reda sudah gemuruh perayaan. Spanduk diturunkan, baliho dilipat, pengeras suara disimpan. Kehidupan kembali berjalan seperti sediakala.
Dan, malam ini, saya bekerja. Komputer butut saya bermerek IBM—belakangan Lenovo (berbasis di Taiwan) mengambil alih kepemilikan lini personal computer perusahaan itu. Saya menggunakan pengolah kata yang dibikin Microsoft, asal Amerika. Di meja, tergeletak flash disk Kingston buatan Cina. Lalu, di mana Indonesia? (more…)
Dwi Anggia
Batik, satu dari sekian banyak kekayaan budaya Indonesia. Dulu orang mengenal batik sebagai barang kuno, dan kebanyakan digunakan sebagai kain gendongan oleh ibu-ibu atau bahkan nenek kita. Jarang sekali kaum muda yang mengenakan batik. Bahkan batik hanya digunakan untuk acara-acara resmi atau acara tertentu saja.
Tapi kini, anda juga mungkin merasakan dan melihat secara langsung, batik digunakan oleh banyak kalangan. Seolah olah batik sedang berada dipuncak kejayaannya. Orang berlomba-lomba mengenakan batik, pria, wanita, tua, muda. Tidak hanya masyarakat biasa, batik juga sudah merambah kekalangan artis. Dengan berbagai macam alasan mereka menggunakan batik.
(more…)
Moh. Samsul Arifin
Saya keluar dari keletihan luar biasa yang menghimpit dada Ahad lalu (18/5). Sekonyong-konyong kaki saya melangkah ke bioskop di bilangan Jakarta Selatan. Ada tiga film nasional di sana. Mayoritas film “bergenre” remaja—apalagi kalau bukan mengeksploitasi kehidupannya, tak jauh-jauh dari kisah cinta picisan dengan biduan ayu sebagai daya tarik. Para penonton itu—sebagian besar berpasangan—datang ke gedung bioskop dengan 1001 alasan.
Saya sendiri menggamit niat sederhana: Merayakan kembali tawa ala Nagabonar, tokoh fiktif rekaan Asrul Sani yang mendiami sepotong tanah di Lubuk Pakam, Sumatra Utara sana. Kebetulan Bonaga mengabarkan lewat sepenggal iklan, “Bapakku bukan hanya pandai mencopet, tapi juga Jenderal di medan perang.” Bonaga (dimainkan Tora Sudiro) adalah sentral di “Nagabonar Jadi 2” yang diproduksi tahun 2007 lalu. (more…)
Yus Ariyanto
Malam belum sepenuhnya matang. Saya sedang berada di Taman Ismail Marzuki (TIM). Dan, cerpenis Kurnia Effendi berdiri di panggung, berbicara lirih, “Satu lagi tokoh kita pergi, Bang Ali Sadikin…”
Pikiran saya melayang-layang ketika bersama ratusan penonton lain memanjatkan doa untuk almarhum. Uh, saya tepat berada di salah satu tempat yang membuat Bang Ali patut dicatat. (more…)
Miko Toro*)
Kami membentuk Klub Buku & Film SCTV. Mengapa klub ini perlu ada? Anggota klub akan menjawab, “Ini tempat happy-happy kutu buku di SCTV. Dengan adanya klab ini, kami bisa tukar menukar ide. Siapa saja, boleh ikut nimbrung.”
Begitu saja? Betul. Cuma itu. Tapi biasanya, bila ditanya dengan tatapan agak serius, saya yakin anggota klab akan memberi jawaban kira-kira begini:
“Konon, minat baca bangsa Indonesia, termasuk sejumlah oknum mahasiswa, masih rendah. Padahal kami percaya, buku adalah segalanya. Seperti halnya makanan bergizi membuat tubuh sehat, bacaan bergizi membuat pikiran sehat. Maka, dengan semangat cinta tanah air yang berkobar-kobar, kami memberanikan diri, melalui klab ini, mengajak siapa saja untuk lebih banyak membaca.” (more…)
Moh. Samsul Arifin
Saya bisa merasakan kekesalan sejumlah pencinta bulutangkis yang tidak kebagian tiket pertandingan Indonesia-Thailand di arena Piala Thomas yang dihelat di Gedung Istora Senayan, Jakarta, Minggu (11/5) lalu. Pasalnya, sedari rumah mereka meneguhkan tekad mendukung Taufik Hidayat Cs menyabet kembali lambang supremasi bulutangkis dunia. Seperti mereka yang menonton dari dekat perjuangan Tim Thomas, mereka yang tak kebagian tiket itu ingin menjadi “pemain kedelapan” yang berjasa bagi kejayaan Indonesia di satu-satunya cabang olahraga yang membikin Indonesia seharum Brazil di cabang sepakbola.
Sudah dimaklum, penonton dan riuh-rendah yang ditimbulkannya adalah bagian yang harus ada dalam setiap pertandingan olahraga. Tanpanya, sebuah perhelatan bak sayur tanpa garam atau bahkan seperti adu tangkas gajah yang tak menguras adrenalin. Seperti sang atlet yang berlaga, penonton adalah pesona dan sekaligus faktor yang menentukan hasil akhir pertandingan. (more…)
Anton Bahtiar Rifa’i
Ah, pendidikan kita terasa begitu dekat dengan dunia kriminal. Dari koran yang baru saja saya baca, Kepala Sekolah dan empat guru di Menes, Pandeglang, ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Mereka diduga membocorkan soal-soal Ujian Nasional (UN). Ini menambah panjang cerita tentang tenaga pendidik yang dikriminalkan menyusul pelaksanaan UN. Di Lubuk Pakam, misalnya, beberapa waktu lalu belasan guru SMA menjadi tersangka karena mengubah lembar jawaban UN murid-murid mereka. Para guru itu digerebek oleh anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Kepolisian Daerah Sumatera Utara, dengan diwarnai tembakan senapan. Semua peristiwa itu terjadi atas nama UN. Mungkinkah UN telah menjadi “berhala”?
Tulisan ini bukan untuk memberikan pembenaran atas kecurangan yang dilakukan para guru. Hanya saja, kita perlu melihat lagi, bahwa kecurangan itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Seperti dalam kisah seorang ayah yang mencuri makanan untuk anaknya karena takut sang anak akan kelaparan, maka tindak kriminal itu harus dimengerti sebagai sesuatu yang lahir dari sebuah tekanan. Di sisi lain, pemerintah juga tidak bisa lepas tangan begitu saja, seolah-olah ini hanya persoalan hukum dan pembocoran rahasia negara. Bagaimanapun, banyaknya pelanggaran UN merupakan ekses dari kebijakan pendidikan nasional, dan harus dilihat melalui kacamata sistem pendidikan. (more…)
Vincent Hakim R.
Cinta memang tidak pernah kering menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan. Cinta terukir dalam berbagai wujud, bisa dalam bentuk kata-kata, tindakan, suatu benda simbolis, dan banyak ragam tanda lainnya. Para seniman tak bosan-bosannya memilih tema cinta dalam karya-karyanya. Orang-orang (terutama para penikmat seni) juga tak pernah jengah dengan karya bernuansa cinta. Kategori “cengeng atau bermutu” menjadi tak terlalu penting karena cinta menjadi suatu kebutuhan. Kadang kala orang butuh juga cinta berkharakter cengeng. Atau kadang orang juga memerlukan cinta yang tegar berjiwa heroik.
Cinta tidak berjalan sendiri. Ada kesetiaan. Kolaborasi cinta dan kesetiaan memperkaya khazanah kehidupan menjadi putih bersih beraura positif. (more…)
Leanika Tanjung
Setelah sekian lama tak curhat melalui tulisan, saya sangat tergerak kali ini. Pidato SBY bagi saya seperti sebuah jawaban atas kecemasan yang saya rasakan sejak pertengahan tahun lalu, yang memuncak di akhir tahun. Meski tak yakin, ada tindakan nyata setelah pidato di luar kebiasaan itu.
Akhir tahun 2007, kekhawatiran saya dengan kondisi ekonomi dunia, juga Indonesia, kian memuncak. Sebagai jurnalis yang berkutat dengan soal makro dan mikro ekonomi, saya merasakan tekanan ekonomi kian berat. Harga minyak dunia masih di bawah 100 dolar per barel ketika itu, tapi saya merasa, ke depan keadaan akan makin berat. (more…)