April 28, 2008

Hari-hari Omong Harmoko

Filed under: Politik, Tokoh — andy @ 4:01 pm

Andy Budiman

Bung, saya jadi ingat masa lalu. Saya lihat Anda di TV, bikin partai baru. Apa namanya, Bung? Maaf saya agak lupa nama partai baru Anda. Maklum, Bung, bagi saya, Anda terlalu identik dengan Golkar masa lalu.

Tapi wajah Anda tak pernah saya lupa. Jauh sebelum muncul di TV, saya masih ingat tampang Anda. Masih pakai pomade, kan? Dengan sisir rapi jali ke belakang. Ya, saya ingat wajah Anda yang klimis dan berminyak. Masih suka pakai safari kuning?

Dulu setiap awal pekan anda sering muncul selepas Dunia dalam Berita. Sebetulnya waktu itu yang saya tunggu film seri Voyage to the Bottom of the Sea, atau panggung hiburan Aneka Ria Safari. Tapi, Anda datang dengan informasi tentang harga cabai keriting atau wortel tanpa daun. Anda masih pantau harga cabai keriting? Kalau tidak, saya akan beritahu Anda. Harga cabai keriting di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, sekarang Rp15 ribu per kilogram.

Dulu, kalau tidak salah Anda dua kali menjabat menteri penerangan? Betul, enggak sih, dulu ada orang-orang dari kantor Anda yang suka telepon ke koran atau majalah saat menjelang deadline? Kenapa isi koran atau majalah saat Anda jadi menteri kelihatannya seragam, Bung? Anda suka ketertiban, ya?

Maaf, Bung, saya terlalu banyak bertanya. Masih ingat Anda sempat mampir ke kampus kami di Bandung tahun 1995? Waktu itu Anda marah saat saya bertanya, “Bukankah Peraturan Menteri Penerangan yang Anda buat bertentangan dengan UU Pokok Pers?.”

Saya ingat, waktu itu suasana agak hening, dan Anda berpaling pelan ke arah saya. “Siapa bilang?” kata Anda dengan wajah memerah dan suara bergetar. Saat itu saya gentar, Bung. Saya takut, jangan-jangan nasib saya akan sama seperti Tempo, Detik, dan Editor yang tiba-tiba lenyap. Oh ya, omong-omong, kenapa tiga media itu Anda cabut ijinnya, Bung?

Masih ingat, Bung, dulu Anda suka sekali menyebut istilah “ketertiban umum” dan “atas petunjuk bapak presiden”. Kalau sekarang istilah apa yang Anda suka? Hmmm, mungkin demokrasi, hak asasi manusia, atau…

Tapi yang paling mengejutkan, ya, peristiwa sepuluh tahun lalu. Saya kaget sekali, waktu Anda mendesak presiden turun. Anda sudah minta petunjuk sebelum bicara? Atau anda kecut karena dikepung mahasiswa? Bagaimana rasanya, Bung? Keluar keringat dingin? Atau jangan-jangan Anda memang pendukung reformasi? Kalau untuk alasan terakhir, pasti Anda heran, kenapa sikap heroik itu tak cukup dikenang. Kenapa, misalnya, Anda tak dinobatkan sebagai tokoh reformasi atau paling tidak wakil tokoh reformasi di bawah Amien Rais.

Tapi, Bung, Anda jelas beruntung. Setelah reformasi, nasib Anda jauh lebih baik ketimbang kawan-kawan dan atasan Anda. Mungkin ketika itu Anda sudah jarang baca koran atau nonton TV, ya? Kalau begitu saya akan beritahu Anda. Ketika reformasi pecah, Golkar yang dulu Anda pimpin dihujat. Akbar Tandjung, yang menggantikan Anda sebagai ketua umum dikejar-kejar massa saat kampanye. Waktu itu Anda di mana, ya? Masih suka main golf?

Aduh, maaf Bung, kalau saya terlalu banyak cakap atau mengingatkan Anda pada masa lalu. Omong-ngomong, Anda enggak keberatan, kan, saya panggil bung? Bukankah dulu di hadapan kader Golkar, Anda yang minta agar kita saling memanggil bung. Lebih egaliter, kata Anda. Oh ya, umur Anda sekarang berapa, Bung?

Jakarta, sepuluh tahun setelah reformasi,
Bung Andy Budiman

17 Comments »

  1. buat bung Andi budiman, sip banget nih!
    buat bung Harmoko, gmn tuh? mendingan habiskan masa tua anda d rumah saja. anda dah terlalu byk makan garam. kasih kesempatan buat generasi muda untuk unjuk gigi….

    Comment by husni — April 28, 2008 @ 11:42 pm

  2. Harmoko, pertamakali lihat beritanya lagi, dengan partai barunya… ungkapan yang pas… Dia Nekat, Dia lupa sejarah, dia pikir masyarakat lupa sejarah. Harmoko… emang hari-hari omong kosong…

    Comment by ageung — April 29, 2008 @ 11:55 am

  3. Hi Bung Andi, wah ini super duper keren nih:-) Nyentil banget!!! tinggal gimana nih ama Bung Harmoko nya, ngerasa kesentil kagak?!? kayaknya setelah lama ngumpet dan menghilang dari radar, kayaknya malah kram otak tuh alias lupa(in) masa lalu…huehehehe…

    Comment by Eva Akuepha — April 29, 2008 @ 1:38 pm

  4. menurut petunjuk bapak saya….hehehehe….. apa2an sih harmoko bikin partai baru…? pengen dianggep eksis sbg tokoh politik tua? atau biar dianggap masih ada di dunia???

    Comment by yogie — April 29, 2008 @ 7:36 pm

  5. Harmoko??? harmoko yang mana lagi neehhh?!?! yang mantan menpen? Lho, emangnya dia masih idup?!? ato…reinkarnasi?!?

    Comment by Wilson — April 30, 2008 @ 9:32 am

  6. “Har, udah deh Har…ngapain sih elo pake bikin partai sok sok an mikirin negara…kurang kerjaan apa emang gak ada kerjaan?!? Buat Bung Andi…hehehe…tulisan anda cukup menggelitik! apalagi tuh “cabe keriting dan wortel tanpa daun” nya…harmoko banget! hahahaha….Semoga gw gak kualat ama si mister klimis…

    Comment by Nuning — April 30, 2008 @ 9:39 am

  7. Jaman SD, kayaknya bapak yang satu ini sering muncul jadi pertanyaan, dan dengan mudah dijawab. “Siapakah Menteri Penerangan?”.

    Hehehehehe..

    Comment by Thomas Arie — May 3, 2008 @ 8:08 pm

  8. aku masih ingat betul. kebelet nonton film di tvri, tapi tiba - tiba muncul si bung melalui laporan khusus ato nyapaiin hasil sidang terbatas. saat itu, memang si bung benar - benar hebat. mampu menyeragamkan isi berita. ya…klo dia pingin menghabiskan masa tua dengan jadi apalah partai yang didirikannya, biarlah….toh skr banyak mantan pejabat yang meneruskan ‘masa pengadiannya’ dengan nyalon gubernur, presiden, ato bikin partai….[pinter2lah jualan biar bisa laku...]

    Comment by ary — May 4, 2008 @ 8:29 pm

  9. Cukup kontroversial memang kalo pak harmoko membuat partai baru,
    tapi terus terang saya justru merasakan hidup tenang justru di zaman ORBA,kebebasan pers memang terbelenggu, tapi atas nama kebebasan, etika dalam penyampaian berita dikesampingkan. seorang mahasiswi diberitakan sebagai PSk dalam sebuah penangkapan (anda tau dalam kasus apa) dan masih banyak lagi…

    Banyak yang menghujat tindakan pak harmoko, tp mau bgmn lg UU kita memperbolehkan hal tersebut.

    Comment by kue tart — May 5, 2008 @ 9:24 am

  10. keren !!!!!
    semoga Bung Harmoko baca …. biar di jadiin renungan menjelang senja … dan nggak usah tersinggung, ini kan kritik yang membangun.

    Comment by yoedhie — May 7, 2008 @ 4:00 pm

  11. apaan sih nama partainya?
    kyknya dia beneran nunggu mas harto mokat dulu baru bikin partai, pas ke rspp katanya diusir ya?

    ciao

    Comment by cupi — May 11, 2008 @ 11:44 am

  12. ah rasanya dulu si bung itu tiap hari pasti nongol di teve, sampe-sampe dulu ada kawanku mau beli teve baru tapi yg gak ada gambar si bung-nya itu….dan akhirnya baru tahun 2000-an baru bisa beli teve baru setelah gambar si bung itu diteve gak ada.

    bung-bung, engkau itu cuma manusia dengan segala kelemahan yg melekat didalam diri tapi kenapa saat itu engkau begitu membusungkan dada seakan-akan semuanya bisa dibinasakan.

    bung-bung, kini saatnya engkau harus banyak bertakzim, berserah diri atas segala tindakan yang dimasa lalu engkau lakukan.

    bung-bung, engkau masih beruntung tidak dikejar-kejar namun hanya dibakar rumahmu di solo itu

    Comment by Jenderal Nagabonar — May 13, 2008 @ 12:03 pm

  13. ya biar aja orang punya mimpi, kan hak setiap orang bisa punya mimpi indah….

    Comment by lebahpetarung — May 21, 2008 @ 8:08 am

  14. dulu siapa sih org yg ga kenal si kelimis dgn senyum misterinya itu. hampir bosan rasanya kita2 liat dia nongol di tv..! dgn jabatan yg dia emban selama dia jadi menteri pastilah duitnya banyak apalagi dulu ga ada KPK…Kalo skrg dia mo bikin partai biarin aja siapa tau dia kalah kan duitnya habis dari hasil jadi menteri. rakyat skrg kan dah pintar mana org2 yg dulu tukang ngibul apa tdk ya ga…? jgn kan dia. SBY dan Kalla sekalipun ga akan dipercaya lg ama rakyat. telak2 dikibulin habis …

    Comment by dedi tp bkn dedi mizwar — May 21, 2008 @ 2:14 pm

  15. kao media ga ada yang meliput, tentu seorang Harmoko tidak akan muncul lagi di infotainment pagi..

    mau dia punya partai baru, mau dia punya istri baru, mau punya negara baru.. asal nggak ada liputan nya, orang ga akan mencari2 sendiri kok

    gitu aja kok repot..

    Comment by Mas Hengky — May 22, 2008 @ 10:17 am

  16. hebaaaat !!!!!
    semoga pak H. Harmoko baca saya dukung pak harmoko buat partai baru, namun apapun partainya, pak haromoko kan dibesarkan di golkar, sebaiknya perbaiki saya partai golkar yang sekarang, maaf jangan tersinggung pak ya…

    Comment by samiyo edi — May 24, 2008 @ 4:33 pm

  17. seharusnya kita semua menyadari, apapun kebijakan yang diambil oleh pemerintah tentang kenaikan BBM, itu wajar karena harga minyak dunia kan melambung, namun sayang para pejabat tinggi dan wakil rakyat jarang yang mencarikan solusi yang lain, kalau boleh saya usul coba gaji pejabat tinggi dan para wakil rakyat jangan terlalu tinggi, sumbangkan sebahagian penghasilannya ke rakyat

    Comment by samiyo edi — May 24, 2008 @ 4:42 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment